
"Penonton sekalian! Setelah tiga babak penyisihan berlalu, sekarang saatnya membuka babak keempat secara resmi!"
"Kali ini, kedua belah pihak adalah kontestan yang sangat kuat, tidak peduli sisi mana, mereka telah membuat orang-orang tidak sabar menonton pertarungan di antara keduanya."
"Oke, pertama-tama mari kita perkenalkan para kontestan hari ini. Di sebelah timur, ada Ardi dan Rimsy. Selama tiga babak penyisihan sebelumnya, mereka selalu melakukan deklarasi satu menit, di mana Ardi dan Rimsy tidak akan menyerang selama satu menit sejak permainan dimulai. Dan hasilnya, mereka selalu menang! Ardi dan Rimsy juga dielu-elukan sebagai juara Phoenix Festa!"
"Lalu, kontestan yang ada di sebelah barat, Ryan dan Cecily. Penampilan mereka sangat baik selama tiga babak penyisihan sebelumnya. Semua pertandingan berakhir kurang dari satu menit, dan hanya Cecily saja yang bertarung. Sementara Ryan, dia selalu diam menonton dari belakang. Mereka juga salah satu tim yang dielu-elukan sebagai juara."
"Jadi, bisakah kita melihat permainan yang berbeda hari ini? Akankah deklarasi satu menit Ardi dan Rimsy gagal? Apakah Ryan akan bergerak kali ini? Mari kita tunggu dan saksikan!”
Dengan berakhirnya perbincangan kedua komentator tersebut, sorakan di Sirius Dome menjadi semakin megah.
Di kedua sisi arena, para peserta mulai berjalan perlahan masuk ke arena.
Dalam pertandingan kali ini, ada banyak pihak yang menonton.
Di ruang tamu Ruang VIP Akademi Seidoukan, Claudia, Julis, Toudou Kirin, Sasamiya Saya dan bahkan Amagiri Ayato, semuanya hadir untuk menonton. Mereka semua melihat dengan sungguh-sungguh ke layar hologram.
Di lounge khusus peserta Akademi Arlequint, Ernesta dan Camilla juga menonton layar hologram. Senyuman tampak di wajah mereka, seakan tidak sabar melihat pertarungan epik yang akan terjadi.
Di ruang audiensi Kuil Naga Kuning, Institut Ketujuh Jie Long, Fan Xinglou, Zhao Hufeng, dan Li bersaudara, semuanya hadir untuk melihat ke pertandingan Ryan dan Cecily.
Saking banyaknya yang menonton, pertandingan ini menjadi trending teratas di internet.
Sementara itu, Sirius Dome, para peserta dari kedua belah pihak telah masuk ke dalam arena.
Ryan mengangkat kepalanya dan melihat ke depan. Di sana, Ardi juga melihat ke arah Ryan dan Cecily, sedangkan Rimsy hanya berdiri cuek di samping Ardi sambil menunggu deklarasi permainan dimulai dari sistem.
Ini adalah pertama kalinya Ryan menghadapi sepasang boneka ini secara langsung.
Oleh karena itu, Ryan dapat merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak diperhatikan. Itu adalah Mana yang sangat kaya dari dalam tubuh kedua boneka itu.
Ryan menduga, di dalam tubuh kedua boneka itu, tertanam Manadyte yang sangat murni sebagai intinya. Jika tidak, tidak mungkin Mana yang mengalir dalam tubuh mereka sekuat itu.
Sesaat kemudian, Ardi mengulurkan tangan, menunjuk ke arah Ryan dan Cecily. Dengan suara yang berat namun penuh kasih sayang, ia berkata, "Manusia, kami akan memberimu satu menit seperti permainan sebelumnya. Kamu boleh memanfaatkan itu untuk menyerang kami."
Deklarasi Ardi langsung membuat penonton riuh.
"Ooooooh!"
Kedua komentator pun ikut bereaksi atas deklarasi ini. "Sudah muncul! Deklarasi satu menit Ardi kembali!"
"Semua yang berhasil menembus babak 32 besar adalah peserta kuat. Mari kita lihat apakah kali ini Ardi dan Rimsy dapat mempertahankan deklarasi satu menit mereka."
Ryan dan Cecily Wong saling memandang dan menyeringai.
Tang
Suara keras tiba-tiba terdengar. Itu adalah suara Lux tipe pistol yang dipukul keras ke kepala Ardi.
"Sakit!" Ardi tiba-tiba memegangi kepalanya dan berteriak.
Pada saat ini, Rimsy, yang memegang Lux tipe pistol, menarik kembali pistolnya dan berkata dengan dingin, "Dasar besi tua yang tidak berguna! Apa kepalamu terbuat dari besi bekas terbengkalai?!"
"Apa katamu? Rimsy!” Tiba-tiba Ardi protes, "Aku kan hanya melakukan deklarasi yang sama seperti biasanya, tapi kenapa aku dipukul?”
"Jadi, kamu bilang kepalamu berkarat dan kamu tidak bisa menggunakannya lagi? Kamu memang pantas dipukul. Dan juga, kamu memberi orang lain kesempatan menyerang, tapi kamu tidak memikirkan kemampuan lawanmu. Kamu membuat malu Master."
"Oh, jangan katakan itu, Rimsy." Nada bicara Ardi melemah. "Ini juga demi menunjukkan kehebatan Master, jadi kita harus menunjukkan kekuatan kita kepada dunia!"
Rimsy hanya diam sambil terus memukul kepala Ardi dengan pistol di tangannya. Dari awal hingga sekarang, ekspresi Rimsy tetap dingin tanpa emosi.
Melihat Ardi dan Rimsy bertingkah seperti itu, Ryan dan Cecily Wong terdiam.
"Hahahahaha …"
__ADS_1
Di sekeliling arena, para penonton satu persatu mulai tertawa, membuat suara sorakan yang tadi terdengar, berubah menjadi tawa.
"Umm …" Ryan menggaruk pipinya dan berkata pada Cecily Wong, "Kak Cecily, ekspresi seperti apa yang harus kita tunjukkan kali ini?"
"Bagaimana aku bisa tahu?" Cecily Wong menyipitkan matanya. "Aku tidak mengerti, apakah kedua boneka itu benar-benar idiot atau mereka hanya berpura-pura agar kita lengah."
Setelah Ardi berhasil menyingkirkan Rimsy, ia kembali menunjuk ke arah Ryan dak Cecily Wong. "Pokoknya, kami akan memberimu satu menit untuk menyerang!"
"Apa kamu yakin?" Ryan tersenyum menyeringai. "Kalau begitu, aku nggak akan sungkan lagi."
Di saat yang sama, suara mekanis dari lencana sekolah berbunyi. "Permainan dimulai."
Boom
Sesaat setelah suara tanda dimulainya permainan menggema, Ryan langsung menghentakkan kakinya ke tanah dan meluncur ke arah Ardi. Kurang dari satu detik, Ryan telah tiba di depan Ardi.
Ardi tercengang melihatnya. "Cepat sekali!"
Mata Rimsy juga menegang.
Tanpa ada jeda, sebuah kilatan cahaya putih kebiruan menembus ruang dan menebas ke arah Ardi. Targetnya adalah lencana sekolah di dada Ardi.
Slash
Suara belati tajam merobek atmosfer bergema di sekitar.
Detik berikutnya, percikan api yang ganas disertai suara tabrakan yang tajam pecah pada saat bersamaan.
Clang
Namun, itu bukan suara belati Ryan yang memotong lencana sekolah, melainkan suara hantaman belati di atas sebuah logam. Dan logam tersebut adalah tubuh Ardi.
Saat belati Ryan mengarah ke lencana Ardi, ia menghindar dengan jarak yang tipis sehingga belati Ryan hanya menggores bagian tubuh Ardi dan menyebabkan percikan api yang ganas.
Namun, gerakan penghindaran yang tergesa-gesa ini membuat Ardi kehilangan keseimbangannya.
Tanpa membuang kesempatan, belati di tangan Ryan berputar seperti siku refleksif ke arah lencana Ardi.
Dor
Tepat sebelum belati Ryan akan mengenai lencana Ardi, sebuah tembakan pistol mendadak terdengar dari samping.
Peluru Mana meluncur dengan keras ke arah Ryan.
Clang
Dengan cepat, Ryan menarik kembali belatinya dan menangkis peluru Mana yang ditembakkan ke arahnya. Ia lalu menoleh dan melihat ke samping
Di sana, Rimsy memegang Lux bertipe pistol di tangannya, dengan moncong pistolnya mengarah ke Ryan.
Dor Dor Dor
Di bawah suara tembakan, ketiga peluru yang terbuat dari Mana meluncur dengan keras dari moncong pistol. Ketiga peluru tersebut mengarah ke dada, perut, dan paha Ryan.
Bagaikan hantu, sosok Ryan bergerak mengabaikan kelembaman, membiarkan ketiga peluru tersebut melewatinya dan mendarat di tempat kosong.
Saat ini, tubuh Ardi sudah stabil. Ia kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membuat Mana dari tubuhnya berkumpul di tangannya.
Shiiiiii
Manadyte dari Lux yang ada di tangan Ardi mulai bercahaya. Secara bertahap, Mana yang dikirimkan Ardi pada Lux mulai membentuk palu yang tinggi besar.
Tanpa ada keraguan, Ardi langsung mengayunkan palu besar itu ke depan.
Boom
__ADS_1
Suara mencekik yang berat menyapu seperti ledakan.
Palu besar itu jatuh ke tanah, menghancurkan lantai arena, menyebabkan batu dan pasir berterbangan dalam gelombang kejut yang menyebar ke sekeliling.
Namun, karena palu telah mendarat di tanah, itu membuktikan bahwa serangan Ardi tidak mengenai target.
Ryan telah lama menghilang dari tempatnya berdiri. Kini ia telah kembali ke samping Cecily Wong seperti sebelumnya
Penonton benar-benar diam.
Sambil memegang Lux bernama Wolnir Hammer, Ardi terdiam. Rimsy pun juga ikut terdiam.
Di stadion, mata para penonton terbelalak itu. Setelah beberapa saat hening, mereka tiba-tiba meledak dengan sorakan yang luar biasa.
Bahkan suara ini berdering sangat keras di dalam ruang komentator. Suara ini dipenuhi dengan kegembiraan dan keseruan.
"Luar biasa! Ini sungguh menakjubkan! Tidak disangka-sangka, Ryan yang belum pernah bergerak selama ini, ternyata begitu kuat!"
"Kecepatan yang luar biasa! Kecepatan itu jauh lebih cepat dari Zhao Hufeng tiga tahun lalu! Seperti yang diharapkan dari murid Banyuu Tenra. Mereka berdua adalah tim yang kuat!"
Layar hologram yang tergantung di atas arena mulai memutar ulang adegan tadi dalam gerakan lambat, sehingga semua penonton di tempat stadion dapat memahami apa yang baru saja terjadi.
Sorak-sorai besar tiba-tiba meletus seperti gelombang dan langsung naik mengisi seluruh Sirius Dome.
Ryan yang memegang belati tajam di tangannya, melihat ke depan dan berkata dengan rasa ingin tahu, "Bukankah kamu mengatakan bahwa kamu tidak menyerang selama satu menit?"
Setelah deklarasi satu menit Ardi, belum genap tiga detik berlalu, Ardi telah melancarkan serangan balasan, yang artinya dia telah melanggar deklarasinya sendiri.
"Hahahaha … hahahaha …" Ardi tertawa terbahak-bahak.
"Bagus! Sangat bagus! Jadi ini lawan kuat yang dimaksud Master? Benar-benar sangat kuat!"
Berbeda dengan Ardi yang tertawa terbahak-bahak, Rimsy hanya menatap Ryan. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun, tetapi matanya memancarkan cahaya yang serius.
Jelas sekali, penampilan Ryan jauh melebihi ekspektasi kedua boneka tersebut.
"Apakah di dalam database, kita belum memiliki informasi mengenai ini?" Ardi mengangkat palu di tangannya dan mengarahkannya ke Ryan. "Dalam hal ini, kita akan mencabut kembali deklarasi yang adil dan melakukan segala cara untuk mengalahkannya!"
Kata-kata Ardi membuat Cecily Wong akhirnya tertawa. "Seharusnya kamu melakukan hal seperti ini sejak tadi!"
Tak lama kemudian, tangan Cecily bersinar, dan sebuah jimat tiba-tiba muncul di antara jari-jemarinya. Ia lalu melemparnya seperti senjata tersembunyi.
"Inazuma, rakka shi, sonzai suru subete no mono o shōmetsu sa semasu! Kōgeki!"
Dengan segel tangan dan komando Cecily Wong, sepotong jimat yang terbang ke udara langsung mengeluarkan sinar petir menyilaukan.
Merasakan bahaya, Ardi langsung mundur, sementara Rimsy terbang ke angkasa menggunakan jetpack di belakangnya.
Jeder
Kilatan petir yang ada di udara melesat memenuhi arena dan menghancurkan lantai, seolah-olah itu adalah bencana alam yang menyebabkan ledakan kuat.
Rimsy yang terbang di udara, memasang perisai cahaya di depan tubuhnya. Petir dan juga dampak serangannya, semua mampu diblokir.
Tap
Tak lama kemudian, suara kaki menapakkan tanah terdengar di telinga Ardi.
"Mungkinkah itu …" Ardi langsung melihat ke samping.
Di sana, sesosok pria muncul dengan senyum menyeringai. Belati di tangannya melintas menuju ke arah Ardi.
Kecepatan yang luar biasa.
Ardi yang baru saja membuat perisai pertahanan di depannya tidak mungkin membuat lagi tembok pertahanan baru dengan cepat.
__ADS_1
Saat ini, Ardi hanya bisa mengangkat Wolnir Hammer miliknya.