Reincarnation Room

Reincarnation Room
Melawan Sydonay


__ADS_3

"Reiji Maigo?"


Dalam sepersekian detik, Sydonay benar-benar terpana dan sepertinya sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan Friagne.


Setelah beberapa saat, akhirnya Sydonay sadar. Ekspresi wajah binatang buas Sydonay pun langsung menunjukkan perasaan ekstasi.


Ini adalah emosi yang jauh melebihi rasa ingin memiliki.


Jadi, emosi ini muncul bukan karena ingin menguasai Reiji Maigo untuk kepentingannya sendiri seperti kebanyakan Crimson Denizen, tapi ini jauh di atasnya, seolah-olah ini adalah misi yang harus ia penuhi bagaimanapun caranya.


Di bawah perasaan seperti itu, Sydonay menundukkan kepalanya dan melihat ke arah Ryan.


"Akhirnya … akhirnya aku berhasil menemukannya!"


Saat ini, Ryan dapat melihat bahwa di mata Sydonay, yang muncul bukanlah rasa keserakahan, namun rasa penuh kegembiraan. Kegembiraan ini seperti orang yang telah melihat cita-citanya telah berada di depan mata.


Dengan kemunculan Sydonay di depannya, Ryan tanpa pikir panjang langsung menebas Friagne.


Slash


Dalam suara tebasan tajam, kepala Friagne terbang ke udara.


Wuuush


Seketika itu, api putih pucat menyelimuti kepala dan tubuh Friagne, membiarkan keberadaannya di dunia ini perlahan menghilang.


Seorang Crimson Lord yang berada dalam peringkat lima besar Crimson Lord terkuat di jaman modern ini, telah kalah dari seorang manusia. Ini adalah pertama kalinya kejadian seperti ini terjadi di dunia ini.


Weeeng


Dinding Fuuzetsu mulai bergetar hebat. Karena Fuuzetsu ini dibuat oleh Friagne, jadi ketika Friagne Mati, maka Mantra Tak Terbatas yang dibuatnya secara alami akan hancur.


Tapi, tepat sebelum itu terjadi, sebuah Fuuzetsu baru tiba-tiba muncul


"Fuuzetsu!" Di bawah suara yang cukup keras dan dalam, nyala api berwarna ungu keruh mulai muncul di sekeliling dinding penghalang lama dan langsung menggantikan api putih pucat sebagai dinding Fuuzetsu baru.


Nyala api semacam itu hanya dimiliki oleh satu Crimson Lord. Dan Crimson Lord tersebut, perlahan turun dari langit sembari melempar tubuh Shana ke arah Ryan.


Melihat Shana terlempar ke arahnya, Ryan secara refleks melangkah maju dan langsung menangkap tubuh Shana.


Di saat Ryan berhasil menangkap Shana, sebuah bayangan besar muncul di depan Ryan. Mata Ryan langsung terbelalak merasakan kehadiran ini.

__ADS_1


Tak lama kemudian, cakar yang sangat tajam turun dari langit. Disertai dengan angin kencang, cakar tersebut jatuh dengan keras ke arah Ryan.


Boom


Cakar binatang buas itu menghantam tanah dengan keras, menyebabkan permukaan tanah di sekitarnya terguncang dan menghancurkan tanah menjadi puing-puing kerikil yang tak terhitung jumlahnya. Hal ini membuat debu yang padat menyeruak dan menyebar ke sekeliling.


Di ujung lain gumpalan debu tersebut, sosok Ryan tiba-tiba muncul dalam sekejap mata sembari menggendong gadis kecil di lengannya.


“Jangan lari! Roar!”


Sydonay mengeluarkan suara penuh semangat dan juga kegembiraan, seakan sedang menikmati perburuannya.


Tak lama kemudian, Sydonay melompat dengan tubuh besarnya yang sangat fleksibel ke arah Ryan. Ia sekali lagi mengangkat cakar tajamnya, dan seperti batu yang berat, Sydonay menjatuhkannya ke tempat Ryan berdiri.


Slash Slash Slash Slash


Dengan kecepatan yang tinggi, Sydonay meluncurkan serangan cakar secara beruntun. Seketika itu, permukaan tanah tergores sangat dalam. Bebatuan dan kerikil yang hancur menyembur ke atas bersama gelombang angin tebasan yang kuat.


Binatang buas berukuran besar itu terbang mengejar Ryan dengan ketinggian sangat rendah. Ia terus mengejar Ryan yang sedang menggendong Shana seolah-olah ia adalah singa yang sedang mengejar hewan buruannya.


Dengan cara seperti itu, Sydonay tanpa henti mengejar Ryan sambil terus mengibaskan cakarnya.


Ryan yang sedang menggendong Shana tentu tidak bisa melakukan serangan balik ataupun menahan semua serangan Sydonay. Alhasil, Ryan hanya bisa berusaha menghindari semua serangan cakar tajam itu dengan tubuhnya yang sangat fleksibel. 


Sampai suatu saat, Sydonay tak bisa lagi bersabar. Ia pun mengeluarkan suara auman yang cukup keras. “Roooaaarrr! Serahkan Reiji Maigo padaku!"


Walau begitu, Sydonay tak henti-hentinya mengayunkan kedua cakar elangnya.


Boom


Dalam suara hantaman yang keras, kerikil dan puing-puing tanah berserakan, menandakan serangan Sydonay kembali gagal.


Namun, saat menghindari serangan terakhir ini, Ryan akhirnya melakukan kesalahan. Ketika Ryan menghindar ke arah kanan, serangan cakar sebelumnya ternyata hanyalah sebuah perangkap yang membimbingnya pergi ke arah kanan.


Swooosh


Dengan suara yang memekakkan telinga, ekor python raksasa di belakang Sydonay berubah menjadi bayangan kabur dan jatuh dengan keras di arah Ryan.


Boom


Gelombang kejut yang tercipta dari hantaman ini meluas

__ADS_1


Pukulan dengan kekuatan luar biasa tersebut sukses mendarat di punggung Ryan, dan menerbangkannya..


Untungnya, sebelum serangan ekor ini mengenai Ryan, ia dengan cepat mengeluarkan Prana dari dalam tubuhnya dan secara instan mengubahnya menjadi kekuatan pertahanan. Ditambah dengan efek Light Armour yang dapat mengurangi dampak kerusakan sebanyak 50%, dampak serangan Sydonay terhadap tubuh Ryan telah banyak berkurang.


Walau begitu, Ryan masih tetap merasakan rasa sakit yang mendalam pada punggungnya. 


Setelah Ryan terlempar sejauh 10 meter, Ryan akhirnya dapat menstabilkan tubuhnya dan mulai menapakkan kakinya ke tanah.


Namun, kekuatan serangan Sydonay belum sepenuhnya menghilang. Hal ini membuat kaki Ryan bergesekan dengan tanah, meninggalkan dua goresan di permukaan tanah hingga Ryan akhirnya berhenti beberapa puluh meter kemudian. 


Ryan telah berhenti, akhirnya langsung berlutut dengan satu kaki di tanah.


“Haah haah haah …”


Napas cepat mulai muncul di mulut Ryan.


Melihat keadaan Ryan yang seperti itu, Sydonay terkejut. “Apakah kamu benar-benar hanya seorang manusia?”


Bagaimanapun juga, tubuh seorang manusia biasa tidak akan bisa menahan serangan Sydonay seperti tadi. Manusia biasa sudah pasti akan mati dan tubuhnya akan hancur setelah menerima pukulan seperti tadi. Bahkan Flame Haze pun akan mengalami luka yang cukup parah.


Akan tetapi, Ryan terlihat baik-baik saja. Walau napasnya tersengal-sengal, tapi tidak tampak adanya luka di punggungnya setelah mendapat pukulan telak tadi.


“Tampaknya, selain Reiji Maigo, kamu pasti membawa banyak Treasure tool (Hogu) lainnya. Jika tidak, sebagai manusia, tidak mungkin kamu memiliki kekuatan seperti ini. Kekuatan bertarungmu benar-benar tidak normal.”


Sydonay menyimpulkan semua keanehan dalam tubuh Ryan berkaitan dengan Treasure Tool (Hogu). Ia kemudian berkata, "Yah, aku sama sekali tidak tertarik pada Treasure Tool (Hogu) lain yang kamu miliki. Yang aku butuhkan hanya Reiji Maigo. Selain itu, aku tidak mempedulikannya."


Setelah mengatakan hal seperti itu, dari sekujur tubuh Sydonay, mulai bangkit aura yang sangat mengerikan. 


Dengan wujudnya menyerupai Chimera itu, Sydonay menatap tajam ke arah Ryan, dan berkata dengan nada penuh ancaman, "Jadi, berikan Reiji Maigo padaku! Benda itu sama sekali tidak berguna untuk manusia!"


Mendengar ucapan penuh ancaman ini, Ryan terdiam.


Ryan kemudian berbalik dan melihat ke arah Sydonay yang masih diselimuti aura yang menakutkan. Ryan lalu menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya.


Segera setelahnya, Ryan meletakkan tubuh Shana di tanah dan berdiri bersiap untuk melawan Sydonay.


Namun, saat Ryan hendak maju, sebuah telapak tangan mungil menyentuh pakaian Ryan.


"Haah haah haah …"


Shana kesulitan mengambil nafas, tapi ia tetap mencengkeram erat pakaian Ryan sambil menatap Sydonay. Mata Shana mulai kembali mengeluarkan nyala api, menandakan semangatnya yang kuat sama sekali belum padam.

__ADS_1


"Ini adalah pertarunganku! Kamu tidak boleh ikut campur!"


__ADS_2