Reincarnation Room

Reincarnation Room
Yang Mati Tidak Akan Bisa Kembali


__ADS_3

Tak


Sebuah kerikil jatuh dari udara dan menghantam keras tanah di bawahnya.


Suara ini terdengar renyah dan sangat ringan.


Namun, pada saat ini, suara sekecil itu terdengar sangat jelas dan bergema ke setiap sudut ruang di dalam Fuuzetsu.


Dapat dibayangkan betapa sunyinya ruang di dalam Fuuzetsu ini.


Seperti ketenangan yang terjadi setelah bencana besar telah berlalu, segala sesuatu di ruang ini bagai akhir yang sempurna, membiarkan kesunyian yang tak terlukiskan menyeruak.


Di pinggiran sungai, ada banyak lubang menganga di tanah yang telah menghitam. Sementara itu, seluruh permukaan air sungai terbelah menjadi dua, seakan itu adalah jurang yang besar.


Yang lebih mencengangkan lagi, jembatan Misaki yang terdiri atas baja dan jalanan aspal itu kini telah terpotong.


Jika bukan karena Fuuzetsu yang masih bekerja, mungkin semua ini akan membawa bencana besar yang tak terbayangkan.


Karena hukum sebab akibat terputus, semua serangan yang tidak menggunakan Power of Existence tidak akan menyebabkan benda yang terdampak serangan dapat bergerak.


Hal inilah yang membuat sungai yang terbelah menjadi dua, tidak kembali menutup, dan juga jembatan Misaki yang terpotong, tidak runtuh bersama mobil dan warga kota yang ada di atasnya.


Kalau yang menyebabkan semua kerusakan ini adalah Power of Existence, maka jembatan Misaki akan dipastikan runtuh. Untung saja, kekuatan yang digunakan Seraph adalah Mana.


Dalam suasana seperti ini, pedang raksasa putih murni secara bertahap menyusut.


Weeng


Dengan sedikit getaran, Prana yang masuk ke dalam Seraph memudar, membiarkan bilah pedang putih menghilang dan berubah kembali ke bentuk semula. 


Kilau biru sedingin es di mata Ryan perlahan memudar dan kembali menjadi pupil berwarna gelap 


"Haah~"


Ryan mengambil napas panjang terengah-engah setelah hampir kehabisan Prana.


Ryan tak bisa menahan senyum kecutnya dan berkata, "Aku nggak menyangka serangan yang hampir menghabiskan Prana ini belum dapat membunuhnya."


Jika Ryan belum menambahkan 60 poin atribut ke dalam INT, sudah dapat dipastikan serangan tadi akan mengeringkan seluruh Prana Ryan.


Walau begitu, kekuatan yang Ryan gunakan tadi memang sangat kuat. Hanya saja, energi yang digunakan juga sangat besar.

__ADS_1


"Aku sedikit membenci efek samping kekuatanmu, Seraph …" gumam Ryan sambil melihat Orga Lux putih di tangannya.


Sebelumnya, Ryan belum bisa sepenuhnya mengendalikan kekuatan Seraph. Hal ini membuat Orga Lux dengan tingkat Perak ini hanya bisa mengeluarkan kekuatannya setara tingkat Perunggu.    


Akan tetapi, Sekarang Ryan telah yakin bahwa ia akhirnya dapat mengeluarkan kekuatan Seraph hingga 70-80%. Karena kalau Ryan belum bisa menggunakan kekuatan Seraph seperti sebelumnya, makan Ryan tidak mungkin bisa menyebabkan serangan yang begitu mengerikan ini.


"Baiklah, sudah cukup istirahatnya. Aku harus menyelesaikan pertarungan ini sesegera mungkin."


Sambil berkata seperti itu, Ryan menoleh dan melihat ke arah pinggiran sungai yang tidak jauh dari tempatnya melayang.     


Di sana, terlihat Friagne sedang merangkak di tanah sambil berusaha keras mengulurkan tangannya. 


Tepat di depan tangan Friagne, tergelatak boneka berwujud gadis kecil dengan model kekanak-kanakan yang telah terpotong menjadi dua bagian dengan sangat rapi.


Friagne mati-matian terus berusaha menggapai boneka tersebut. "Marianne … Marianne …"


Suara serak penuh kesedihan terdengar dari mulut Friagne. Karena boneka inilah, Friagne rela bersusah payah mempersiapkan City Devourer. 


Dengan Power of Existence yang dihasilkan City Devourer, Friagne akan membuat Marianne menjadi eksistensi kekal, bukan lagi hanya sekedar Rinne.


Namun sayang, boneka bernama Marianne itu, tidak akan bisa hidup lagi. Boneka tersebut sudah benar-benar mati.


Semua ini bisa terjadi, karena tepat pada saat pedang putih besar milik Ryan akan mencapai tubuh Friagne, boneka itu tiba-tiba muncul di depan Friagne dan menahannya.


Namun, aksi putus aaa Marianne ini mampu mengulur waktu Friagne untuk menghindar.     


Akibatnya, setelah Marianne terbelah menjadi dua, tebasan Ryan hanya dapat memotong bahu Friagne hingga separuh badannya terbelah.


Wuuush


Di bawah nyala api berwarna putih pucat, setengah bagian tubuh Friagne yang telah dipotong secara perlahan berubah menjadi abu.


Kini, tubuh Friagne hanya memiliki satu kepala, satu tangan, dan satu kaki. Dengan tubuh yang seperti itu, Friagne terus merayap di tanah menuju potongan tubuh Marianne.


"Marianne … sayangku Marianne …"


Akhirnya, tangan Friagne berhasil menggapai potongan tubuh Marianne, dan mengambilnya dengan satu-satunya tangan yang tersisa.


Friagne kemudian memeluk potongan tubuh Marianne, dan membelainya dengan penuh kasih sayang. 


Ekspresi yang muncul dari Friagne kali ini benar-benar menunjukkan betapa murninya cinta Friagne pada Marianne.

__ADS_1


Walau wajahnya sangat pucat, Friagne tetap tersenyum hangat dan bergumam, "Sudah tidak apa-apa, Marianne … aku akan segera memulihkanmu sekarang, jadi tenanglah, sayang …"


Setelah berkata seperti itu, Friagne menarik napas dalam-dalam sambil terus memeluk Marianne.


Seiring dengan napas ini, api putih pucat langsung muncul di tubuh Marianne, seakan sedang merekonstruksi ulang tubuhnya yang terpotong.


Itulah Power of Existence. 


Entah itu Crimson Denizen ataupun Rinne yang dibuatnya, selama belum mati dan memiliki Power of Existence yang cukup, maka semua kerusakan separah apapun di tubuh mereka akan dapat diperbaiki.


Apalagi jika yang ingin dipulihkan hanya sebuah Rinne. Dengan Power of Existence yang diberikan oleh tuannya, maka sangat mudah untuk memperbaikinya. 


Bahkan membangkit Rinne dari kematian bukanlah hal yang sulit. Crimson Denizen hanya perlu memberikan lebih banyak lagi Power of Existence untuk melakukannya.


Namun, boneka kecil yang telah terbakar oleh Power of Existence dengan tingkat kemurnian tinggi di pelukan Friagne itu, tidak kunjung pulih.   


"Kenapa?"


Friagne bergidik dan berteriak dengan liar. "Kenapa tubuh Marianne tidak bisa pulih kembali?!"


Tentu saja, jawaban pertanyaan ini hanya Ryan yang tahu.


"Karena dia telah dibunuh olehku."


Entah sejak kapan, Ryan sekarang telah berdiri di belakang Friagne dan menatapnya dengan ekspresi merendahkan sekaligus jijik.


Ryan kemudian melanjutkan perkataannya dengan ekspresi yang sangat tenang.


"Kematian yang aku berikan adalah kematian yang tidak dapat diubah atau diperbaiki."


"Bahkan jika kamu mengubah seluruh dunia menjadi Power of Existence untuk memulihkannya, hal tersebut tidak akan pernah bisa membangkitkannya."


"Dengan kata lain, dia telah benar-benar mati."


Mendengar semua penjelasan Ryan ini, tubuh Friagne berhenti bergetar.


Crimson Lord yang menyandang julukan Hunter itu benar-benar menjadi linglung. Ia telah kehilangan semua pikirannya, dan kepalanya juga menjadi kosong.


"Mati?"


"Ini pasti mimpi kan?"

__ADS_1


"Tidak mungkin Rinne bisa mati kan?"


__ADS_2