
"Ryan …" Aria benar-benar tersentuh dengan ucapan Ryan. Ia tidak menyangka, Ryan benar-benar akan memegang janjinya
Meski waktu yang dihabiskan Aria bersama Ryan tidaklah lama, tapi Aria dapat merasakan keseriusan dan kemarahan dari ucapan Ryan.
Selain Aria, Riko yang telah bersama Ryan sejak kelas 1 SMA juga mengerti, bahwa Ryan adalah seorang pemarah, terutama ketika hal tersebut berkaitan dengan orang yang dikasihinya.
"Riko." Ryan menatap lurus ke arah Riko dan berkata perlahan, "Jika kamu bersedia meminta maaf pada Aria atas semua ucapanmu tadi sekarang, maka aku hanya akan menangkapmu tanpa menyakitimu."
Ryan sebenarnya menaruh rasa pada Riko. Namun, perbuatannya kali ini telah melewati batasannya. Maka dari itu, Ryan sangat marah pada Riko.
"Aku katakan lagi, jika kamu meminta maaf sekarang, aku akan memberi belas kasihku. Tapi kalau tidak, kamu harus menerima konsekuensi dariku!"
Setelah Ryan mengucapkannya, suasana menjadi sangat berat. Bahkan, Aria saat ini mau tidak mau menahan nafasnya karena begitu beratnya udara di sekitar.
Namun, berbeda dengan Aria, Riko malah terlihat biasa saja, seakan ia tidak terpengaruh fluktuasi emosi Ryan. Malahan, Riko bahkan lebih bersemangat.
“Menakjubkan!” Riko menjilat bibirnya dan menatap Ryan dengan tatapan panas. “Ri-Ri, tahukah kamu? Riko mencintai segalanya tentang Ri-Ri. Namun, hal paling Riko suka dari Ri-Ri adalah melihat Ri-Ri bertarung."
“Saat Ri-Ri di kelas Assault, Riko benar-benar terpesona pada Ri-Ri yang saat itu bertarung seorang diri membantai seluruh murid laki-laki kelas Assault.”
“Bisa melawan langsung Ri-Ri adalah sebuah kehormatan bagi Riko."
Setelah berkata demikian, Riko mengangkat pistol Walther di tangannya dan mengarahkannya pada Ryan.
"Ayo! Tunjukkan padaku kekuatan dari partner Olmes!"
Ryan menatap Riko yang terus menatap wajahnya dan menghela nafas. "Baiklah, anak yang nakal harus menerima hukumannya."
Dor
Tanpa peringatan apapun, Ryan tiba-tiba melepaskan tembakan. Suara tembakan ini pun menggema di seluruh geladak.
Clang
Percikan menyerupai kembang api mekar di tangan Riko. Peluru yang ditembakkan Ryan tepat mengenai salah satu pistol Walther milik Riko dan membuatnya terlempar dari tangan Riko.
Merasakan hantaman kuat dari tangannya, Riko hanya bisa menahan rasa sakit yang dialaminya.
Padahal, ini bukan pertama kalinya Riko melihat teknik Invisible Bullet milik Ryan. Namun, walau ia sudah meningkatkan kewaspadaannya sejak tadi, tapi tetap saja Riko tidak dapat bereaksi sama sekali ketika Ryan melepaskan tembakannya.
Tak mau terus diam, Riko lalu mengangkat tangan kanannya yang masih memegang pistol dan mengarahkannya ke arah Ryan.
Dor
Suara tembakan kembali terdengar. Akan tetapi, suara tersebut tidak berasal dari pistol Riko.
Clang
Di tangan Riko yang baru terangkat, sebuah percikan api menyilaukan kembali mekar. Hal ini menyebabkan satu-satunya pistol yang tersisa milik Riko jatuh ke lantai geladak.
“Ughh …” Riko lalu menjilati tangannya yang mati rasa akibat menerima efek tembakan Ryan sambil perlahan berjalan mundur.
__ADS_1
Di saat yang sama, suara Ryan terdengar di telinga Riko.
“Setelah kamu secara tiba-tiba menghilang, aku akui bahwa aku menyukaimu, Riko.”
“Namun, hal tersebut nggak akan bisa menghentikanku untuk tidak menghukum mu. Sebagai orang yang sangat peduli denganmu dan juga demi Aria, aku harus melakukannya!”
Seketika itu, sebuah kilatan api muncul kembali.
Dor
Peluru yang tidak bisa dilihat dengan mudah melaju dengan cepat dan akhirnya menghantam seragam anti peluru Riko.
Buuk
Bersamaan dengan suara pukulan benda tumpul, Riko mengerang kesakitan. “Arghh …”
Riko terus memegangi bagian perutnya yang terkena tembakan Ryan. Ia tidak lagi berani bergerak dengan gegabah.
‘Sekarang aku sudah kehilangan kedua pistolku. Jadi aku tidak bisa menyerangnya dari jarak jauh. Kalau begitu, aku harus mengalihkan perhatiannya untuk mendapatkan kembali pistolku dan menyerangnya dalam jarak dekat!’
Setelah membuat rencana, Riko segera mengambil sebuah Flashbang dari bawah roknya dan langsung melemparnya ke dapan.
Shiiiiiing
Flashbang itu pun meledak dan memancarkan cahaya putih menyilaukan yang menerangi seluruh bagian atas Kapal Tanker Ocean Cradle.
"Sebuah Flashbang?!" Aria mau tidak mau mengangkat lengannya untuk melindungi matanya dari efek Flashbang.
Di saat yang sama, Riko langsung mengambil kembali kedua pistolnya yang tergeletak di atas lantai geladak dan berlari ke arah Ryan.
Berbalut aura merah, rambut Riko mulai bergerak seperti ular. Kedua rambut yang telah dikuncir di kedua sisinya mulai merayap ke pinggang Riko. Kedua rambut itu lalu melilit kedua belati yang tersembunyi di sana.dan menariknya keluar.
Kini, Riko telah memiliki dua buah pistol Walther di kedua tangannya dan juga dua belati di kedua kuncir rambutnya yang melayang-layang seperti ular.
“Aku pasti menang!” teriak Riko. Ia kemudian melompat ke depan Ryan dan menghunuskan kedua belati yang ada pada rambutnya ke tubuh Ryan.
Saat efek Flashbang mulai memudar, Riko baru sadar bahwa Ryan sudah tidak ada lagi di sana. Alhasil, Riko hanya bisa menebas ruang kosong yang ada di depannya.
Namun, tiba-tiba saja, Riko mengalami rasa sakit yang teramat sangat hingga menyebabkan mata Riko bergetar
Dor
Di saat yang bersamaan, suara tembakan terdengar jelas di telinga Riko.
Riko mendapatkan hantaman peluru dalam jarak nol meter secara langsung pada bagian samping pinggangnya.
“Argh!”
Kali ini, Riko akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia itu langsung jatuh terkapar di atas lantai geladak.
__ADS_1
Setelah efek Flashbang benar-benar hilang, Aria perlahan membuka matanya. Di depannya, ia melihat Ryan berdiri dengan gagahnya tanpa adanya luka sedikitnya. Bahkan, pada Tuksedo hitam yang Ryan gunakan, tidka terlihat adanya goresan dan kerutan.
Sementara Riko, ia terlihat masih berbaring di tanah dan menatap ke samping. Wajah menawannya dipenuhi banyak keringat. Nafasnya pun sedikit lebih cepat.
Meski sekujur tubuhnya terasa sakit, namun kedua kuncir rambut Riko masih berdiri sambil membelit sebilah belati dan bergerak seperti ular.
"Kemampuan Khusus?"
Melihat hal ini, Aria benar-benar terkejut. "Sejak kapan Keluarga Lupin memiliki Kemampuan Khusus seperti ini?"
Sebagai keturunan Holmes, Aria belum pernah mendengar Keluarga Lupin memiliki Kemampuan Khusus yang diturunkan selain kecerdasan dan kekuatan fisik.
"Jadi kamu memiliki Kemampuan Khusus?" Ryan memandang Riko yang berada terbaring di atas lantai geladak dan berbisik, "Kamu menyembunyikannya terlalu dalam."
"Karena ini adalah senjata rahasia Riko untuk mengalahkan Invisible Bullet milik Ri-Ri." Riko menarik napas dan tersenyum penuh ironi.
"Riko sangat mengenal Ri-Ri, dan Ri-Ri adalah orang paling hebat yang pernah Riko kenal. Dan juga orang yang paling Riko cintai."
"Kalau begitu, mengapa kamu ingin mempertemukanku dengan Aria?" Ryan menatap langsung ke arah Riko dan berkata, "Membuatku berpartner dengan Aria hanya akan meningkatkan peluangmu untuk gagal."
"Aku hanya boleh mengalahkan Olmes yang dalam keadaan sempurna."
Riko menggertakkan giginya dan berdiri dengan kesakitan, matanya tertuju pada Ryan dan berkata, "Karena kamu kuat, bukan berarti Riko boleh mengahalangimu untuk menjadi partner Olmes."
"Itu sama saja dengan mengakui bahwa Riko tidak akan bisa menang dengan Olmes yang telah sempurna!"
Riko tampaknya benar-benar dirasuki oleh obsesi mengalahkan Aria. Meskipun nafasnya tersengal-sengal dan mengeluarkan banyak keringat, Riko masih berjuang untuk mengangkat dua pistol di tangannya dan membidik Ryan.
"Riko harus mengalahkan Olmes!"
"Semua ini untuk membuktikan bahwa Riko telah melampaui kakek buyut!"
"Aku harus melampaui kakek buyutku!"
Sebuah kalimat penuh obsesi bergema di seluruh geladak, membuat deru ombak terdengar sedih.
"Riko, kamu …" Aria benar-benar terkejut dengan obsesi Riko. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk merespon hal ini.
Sebaliknya Ryan, mengerutkan kening dalam-dalam. Ia lalu mengajukan pertanyaan pada Riko.
"Mengapa kamu begitu terpaku dengan ingin membuktikan bahwa kamu telah melampaui kakek buyutmu sendiri?"
"Hahahaha …" Riko tertawa. Namun tawa ini penuh kesedihan dan juga teras menyakitkan.
Riko kemudian menjawab pertanyaan Ryan dengan perlahan. "Untuk kebebasan."
Setelah mengatakannya, Riko mengencangkan tubuhnya dan bersiap untuk bergerak ke arah Ryan.
Namun, tiba-tiba, sebuah cibiran sinis terdengar keras di telinga Ryan, Aria, dan Riko. Cibiran ini benar-benar menusuk hati Riko.
"Maaf, IV, kamu tidak bebas."
__ADS_1
Sluuup
Sebuah peluru meluncur dan menghantam keras seragam anti peluru Riko.