Reincarnation Room

Reincarnation Room
Bersembunyi


__ADS_3

Seakan mengetahui isi benak Ryan, Sylvia berkata, "Aku sadar bahwa pertanyaanku ini pasti akan mengundang rasa kecurigaanmu."


"Tujuanku menanyakan sesuatu tentang Seraph bukanlah untuk menggali informasi, melainkan untuk diriku sendiri."


"Bahkan jika pihak sekolah memaksaku untuk mengungkap kekuatan Seraph, aku akan tetap diam dan tidak akan membocorkannya."


Kata-kata ini terdengar sangat umum dan sulit untuk dipercaya. Namun, Ryan tidak berpikir bahwa Sylvia berbohong.


Ryan dapat merasakan kebenaran dan keseriusan Sylvia. Apalagi, kemampuan Seraph bukanlah sesuatu yang disembunyikan.


Meski kemampuan Seraph terungkap dan lawan sudah membuat strategi untuk menghadapinya, tapi Kemampuan Seraph bisa diterapkan dalam jangkauan yang luas. 


Asalkan Ryan tidak mengekspos kelemahan Seraph, maka tidak akan ada masalah.


Oleh karena itu, Ryan dapat sepenuhnya memberi tahu Sylvia dengan tenang.


Namun, Ryan lebih memperhatikan masalah ini daripada hal lainnya. "Untuk dirimu sendiri?"


Memikirkan hal ini, Ryan hanya bisa terdiam beberapa saat, tak lama kemudian menatap Sylvia dan mengatakan itu. "Kamu ingin menemukan Gurumu kan?"


Saat ucapan itu keluar dari mulut Ryan, ekspresi wajah Sylvia membeku untuk pertama kalinya. Itu adalah ekspresi yang belum pernah dilihat Ryan sebelumnya.


Diva paling terkenal di dunia ini paling baik dalam membawa orang ke ritmenya sendiri. Jadi ekspresi seperti ini sedikit diluar dugaan.


Namun, tidak ada keraguan bahwa ucapan Ryan benar-benar menghancurkan ritme Sylvia.


Hingga setelah beberapa saat, Sylvia berbisik. "Bagaimana kamu bisa tahu mengenai hal ini? ”


Suara Sylvia akhirnya membawa sentuhan perasaan yang berbeda.


"Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang hal ini. Bahkan orang-orang yang sudah bersamaku sepanjang waktu, hanya tahu bahwa aku sedang mencari seseorang."


Sylvia menyambut mata Ryan dan berkata, "Tapi kamu bisa tahu semua ini."


Pernyataan Sylvia terlalu mutlak. Tidak mungkin orang yang baru ditemuinya dua kali, bisa mengetahui rahasianya, yang bahkan orang-orang terdekatnya tidak tahu.


Ryan sebagai Reincarnator, tentu tahu tentang jalan cerita The Asterisk War. Jadi wajar saja ia mengerti apa yang dicari Sylvia.


Selain itu, ada alasan lain mengapa Ryan memahami masalah ini.


"Kamu tahu Pan-Dora dari Seidoukan?" tanya Ryan.


"Pan-Dora?" Sylvia mengangguk menjawab, "Kamu berbicara tentang Orga Lux milik Parca Morta kan? Pan-Dora yang konon bisa meramal masa depan?"


"Benar." Ryan menegaskan, "Sederhananya, karena beberapa alasan, aku mengetahui sesuatu tentang masa depan yang tidak pasti dari Kemampuan Pan-Dora. Di masa depan itu, kamu mengatakan ini kepadaku secara langsung."


"Kamu berkata, Aku ingin menemukan guruku, Ursula."


Mendengar penjelasan Ryan, Sylvia terdiam.


Ryan dapat merasakan bahwa suasana hati Sylvia sedang bergejolak.


Tentu saja, Sylvia tidak tahu bahwa di masa depan, untuk mendapatkan kembali Gurunya, dia membunuh Ryan.


Namun, masa depan yang diramalkan oleh Pan-Dora tidak tetap, melainkan akan berubah sesuai dengan perkembangan saat ini.


Sebaliknya, jika kematian sudah ditetapkan, maka hanya ada satu kematian di masa depan. Akan tetapi, Pan-Dora membiarkan Ryan mengalami kematian yang tak terhitung jumlahnya, membuktikan bahwa masa depan dapat diubah.


“Kamu bertanya padaku mengenai kemampuan Seraph, mungkinkah kamu ingin aku membantu menemukan gurumu menggunakan Seraph?"

__ADS_1


Ryan berkata dengan nada tenang, "Sayang sekali kemampuan Seraph bukanlah Kemampuan untuk mendeteksi."


"Benarkah?" Sylvia menghela nafas, seakan ia telah menduga jawaban seperti itu. 


Dengan senyum di wajahnya, Sylvia berkata, "Sebenarnya, aku sudah siap secara mental. Menurutku kemampuan Seraph juga mungkin tidak bisa membantuku."


Namun, meski begitu, Sylvia memilih untuk tetap menemui Ryan. Hal ini membuktikan betapa inginnya Sylvia menemukan gurunya.


Memikirkan hal ini, Ryan menatap wajah menawan Sylvia dan bertanya, "Apakah Gurumu sangat penting bagimu?"


"Tentu saja.” Sylvia menanggapi tanpa ada sedikitpun keraguan. Senyum di wajah juga sangat lembut. Dia menekankan tangannya di depannya seperti doa.


"Ursula mengajariku menyanyi, dan juga mengajariku dunia ini. Bagiku, dia itu seperti seorang ibu."


Dengan kata lain, alasan mengapa Sylvia bisa menjadi Diva seperti sekarang ini karena bimbingan Ursula.


Melihat ekspresi Sylvia yang lembut dan bernostalgia, Ryan tersenyum. "Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan mengambil komisi pribadi ini."


"Ha?" Sylvia terkejut.


"Kenapa?" Ryan tersenyum dan berkata, "Bukankah kamu ingin aku menemukan Gurumu?"


"Ya, itu benar.” Sylvia berkata dengan ragu-ragu, "Tapi Seraph tidak memiliki kemampuan ini."


"Seraph memang nggak bisa melakukannya. Tapi itu bukan berarti aku juga nggak bisa." Ryan mengangkat bahu dan berkata, "Komisi pribadi semacam ini, aku telah banyak melakukannya."


Lagi pula, untuk seorang Butei, mencari jejak seseorang bisa dikatakan sebagai pekerjaan dasar, terlepas dari apakah itu seorang penjahat atau yang lainnya.


"Jadi, aku akan membantumu menemukannya."


Mendengar ucapan Ryan, mata Sylvia membesar, tubuhnya pun juga gemetar.


Namun, hal itu hanya berlangsung singkat. Karena sekarang, wajah Ryan dan Sylvia menjadi serius.


Ryan dan Sylvia secara bersamaan berhenti berbicara. Mereka berdua saling memandang, seolah-olah sedang mengkonfirmasi sesuatu. Setelah itu, Ryan dan Sylvia mengangguk secara bersamaan.


"Apakah kamu menyadarinya? Seseorang sedang mengawasi kita.” ucap Sylvia.


Meskipun mereka tidak merasakan adanya aura maupun hawa keberadaannya, tapi mereka dapat merasakan adanya tatapan yang mengarah pada mereka.


"Apakah yang mengawasi kita Paparazzi?" Ryan agak skeptis memandang Sylvia dan berkata:, “Identitasmu telah terbongkar?”


"Hmmm …"Sylvia berpikir dengan serius.


Tak lama kemudian, Sylvia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak, tatapan paparazzi akan lebih eksplisit. Meskipun tatapan ini tampak kikuk, tapi mereka bersembunyi dengan sangat baik."


"Mungkinkah mereka membuntutiku?" Ryan menyentuh sarung Orga Lux yang ada di pinggangnya. "Apakah karena Seraph?"


“Tidak, itu juga tidak mungkin?” Sylvia langsung menolak. “Saat ini, hanya sedikit orang yang mengetahui informasi mengenai Seraph. Hanya orang yang berada pada tingkat Ketua OSIS yang mengetahui keberadaan Seraph."


"Tidak satupun dari orang-orang itu yang mudah untuk dihadapi. Jika mereka serius ingin menggali informasi mengenai Seraph, mereka pasti akan mengirim orang yang lebih profesional dari ini."


"Sepertinya pemikiran kita hampir sama.” Ryan tak berdaya merentangkan tangannya. "Dalam hal ini, kemungkinan mereka memiliki masalah pribadi denganku."


"Ya, kemungkinan besar seperti itu. Apakah kamu pernah menyinggung seseorang?" tanya Sylvia.


Begitu pertanyaan ini muncul, Ryan langsung terbayang tiga orang di kepalanya.


Salah satunya adalah Toudou Kouichirou. Dan dua sisanya adalah Li bersaudara. Di dunia ini, hanya mereka bertiga saja yang pernah berkonflik dengan Ryan.

__ADS_1


Namun, Kouichirou telah Ryan beri peringatan tegas sebelumnya. Jadi Ryan menganggap bahwa Kouichirou tidak akan berani melakukan hal seperti itu 


Untuk Li bersaudara, meskipun sangat mereka menjengkelkan, tetapi mereka tidak akan pernah bertindak gegabah dan berbuat seperti ini.


Oleh karena itu, Ryan segera mengecualikan ketiga orang tersebut.


Karena bukan ketiga orang itu, jelas orang tersebut bukan mengawasi Ryan.


"Seharusnya bukan aku targetnya.” Ryan menggelengkan kepalanya dan menggaruk pipinya. "Dan, tatapannya tidak berbahaya, rasanya sedikit halus.”


Sylvia tampaknya memiliki perasaan yang sama, ia pun mengangguk setuju.


"Apa yang harus dilakukan sekarang?" Sylvia dengan ragu bertanya, "Sangat jelas di sini bahwa kita perlu mundur secara strategis terlebih dahulu."


Bagaimanapun juga, ini adalah taman umum. Meskipun tidak banyak orang di sekitar, tapi setidaknya ada beberapa pasangan yang sedang bermesraan di bangku-bangku taman. Jika mereka bertarung di sini, tentu itu tidak baik.


"Tapi kalau begitu, kita nggak akan tahu identitas orang yang mengawasi kita." Ryan menyentuh dagunya dan berkata, "Lebih baik pancing mereka keluar."


"Memancing mereka keluar?” Sylvia penasaran.


Saat Sylvia hendak menanyakan detailnya, Ryan tiba-tiba mengulurkan tangan dan meraih pinggang Sylvia.


"Eh?" Sylvia hanya mengeluarkan suara seperti itu.


Beberapa saat kemudian, Ryan dan Sylvia menghilang dari bangku taman.


Hampir pada saat yang sama, tidak jauh dari tempat Ryan dan Sylvia menghilang, hawa keberadaan yang disembunyikan sebelumnya mulai terganggu. Tampak orang-orang tersebut panik.


Beberapa gadis muda keluar dari persembunyiannya dan melihat ke bangku taman yang kosong dengan panik.


"Bagaimana ini?!"


"Sepertinya mereka lari."


"Ayo cepat kejar!"


"Tapi kita mengejarnya kemana?"


Beberapa gadis muda terlihat sangat bingung.


Di sela-sela mesin penjual otomatis, tubuh Ryan dan Sylvia saling menempel dengar erat. Bahkan keduanya bisa merasakan suhu tubuh satu sama lainnya.


Situasi ini menyebabkan mata Sylvia sedikit menyipit, dan wajah menawan itu menjadi memerah. Dia melihat wajah Ryan dan membuat protes diam-diam.


Ryan sendiri awalnya tidak memiliki pikiran buruk saat membawa Sylvie ke sini. Ia hanya secara tidak sadar menemukan posisi sembunyi terbaik saat melihat celah yang cukup lebar di balik mesin penjual otomatis.


"Maaf, tapi aku terpaksa melakukannya. Tahanlah sebentar." bisik Ryan.


Mendengar ini,  wajah menawan Sylvia semakin merah.


Sylvia belum pernah melakukan kontak langsung dengan lawan jenis sedekat ini.


Setidaknya, Ryan, dapat merasakan kelembutan tubuh Sylvia di tempat yang sesak ini.


'Hmm, cukup besar juga. Padahal kalau memakai pakaian, ukurannya tidak terlihat besar.' batin Ryan.


Di sisi lain, Sylvia juga merasakan otot-otot Ryan yang cukup tebal dari balik kaosnya. Otot ini sama sekali tidak terlihat dari luar. Namun ketika ia berdempetan dengan Ryan, Sylvia dapat merasakannya.


Tanpa sadar, nafas Sylvia naik turun dengan cepat. Jantungnya juga berdetak lebih cepat dari biasanya. Pipinya berkeringat, dan suhu tubuhnya mulai naik.

__ADS_1


Sylvia tidak tahu apa yang terjadi padanya.


Melihat wajah menggairahkan ini dari dekat, tubuh Ryan menjadi sedikit panas. Dan tanpa sadar, Ryan mengulurkan tangannya ke wajah Sylvia.


__ADS_2