Reincarnation Room

Reincarnation Room
Berlatih Dengan Cecily


__ADS_3

Keesokan harinya, di salah satu ruang latihan Kuil Naga Kuning, Ryan duduk di lantai dan menunggu kedatangan Cecily.


Atas permintaan Fan Xinglou, Ryan dan Cecily akhirnya menjadi partner untuk mengikuti Phoenix Festa.


Hanya saja, Ryan dan Cecily Wong baru bertemu kemarin, sehingga mereka belum mengenal satu sama lain lebih dalam. 


Phoenix Festa sendiri adalah pertandingan tim. Jadi Ryan dan Cecily Wong harus mengasah kerjasama tim dan saling mengenal kekuatan masing-masing untuk bisa memenangkannya.


Oleh karena itu, Ryan dan Cecily hari ini telah membuat janji untuk berlatih bersama dan saling memahami.


"Tapi, kenapa Kakak Senior lama sekali!" teriak Ryan dengan kesal.


Saat matahari sudah cukup tinggi, akhirnya Cecily Wong tiba di ruang latihan.


"Maaf, maaf." Cecily masuk dari luar pintu dengan senyum lebar, dan berjalan ke arah Ryan, "Aku sedikit terlambat, maafkan aku, Adik Seperguruan."


"Sedikit?" Ryan tidak bisa menahan diri untuk bernada keras. "Kakak tahu, Kakak sudah terlambat lebih dari tiga jam! Jangan bilang Kakak bangun kesiangan! Aku nggak percaya!"


Sebagai sekolah bergaya oriental, para murid di Jie Long selalu bangun sebelum matahari terbit dan memulai latihan pagi.


Ryan juga selalu memulai latihan pagi sebelum matahari terbit. Dan ia akan mengakhiri latihan pagi saat matahari terbit.


Ryan percaya bahwa sebagai murid Fan Xinglou, termasuk Cecily Wong, pasti akan mematuhi rutinitas ini.


Jika tidak, Kakak Senior ini tidak akan menjadi murid kedua Fan Xinglou.


"Karena kemarin Guru memanggil kita malam-malam, akhirnya aku bangun kesiangan." ucap Cecily Wong dengan nada seakan-akan tidak bersalah.


"Benarkah? Kakak terlambat bukan karena lupa kan?"


"Hampir sih … lagipula kamu kan laki-laki, jadi jangan khawatirkan tentang hal kecil seperti ini."


" … "


Ryan tidak bisa berkata-kata mendapat penjelasan seperti ini. 'Anjir, inikah yang disebut wanita selalu benar?!'


Ryan lalu menghela nafas dan berdiri. "Karena Kakak Senior sudah datang, ayo kita mulai berlatih."


"Jadi, bagaimana kita akan berlatih?" Cecily Wong yang cantik mengangkat alisnya sedikit. 


Tak lama. Kemudian, Cecily Wong berkata dengan penuh minat, "Apakah kita akan melakukan latih tanding?"


"Benar … jika kita ingin melatih kerja sama yang baik, maka kita harus memulai dengan memahami kekuatan kita masing-masing."


"Maka dari itu, pertama-tama kita akan melakukan latih tanding, dan kemudian memutuskan model kerja sama apa yang akan kita terapkan." jelas Ryan.


"Baiklah!" Cecily setuju tanpa ragu dan menatap mata Ryan.


"Aku juga penasaran dengan kekuatanmu. Terlebih lagi, kamu bisa mempermainkan si kembar itu dengan mudah. Bahkan Guru memujimu."

__ADS_1


Harus dikatakan bahwa meskipun kepribadian Cecily sedikit menyebalkan dan juga malas, dia tetaplah murid kedua Fan Xinglou. Yang artinya, dia adalah seorang genius.


Melawan genius yang berada satu tingkat di atas Zhao Hufeng, Ryan sangat menantikannya.


"Aku akan menggunakan semua kekuatan yang aku miliki, kecuali kemampuan yang telah dilarang Gunakan untuk menggunakannya."


"Kemampuan yang dilarang Guru untuk kamu gunakan?” Cecily sedikit terkejut dan berkata, “Kemampuan apa itu?”


"Guru tidak memperbolehkanku untuk mengatakannya." Ryan merentangkan tangannya dan berkata, "Jadi, jika Kakak Senior ingin tahu, maka tanyakan langsung saja pada Guru."


Secara tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas, Cecily Wong mengulurkan tangannya dan menjepit leher Ryan.


"Bahkan di hadapan Kakak Seniormu ini, kamu berani menyimpan sebuah rahasia? Kamu benar-benar memiliki nyali yang besar, Adik Seperguruan!"


Sambil mengatakan semua itu, Cecily terus menjepit leher Ryan dengan keras. Ini adalah salah satu Teknik Kuncian yang ada dalam Taijutsu.    


Meskipun Cecily Wong adalah Daoshi yang mahir dalam Seisenjutsu Sistem Petir, Kakak Senior memiliki tubuh yang kuat karena pada awalnya, ia juga mempelajari Taijutsu.


Bahkan tiga tahun yang lalu, saat Cecily Wong dan Zhao Hufeng mengikuti Phoenix Festa, Cecily Wong bermain menggunakan Taijutsu yang dikombinasikan dengan Seisenjutsu.


Bisa dibayangkan bahwa Cecily Wong juga ahli dalam Taijutsu. Ia hanya terlalu malas untuk melakukan latihan fisik, sehingga Cecily Wong lebih memilih Seisenjutsu.


Karena Teknik Kuncian ini, alhasil kepala Ryan menempel erat pada kedua gunung kembar besar milik Cecily Wong.


'Ugh! Walau sakit, tapi nikmat juga, hehehe …'


Kelembutan dan harumnya tubuh Cecily Wong membuat adik kecil Ryan berdiri. 


"Aaah~" Aksi Ryan ini membuat Cecily Wong terkejut dan mengerang keenakan. 


"Adik Seperguruan, kamu benar-benar nakal. Sebagai Kakak Senior, aku harus mengajarimu bagaimana menghormati wanita!" Tangan Cecily pun semakin menjepit leher Ryan dengan keras untuk menghukumnya.


Akan tetapi, dengan sigap, tangan Ryan menyusup ke dalam baju Cecily Wong melalu celah terbuka di bagian dada seragam Jie Long, dan langsung memencet puncak gunung kembarnya.


"Ahhh~" 


Tubuh Cecily Wong terasa seperti tersengat listrik. Ia pun menjadi lemas tak berdaya, sehingga jepitan tangan pada leher Ryan akhirnya terlepas.



...(Gambar hanyalah ilustrasi dari Cecily Wong untuk memperkuat imajinasi pembaca)...


"Kakak, anggap saja ini hukuman dariku karena telah membuatku membuang-buang waktuku demi menunggu Kakak."


Ryan lalu tersenyum menyeringai. "Tapi tenang saja Kak, aku jamin Kakak Senior bakal menikmatinya."


Setelah mengatakannya, Ryan mulai mencium bibir Cecily Wong sambil terus membelai gunung kembar miliknya.


Awalnya Cecily Wong menolak ciuman Ryan dan menutup erat mulutnya. Akan tetapi, dengan penuh kesabaran, Ryan menyentuh spot-spot khusus wanita yang dapat membuat mereka menggelinjang keenakan.

__ADS_1


Deru napas Cecily Wong semakin berat. Tubuhnya pun mulai memanas.


Lambat laun, Cecily Wong akhirnya mulai membalas ciuman Ryan. Ini artinya, Cecily Wong mulai menikmati permainan ini.


Perlahan, Ryan mulai melepas seragam dan celana Cecily dengan lihainya.


Melihat kedua gunung kembar dengan puncak berwarna merah mudah yang menggantung indah, Ryan berdecak kagum.


"Kecantikan Kakak memang tiada duanya di sekolah ini. Sejak pertama bertemu, aku sangat mengagumi keindahan yang dikirimkan Tuhan padaku ini."


"Be-benarkah? Benarkah aku cantik? Tapi, banyak yang bilang bahwa aku menyebalkan …" keluh Cecily Wong dengan wajah merona.


Ryan mengangguk perlahan dengan senyuman hangat. "Itu benar Kak. Kamu sangatlah menawan."


Untuk sifatnya yang menyebalkan, Ryan tidak bisa berkomentar. Ia lebih memilih tidak menanggapinya, karena Ryan sendiri akui, sifat Cecily Wong memang sedikit menyebalkan.


Mendengar ucapan Ryan ini, hati Cecily Wong mulai luluh. Ia kemudian menutup area pangkal pahanya dan berkata dengan ekspresi malu-malu, "Ryan-kun, aku belum pernah melakukannya. Bisakah kamu melakukannya secara perlahan?"


"Baik Kak, aku akan melakukannya perlahan. Aku akan membuat kakak basah terlebih dahulu agar nggak terlalu sakit."


Setelah mengatakannya, Ryan dengan lembut membaringkan tubuh Cecily Wong di lantai.


Ia kemudian mulai mengecup salah satu puncak gunung kembar yang masih belum terjamah siapapun.


Tangan Ryan yang bebas pun tidak tinggal diam. Tangan kanan Ryan menggesek area pintu masuk gua, sedangkan tangan kirinya memilin dan memeras gunung satunya.


Ini adalah pertama kalinya Cecily Wong mendapat perlakuan seperti ini. Ia begitu sangat menikmatinya.


Merasakan betapa basahnya gua kenikmatan Cecily Wong, Ryan segera menghentikan permainan jarinya dan membuka celananya.


"Awalnya memang agak sedikit sakit. Tapi setelah itu, rasanya bakal luar biasa. Jadi tolong tahan sebentar." ucap Ryan dengan penuh afeksi.


Ryan lalu secara perlahan, mulai menghujamkan adik kecilnya ke dalam gua kenikmatan yang masih sangat sempit.


"Uhhh! Perih sekali …" Cecily Wong merintih kesakitan.


"Tahan Kak, aku akan nggak akan bergerak dulu sampai Kakak sudah terbiasa." ucap Ryan dengan penuh perhatian.


Mendapat perhatian seperti ini, Cecily merasa sangat nyaman. 


Setelah beberapa menit, akhirnya rasa perih mulai menghilang. 


"Ryan-kun, aku sudah tidak merasa sakit lagi."


"Baik kak, mari kita lanjutkan. Akan aku tunjukkan apa itu surga dunia, Kak Cecily."


Di saat yang sama, Ryan mulai menggerakkan pinggulnya ke depan dan ke belakang. Awalnya gerakan ini sangat lembut dan lambat. Namun setelah Cecily terbiasa dengan ukuran adik kecil Ryan yang luar biasa, Ia pun mulai bergerak dengan cepat.


"Ahhh~ nikmat sekali, terus Ryan, terus …"

__ADS_1


Erangan demi erangan kenikmatan pun mulai menggema memenuhi seluruh ruang latihan.


Tanpa sepengetahuan mereka, seorang gadis kecil berusia sembilan tahun melihat semua ini dari ruang audiensi sambil tersenyum seakan ia melihat sebuah tontonan yang menarik.


__ADS_2