
“Mohon maaf, aku nggak bisa memberitahu kalian." ucap Ryan sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Baiklah, kami tidak akan menanyakan hal ini lagi." Lindow menyalakan rokok sambil tersenyum. "Tapi kalau kamu berani berkata lagi bahwa kamu hanyalah seorang tentara biasa di depanku, aku akan menghajarmu menggunakan God Arc milikku!"
"Hehehe, jangan begitu dong Kapten. Kalau Kapten menghajarku menggunakan God Arc, tubuhku pasti hancur berkeping-keping, hehehe … lagipula, aku masih belum menikah. Setidaknya, biarkan aku menikah dulu dengan Hibari." ucap Ryan sambil melihat ke arah Hibari.
Hibari pun tersipu malu dengan ucapan Ryan. Ia kemudian berkata dengan nada suara yang rendah. "A-apa kamu serius?"
Ryan berjalan menghampiri Hibari dan menggenggam kedua tangannya. "Tentu saja aku serius, Hibari … di mataku, kamu adalah berlian di tengah padang pasir yang tandus. Begitu polos, berkilau, indah, dan juga cantik."
"Hauuu~” Telinga Hibari juga ikut memerah mendengar gombalan Ryan. “Ta-tapi aku masih belum siap …"
"Aku akan menunggu mu, Hibari. Berapa lama pun itu." Perlahan, wajah Ryan semakin mendekat dengan wajah Hibari.
Saat bibir mereka akan bersentuhan, tiba-tiba Lindow memotongnya. "Ehem, bisa kita selesaikan dulu pembicaraan kita?"
Sadar bahwa masih ada Lindow dan lainnya, Hibari langsung mendorong tubuh Ryan. Ia terlihat sangat malu. Rian pun hanya bisa tersenyum kecut ketika momentumnya telah dihancurkan oleh Lindow.
"Jadi, bagaimana hasil investigasinya?” tanya Lindow dengan serius.
Ryan kemudian duduk di sofa sambil menghela nafas pendek. “Sayang sekali, aku belum menemukan apa-apa dari cabang Rusia.”
“Benarkah? Berarti, kamu belum menemukan informasi apapun sebelum ketahuan?” tanya Lindow sambil duduk di sebelah Ryan
Mendengar ini, Ryan mengernyitkan alisnya, seakan ia sedang mengingat-ingat sesuatu.
Melihat Ryan begitu, Sakuya jadi penasaran. "Apa kamu mengingat sesuatu?"
Semua mata pun tertuju pada Ryan.
‘Sepertinya, saat aku melompat keluar dari ruang latihan, aku sama-samar mendengar isi perintah Kapten Alexei.’ pikir Ryan.
“Kita harus memastikan kondisi 'itu' …” gumam Ryan. “Sepertinya Kapten Alexei berkata seperti itu saat aku kabur.”
Sakuya dan Soma terlihat sangat berpikir keras dan mencoba menerka apa maksud ucapan Kapten Alexei. Sementara Hibari, ia sama sekali tidak paham dan memilih diam.
"Apa sebenarnya ‘itu’?" gumam Lindow sambil mengernyitkan dahinya. “Tapi, dari sini kita dapat menyimpulkan, bahwa cabang Rusia menyembunyikan sebuah rahasia besar. Dan rahasia ini, kemungkinan berkaitan dengan tindakan Venus yang tidak normal itu.”
“Jadi bagaimana? Apakah aku perlu kembali menyelinap masuk ke sana lagi? Walau mungkin ini akan sulit di saat-saat seperti ini, tapi aku yakin dengan kemampuanku.”
‘Bagaimana pun juga, aku harus menyelesaikan misi dari sistem. Kalau aku nggak menemukan rahasia yang disimpan cabang Rusia, maka aku nggak akan bisa menyelesaikan misiku!’ pikir Ryan. Atas dasar inilah, Ryan mengajukan dirinya untuk kembali lagi ke gedung utama Fenrir.
__ADS_1
Lindow diam sejenak. Kemudian dia berkata, “Menyelinap masuk sekarang sangatlah berbahaya. Jadi, besok kamu akan ikut kami untuk menghadiri Konferensi Perang yang diselenggarakan oleh cabang Rusia.”
"Konferensi perang? Apakah konferensi ini untuk membahas strategi mengalahkan Venus?" tanya Ryan.
"Lebih tepatnya, ini adalah konferensi untuk menanggulangi pasukan Aragami yang datang menyerang." balas Lindow.
"Waktu pasukan Aragami untuk melakukan serangan besar-besaran semakin dekat. Jika saat itu tiba dan kita tidak memiliki rencana yang konkrit, maka cabang Rusia bisa hilang dari peta dunia."
"Jadi, sebelum pasukan Aragami tersebut tiba, kita harus mengambil inisiatif dan menyerang mereka. Dengan kata lain, setelah Konferensi Perang besok, kita akan pergi menyerang pasukan Aragami tersebut."
"Dan Konferensi Perang ini diadakan di gedung utama Fenrir cabang Rusia. Maka dari itu, kamu harus pergi bersama kami."
"Lalu, saat konferensi sedang berjalan, kamu dapat mengambil kesempatan ini untuk menyelinap dan melakukan investigasi lagi." ujar Lindow.
Ryan berpikir sejenak atas rencana Lindow. “Baiklah, besok aku akan mencoba menyelesaikan misi ini …”
~***~
Mentari pagi bangun dari tidurnya. Ia seakan tersenyum menyapa kerumunan orang yang sedang berjalan menuju gedung utama Fenrir cabang Rusia untuk menghadiri Konferensi Perang. Di antara kerumunan tersebut, terdapat Trio God Eater cabang Timur Jauh dan juga Ryan.
Sambil terus berjalan ke depan, Ryan terus memperhatikan percakapan di sekitarnya.
"Hei, apa kalian sudah dengar? Tadi malam ada orang yang menyusup ke dalam gedung utama Fenrir!"
"Kira-kira siapa ya penyusupnya?"
"Mungkin God Eater dari cabang lain? Soalnya pertahanan di sini sangatlah ketat. Tidak mungkin orang biasa bisa menembusnya dengan mudah!"
"Hmm, benar juga.Tapi, bukankah posisi God Eater bisa di cek menggunakan GPS yang ada pada gelang mereka ya? Seharusnya sangat mudah untuk mencari pelakunya."
"Benar juga, tapi kenapa sampai sekarang masih belum ada kabar lebih lanjut mengenai hal ini?"
"Aku sendiri tidak tahu. Tapi dari yang aku dengar, mereka sudah melakukan pengecekan sepanjang malam."
"Aku harap hari ini tidak akan terjadi masalah saat konferensi dilaksanakan …"
Banyak orang yang berbisik-bisik membicarakan hal serupa. Dan mereka semua melihat ke arah Ryan dan Trio God Eater dengan penuh kecurigaan.
“Yare-yare." Amamiya Lindow merentangkan tangannya. "Sepertinya mereka masih mencurigai kita."
"Seperti yang kamu katakan sebelumnya, kita adalah orang luar. Jadi wajar kalau mereka tidak mempercayai kita." ucap Sakuya.
__ADS_1
"Ini sangat menjengkelkan." gerutu Soma.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan pintu masuk gedung utama Fenrir cabang Rusia. Tidak seperti tadi malam, kali ini Ryan masuk ke dalam melalui pintu depan.
Ketika mereka berempat masuk, petugas keamanan memberikan mereka kartu identitas untuk masuk ke dalam ruang Konferensi. Bahkan petugas keamanan tersebut juga mengantar mereka berempat sampai mereka sampai di depan pintu masuk ruang konferensi.
Saat mereka tiba di depan pintu, mereka terkejut melihat kerumunan yang berjajar di pinggir lorong. Di tengah lorong tersebut, berjalan seorang wanita cantik berambut perak dengan tubuh yang seksi. Banyak dari mereka yang membicarakan wanita tersebut.
"Jadi itukah Adapter, God Eater Tipe Baru (New-Type) yang dirumorkan?"
"Aku dengar para petinggi sangat mementingkannya."
"Keberadaan Tipe Baru (New-Type) sangatlah langka, jadi wajar jika para petinggi mementingkannya."
Mendengar bisikan dari sekitarnya, Lindo, Sakuya dan Soma saling memandang. Mereka semua cukup terkejut.
“Aku tidak mengira wanita cantik itu adalah Tipe Baru (New-Type). Pantas saja itu dia sangat populer.” komen Lindow setelah memperhatikan tubuh Alisa.
God Eater sendiri dibagi menjadi dua tipe. Yaitu tipe pertarungan jarak dekat seperti Lindow dan Soma yang menggunakan pedang besar, dan juga tipe pertarungan jarak jauh seperti Sakuya yang menggunakan sniper.
Namun, baru-baru ini, God Eater bertipe petarung jarak dekat dan God Eater petarung jarak jauh disebut Tipe Lama (Old-Type).
Sebab, Fenrir telah mengembangkan sebuah God Arc yang dapat berubah bentuk sesuai keinginan pengguna. Entah itu bentuk pedan ataupun senapan. God Arc inilah yang disebut sebagai Tipe Baru (New-Type).
Adapter, sebutan untuk God Eater Tipe Baru (New-Type), sangat jarang ditemukan. Bahkan cabang Timur Jauh saja masih belum memiliki seorang Adapter. Maka dari itu, para petinggi cabang Rusia sangat mementingkan Alisa.
Di bawah perhatian banyak orang, Alisa tampak cuek dengan keadaan sekitarnya. Ia terus berjalan dari lorong seberang menuju ke ruang konferensi di sisi Ryan.
"Apakah dia juga akan berpartisipasi dalam peperangan ini? Tapi bukannya dia baru saja bergabung dengan Cabang Rusia ya?" tanya Sakuya.
“Menurut informasi yang aku terima, sudah dipastikan Tipe Baru (New-Type) itu pasti ikut dalam peperangan ini. Tapi itu adalah urusan mereka. Kita tidak memiliki kewajiban untuk melindunginya." jawab Lindow.
Setelah itu, Lindow berjalan masuk ke ruang konferensi. Sakuya dan Soma pun menyusulnya.
Melihat mereka semua masuk, Ryan hanya bisa mengikuti mereka. Secara kebetulan, Ryan dan Alisa memasuki pintu ruang konferensi secara bersamaan.
Alisa yang terus berjalan dengan cuek, tanpa sengaja melirik melirik ke arah Ryan. Ryan berusaha membuang wajahnya ke arah kanan, Namun, Alisa terus melihat wajah Ryan dengan serius.
Mendadak, tangan kanan Alisa menggenggam pergelangan tangan kiri Ryan.
"Eh?" Ryan terkejut dengan aksi Alisa yang menggenggam tangannya secara tiba-tiba.
__ADS_1
Pandangan orang-orang yang ada di ruang konferensi pun terpusat pada sosok Ryan.