
Menurut informasi Riko, markas IU sebenarnya adalah sebuah kapal selam bertenaga nuklir.
Kapal selam bertenaga nuklir ini selalu bergerak di laut, jadi tidak ada yang bisa mengetahui posisinya dengan jelas.
Namun, agar para anggota IU yang menjalankan misi di luar bisa kembali, kapal selam bertenaga nuklir itu akan mengeluarkan sinyal rahasia secara berkala,sehingga orang yang menerima sinyal tersebut mengetahui lokasi IU berada.
Setiap jangka waktu tertentu, sinyal yang dikeluarkan IU akan berubah. Maka dari itu, setiap anggota IU yang berada di luar harus tetap menjaga kontak dengan markas IU untuk mengetahui pola sinyal baru yang dikeluarkan IU.
Kemarin malam, Riko sang Butei Killer telah kalah di tangan Ryan. Jadi, IU tidak akan menghubungi Riko lagi dan memberitahu Riko sinyal yang baru.
Maka dari itu, sebelum IU mengganti pola sinyalnya, Ryan harus berangkat secepatnya. Jika tidak, Ryan tidak akan mungkin bisa menemukan markas IU.
Akan tetapi, IU berada di laut, dan juga merupakan sebuah kapal selam. Oleh karena itu, Ryan dan Aria membutuhkan alat transportasi yang bisa membawanya ke lokasi IU berada.
"Biarkan aku yang mengurus masalah transportasi." ucap Aria. Setelah itu, ia langsung pergi meninggalkan Ryan sendirian di kamar asrama.
Meski Aria tidak memiliki kemampuan deduksi penalaran, tapi kalau masalah uang, Aria jauh lebih unggul dari Ryan.
Jadi, masalah transportasi sudah pasti jatuh pada Aria.
"Baiklah, sekarang waktunya aku mempersiapkan diri. Mungkin, ini saatnya aku menggunakan peluru-peluru itu."
Di sebuah ruangan kecil tempat penyimpanan amunisi, Ryan duduk di kursi sambil melihat ke meja di depannya.
Di atas meja, terdapat beberapa kotak yang menyerupai kotak kapur. Namun, itu bukanlah kotak kapur, melainkan kotak berisi amunisi peluru.
Hanya saja, peluru-peluru tersebut bukanlah peluru biasa, melainkan peluru DAL, yang merupakan singkatan dari Detective Armed Lethal. Atau biasa disebut sebagai peluru Butei.
Berbeda dengan peluru yang Ryan gunakan sehari-hari, peluru ini memiliki efeknya masing-masing, bergantung dari jenis pelurunya.
Dalam kotak-kotak peluru tersebut, ada 4 jenis peluru, yaitu Peluru Peledak, Peluru Flash, Peluru Api, dan Peluru Suara.
Peluru Peledak memiliki efek dimana ketika peluru ini mengenai target, maka peluru ini akan meledak. Kekuatan Ledakan ini setara dengan roket Anti-Tank.
Untuk Peluru Flash, peluru ini memiliki efek seperti halnya Flashbang. Ketika peluru mengenai target, peluru ini akan memancarkan cahaya menyilaukan yang dapat melumpuhkan penglihatan lawan.
Sementara Peluru Api, memiliki efek untuk menciptakan nyala api berdiameter 30 meter.
Sedangkan Peluru Suara, memiliki efek menciptakan gelombang suara yang memekakkan telinga ketika mengenai target.
Dengan efek yang fantastis seperti itu, peluru tersebut juga memiliki harga yang fantastis. Harga masing-masing peluru tersebut adalah Satu Juta Yen.
Inilah alasan Ryan mengapa ia jarang sekali menggunakan uangnya, karena uang tersebut Ryan gunakan untuk membeli peluru-peluru ini.
Akan tetapi, sampai sekarang Ryan sama sekali belum menggunakan peluru DAL ini. Jika bukan karena akan menyerang markas IU, Ryan tidak akan pernah menggunakannya. Harganya yang sangat mahal ini membuat ginjal Ryan bergetar.
Saat Ryan sedang memikirkan kondisi keuangannya, tiba-tiba ponsel baru Ryan bergetar.
Dreet Dreet Dreet
“Hmm?” Melihat nama penelepon di layar ponselnya, Ryan sedikit terkejut.
Ryan lalu mengangkat telepon dan berkata dengan sedikit bergurau, "Halo, Kinji … aku nggak menyangka kamu bakal meneleponku lebih dulu. Ini benar-benar langka. Ada apa?”
Meski Ryan telah dekat dengan Kinji selama satu tahun, namun belum pernah sekalipun Kinji menelepon Ryan. Ini adalah kali pertamanya ia melakukannya.
Akan tetapi, setelah Ryan berbicara di ponselnya, Kinji sama sekali tidak meresponnya. Hingga beberapa saat kemudian, suara Kinji mulai terdengar dari ponselnya. “Aku berada di landasan pacu bandara Pulau Akademi, datanglah kemari.”
__ADS_1
Setelah mengucapkannya, Kinji langsung menutup sambungan teleponnya.
"Apa yang terjadi?" Dengan benak penuh pertanyaan, Ryan bangkit dari kursinya dan segera pergi ke lokasi yang Kinji sebutkan.
Dengan menggunakan Taksi, Ryan tiba landasan pacu yang berada di pulau buatan kecil tepat di sebelah Pulau Akademi. Pulau ini tersambung langsung dengan Pulau Akademi melalui landasan pacu.
"Mengapa Kinji memilih tempat ini sebagai lokasi pertemuan?" gumam ryan sambil berjalan menyusuri landasan pacu. Pada sisi kanan dan kiri landasan pacu, berjajar kincir angin yang berfungsi sebagai pembangkit listrik bandara.
Di ujung landasan pacu, Ryan melihat Kinji yang mengenakan seragam SMA Butei berdiri dan memandang ke arah Ryan. Ryan seketika itu berhenti dengan wajah serius.
Ryan dapat merasakan aura yang berbeda dari Kinji yang biasanya. Tatapan matanya tidak lagi seperti orang malas, melainkan dipenuhi dengan kepercayaan diri yang kuat.
“Mode Hysteria Savant Syndrom …” gumam Ryan begitu melihat kondisi Kinji saat ini.
Swooosh
Angin berhembus kencang dan menyebabkan kincir angin di sekitar landasan pacu berputar. Dalam kondisi seperti ini, Ryan dan Kinji saling berhadapan tanpa sepatah katapun.
Beberapa saat kemudian, Ryan menyipitkan matanya dan berkata, "Bukankah kamu bersumpah untuk tidak menjadi Butei lagi? Lalu kenapa kamu masuk ke Mode Hysteria Savant Syndrom lagi?"
Kinji tidak menjawab pertanyaan Ryan. Ia hanya menatap Ryan dengan serius. Hingga akhirnya, ia mulai membuka mulutnya. “Apakah Kanzaki-san tidak bersamamu?"
"Aria?" Ryan mengangkat alis dan tertawa. "Hahahaha … tidak biasanya kamu menanyakannya. Mungkinkah karena kamu memasuki mode playboy sekarang?”
Kinji hanya diam tidak menanggapi gurauan Ryan. Kinji melakukan hal ini karena ia sudah mendapat jawaban yang ia inginkan.
Tak lama kemudian, Tohyama Kinji perlahan mengangkat tangannya. Di tangan Kinji, terdapat sebuah pistol Beretta yang diarahkan ke arah Ryan.
Swoosh
Sekali lagi, angin bertiup dan mengangkat jas merah yang dikenakan Ryan dan Kinji.
"Kamu harus tetap di sini untuk sementara waktu. Menurutlah dan aku tidak akan menyakitimu. Setelah masalah ini selesai, kamu bisa pergi." ucap Kinji dengan nada suara yang dingin.
Mendengar hal ini, Ryan mulai memahami tujuan Kinji memanggilnya kemari.
"Jadi begitu." Ryan berbisik dengan raut wajah serius. "Apa yang akan kamu lakukan dengan Aria?"
Kinji kembali terdiam. Namun, Ryan dapat dengan jelas melihat bahwa pada saat ini, mata Tohyama Kinji memancarkan sedikit kebingungan. Seakan ia sedang merasa bersalah.
Dari sini, Ryan dapat menyimpulkan bahwa Aria dalam keadaan bahaya.
Maka dari itu, Kinji sedikit merasa bersalah pada Ryan, orang yang telah menemaninya sejak kelas 1 SMA.
Tanpa ragu, Ryan langsung berbalik dan bersiap untuk pergi.
Dor
Seketika itu, suara tembakan terdengar dengan keras.
Siiuu
Sebuah peluru mendarat tepat di samping kaki kiri Ryan dan menyemburkan percikan api.
"Jangan paksa aku ..." Kinji menggertakkan giginya dan berkata dengan suara serak, "Aku tidak ingin menembakmu."
Mendengar ucapan Kinji, Ryan tidak berhenti dan terus berjalan.
__ADS_1
Dor Dor
Suara tembakan beruntun terdengar dari arah belakang Ryan.
Namun, kali ini tembakan tersebut tidak ditembakkan ke arah kaki Ryan, tetapi langsung ke tubuhnya.
Merasakan ancaman yang datang dari arah belakang, Ryan langsung memiringkan tubuhnya ke samping.
Dengan mudah, Ryan menghindari tembakan Kinji. Kedua peluru yang itu langsung melewati Ryan tanpa menggoresnya sedikitpun dan pergi ke kejauhan.
Setelah kedua peluru tersebut lewat, Ryan berbalik dan menatap Kinji.
Dor
Bersamaan dengan suara tembakan, sebuah cahaya kuning meledak di depan Ryan. Ini adalah teknik Invisible Bullet.
Di saat yang hampir bersamaan, di depan tubuh Kinji muncul kilatan cahaya yang sama. Tapi, anehnya, Kinji tidak terlihat mengarahkan pistol Beretta-nya ke arah Ryan.
Dor
Itu tandanya, Kinji juga menggunakan Invisible Bullet. Namun, bukan hanya Invisible Bullet saja yang digunakan Kinji dalam tembakan ini.
Pistol Beretta milik Kinji telah dimodifikasi. Sekarang, pistol tersebut tidak hanya mampu menembak dengan mode otomatis, tetapi juga dapat menembak dua kali sekaligus dalam satu tarikan pelatuk. Itu artinya, sekali menembak, pistol Kinji dapat memuntahkan dua peluru secara beruntun.
Dengan cepat, kedua peluru milik Ryan dan Kinji bertemu.
Clang
Peluru pertama Kinji langsung bertabrakan dengan peluru yang ditembakkan Ryan hingga menciptakan percikan api yang kuat di udara.
Alhasil, kedua peluru tersebut memantul ke arah sebaliknya.
Clang
Tak butuh waktu lama, peluru kedua Kinji bertabrakan dengan peluru pertamanya dan kembali memantul ke arah Ryan.
Ryan yang tidak sadar adanya peluru kedua tersebut, kembali mengeluarkan pistol Glock dari cincin Black Space untuk menembak Kinji.
Akan tetapi, peluru pertama yang telah dipantulkan Kinji, dengan keras menabrak moncong pistol Glock milik Ryan.
Clang
Diiringi suara hantaman metal, Glock di tangan Ryan langsung meledak dan hancur.
Ryan benar-benar terkejut dengan semua ini.
Kinji menutup matanya dan perlahan membuka mulutnya. "Mirror Shoot …"
Mirror Shoot adalah teknik menembak dengan memanfaatkan dua peluru untuk memantulkan kembali peluru pertama yang bertabrakan dengan peluru musuh ke arah musuh.
Kinji memanfaatkan teknik Invisible Bullet dan keunikan pistol Beretta miliknya yang mampu melakukan dua tembakan beruntun dalam satu tarikan pelatuk.
Tanpa teknik Invisible Bullet, Kinji tidak akan bisa mengimbangi kecepatan tembak Ryan.
Jika tidak ada pistol Beretta dengan tembakan ganda, maka senjata Kinji akan bernasib sama seperti senjata Ryan sekarang.
"Aku sudah sering melihat teknik Invisible Bullet milikmu. Dan aku juga sudah berkali-kali kalah darimu gara-gara teknik ini."
__ADS_1
"Akan tetapi, kamu kira aku menahanmu di sini tanpa persiapan?"
Kinji kembali mengarahkan pistolnya ke arah Ryan dan berbisik, "Aku katakan sekali lagi, tetap diam di sini!"