
Kota Misaki, pinggiran sungai Mana.
Kondisi wilayah pinggiran sungai Mana masih tampak hijau dan indah. Semua lubang-lubang di tanah tak lagi terlihat, seakan-akan pertarungan dahsyat yang terjadi semalam tidak pernah terjadi.
Sungai telah pulih sepenuhnya, dan bahkan setetes air pun tidak terbuang percuma.
Jembatan besi besar yang menghubungkan kawasan bisnis kota Misaki dengan area pemukiman juga telah dipugar ke bentuk aslinya. Kondisinya tidak lagi seperti kemarin.
Semua kekacauan yang ada di sini telah dipulihkan sepenuhnya tanpa ada orang tahu bahwa tempat ini pernah hancur.
Di tempat yang damai itu, berdiri seorang gadis remaja berambut hitam panjang membelakangi jalan setapak yang sepi dan menghadap ke arah sungai. Di tangannya, ia memegang Ōdachi di tangannya dengan erat dan berkonsentrasi ke depan.
Ekspresi yang sangat serius tercetak di wajah mempesonanya, seolah-olah ia berniat untuk menyerang kapan saja.
Dari tubuhnya, terpancar aura yang cukup kuat. Dengan aura seperti ini, orang lain pasti tidak akan percaya bahwa gadis yang sedang berdiri di pinggiran sungai sendirian ini masih tampak baru berusia 13-14 tahun.
Entah sudah berapa lama gadis itu berdiri dengan posisi ingin menebas. Hingga akhirnya, gadis muda itu menurunkan Odachi-nya dan berbisik, “Sepertinya aku masih belum bisa mengendalikannya.”
Dalam suara itu, pengakuan dan keengganan bergema dengan sangat jelas.
Tak lama kemudian, liontin yang gadis muda itu kenakan mengeluarkan suara.
“Jangan khawatir.” Alastor menghibur Shana, "Kamu telah memenuhi syarat untuk menggunakan kekuatanku. Cepat atau lambat, kamu pasti dapat menggunakan kekuatanku dengan bebas. Tapi, jika kamu terlalu cemas, itu akan memiliki efek sebaliknya."
Flame Haze yang telah melakukan kontrak dengan Crimson Lord mampu menggunakan Power of Existence yang diberikan oleh Crimson Lord di dalam tubuh mereka.
Dalam tubuh Shana, bersemayam Crimson Lord yang dikenal sebagai Flame of Heaven dan juga Dewa. Bisa dibilang, kekuatan yang Shana terima seharusnya sangat kuat.
Sayangnya, Shana tidak bisa menggunakannya sama sekali. Maka dari itu, Hunter mengejek Shana bahwa dia sangat lemah.
Bahkan untuk menjalankan misinya sebagai Flame Haze, Shana membutuhkan kekuatan Nietono no Shana untuk mengendalikan kekuatannya. Tapi tentu saja kekuatan yang berhasil ditarik bukanlah kekuatan penuh Shana. Hal ini membuat Shana selalu merasa minder.
Memikirkan kekalahannya di tangan Thousand Changes ,Shana menggertakkan giginya dan sekali lagi mengangkat Nietono no Shana di tangannya.
“Haah~” Alastor hanya bisa menghela nafas melihat Shana yang seperti ini.
Kekalahan dari Sydonay rupanya membuat Shana mendapat banyak pukulan. Gadis muda yang memiliki harga diri tinggi itu tidak dapat menerima kegagalan ini.
“Aku tidak boleh gagal! Aku tidak boleh mengulangi kegagalan yang sama dua kali!” ucap Shana dengan tekad yang sangat kuat.
“Aku harus bisa menggunakan kekuatanku, agar aku tidak lagi kalah melawan Thousand Changes.”
Semua kata-kata ini benar-benar berasal dari lubuk hati Shana yang terdalam.
__ADS_1
Akan tetapi, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang dan menyela Shana tekad Shana.
“Sayangnya, akulah yang akan mengalahkan Thousand Changes.”
Seketika itu, Shana langsung berbalik dengan keras dan menghunuskan Odachi di tangannya
Tepat di belakang Shana, Ryan telah berdiri di sana dengan satu tangan di pinggangnya sembari tersenyum.
“Jangan khawatir, aku bukan Crimson Denizen. Jika itu mereka, kamu sudah pasti dapat merasakan keberadaan mereka meski jarak mereka cukup jauh.” jawab Ryan dengan santai. Padahal, bilah Nietono no Shana hanya berjarak beberapa milimeter dari leher Ryan.
‘Bagaimana mungkin? Mengapa tadi aku tidak bisa merasakan hawa keberadaannya? Meski bukan Denizen, seharusnya aku tetap bisa merasakan semua keberadaan makhluk hidup seperti manusia!’ teriak Shana dalam hati.
Shana ingin sekali meneriakkan semua itu, tapi Shana memilih untuk menahannya. Ia lalu mendengus dingin dan berbalik.
Tanpa mempedulikan Ryan di belakangnya, Shana kembali mengangkat Nietono no Shana di tangannya ke arah sungai.
Pada saat itulah, sepasang tangan terulur dari belakang Shana. Dan dengan postur seperti sedang memeluk dari belakang, kedua tangan Ryan memegang gagang odachi Nietono no Shana.
Tak lama kemudian, suara lembut Ryan terdengar tepat dari atas kepala Shana.
"Aku tahu kamu sadar bahwa kamu tidak memiliki cara untuk mendeteksi keberadaanku."
"Tapi, kamu malah dengan gamblangnya berani memperlihatkan punggungmu padaku. Aku tidak tahu kalau ini karena kamu terlalu percaya diri pada kemampuanmu, atau kamu benar-benar percaya padaku."
Namun, sebelum Shana memberikan jawaban, suara Ryan terdengar lagi.
"Terus berkonsentrasi! Ikuti aliran energi yang aku keluarkan!"
Mendengar perintah tegas Ryan, Shana segera berkonsentrasi.
Perlahan, butiran cahaya mulai muncul di tangan Ryan yang masih memegang gagang Nietono no Shana.
Itulah energi yang disebut Prana.
Bagaikan puing-puing debu bintang yang berkilauan, Prana yang keluar mulai menutupi kedua telapak tangan Shana dan juga Nietono no Shana.
Ryan menutup matanya sambil terus memeluk Shana dan berkata, "Meskipun aku bukan seorang Flame Haze, tapi aku telah dilatih untuk dapat mengendalikan energi dalam tubuhku."
Setelah berhasil menjalani transisi Profesi menjadi Genestella, Ryan memiliki Prana dalam tubuhnya. Akan tetapi, pada awalnya Ryan juga tidak mampu mengontrol kekuatan ini sepenuhnya.
"Dalam hal ini, situasimu agak mirip dengan apa yang terjadi padaku sebelumnya. Kamu memiliki kekuatan, tetapi kamu tidak dapat menggunakannya dengan baik."
Ryan berbisik, "Jadi, rasakan dengan energi yang aku kirimkan. Gunakan itu untuk merasakan kekuatan yang tertidur di dalam tubuhmu."
__ADS_1
Saat kata-kata itu jatuh, Prana yang sangat kaya mulai menyelimuti tubuh Ryan dan menutupi Shana. Bintang-bintang yang sangat terang ini menyinari area di sekitar mereka berdua.
'Hangat sekali …'
Cahaya bintang yang menyelimutinya membuat Shana merasa sangat hangat. Akan tetapi di balik rasa hangat ini, sama-samar Shana juga merasakan rasa hening dan sepi.
Perasaan luar biasa ini menyebabkan Shana rileks dan menutup matanya sendiri tanpa sadar.
Prana yang mempesona itu seperti aliran air. Dari tangan Ryan, melalui Nietono no Shana, aliran Prana itu mengalir ke tangan Shana. Dan melalui tangan Shana, Prana tersebut terus mengalir ke seluruh tubuh.
Shana yang sudah dalam keadaan rileks dan berkonsentrasi, dapat dengan mudah merasakan energi yang mengalir dalam tubuhnya.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, tiba-tiba Shana mendengar gumaman Ryan. "Aku menemukannya. Ini adalah kekuatanmu, Shana. Coba rasakan sendiri secara perlahan, jangan terburu-buru."
Mendengar instruksi Ryan, Shana perlahan mulai merasakannya. Di bawah traksi energi milik Ryan, Shana merasakan sebuah kekuatan yang tertidur di bagian terdalam tubuhnya.
Kekuatan itu seperti bunga teratai merah yang membara.
Saat ini, Shana merasa seperti kembali ke masa lalu.
Dulu, pada salah satu latihan harian untuk menjadi Flame Haze di Tendoukyuu, ada sebuah latihan yang disebut api unggun.
Dalam latihan ini, Shana harus berjalan masuk ke dalam api Alastor. Di sana, Shana harus belajar merasakan Aura, kekuatan, dan juga kehendak Alastor dalam api tersebut.
Itu adalah jenis latihan yang Shana paling sukai. Karena latihan ini, dapat memberi Shana semacam Akar yang membuat Shana terhubung dengan Power of Existence. Hal ini membuatnya merasakan kesenangan yang tak terlukiskan.
Dan hari ini, Shana merasa seperti kembali ke masa-masa itu.
Hanya saja, kali ini Shana tidak lagi berdiam diri di dalam api dengan tubuhnya, melainkan membenamkan kesadarannya ke dalam tubuhnya.
Shana dapat merasakan bahwa di tubuhnya terdapat api teratai merah yang terus terbakar dengan ganas dan kuat, seolah-olah api ini dapat membakar seluruh dunia, bahkan Dewa sekalipun.
'Apakah ini kekuatan yang tertidur di dalam tubuhku?'
Shana mau tidak mau terlena dengan kekuatan ini.
'Ternyata, sejak awal, di dalam tubuhku memiliki kekuatan yang sangat kuat …'
Dengan daya tarik ini, Shana secara tidak sadar mulai mendekati api lotus merah yang berapi-api itu dan mengulurkan tangannya.
Namun, saat tangan Shana akan menyentuh api tersebut, sebuah suara mendadak terdengar di telinga Shana.
"Apa yang paling kamu inginkan?"
__ADS_1