
"Baiklah, aku memilih untuk tinggal!"
Ding
[Nomor serial 124.888 memilih untuk tinggal di dunia Kabaneri The Iron Fortress. Anda memiliki waktu 3 hari]
"Akhirnya aku dapat beristirahat dengan tenang." Rian kemudian duduk bersandar di sebelah Mumei. Perlahan, ia pun memejamkan mata menuju alam mimpi.
Waktu berlalu dengan cepat. Sinar matahari pun mulai masuk melalui sela-sela pada dinding gerbong.
"Hooaam~ selamat pagi …." Dengan mata yang masih mengantuk Mumei mulai meregangkan badannya. Ia kemudian melihat sekelilingnya dan melihat Ryan tidur di sampingnya.
"Aku tidak boleh meremehkan pria ini. Hanya berbekal pisau biasa saja, ia bisa dengan mudah membunuh kabane. Aku harus berhati-hati. Tapi …" Mumei kembali mengingat bagaimana Ryan selalu berbicara padanya layaknya ia adalah seorang gadis normal. Ia pun tersipu malu mengingatnya.
Saat Mumei akan berdiri, ia merasa pusing dan lemas. Mata Mumei pun berubah menjadi merah. "Ini gawat. Aku benar-benar lapar!" Mumei lalu memandangi leher Ryan yang sedang tertidur di sebelahnya.
Merasa ada seseorang yang ada di dekatnya, Ryan pun langsung membuka matanya. Ia begitu terkejut ketika melihat wajah Mumei yang sudah sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan Ryan dapat merasakan nafas Mumei. "Woaahhh! Kaget aku, haah … Mumei, ada apa?"
"Hei, bisakah kamu memberikan sedikit darahmu?" ucap Mumei dengan senyum manisnya.
'Imut sekali!' teriak Ryan dalam hati.
"Kamu menginginkan darahku?" Ryan sadar bahwa Mumei sudah sangat lapar sejak tadi malam. Kabaneri bukanlah sepenuhnya manusia. Walau mereka memiliki akal, namun tetap saja insting kabane untuk meminum darah manusia masih ada.
"Iya, aku ingin meminum darahmu. Aku sangat lapar sekarang. Kalau aku tidak segera meminum darah, aku takut aku tidak bisa mengendalikan diriku!"
"Oke … nggak ada kata nggak untuk Mumei yang cantik …" kemudian Rian menyabetkan pisaunya ke lengan kanannya.
Slash
Darah mulai mengalir dari luka tersebut. "Silahkan dinikmati sayang …" Melihat begitu banyaknya darah yang mengalir, Mumei tidak lagi mendengar ucapan Ryan. Yang ada di benaknya hanyalah darah, darah, dan darah.
Dengan cepat, Mumei memeluk lengan kanan Ryan. Bibirnya yang manis itu pun menempel pada luka Ryan.
Gluk Gluk
__ADS_1
Suara Mumei meminum darah Ryan menggema memenuhi gerbong mesin. Mumei minum dengan sangat serius. Entah sengaja atau tidak, tapi dada Mumei terus menekan lengan Ryan.
'Anjir, siksaan macam ini! Mumei begitu menggoda, ditambah dadanya yang empuk … tenangkan dirimu Ryan, tenang. Dulu juga Rea selalu menggodaku, dan aku berhasil untuk pura-pura tidak sadar. Seharusnya kali ini pun bisa!' Dalam sekejap, Ryan pun berubah menjadi biksu yang tidak memiliki nafsu.
"Apa yang kamu lakukan!?" Ikoma yang baru saja bangun, terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia pun sangat marah dengan apa yang Mumei lakukan.
"Apanya yang kabaneri! Kamu hanya seorang kabane! Cepat lepaskan Ryan!" Teriak Ikoma sambil menodongkan Tsuranuki Zutsu.
Tanpa melihat Ikoma, Mumei langsung menendang Ikoma hingga terpental mengenai dinding gerbong.
Brak
Ikoma lalu jatuh tersungkur setelah menabrak dinding.
Setelah itu, Mumei melepas lengan Ryan dan mengusap bibirnya yang penuh darah. Kini, mata Mumei kembali seperti semula. "Apa yang kamu lakukan!?"
"Justru aku yang seharusnya bertanya begitu! Kenapa kamu menghisap darah Ryan!?"
"Karena begitulah cara hidup kabaneri."
"Apa?" Ikoma terkejut ucapan Mumei. Ia sekarang memandang Mumei sebagai orang yang berbahaya.
"Aku tidak akan pernah meminum darah!"
"Apa kamu yakin? Jika kabaneri tidak minum darah dalam interval tertentu, tidak hanya kamu akan melemah, namun juga kamu akan berubah menjadi kabane."
Mendengar semua ini, Ikoma hanya bisa terdiam. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ia sudah bukan manusia lagi.
Melihat ekspresi Ikoma ini, Ryan mencoba menyadarkannya. "Ikoma, kamu harus segera membuang semua pikiran naifmu. Kamu harus bisa menghadapi kenyataan."
Ryan kemudian memandang ke arah Ikoma dengam serius. "Apalagi, kamu sekarang bukan seorang manusia lagi …"
Suasana pun menjadi berat. Ikoma terlihat masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ia bukan manusia lagi.
Sambil terus melihat Ikoma yang merenung, Ryan mengeluarkan ramuan penyembuh, kue kering, dan botol minum. Ia kemudian meneteskan sedikit ramuan pada luka sabetan tadi.
__ADS_1
Tssss
Muncul asap putih dari luka Ryan. Perlahan, luka Ryan menutup dan kembali seperti semula seakan tidak pernah terluka.
Mumei yang melihat semua ini dari samping sangat terkejut. Namun Ryan tidak memperdulikan padangan Mumei. Ia pun langsung makan kue kering penambah energi. Ia sangat lapar karena sejak tadi malam, ia sama sekali belum makan. 'Dengan jatuhnya Stasiun Aragane, pasti rasio makanan di kereta ini sangat terbatas. Untung saja aku membeli kue kering ini. Satu bungkus kue kering ini, bisa membuatku tidak lapar selama sehari. Dan aku punya 10 bungkus. Jadi aku tidak perlu meminta makanan pada mereka.'
Setelah Ryan makan, ia melihat Mumei dan Ikoma terus memandang ke arahnya dengan ekspresi penasaran. "Huh? Kenapa kalian melihatku seperti ini?"
"Ini pertama kalinya aku melihat seorang manusia yang memiliki kemampuan seperti ini. Apa kamu yakin kalau kamu manusia?" tanya Mumei.
"Tentu saja aku manusia!"
"Apakah semua ini karena cairan tadi?" tanya Ikoma.
"Apa yang Ikoma katakan itu benar. Semua ini terjadi karena cairan yang aku teteskan pada luka ku." jawab Ryan sambil menunjukkan sebotol ramuan penyembuh.
Tiba-tiba, ekspresi Mumei berubah. Matanya pun kembali merah. "Ada kabane di sini!"
Mumei kemudian langsung lari dan membuka pintu gerbong. Namun, dari belakang Mumei, Ryan memegang bahunya. "Berhenti! Kamu nggak boleh keluar!"
"Apa maksudmu!?"
"Aku telah berjanji pada Ayame. Agar kalian bisa tetap tinggal di Koutetsujou, aku berjanji padanya bahwa kalian tidak akan keluar dari gerbong ini selangkah pun!" tegas Ryan.
"Lepaskan aku!" Mumei memutar bahunya dan melepas tangan Ryan. "Walau begitu, aku harus pergi!"
Saat Mumei akan membuka pintu, mendadak ia berhenti. Entah sejak kapan, namun sebuah pisau telah berada di leher Mumei. Bergerak sedikit saja, pisau tersebut akan memotong lehernya.
"Sudah ku bilang, jangan pergi!" Berdiri di belakang Mumei, Ryan telah mengaktifkan Mystic Eye of Death Perception. Garis-garis kematian di tubuh Mumei pun mulai tampak.
"Aku merasakan hawa keberadaan kabane di gerbong depan! Yang artinya, ada kabane di dalam Koutetsujou!"
"Benarkah?" Ryan kemudian berbicara dengan lembut di telinga Mumei. "Lalu, apa hubungannya denganmu?"
"Hubungannya denganku? Tentu saja ada! Sudah tugasku untuk membunuh kabane!"
__ADS_1
Dengan kata lain, Mumei ingin segera ke gerbong depan hanya untuk membunuh kabane, bukan demi keselamatan orang-orang yang ada di dalam Koutetsujou. Mengetahui hal itu, Ryan menutup matanya sebentar. "Jadi sudah tugasmu untuk membunuh kabane? Namun apakah kamu tahu konsekuensi yang akan kamu sebabkan jika kamu keluar dari gerbong ini?"
"Biar aku perjelas. Samurai dari keluarga Yomogawa pasti akan menembak mati kalian dengan berbagai alasan. Mereka tidak peduli dengan kabane yang ada di gerbong depan. Karena bagi mereka, kalian berdua lah kabane di sini."