
Alastor sangat meragukan identitas Ryan. Sebagai manusia, kekuatan Ryan terlalu kuat. Reiji Maigo tidak akan bisa memberinya kekuatan sebesar itu.
Tapi tentu saja, Ryan tidak berniat untuk menjelaskan sumber kekuatannya.
"Seingatku, misi Flame Haze adalah menjaga keseimbangan dunia. Demi mewujudkan hal tersebut, Flame Haze akan berperang melawan para Denizen perusak keseimbangan."
Ryan kemudian menatap liontin yang dikenakan Shana dengan tatapan serius. "Informasi mengenai siapa aku dan juga mengapa aku memiliki kekuatan diluar manusia biasa, sepertinya semua itu tidak ada hubungannya dengan keseimbangan dunia. Benar begitu kan, Shana, Alastor?"
Makna dari pernyataan tersebut sangat jelas. Ryan mencoba memberitahu Shana dan Alastor bahwa masalah ini tidak termasuk dalam ruang lingkup yang harus diurus oleh Flame Haze.
"Ataukah mungkin, menurut kalian, kekuatanku juga telah menyebabkan terjadinya distorsi di dunia ini?" Ryan berkata dengan senyum tipis, "Kalau memang demikian, maka aku akan dengan sukarela mengungkap identitasku dengan jujur kepada kalian."
Mendengar ini, Alastor terdiam.
Shana mengerutkan dahinya sesaat. Ia merasa apa yang dikatakan Ryan masuk akal. "Kamu benar. Identitas dan asal kekuatanmu, semuanya tidak ada hubungannya dengan misi Flame Haze. Kami memang tidak perlu menanyakan hal tersebut."
Shana lalu berkata dengan sangat sederhana, “Kalau begitu, kembali ke topik Reiji Maigo. Bagaimana caramu mendapatkan Treasure Tool (Hogu) tersebut?”
Secara umum, Treasure Tool (Hogu) dibuat oleh Crimson Denizen. Jadi, benda seperti itu biasanya ada di tangan Crimson Denizen atau Flame Haze. Manusia yang memiliki Treasure Tool (Hogu) sangatlah langka.
"Jika kamu Mystes, maka tidak mengherankan kalau kamu bisa memilikinya." Alastor berkata, "Tapi kamu hanya seorang manusia, ini sangat aneh."
Mystes adalah jenis Torch yang di dalam tubuhnya menampung Treasure Tool (Hogu). Mereka mendapatkan Treasure Tool (Hogu) secara acak. Bahkan Torch tersebut tidak akan sadar bahwa di dalam dirinya ada Treasure Tool (Hogu).
Setelah Torch kehabisan Power of Existence-nya dan menghilang sepenuhnya dari dunia ini, Treasure Tool (Hogu) yang tersimpan di dalam Torch akan pergi ke manusia lain yang baru menjadi Torch.
Treasure Tool (Hogu) semacam ini akan terus berpindah dari satu Torch ke Torch lainnya sampai ada yang mengekstraknya dari dalam tubuh Mystes.
Karena sifatnya, Torch jenis ini sering disebut sebagai harta karun bergerak.
Maka dari itu, jika Ryan adalah Torch, maka wajar saja Ryan dapat memiliki Treasure Tool (Hogu). Tapi sayangnya, Ryan hanyalah seorang manusia.
"Itu bukan urusanmu." Ryan menghela nafas dan berkata, "Nggak peduli bagaimana caranya aku mendapatkan Reiji Maigo, kamu nggak memiliki hak untuk mengetahuinya."
Begitu kata-kata Ryan itu keluar, seluruh ruangan menjadi sunyi.
__ADS_1
Alastor hanya diam seakan ia sedang marah dan enggan berbicara lagi dengan Ryan. Sementara Shana, ia hanya terdiam mengawasi Ryan dengan serius.
Suasana sunyi ini membuat keadaan semakin menjadi berat.
Setelah beberapa saat, Shana akhirnya angkat bicara. "Alastor, bagaimana menurutmu?"
Alastor hanya diam tak menjawab pertanyaan Shana, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tak lama kemudian, suara Alastor akhirnya terdengar kembali. "Misi kita memang hanya menghukum para Denizen yang mendistorsi dunia. Karena Manusia ini tidak ada hubungannya dengan Misi Flame Haze, kita lebih baik tidak bersikap keras kepala dan segera pergi dari sini."
Apa yang ingin dikatakan Alastor sudah sangat jelas. Ia tidak ingin Shana mengganggu Ryan lagi dan lebih fokus untuk berburu Crimson Denizen lainnya.
Di dunia ini, manusia yang menjadi Flame Haze bukan hanya Shana seorang.
Untuk menjadi Flame Haze, sang kontraktor harus mengorbankan keberadaan yang dia miliki, entah itu keberadaan di masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dengan kata lain, sejak manusia menjadi Flame Haze, waktu pada dirinya akan berhenti. Selama Flame Haze tidak terbunuh, maka mereka akan hidup selamanya.
Akibatnya, sesama Flame Haze mengincar mangsa yang sama bukanlah hal yang aneh.
Sebagian besar alasan orang-orang tersebut menjadi Flame Haze adalah karena mereka atau orang yang mereka sayangi menjadi korban Crimson Denizen.
Menggunakan kebencian sebagai pemicunya, orang-orang tersebut bersedia mengorbankan dirinya untuk membuat kontrak dengan Crimson Lord.
Karena alasan dan tujuan Flame Haze berbeda-beda, mereka jarang bekerja sama dalam menjalankan misinya. Terkecuali mereka saling mengenal sejak lama.
Sayangnya, Shana sangat berbeda dengan kebanyakan Flame Haze lainnya
Shana menjadi Flame Haze bukan karena kebenciannya pada Crimson Denizen, melainkan karena Shana telah dilatih sebagai penerus Flame Haze sejak masih kecil.
Oleh karena itu, Shana selalu bersikap tegas dan patuh dalam menjalankan misinya sebagai Flame Haze. Ia tidak pernah sekalipun membantah perintah Alastor.
Namun sayang, kali ini, untuk pertama kalinya, Shana membantah permintaan Alastor.
“Jika lawannya adalah Hunter, bahkan jika manusia ini memiliki kekuatan yang kuat, tidak menampik kemungkinan dia akan kalah.”
__ADS_1
Shana berkata dengan nada tegas, "Jadi, Alastor, aku akan terus mengawasinya di sini! Selain itu, selama Reiji Maigo ada di tangannya, pasti akan ada Crimson Denizen lain yang akan mengincarnya.”
Mendengar argumentasi Shana, Alastor kembali terdiam.
Segera setelah itu, Alastor menjawab, "Kalau begitu, tinggallah di kota ini."
Dengan demikian, rencana selanjutnya Alastor dan Shana kali ini telah diputuskan
Setelah itu, Shana segera berdiri dan memandang Ryan dengan sikap yang lebih merendah. “Aku akan terus mengawasimu dari dekat. Jika kamu bertemu Friagne dan tidak bisa mengalahkannya, maka aku akan turun tangan.”
Setelah meninggalkan perkataan seperti ini, Shana tidak menunggu jawaban Ryan dan berjalan langsung ke balkon. Begitu ia tiba di balkon, Shana melompat keluar dari sana.
Melihat pemandangan ini, Ryan merasa lega seolah-olah ia telah memecahkan masalah rumit. “Haah~”
“Akhirnya dia pergi juga …”
“Bersama dengannya, membuatku sedikit tersiksa secara batin.”
Tersiksa secara batin yang dimaksud Ryan adalah tersiksanya Ryan dalam keinginan gelapnya terhadap Shana, sehingga membuat batinnya sedikit tersiksa.
Sejak dirinya berpacaran dengan Aria, terjadi perubahan selera pada diri Ryan. Kini, selera Ryan terhadap wanita menjadi lebih luas. Dari yang awalnya hanya mengincar wanita dengan minimal seorang siswi SMA, sekarang malah turun menjadi lebih muda lagi
Sebagai orang dewasa, Ryan sadar bahwa semua itu salah. Di sisi lain, Ryan merasa lega karena ia masih memiliki emosi untuk mencintai seseorang. Karena selain emosi tentang cinta dan nafsu serta emosi untuk bertarung dan membunuh, Ryan sudah hampir tidak lagi merasakan semua emosi lainnya.
Walau begitu, Ryan tetap tidak menyukai emosi yang ia rasakan terhadap Shana sekarang. “AKu nggak bisa begini terus. Aku harus merehabilitasi diriku agar bisa kembali normal.”
“Untung saja, di dunia The Asterisk War, Fan Xinglou terlalu kuat dan menakutkan, sehingga aku tidak memiliki pikiran yang aneh-aneh padanya. Akan tetapi, di dunia ini, Shana adalah orang yang polos dan lemah. Melihatnya saja, aku ingin sekali merusak kepolosannya.”
Tanpa sadar, Ryan mengeluarkan senyuman menyeringai saat terbayang keinginan untuk merusak kepolosan Shana.
Melihat pantulan ekspresinya di kaca jendela, Ryan segera menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak, nggak, nggak …”
“Aku harus menghilangkan semua pikiran ini!”
Setelah beberapa saat menenangkan diri, Ryan bergumam, “Oke, karena aku sudah tenang, sekarang aku harus mengingat-ingat lagi informasi mengenai Friagne dari Anime-nya.”
__ADS_1