
Kota Misaki, area pemukiman.
Di kamar apartemen, Shana perlahan menggendong Ryan ke tempat tidur dan membiarkannya berbaring.
Nafas Ryan sekarang jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ekspresinya pun sudah tidak pucat lagi.
Setelah meletakkan tubuh Ryan di atas tempat tidur, Shana duduk berlutut di samping tempat tidur sambil terus menatap wajah Ryan yang masih tak sadarkan diri.
Kini, penampilan Shana sudah berubah. Rambutnya tidak lagi dipenuhi api merah membara, melainkan berwarna gelap seperti gadis Asia biasa. Mata terbakarnya juga sudah menghilang. Yogasa yang biasa menyelimuti tubuhnya telah dilepas dan dilipat di sebelahnya.
Saat ini, hari sudah gelap. Pertempuran antara Ryan, Friagne, dan Sydonay dimulai saat matahari masih bersinar, lalu berakhir ketika malam sudah larut.
Di luar kamar apartemen, gemerlap cahaya lampu penerangan telah menerangi kawasan pemukiman. Hanya kamar apartemen ini saja yang terasa masih gelap dan redup.
Dalam kegelapan seperti itu, Shana masih terus menatap wajah Ryan, hingga akhirnya ia berbisik setelah sekian lama diam.
"Hei, Alastor."
Liontin Shana langsung berkilat seperti serbuk api.
"Ada apa?" tanya Alastor dengan suara yang sangat jelas, seakan ia sudah tahu apa yang menjadi masalah Shana sekarang.
Shana sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Ia hanya mengerutkan dahinya yang indah, dan berkata dengan sedikit tertekan.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang."
Jika orang lain mendengarnya, merek pasti tidak akan paham mengenai maksud pertanyaan ini. Akan tetapi, Alastor memahaminya.
Meski telah memahami permasalahannya, Alastor tidak mengatakannya secara langsung, melainkan terus bertanya, "Apa permasalahannya? Aku tidak akan tahu jika kamu tidak menjelaskannya."
"Aku bingung harus berkata apa." Shana menempelkan kedua tangannya di dadanya dan terdiam selama beberapa saat. Setelah sekian lama, akhirnya Shana kembali bergumam.
"Aku cuma bingung …"
"Aku bingung, perkataan siapa yang paling benar."
Inilah permasalahan yang hadir dalam hati Shana. Permasalahan mengenai prinsip hidup yang harus Shana gunakan.
Orang yang merawat Shana pernah berkata, "Kamu sekarang adalah seorang Flame Haze, kamu tidak perlu mengkhawatirkan orang lain. Dan juga, kamu tidak membutuhkan bantuan orang lain."
Akan tetapi, Ryan berkata sesuatu yang berbeda dengan orang yang telah mengasuh Shana.
"Dunia ini bukan milikmu, jadi jangan berpikir bahwa misi ini adalah milikmu seorang."
Kedua perkataan dari orang yang berbeda ini menyebabkan kegundahan Shana.
Di satu sisi ada pengasuh Shana yang ingin ia menghadapi semuanya sendirian tanpa bantuan orang lain. Dan di sisi lainnya ada Ryan yang ingin Shana tidak mengemban semua masalahnya sendirian.
Kata-kata yang sangat berlawanan dan diucapkan oleh dua orang yang sama sekali berbeda membuat Shana benar-benar bingung.
"Pada akhirnya, ucapan siapa yang paling benar?"
Secara umum, dalam situasi di mana kedua belah pihak sangat tidak setara, Shana seharusnya lebih memilih untuk percaya pada pengasuh yang telah menjaganya sejak kecil.
Namun, setelah melihat pertarungan Ryan dengan mata kepalanya sendiri, Shana bahkan tidak bisa mengabaikan ucapan dari manusia yang tidak ragu bertarung sampai sekarat seperti itu.
Maka dari itu, Shana bingung, ucapan siapa yang paling benar.
"Ini sangat menjengkelkan!" Shana hanya bisa menggertakkan giginya.
Shana tidak bisa disalahkan atas semua hal ini. Sejak kecil, Shana telah dibawa ke Tendoukyuu dan dilatih sebagai Flame Haze.
Semua yang Shana pelajari hanya tentang Flame Haze, tidak ada hal lainnya. Dan semua itu, hanya berdasarkan teori dan pengalaman dari sang mentor
Dengan kata lain, sebenarnya tidak berlebihan jika menyebut Shana sebagai gadis yang sangat polos. Saking polosnya, ia bagaikan kertas putih yang masih bersih.
Selain berkelahi dan ilmu mengenai Flame Haze, tidak ada lagi ilmu yang ditanamkan, termasuk dalam hal perasaan, dan hal-hal lain di luar Flame Haze
Maka dari itu, Shana tidak tahu harus bagaimana dengan kegundahan hatinya saat ini.
Shana hanya tahu bahwa dirinya sedang kalut dan terasa sangat kesal.
Menghadapi situasi ini, Alastor tidak mau mengoreksi apapun.
Bukan karena Alastor hanya ingin mengajari Shana sebagai kontraktor yang tidak punya apa-apa selain bertarung, tapi karena Alastor telah menganggap Shana sebagai anaknya sendiri.
__ADS_1
Sebagai wali, Alastor berharap Shana dapat memiliki lebih banyak pengalaman sosial, tetapi tidak ingin kertas bersih ini menjadi kotor.
Oleh karena itu, Alastor hanya berkata, "Apa pendapatmu sendiri tentang semua hal ini?"
"Aku …" Shana sedikit bergetar dan terdiam.
Tak lama kemudian, Shana berkata, "Menurutku, Wilhelmina tidak salah."
Wilhelmina adalah pelayan Tendoukyuu yang juga pernah menjadi pengasuh Shana.
Kemudian, Shana melanjutkan perkataannya. "Tapi, menurutku Ryan juga tidak salah."
Karena itu, Shana akan merasa sangat kesal.
Jika Shana bisa mengetahui dengan jelas siapa yang benar dan siapa yang salah, maka Shana tidak akan sekesal ini.
Meski Shana adalah sebuah kertas putih yang masih bersih, bukan berarti Shana tidak tahu apa-apa.
Paling tidak, Shana adalah orang yang sangat berbakat dengan penilaian yang tinggi.
Shana masih bisa membedakan siapa yang salah dan benar dalam banyak hal, termasuk dalam masalah prinsip hidup yang ia pegang teguh selama ini.
Alastor kemudian menjawab keraguan Shana dengan nada yang halus dan tenang. "Karena menurutmu keduanya sama-sama benar, maka gabungkan saja keduanya, maka semuanya akan beres."
"Menggabungkan keduanya?" Shana berkata dengan skeptis, "Tapi apa yang dikatakan orang ini sama sekali berbeda dari apa yang dikatakan Wilhelmina."
"Apakah keduanya benar-benar berbeda?" Alastor berkata, "Coba kamu pikirkan lagi dengan hati-hati. Tidak ada kontradiksi di antara keduanya."
"Tidak ada kontradiksi?" Shana langsung melihat liontin yang tergantung di lehernya.
Alastor memberi tahu Shana dengan nada positif, "Sebagai Flame Haze, kamu harus belajar menghadapi musuh dalam keadaan sendirian dan terdesak. Itulah yang Wilhelmina Carmel ingin kamu lakukan. Makanya dia berkata seperti itu."
"Tapi, bukan berarti kamu yang harus menyelesaikan semuanya sendiri. Di dunia ini, Flame Haze yang menjalankan misi ini bukanlah kamu seorang. Kamu tidak akan bisa membasmi semua Denizen jahat sendirian seandainya mereka mengepungmu. Kamu pasti membutuhkan bantuan seseorang."
"Kamu harus mandiri, tapi kamu tidak boleh mengabaikan orang-orang di sekitarmu."
"Aku pikir inilah yang harus kamu simpulkan."
Kata-kata Alastor membuat hati Shana terguncang dan menjadi cerah seakan mendapat sebuah hidayah.
Shana mengucapkan kalimat tersebut selama beberapa kali sembari melihat wajah damai Ryan yang masih tidak sadarkan diri.
~***~
Wuush
Dalam tidurnya samar-samar Ryan mendengar suara nyala api yang tiba-tiba membesar.
Di saat yang sama rasa lelah dan lemah di tubuhnya lambat laun menghilang. Energi yang sebelumnya terkuras habis mulai mengisi kembali tubuhnya. Hal ini membuat Ryan merasa nyaman.
Merasakan energi yang secara bertahap mengalir ke seluruh tubuhnya, Ryan sedikit terkejut. Karena energi itu adalah Prana.
Dalam pertempuran sengit melawan Sydonay, Ryan telah kehabisan Prana.
Bisanya, untuk memulihkan Prana yang benar-benar habis, Ryan butuh waktu setidaknya hampir satu minggu.
Akan tetapi, sekarang Prana milik Ryan jauh lebih besar dari sebelumnya. Jadi, normalnya Ryan akan membutuhkan waktu lebih dari tujuh hari, bahkan mungkin dua minggu untuk bisa pulih sepenuhnya.
Namun, saat ini, Prana milik Ryan yang membutuhkan waktu sangat lama untuk pulih, tiba-tiba pulih sepenuhnya.
Semua ini disebabkan efek kolaborasi Kemampuan Reiji Maigo dan Cincin Ionic.
Di bawah pengaruh Reiji Maigo, Power of Existence akan dipulihkan sepenuhnya tiap tengah malam.
Lalu, dengan menggunakan efek Cincin Ionic, efek pemulihan Power of Existence dari Reiji Maigo telah dikonversi menjadi pemulihan Prana.
Oleh karena itu, pada saat ini, Prana yang masih dalam tahap pemulihan lambat, tiba-tiba kembali penuh dan berubah menjadi arus deras yang mengalir di dalam tubuh Ryan.
Alasan mengapa Ryan pingsan adalah karena cedera serius dan juga kelelahan akibat Prana di dalam tubuhnya telah habis.
Sekarang, di bawah pengaruh Reiji Maigo dan Cincin Ionic, Prana Ryan benar-benar pulih, sehingga rasa lelah ditubuhnya juga menghilang.
Maka dari itu, kesadaran Ryan mulai kembali saat efek Reiji Maigo dan Cincin Ionic aktif.
"Emmm …"
__ADS_1
Dengan suara bernada rendah, di ruangan yang redup, Ryan perlahan sadar dan membuka matanya.
Ryan pun dapat melihat langit-langit kamarnya.
Melihat hal ini, Ryan sangat ingin sekali mengucapkan kata-kata klise dari anime ataupun komik yang ia baca. Seperti 'langit-langit ini terlihat asing' atau 'di mana ini?' dan sebagainya.
Tapi tentu saja Ryan tidak melakukannya, karena di ruangan ini, ia tidak sendirian. Akan sangat canggung jika Ryan tiba-tiba mengatakan hal klise seperti itu saat ada orang lain di sampingnya.
Tak lama kemudian, rasa sakit yang sangat luar biasa datang dari bahu dan bagian atas lengannya, sehingga menyebabkan Ryan sedikit mengerutkan dahi.
Pada saat itu, suara gemuruh bernada rendah mulai terdengar, dan masuk ke telinga Ryan.
"Apakah kamu sudah bangun? Ini jauh lebih cepat dari yang aku kira."
Setelah mendengar ini, Ryan berkedip, menoleh ke samping.
Di sana Ryan tidak melihat seoang bapak-bapak bersuara berat, melainkan seorang gadis kecil yang manis dan imut.
Shana tampak membaringkan kepalanya di tepi tempat tidur sambil duduk berlutut. Ia tertidur sangat lelap. Pemandangan ini seperti anak kecil yang sedang merawat orang sakit.
Tepat di samping Shana yang tertidur, tergeletak sebuah liontin yang memancarkan bubuk api di dalamnya. Suara berat seperti bapak-bapak itu keluar dari liontin tersebut.
Tentu saja Ryan tahu identitas orang yang berbicara dengannya.
"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Ryan.
Alastor segera menjawab, "Tidak terlalu lama, baru beberapa jam. Sekarang sudah lewat tengah malam."
Ryan mengangguk, dan kemudian menunduk untuk melihat tubuhnya sendiri.
Di tubuh Ryan, sudah tidak ada lagi pakaian berlumuran darah yang ia kenakan tadi. Sekarang, ia bert3l4njang dada dengan perban yang membalut seluruh tubuh bagian atasnya
Sensasi rasa sakit sekecil apa pun mengalir dari kedua lengan dan bahu dari waktu ke waktu, seakan memberi tahu Ryan bahwa lukanya belum pulih sepenuhnya. Sedangkan luka lainnya, telah sembuh sepenuhnya.
Melihat semua ini, Ryan tahu bahwa Shana telah menggunakan Kristal Penyembuhan sesaat sebelum jatuh pingsan.
Hanya saja, efek kristal penyembuh juga terbatas, hanya bisa digunakan sekali sehari, dan bisa memulihkan luka sampai batas tertentu, akan tetapi tidak bisa menyembuhkan luka fatal dengan sempurna.
Maka dari itu, luka serius Ryan tidak dapat sepenuhnya disembuhkan
Ryan lalu melihat kembali Shana, dan merasa semua memar di tubuhnya telah menghilang.
'Sepertinya Kristal Penyembuh juga bekerja pada tubuhnya. Kalau nggak, penampilan Shana pasti masih babak belur.'
'Tapi aku nggak menyangka, bahwa Kristal Penyembuh dapat menyembuhkan luka dua orang yang berbeda dalam waktu yang sama.' batin Ryan.
Namun saat Ryan kembali melihat tubuhnya, Ryan melihat ada beberapa bagian perban yang terlihat tidak bagus dan rapi.
"Alastor, apakah semua perban ini Shana yang melakukannya?" tanya Ryan sambil melihat ke alah liontin.
"Itu benar, Shana membutuhkan banyak usaha untuk melakukannya." Alastor menjawab dari samping dan berkata, "Lagipula, meski tidak menggunakan Mantra Penyembuh, luka yang dialami Flame Haze biasanya hanya luka memar dan tidak berbahaya."
Oleh karena itu, Shana secara alami tidak pernah membalut perban. Bisa dibilang, perban yang membalut Ryan adalah karya pertama Shana dalam merawat luka. Jadi wajar saja jika masih ada beberapa bagian yang kurang.
Sambil menatap wajah tidur Shana yang lucu, Ryan bergumam, "Padahal, kamu berkata sangat membenciku. Tapi kamu sekarang malah bersedia merawatku. Kamu benar-benar gadis Tsundere, dan aku tidak membencinya. Terima kasih, Shana …"
Setelah mengatakannya, suasana kamar kembali senyap. Sampai akhirnya, Alastor kembali bertanya, "Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kamu baik-baik saja?"
"Berkat Kristal Penyembuh, hampir semua luka telah pulih. Hanya ada beberapa luka serius yang tersisa, namun ini tidak menjadi masalah." jawab Ryan.
"Apakah Kristal Penyembuh adalah Treasure Tool (Hogu)? Benda itu sangat berguna, tapi aku tidak pernah mendengarnya. Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Alastor.
"Aku membelinya." Ryan menjawab dengan entang, "Ini adalah Treasure Tool (Hogu) generasi terbaru. Kamu sebagai Crimson Lord jaman kuno, sudah sewajarnya kalau tidak tahu mengenai kreasi-kreasi baru Treasure Tool (Hogu)."
"Kamu benar-benar orang yang aneh." Alastor terdiam sesaat. Ia lalu menghela nafas dan berkata, "Kamu jelas hanya seorang manusia. Tapi, dengan kemampuan bertarung seperti itu, serta memiliki banyak Treasure Tool (Hogu), kamu benar-benar misterius."
"Sudah banyak orang yang mengatakan itu padaku." Ryan melirik liontin Alastor dan berkata, "Bagi manusia umum lainnya, bukankah keberadaan Flame Haze juga merupakan sesuatu yang misterius?"
Mendengar ini, Alastor sama sekali tidak dapat membantahnya. Segera setelah itu, Alastor berkata, "Karena kamu sudah bangun, aku ingin berdiskusi denganmu tentang langkah selanjutnya."
"Langkah selanjutnya?" Ryan segera melihat liontin di samping Shana. Ia tampaknya telah menebak apa yang akan dikatakan Alastor.
Dan benar saja, kata-kata Alastor selanjutnya sesuai dengan dugaan Ryan.
"Bisakah kamu memberikan Reiji Maigo pada kami?"
__ADS_1