Reincarnation Room

Reincarnation Room
Konfrontasi


__ADS_3

Entah sejak kapan Laminamors memegang Lux-nya, tapi Ryan sama sekali tidak menyadarinya.


Lux milik Laminamors berjenis Greatsword berwarna merah, dan memiliki bentuk kerucut. Pangkal bilah pedangnya lebar, dan ujung pedangnya sangat tajam. Bentuknya benar-benar mirip ujung mata tombak.



Pedang dengan bentuk seperti itu menerobos halangan udara dan menusuk ke arah mata Ryan.


Jika Ryan tidak menghindarinya, maka Ryan sudah dipastikan akan mati. Ini adalah serangan yang sangat fatal.


'Ini terlalu cepat!'


Tanpa diduga, bahkan tipe kecepatan seperti Ryan, merasa serangan ini sangat cepat dan tidak bisa dihindari.


'Nggak, nggak … ini semua ilusi! Serangannya sama sekali nggak cepat! Ilusi ini menghambat kerja otakku sehingga gerakanku melambat dan membuat serangannya terlihat cepat!'


Dengan kata lain, serangan mengerikan Laminamors ini tidaklah cepat, akan tetapi ada gangguan kognisi yang membuat kerja otak Ryan melambat.


Tentu saja, meski begitu, serangan Laminamors juga sangat tajam dan mematikan, jadi kecepatannya pasti tidak terlalu rendah.


Sayangnya, Ryan telah mempersiapkannya sejak tadi. Ia sudah siap untuk diserang kapan saja.


Oleh karena itu, Ryan masih bereaksi tepat waktu.


"Flashing Dash: Reflected Moon (Sensō: Hansha Shita Tsuki)!"


Di bawah serangan tajam itu, bagaikan pantulan cahaya rembulan di permukaan air yang bergoyang, tubuh Ryan menghilang. 


"Oh?!" Laminamors mengeluarkan suara terkejut dan berkata, "Kamu ternyata memiliki teknik seperti itu."


Setelah mengatakannya, Laminamors berbalik dengan tenang dan perlahan mengayunkan pedangnya ke belakang.


Di sana, sosok Ryan baru saja muncul, tiba-tiba harus menghadapi serangan pedang berikutnya.


Jantung Ryan berdegup kencang. Ia tidak menduga serangan ini sehingga Ryan tidak mundur dengan sempurna.


Slash


Bersamaan dengan suara tebasan, ujung pedang Laminamors memotong seragam bagian depan Ryan, memperlihatkan kulit Ryan ke udara.


Namun Ryan masih belum bisa bernafas lega karena telah menghindari serangan itu. 


Tanpa ada jeda, Laminamors memiringkan bilah pedangnya. Dengan menggunakan badan pedangnya yang lebar, ia memukul tubuh Ryan seolah-olah tubuh Ryan adalah bola tenis.


Boom


Ryan pun segera mengangkat tangannya untuk memblokir serangan dari samping tubuhnya ini. Seketika itu, tubuh Ryan terlempar dan berguling-guling di tanah sejauh beberapa meter. 


Setelah berhenti, ia kemudian mencoba bangkit dengan berlutut menggunakan satu kaki sambil sambil menstabilkan kondisi tubuhnya.


"Ugh …" Ryan tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang dideritanya.


Kini, tangan Ryan yang digunakan untuk memblokir serangan Laminamors terasa kesemutan. Tubuhnya juga semakin lemah.


Selain itu, aliran Prana di dalam tubuhnya menjadi sangat lambat, dan buruk. Bahkan Ryan kini benar-benar kesulitan untuk menggunakannya. 


Seperti yang dikatakan Valda-Vaoth, Ryan saat ini dalam kondisi terburuk.


"Dalam kondisi tubuh seperti itu, kamu masih bisa memblokir tiga seranganku. Kamu sangat hebat."


Laminamors berjalan menuju Ryan dengan sikap santai. "Tapi, berapa lama kamu bisa bertahan?"


Mendengar ini, Ryan tertawa menyeringai. "Mungkin aku nggak akan bisa bertahan lebih lama lagi."


Ryan perlahan mengangkat kepalanya dan berkata, "Namun, aku masih memiliki kekuatan untuk menggunakan pisauku. Dan seranganku berikutnya, akan mengirimmu ke neraka."


Mendengar ucapan Ryan, Laminamors langsung menghentikan langkahnya.


Jika melihat kondisi Ryan saat ini, orang lain pasti akan mengira bahwa Ryan sudah gila dan semua ucapannya hanyalah omong kosong belaka untuk menghibur dirinya sendiri.


Namun, hawa membunuh yang merembes keluar dari tubuh Ryan ini seakan memberitahu Laminamors bahwa Ryan sama sekali tidak bercanda.

__ADS_1


"Hati-hati." Valda memberi Laminamors peringatan. "Orang ini memiliki Kemampuan yang sangat berbahaya. Lebih baik tidak menganggap kata-katanya sebagai gertakan."


Meskipun Valda-Vaoth tidak tahu Kemampuan seperti apa yang dimiliki Ryan, tapi pada hari itu, Valda-Vaoth merasa Ryan benar-benar sangat berbahaya. Ini adalah perasaan mengerikan yang belum pernah ia rasakan selama ini.


Sebagai Orga Lux, Valda-Vaoth tidak takut untuk terluka. Lagipula, tubuh Valda-Vaoth bukanlah miliknya, jadi ia sama sekali tidak peduli jika tubuh yang didiaminya mati.


Akan tetapi, saat itu, untuk pertama kalinya Valda-Vaoth merasa terancam. Ia merasa bahwa dirinya dapat terbunuh. Sejak saat itu, Valda-Vaoth menjadi paranoid dan selalu mengkhawatirkan entitas bernama Ryan itu.


Inilah alasan mengapa Laminamors berkata bahwa Valda-Vaoth sangat peduli dengan Ryan. Bahkan Kemampuannya sebagai Orga Lux dapat dibunuh. Tentu ini fakta yang tidak bisa diabaikan.


"Ini menarik."  Laminamors masih dengan tenang berkata, "Jika memang benar kamu dapat membunuhku pada serangan berikutnya, dapatkah kamu menghindari seranganku terlebih dahulu sebelum itu terjadi?"


“Jadi, ini adalah event yang menentukan hidup dan mati ya …” Ryan berkata sambil tersenyum, "Baiklah, ayo kita lakukan."


Suara tenang Ryan membuat Laminamors dan Valda-Vouth merasa bahwa Ryan tidak peduli dengan hidupnya sendiri.


Padahal, benak Ryan tidak setenang apa yang terlihat di luar. ‘Sial, dengan kondisi tubuhku yang seperti ini, aku bisa benar-benar mati! Aku harus mengulur waktu untuk memulihkan kondisi fisikku ini terlebih dahulu, sebelum akhirnya aku melepaskan serangan fatal padanya!’


“Ini aneh … padahal dia manusia, tapi kenapa dia terlihat seakan tidak takut mati?” celetuk Valda-Vouth kebingungan.


"Hahahahaha, kamu adalah orang pertama yang membuat Valda-Vaoth seperti ini." Laminamors tertawa sangat bahagia dan mengangkat bahunya. "Yah, aku sendiri sebagai manusia takut pada kematian." 


Senyum Laminamors lalu berubah menjadi senyum jahat. "Karena kamu sepertinya tidak takut pada kematian, aku akan memberimu sedikit kejutan kecil untukmu."


"Kejutan kecil?" Ryan sedikit bingung dengan maksud Laminamors. Tapi ia merasa Laminamors telah merencanakan sesuatu yang buruk.


"Akan aku berikan satu kata sebagai petunjuk. Kata tersebut adalah teman." senyuman Laminamors semakin lebar.


Mendengar kata ini, mata Ryan membesar, seakan ia tahu apa yang dimaksud Laminamors.


"Sepertinya kamu sudah menebaknya." Laminamors tersenyum. "Valda-Vouth memberitahuku bahwa terakhir kali kalian bertemu, kamu berkata bahwa tubuh yang dikendalikannya adalah guru dari temanmu. Setelah itu, aku mencoba menyelidikinya, dan menemukan identitas temanmu itu."


"Jadi, aku mencoba untuk menghubunginya dan mengirim sebuah pesan anonim padanya. 'Jika kami ingin bertemu dengan gurumu, maka datanglah ke Sirius Dome', itulah isi pesan yang aku kirimkan padanya."


~***~


Ketika Laminamors sedang berbincang dengan Ryan, sesosok bayangan gelap tampak berlari dengan cepat dari arah koridor depan Sirius Dome.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, Sylvia terus mempertahankan kecepatan larinya tanpa melambat sedikitpun. Tampak wajahnya telah dipenuhi keringat.


Sylvia sepertinya telah berlari dengan kecepatan yang sama seperti ini selama beberapa saat. 


Keringat menetes dari wajahnya dan membasahi mantel yang Sylvia kenakan.


Stamina yang terus berkurang membuat nafasnya semakin berat. Meski begitu, Sylvia tidak berhenti dan terus berlari liar di koridor. Sambil terus berlari, Sylvia terus melihat sekelilingnya dan memantau tiap sudut koridor. 


"Di mana?! Di mana Guru?!" Suara Sylvia penuh dengan kecemasan.


Meskipun Sylvia sama sekali tidak bisa mengkonfirmasi kebenaran informasi yang ada dalam pesan anonim, tapi pesan yang diterimanya 20 menit yang lalu itu membuat Sylvia tidak bisa mengabaikannya.


Begitu Sylvia menerima pesan tersebut, Sylvia tidak ragu lagi menunda semua pekerjaannya. Bahkan ia sampai lupa untuk menyamar saat datang ke Sirius Dome.


Semua ini dilakukannya, demi bisa bertemu kembali dengan Gurunya.


Sylvia terus berlari dari satu koridor ke koridor lainnya. Hingga akhirnya, ia melihat tiga sosok yang sepertinya sedang bertarung.


Salah satu sosok mengenakan juba hitam, sementara sosok lainnya menggenggam sebuah Lux berbentuk pedang besar di tangannya. 


Dan di depan kedua orang tersebut, ada pria yang berlutut dengan satu kaki di tanah. Saat pria itu melihat Sylvia, matanya berubah menjadi tajam, seakan dipenuhi oleh amarah.


Melihat sosok yang berlutut dengan satu kaki di tanah, Sylvia mau tidak mau terkejut. "Ryan-san?"


Suara Sylvia menyebar dengan sangat jelas. Dalam sepersekian detik ini, suasana terasa seperti membeku sesaat.


"Oh, sudah datang?"


Pria bertopeng dengan Greatsword di tangannya itu tersenyum. "Kamu datang pada waktu yang tepat."


Tak lama kemudian, sosok berjubah hitam yang ada di belakang pria bertopeng itu berbalik dan menatap langsung mata Sylvia.


Melihat wajah sosok berjubah hitam itu, detak jantung Sylvia seakan berhenti. Matanya membesar, dan bibirnya bergetar.

__ADS_1


Berbagai perasaan seperti terkejut, bingung, dan juga senang, bercampur aduk di wajah menawan Sylvia.


Setelah sekian lama, akhirnya Sylvia bertemu dengan orang yang paling dirindukannya.


"Ursula!" Sylvia memanggil nama orang tersebut dengan emosi yang kaya.


Namun, bukannya suasana menjadi hangat, malah suhu udara di sekitarnya semakin menurun.


Di hadapan kegembiraan Sylvia, Valda-Vouth berkata dengan dingin, "Jadi benar, kamu memiliki hubungan dengan tubuh ini."


"Eh?" Sylvia tertegun.


Barulah saat ini, Sylvia menyadari suasana yang tidak normal.


Dengan segera, Sylvia menemukan keanehan pada tubuh Ursula, yang didiami oleh Valda-Vaoth.


Sylvia melihat tatapan mata Ursula kosong dan redup, seakan dia adalah boneka.


Di tambah dengan keberadaan Ryan yang sedang dalam kondisi terluka di depannya, Sylvia mau tidak mau mundur. Kegembiraan di wajahnya digantikan oleh kewaspadaan.


'Apakah ini jebakan?' pikirnya.


"Siapa kamu?" tanya Sylvia dengan nada tegas dan tinggi.


"Kamu tidak perlu tahu itu." Valda-Vaoth berkata dengan singkat, "Kamu hanya perlu tahu, bahwa bagi kami, kamu hanyalah alat yang bisa kami gunakan."


Saat kata-kata itu jatuh, kalung di depan Valda-Vaoth tiba-tiba terangkat.


Weeeeng


Suara dengungan terdengar di udara. Cahaya hitam yang mekar muncul begitu tiba-tiba, seperti ombak, yang langsung menutupi seluruh koridor.


Dan target cahaya ini adalah Sylvia.


"Biarkan aku melihat, seberapa banyak informasi yang kamu dapatkan dari pria itu, dan hubungan seperti apa yang kamu miliki dengan tubuh ini. Setelah itu, aku akan membuatmu bergabung dengan kami." ucap Valda-Vaoth tanpa emosi.


Di saat yang sama, rasa sakit yang sangat kuat menyerang kepala Sylvia.


"Aaarrghh!"


Sylvia tiba-tiba memegangi kepalanya dan mengeluarkan teriakan yang menyakitkan.


Rasa sakit ini terasa sampai ke jiwa Sylvia. Pikirannya pun perlahan menjadi kosong.


Tiba-tiba saja, sosok Ryan yang semenjak tadi berlutut telah berada di depan Sylvia. Tanpa ada jeda, Ryan langsung mengayunkan belatinya.


Slash


Di bawah suara tebasan, cahaya hitam yang menutupi tubuh Sylvia terbelah.


Dengan mata biru sedingin es, Ryan membunuh Kekuatan Valda-Vaoth menggunakan Moon Blade di tangannya.


"Jangan lupakan aku!" Dari belakang Ryan, Laminamors melancarkan serangan dadakan.


Seperti peluru, Greatsword di tangan Laminamors memisahkan udara di sekitarnya, dan dengan dingin menusuk langsung ke arah tubuh Ryan.


Saat ini, Ryan yang baru saja menebas kekuatan Valda-Vouth, tidak sempat untuk memperbaiki postur tubuhnya.


Oleh karena itu, Ryan tidak dapat menghindari secara sempurna serangan ini.


Jleeb


Dalam suara tusukan, ujung pedang merah milik Laminamors itu sukses menusuk bahu Ryan.


Darah, mengalir turun dari tubuh Ryan, mewarnai Greatsword milik Laminamors dan juga mewarnai pakaian Sylvia yang ada di depannya.


"Ryan-san!" seru Sylvia.


Ryan lalu menoleh ke belakang dan menatap tajam Laminamors dengan Mystic Eye of Death Perception. Belati di tangannya berubah menjadi sinar bulan dan menebas ke arah belakang.


Menghadapi kilatan cahaya pisau dingin yang datang, Laminamors mau tidak mau harus mundur.

__ADS_1


Namun, saat Laminamors akan mencabut pedangnya, Ryan langsung menahannya.


__ADS_2