Reincarnation Room

Reincarnation Room
Tes Berakhir


__ADS_3

"Siapa kamu?" tanya Ryan. Tentu saja Ryan sudah mengetahuinya. Namun ia tetap menanyakannya agar Kinji tidak mencurigainya.


Mendengar pertanyaan Ryan, Kinji tersenyum licik. Tapi, senyumannya ini malah membuatnya terlihat seperti seorang gigolo. 


“Aku teman sekelasmu nanti, tuan Manusia Super …” ucap Kinji dengan nada yang halus.


Suasana di antara keduanya kini kian menegang. Hal ini membuat udara disekitar mereka terasa berat dan mencekam


“Manusia Super?” Ryan tersenyum mendengarnya.


“Aku pikir, orang yang dapat memprediksi tindakan orang lain sebelum hal itu terjadi, serta menggunakan peluru untuk mengubah arah lintasan peluru lain yang ditembakkan secara beruntun, adalah Manusia Super yang sesungguhnya.”


“Bagaimana menurutmu?” tanya Ryan dengan nada sarkasme.


“Aku tidak ingin mendengar hal itu dari orang yang dapat menangkis semua peluru dengan mudah.” ucap Kinji sambil mengangkat bahunya ke atas.


“Dan dibanding dengan Manusia Super, aku lebih suka jika disebut sebagai Utusan Cinta dan Keadilan. Aku merasa julukan itu sangat cocok untukku.”


“Namun sayang, tidak ada gadis cantik di sini …” Kinji terlihat sedikit kecewa. 


Sambil terus mengarahkan pistolnya pada Ryan, Kinji melanjutkan perkataannya, “Kalau saja kamu seorang gadis imut, mungkin aku akan melepaskanmu, Tapi, karena kamu adalah laki-laki, aku akan menghajarmu.”


Jika orang lain mendengar ucapan Kinji, pasti mereka mengira bahwa Kinji adalah seorang pria playboy yang suka meremehkan lawannya.


Namun, Ryan tidak merasakan adanya kebohongan dari perkataan Kinji. Walau nada bicaranya seperti seorang gigolo, tapi Kinji sangat serius.


"Aku tidak menyangka ada orang sepertimu dalam tes masuk kelas Assault ini." Ryan tersenyum menyeringai dan mengatakan sesuatu yang menarik. "Tapi … apakah menurutmu kamu bisa mengalahkanku?"


“Memangnya apa yang kamu bisa lakukan sekarang?”


“Aku telah mengamati tubuhmu dengan seksama, aku yakin kamu sudah tidak memiliki senjata lagi. Lagipula, selama pengamatanku, kamu hanya menggunakan sebuah belati selama tes ini.”


“Kamu tidak membawa senjata lain selain belati. Padahal, umumnya seorang Butei menggunakan pistol atau senjata api lainnya.” ucap Kinji yang masih terus menatap ke arah Ryan.


Menanggapi ucapan Kinji, Ryan berkata, "Ya, itu benar. Aku hanya membawa sebilah belati saja pada tes ini. Nggak ada senjata lain." 


"Tapi, siapa yang mengajarkanmu bahwa jika tidak ada senjata, maka tidak ada cara bagi manusia untuk terus bertarung?"


Mendengar kata-kata ini, mata Kinji sedikit memadat. Insting Kinji terus memancarkan tanda peringatan. Tanpa ada keraguan, Kinji langsung melompat.

__ADS_1


Di saat yang sama, Ryan langsung menghentakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya pun langsung menghilang dan menyisakan hembusan angin.


Hanya dalam sekejap, Ryan sudah berada di depan Kinji yang berusaha melompat ke belakang. Tanpa Kinji sadari, tangan Ryan telah menggenggam ikat pinggang kinji.


"Flashing Sheath: One Wind (Sensa: Ippū)!"


Bagaikan pemain gulat, Ryan mengangkat tubuh kinji, lalu memutarnya dan membantingnya ke tanah.


Boom


Dengan suara yang cukup keras, tubuh Kinji menghantam lantai beton dengan kuat. Hal ini membuat gelombang debu bertebaran.


Kinji tidak tinggal diam. Setelah Ryan membantingnya, ia berguling dari tempatnya jatuh dan segera mengangkat senjatanya ke arah Ryan.


Akan tetapi, secara mendadak, pistol di tangan Kinji menghilang. “Ini!” Kinji cukup terkejut dengan kejadian ini.


"Apakah kamu mencari ini?"


Ketika Kinji mendengar ucapan Ryan, ia sadar apa yang telah terjadi. Saat ia melihat ke depan, ia melihat Ryan sedang mengacungkan pistolnya ke kepala Kinji.


“Aku sungguh salut padamu.”


“Teknik One Wind (Sensa: Ippū) adalah teknik melempar dan membanting. Akan tetapi, teknik ini membutuhkan penggunanya untuk mencengkram leher lawan. Dan kamu, bisa menghindarinya.”


Setelah lawan terkapar di tanah, penggunanya hanya perlu memutar tangannya sedikit, sehingga leher lawan patah. 


Teknik ini juga bisa dikombinasikan menggunakan pisau, di mana ketika lawan telah jatuh ke tanah, sambil tetap mencengkram leher lawan, tangan satunya yang memegang pisau langsung menusuk jantung lawan.


Akan tetapi, secara insting, Kinji berhasil menghindarinya dengan melompat ke belakang sebelum Ryan berhasil menggunakan Teknik One Wind (Sensa: Ippū). Alhasil, bukannya mencengkram leher Kinji, Ryan malah mencengkram ikat pinggangnya.


“Aku yakin dia sama sekali nggak bisa melihat pergerakanku. Apakah dia hanya mengandalkan syaraf reflek yang kuat sehingga dia dapat langsung merespon pergerakanku?”


Karena hal ini lah, Teknik Ryan tidak berhasil dilakukan dengan sempurna. “Tapi, semua ini akan berhenti di sini!”


Tanpa ada keraguan, Ryan mengarahkan pistolnya ke area dada Kinji dan langsung menarik pelatuknya.


Dor


Diiringi dengan suara tembakan,.peluru dengan keras meluncur keluar menuju tubuh Kinji yang masih tergelatak di tanah. 

__ADS_1


Sayangnya, Kinji bukanlah seseorang yang mudah menyerah. Dengan sigap, tangan Kinji langsung meraih sesuatu dari balik saku jasnya.


Clang


Kinji menangkis peluru yang ditembakkan Ryan menggunakan pisau lipat yang baru saja ia ambil. Suara benturan dan juga percikan api membuat suasana gedung terbengkalai ini jadi sedikit riuh.


Akibat tangkisan Kinji, peluru tersebut memantul ke arah langit-langit dan meninggalkan lubang di sana.


Melihat hal ini, Ryan hanya bisa diam. Kinji pun juga ikut terdiam setelah melakukan aksinya. Keheningan ini membuat waktu terasa seperti berhenti.


Setelah beberapa saat, Ryan berkata kepada Kinji dengan ekspresi menyindir: "Apa yang kamu katakan tadi? Kamu berkata bahwa aku adalah Manusia Super karena dapat menangkis peluru kan?"


“Aku tahu apa yang ingin kamu katakan.” Kinji tertawa masam dengan sindiran Ryan. "Percayalah, ini pertama kalinya aku melakukan hal seperti ini."


"Bahkan jika ini pertama kalinya, bukan berarti kamu tidak bisa melakukannya kan?" 


Ryan berkata terus terang. "Karena menggunakan peluru untuk menembak peluru lainnya dan mengubah jalur lintasannya, memerlukan kemampuan yang sama dengan menangkis peluru menggunakan pisau. Jadi, seharusnya hal ini bukanlah hal yang aneh.”


Dunia ini memang terlihat biasa, namun keberadaan manusia berkemampuan khusus seperti Kinji, menandakan bahwa dunia ini memiliki sisi gelapnya. Bahkan tidak hanya manusia berkemampuan khusus saja yang ada di dunia ini, akan tetapi juga ada makhluk yang bukan manusia seperti Vampir dan Manusia Serigala.


Kemampuan khusus ini biasanya diturunkan oleh nenek moyang mereka. Bahkan orang-orang terkenal dalam sejarah, biasanya akan mewariskan kekuatan yang sangat kuat pada keturunannya.


Karena inilah, misi ke 4 dan misi ke 4 muncul.


“Sepertinya, benda ini tidak lagi mempan untuk menyerangmu.” ucap Ryan sambil mengembalikan pistol Kinji.


"Terima kasih, benda ini masih sangat berguna untukku."  Kinji lalu mengambil senjatanya dari tangan Ryan. Di saat yang sama, ia juga melepaskan ikatan tali baja yang melilit pergelangan tangan Ryan.


Sesaat kemudian, dari sudut bangunan, Ranbyou muncul mendekati Ryan dan Kinji. “Kalian berdua sudah tidak perlu bertarung lagi.”


Mendengar ini, Ryan dan Kinji melihat ke arah Ranbyou.


“Tes telah berakhir. Penampilan kalian berdua telah melampaui ekspektasiku. Setidaknya, kalian berdua tidak membuatku bosan.” Ranbyou kemudian membuka dokumen yang ada di tangannya.


"Ryan Herlambang, seorang murid lulusan SMP umum, secara resmi mendaftar ke SMA Butei Tokyo tahun ini. Kelas yang telah dipilihnya adalah kelas Assault." Ranbyou melirik Ryan dan berkata, "Kamu mendapat nilai penuh dalam tes masuk ini. Peringkat yang kamu dapatkan adalah peringkat S.” 


“Selamat, kamu telah mendapat peringkat S Butei di hari penerimaanmu."


Setelah Ranbyou mengatakannya, mendadak terdengar suara notifikasi dari sistem.

__ADS_1


Ding


[Reincarnator dengan nomor serial 124.888 telah …]


__ADS_2