
Begitu suara itu terdengar, tangan Shana berhenti. Gemerlap butiran bintang muncul di sekeliling Shana.
Tak lama setelahnya, suara itu terdengar lagi.
"Apa yang paling kamu inginkan?"
Suara seperti mempertanyakan dan juga mencela ini, membuat kepala Shana jernih. Dengan segera Shana menjawabnya tanpa berpikir. "Tentu saja, yang paling aku inginkan adalah kekuatan!"
Mendengar jawaban Shana, suara tersebut kembali bertanya. "Kekuatan apa yang kamu inginkan?"
Shana memberikan pandangan sekilas dan menjawab, "Tentu saja kekuatan Flame Haze!"
"Kekuatan Flame Haze yang mana?"
Shana mau tidak mau angkat bicara dan menjawab dengan suara lantang. "Tentu saja itu kekuatan Flame Haze-ku!"
Mendengar ini, suara itu mulai terdengar sedikit kasar. "Karena ini adalah kekuatanmu, kenapa kamu begitu bersemangat?"
Shana sedikit tercengang dengan perkataan itu. Karena bagaimanapun juga, sejak awal, api yang ada di depannya adalah kekuatan Shana. Jadi buat apa meminta kekuatan lagi, bukankah ia sudah memilikinya?
"Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi tentang kekuatan."
Suara tersebut bercampur dalam gemerlap bintang-bintang yang indah dan langsung masuk ke telinga Shana.
"Ini adalah kekuatanmu, kamu tidak perlu mencarinya lagi. Yang kamu butuhkan sekarang hanyalah cara mengendalikan kekuatanmu. Jadi jangan salah …"
Shana pun tidak bisa menahan diri untuk tidak bergembira.
'Benar, yang aku butuhkan sekarang hanyalah cara untuk mengendalikan kekuatanku. Aku tidak membutuhkan kekuatan lainnya, karena aku telah memilikinya! Jadi aku harus bisa meraih kekuatan yang tertidur ini!' batin Shana dengan sangat bersemangat.
Di saat yang sama, ketika tekad Shana membulat, api teratai merah perlahan menyala di tubuh Shana. Dalam sekejap, seluruh tubuh Shana telah dilahap api.
~***~
Di pinggir sungai Mana, Ryan masih dalam posisi memeluk Shana dari belakang. Akan tetapi, tiba-tiba saja aura merah menyeruak keluar dari tubuh Shana yang telah diselimuti Prana sebelumnya.
Munculnya aura ini membuat rambut lurus hitam Shana berubah menjadi merah membara.
Tak lama setelahnya, Shana membuka matanya. Kini, di kedua mata Shana, terdapat nyala api yang berkobar-kobar .
Dengan segera, aura yang menyelimuti tubuh Shana berubah menjadi api teratai merah. Api ini menutupi seluruh tubuh Shana dengan sangat ganas.
‘Apakah Shana Sukses?’ gumam Alastor dari liontin yang Shana gunakan.
Ryan yang masih menutup matanya dan bermandikan debu bintang, mulai berkata dengan perlahan tapi tegas.
"Selanjutnya, kendalikan energi yang terpancar dari tubuhmu secara perlahan. Ikuti cara yang aku tunjukkan tadi.”
Melihat Shana masih kesulitan menyalurkan energinya ke dalam Nietono no Shana, Ryan berkata, “Akan aku tunjukkan lagi caranya.”
Setelah berkata seperti itu. Prana dari tubuh Ryan kembali mengalir ke dalam Nietono no Shana.
“Sekarang, coba ikuti aliran energiku ini, dan lakukan hal yang sama dengan kekuatanmu sendiri, cobalah untuk mengendalikannya seperti ini.” jelas Ryan.
Jika adegan ini dilihat oleh Genestella lain, mereka pasti akan berpikir bahwa Ryan sangat bodoh. Karena pada dasarnya, Prana memiliki efek untuk meningkatkan, entah itu kekuatan serang maupun bertahan.
Akan tetapi, menyuntikkan Prana ke senjata biasa tidak terlalu efektif. Kecuali senjata tersebut dilengkapi dengan Manadyte atau Urm Manadyte yang dapat memicu resonansi Mana, sehingga bisa memperkuat senjata tersebut.
Dan sekarang, Ryan mencoba menggunakan Prana-nya untuk memperkuat Nietono no Shana tanpa resonansi Mana.
__ADS_1
Tentu saja, ini tidak akan berhasil. Namun, yang dibutuhkan Ryan bukanlah memperkuat Nietono no Shana, melainkan hanya membimbing Shana.
"Ikuti kekuatanmu ..."
Shana mulai mengendalikan api teratai merah yang menyala di dalam tubuhnya dan mengikuti gerakan Prana Ryan. Perlahan, api teratai merah ini mengalir ke Nietono no Shana.
Kali ini, bukan lagi Nietono Shana yang menarik kekuatan Shana, melainkan Shana menggunakan Nietono no Shana sebagai panduan untuk menggunakan kekuatannya.
Akibatnya, api teratai merah yang panas membakar Ōdachi yang kokoh, seperti magma yang terkondensasi bersama, dan secara bertahap menutupi Nietono no Shana, membentuk bilah api yang besar.
Sssshhhh
Di depan sungai Mana, suara air mendidih terdengar dari air di dekat bilah api. Di bawah pembakaran bersuhu tinggi, area di sekitar bilah api memanas.
"Baiklah!" Ryan sekali lagi membuka mulutnya, "Langkah selanjutnya adalah mengalirkan kekuatanmu ke sisi ini."
Ryan mulai mengendalikan aliran Prana-nya lagi.
"Un …" Shana mengangguk dan memanipulasi api. Ia mengikuti pedoman Ryan, membiarkan api terus mengalir.
Pada hari ini, api teratai merah telah menyala di tepi sungai dan tidak surut untuk waktu yang lama.
Jika bukan karena jalan setapak di sini jarang dilalui orang, maka pemandangan seperti ini pasti akan membuat orang lain curiga.
Di bawah bimbingan Ryan, Shana berlatih sepanjang hari. Harus dikatakan bahwa hasilnya cukup memuaskan.
Tentu saja, tanpa bantuan Ryan pun, Shana suatu saat pasti dapat mengendalikan kekuatannya lebih dari saat ini.
Akhirnya, setelah sekian lama, api teratai merah yang sejak tadi berkobar-kobar di pinggiran sungai Mana mulai memudar.
"Haah~"
"Wow, aku nggak nyangka ternyata sudah sore." ucap Ryan sambil melirik ke langit dan melihat matahari sore terbenam. Ia merasa waktu berlalu begitu cepat.
Begitu ucapan Ryan ini terdengar, ekspresi Shana langsung membeku. Karena akhirnya Shana sadar, bahwa ia dan Ryan terus dalam posisi dipeluk dari belakang sepanjang hari
Saat menyadari hal tersebut, jantung Shana berdetak dengan kencang.
Tak lama kemudian, Shana mengikuti instingnya dan berbalik menghadap Ryan.
Slash
Suara samar membelah langit terdengar. Ini juga berarti odachi Shana telah diayunkan.
Di saat Shana mulai mengayunkan odachi-nya, Ryan telah memprediksi gerakan Shana ini. Ryan pun langsung mundur selangkah. Hal ini membuat ujung pedang berapi-api itu berada tepat di depan hitung Ryan.
Melihat ujung pedang berapi merah yang panas itu di depannya, Ryan membuka mulutnya. "Aku sudah melatihmu secara khusus seharian, apakah kamu nggak ada rasa terima kasih sama sekali?"
Ekspresi Shana berubah ketik mendengar ucapan Ryan. Ia terlihat sedikit panik, sehingga bilah odachi yang mengarah ke Ryan bergetar.
Ryan yang melihat semua ini, tersenyum usil dan berkata, "Mungkinkah semua Flame Haze nggak tahu yang namanya terima kasih?"
Ucapan Ryan ini membuat Shana tak bisa berkata-kata. Hal ini mengundang gelak tawa dari Ryan.
Tawa ini membuat Shana semakin malu. "A-ku … aku tidak memintamu untuk membantuku!"
Perkataan ini terdengar sangat canggung. Wajah menawan Shana semakin memerah.
Melihat Ryan yang masih tersenyum menyindir, Shana menjadi sangat marah.
__ADS_1
"Aku tidak pernah meminta bantuanmu! Pokoknya aku tidak akan mau berterimakasih!"
Dengan cara bicara yang canggung, Shana mengangkat bahunya dan menatap ke arah Ryan. Ia kemudian mengangkat Nietono no Shana ke atas.
Dengan cara yang canggung, Shana mengangkat bahu dan menoleh ke Ryan dan mengangkat Nietono no Shana.
Hanya saja, kali ini Ryan tidak ada keinginan untuk menghindar. Ia hanya berkedip dan bergumam, "Sepertinya dia akan mencapai batasnya."
Begitu gumaman Ryan jatuh, tebasan Shana berhenti.
Wuush
Rambut Shana yang berapi-api tiba-tiba padam dan kembali ke warna gelap seperti semula.
Warna mata merah yang terus berkobar di kedua pupil matanya kini telah kembali gelap.
Rasa lelah yang teramat sangat mulai menyeruak dari dalam tubuh Shana.
Hingga akhirnya, Alastor angkat bicara. "Kamu terlalu berlebihan dalam menggunakan kekuatanmu."
Dengan suara sedikit mencela, Alastor berkata, "Ini adalah hal yang harus dihindari. Bukankah Merihim sudah pernah mengajarkannya?! Kamu tidak seharusnya berbuat seperti itu."
Shana terdiam mendapat kritikan dari Alastor. Karena apa yang dikatakan Alastor benar. Merihim, mentor Shana saat di Tendoukyuu, telah mengajarkan semua hal tentang Flame Haze, termasuk dalam hal penggunaan kekuatan.
Tidak seperti Crimson Denizen yang dapat menggunakan Power of Existence dari manusia yang mereka telan untuk bertarung, Flame Haze menggunakan staminanya sendiri untuk bisa menggunakan kekuatan Crimson Lord yang telah dikontraknya.
Lebih tepatnya, Flame Haze meminjam kekuatan Crimson Lord di dalam tubuhnya dengan harga yang harus dibayar, yaitu stamina.
Ketika Crimson Lord yang telah menyelesaikan kontrak dengan Flame Haze memasuki tubuh kontraktor, jumlah total Power of Existence telah fix, tidak bisa bertambah ataupun berkurang.
Jadi, ketika Flame Haze menggunakan kekuatan, Kekuatan yang keluar dari Crimson Lord akan mengkonsumsi stamina Flame Haze.
Itu adalah hal yang baik dan juga buruk.
Hal baiknya adalah, Flame Haze tidak perlu menggunakan Power of Existence seperti Crimson Denizen lainnya. Tapi, hal buruknya adalah semakin besar kekuatan yang digunakan, semakin cepat lelah.
Karena itulah Alastor akan menyalahkan Shana atas tindakannya. Walau Ryan telah menemani Shana sepanjang hari, namun Shana baru bisa menggunakan kekuatannya tepat di sore hari dan itu tidak lebih dari 30 menit. Bisa dilihat betapa borosnya stamina yang digunakan Shana.
Sejak pertarungan Ryan dengan Sydonay, baik Shana maupun Alastor telah mulai percaya dengan Ryan. Maka dari itu, Alastor hanya diam saja saat Ryan melatih Shana.
Alastor kemudian memperingatkan Shana. "Jangan lupakan semua ajaran yang diberikan Merihim ataupun Ryan. Ini bukanlah hari pertamamu sebagai Flame Haze."
"Selain itu, akan ada banyak Crimson Denizen yang muncul di kota ini ke depannya. Aku yakin Sydonay telah memberikan informasi keberadaan Reiji Maigo pada Bal Masqué. Jadi bersiaplah untuk bertempur."
"Aku tak ingin kamu berbuat gegabah seperti hari ini. Kamu harus mampu mengontrol dirimu dan juga kekuatan ini."
Shana hanya bisa menjatuhkan bahunya seperti anak kecil yang melakukan kesalahan, dan dengan patuh menundukkan kepalanya.
Bagi Shana, Alastor adalah teman dan juga guru. Maka dari itu, Shana cukup menurut padanya. Ucapan Alastor tadi membuat Shana merasa bersalah.
Menghadapi Shana seperti itu, suara Alastor mulai mereda. "Cukup sampai di sini latihannya. Setidaknya, ingatlah untuk selalu menjaga kekuatanmu saat bertarung."
Mendengar ini, Shana mengangguk.
Namun sayang, Ryan tidak membiarkan Shana hidup damai. Dengan senyum usilnya, Ryan berkata, "Percayalah, bahkan jika kamu adalah Flame Haze yang tidak tahu terima kasih, aku akan tetap membantumu berlatih. Jadi, jangan berterima kasih padaku."
Kesabaran Shana pun akhirnya pecah. "Diam! Diam! Diam!" (Urusai! Urusai! Urusai!)
"Hahahahaha …" Ryan benar-benar terhibur dengan sikap menyebalkan Shana ini.
__ADS_1