Reincarnation Room

Reincarnation Room
Pertandingan Milik Seidokan


__ADS_3

"Selain pergi bersamaku menghadiri konser Sylvia-san, kamu juga hanya pergi dengan Guru ke Akademi Seidokan untuk mengambil Seraph. Selain itu, aku jarang melihatmu keluar dari Kuil Naga Kuning. Jadi, bagaimana mungkin kamu bisa mengenal Sylvia-san? Mungkinkah saat kamu terakhir kali keluar?!" 


Zhao Hufeng dengan paksa mencekik leher Ryan. "Ayo cepat katakan itu sekarang! Katakan!"


Saat ini, tidak diragukan lagi, Zhao Hufeng menggunakan kekuatan penuhnya.


Meskipun Zhao Hufeng adalah tipe kecepatan, tapi ia memiliki lengan seorang Genestella, dan juga seorang praktisi bela diri sejak usia dini. Jadi walau lengannya tampak ramping, namun itu menyimpan kekuatan yang cukup besar.


Jika bukan karena Ryan juga seorang Genestella, lehernya sudah pasti patah. Ryan pun hanya bisa tertawa masam mendapat perlakuan seperti ini.


"Kakak Senior Zhao, tolong jangan terlalu bersemangat, masih ada Kakak Senior Wong di sini." Ucapan Ryan ini menyadarkan Zhao Hufeng.


"Tidak apa-apa, hiraukan saja keberadaanku." Cecily Wong berbaring di sofa, sambil menonton interaksi Ryan dan Zhao Hufeng dengan penuh minat. "Lanjutkan saja, aku ingin menontonnya."


Wajah Zhou Hufeng pun memerah. Ia buru-buru mengendurkan cekikannya. Ia lalu mengeluarkan suara batuk dan berkata, "A-aku cuma penasaran aja kok. Betul, cuma penasaran."


Alasan tidak meyakinkan ini malah membuat Cecily Wong melihat Zhao Hufeng dengan pandangan mata mengejek.


Ryan pun tertawa melihat semua ini. "Hahahaha …"


"Kakak Senior Zhao, kami sudah tahu kok kalau Kakak adalah penggemar Sylvie. Jadi tidak perlu bersikap canggung lagi."


"A-aku tidak bermaksud menyembunyikannya!" balas Zhao Hufeng.


Tak lama kemudian, Zhao Hufeng mulai menggertakkan giginya. "Sylvie … Sylvie … langsung memanggil nama Sylvia-san dengan Sylvie … sial … ini sangat tidak sopan …”


Zhao Hufeng menggertakkan giginya seperti bisikan, hingga membuat Ryan tidak bisa menahan tawanya.


"Sudah Kak, sudah …" senyum Ryan. "Bagaimana kalau aku membantu Kakak Senior  Zhao mendapatkan tanda tangan Sylvie?"


"Benarkah?" Zhao Hufeng langsung bersemangat.


“Hahahaha!” Cecily Wong akhirnya tidak bisa menahan tawanya lagi.


Zhao Hufeng terkejut dengan tawa Cecily Wong. Dengan segera, wajahnya merah merona.


"Kakak Senior Wong, tolong jangan mengolok-olok Kakak Senior Zhao." Meski Ryan berkata seperti itu, tapi ia juga berusaha menahan tawanya.


"Lagipula, suara Sylvie memang sangat bagus. Wajar saja kalau banyak orang yang menyukainya, termasuk Kakak Senior Zhao."


Faktanya, Sylvia menjadi idol terkenal pertama di dunia hanya dengan mengandalkan suara yang sangat merdu. Maka dari itu, ia memiliki banyak penggemar dari berbagai usia.


Berbeda dengan Rusalka, yang berada dalam urutan kedua popularitas. Mereka adalah sebuah band rock, yang tentu saja memiliki penggemar dengan batas usia tertentu.


Ini menunjukkan betapa tingginya kemampuan Sylvia.


"Seorang Strega yang mencari uang dengan bernyanyi." Cecily Wong berkata dengan nada satirnya. 


"Tapi, dia adalah Runner-Up Lindwurm Festa tahun lalu. Secara teori, dia adalah murid terkuat kedua di kota ini. Aku jadi sangat ingin melawannya." ucapnya dengan semangat membara.

__ADS_1


"Oh?" Ryan tertarik dan bertanya pada Cecily Wong, "Apa Kakak yakin bisa mengalahkannya?"


"Seharusnya, kemungkinan aku menang sangat rendah." Semangat Cecily Wong sedikit berkurang. "Kekuatan sang Diva sangatlah kuat. Tidak hanya kekuatannya sebagai Strega yang kuat, kemampuannya dalam pertarungan jarak dekat juga sangat menonjol."


"Itu benar." Zhao Hufeng yang tampaknya keluar dari mode fans berat berkata, "Guru pernah berkata bahwa Sylvia-san benar-benar kuat. Bahkan jika Kakak Pertama sekalipun, dia tidak akan menang. Dan jika Sylvia-san dibiarkan tumbuh, di masa depan dia pasti akan menjadi Strega terkuat."


"Benarkah Guru pernah berkata seperti itu?" Cecily setengah terkejut dan setengah kagum. "Seperti yang diharapkan dari Strega paling terkenal. Aku berharap dapat memiliki kesempatan untuk menantangnya suatu saat nanti.”


Zhao Hufeng mengingatkan Cecily Wong. “Itu bisa kamu pikirkan nanti. Yang terpenting sekarang adalah fokus pada Festa kali ini.”


“Babak pertama memang telah kalian lewati. Tapi masih ada babak kedua dan ketiga penyisihan yang harus kalian lewati agar bisa lolos babak 32 besar dan memperebutkan gelar juara.” jelas Zhao Hufeng dengan santai. 


Zhao Hufeng sama sekali tidak mengkhawatirkan masalah ini. Karena Zhao Hufeng tahu bahwa dengan kekuatan Ryan dan Cecily Wong, tidaklah sulit untuk memasuki babak 32 besar. Sebaliknya, akan sangat aneh jika mereka tidak masuk ke babak utama.


"Adik Seperguruan, Amagiri Ayato yang kamu sebutkan terakhir kali sepertinya sudah mulai bertanding." ucap Zhao Hufeng sambil membuka layar hologram dan memperluasnya di depan Ryan dan Cecily Wong.


Ryan mengangkat matanya dan melihat ke layar hologram. Di dalam layar, terlihat sepasang pria dan wanita berseragam Akademi Seidokan melangkah maju masuk ke arena Sirius Dome.


Mata Ryan tertarik pada sosok pria berambut sedikit panjang dengan warna ungu gelap. Pria itu tampak tenang, tidak terlihat adanya rasa gugup sama sekali. Di tangannya, dia menggenggam sebuah Orga Lux berwarna hitam.


Dialah Amagiri Ayato, tokoh utama asli dunia ini.


Melihat Ayato dari layar, raut wajah Cecily Wong dan Zhao Hufeng memperlihatkan ekspresi penuh curiga.


“Apakah itu lawan yang kamu bilang sangat kuat?" Cecily berkata dengan sangat bingung, "Sepertinya dia terlihat biasa-biasa saja.”


Bagi orang yang memiliki penglihatan tinggi, hanya butuh satu mata saja untuk melihat level Prana milik Ayato. Dengan level seperti itu, sangat mustahil bagi Ayato untuk masuk Page One.


Oleh karena itu, Cecily Wong dan Zhao Hufeng tidak mengerti mengapa Ryan berkata bahwa Ayato adalah lawan yang kuat.


Ryan paham dengan keraguan Cecily Wong dan Zhao Hufeng. Maka dari itu, Ryan hanya bisa berkata, “Aku paham mengapa Kakak-Kakak Senior meremehkannya. Tapi, cobalah lihat dulu. Kalian akan mengerti saat pertandingan dimulai.”


Mendengar ini, Cecily Wong dan Zhao Hufeng juga tidak berkata apa-apa lagi. Mereka dengan tenang melihat pertandingan Ayato dari layar hologram yang baru saja dimulai.


Kali ini, yang menjadi partner Ayato adalah seorang gadis mungil berambut pendek sebahu dengan warna biru pucat. Dia juga memakai seragam SMA Seidokan.


Dia adalah Sasamiya Saya, teman masa kecil Ayato. Dialah yang menjadi partner Ayato sekarang. Padahal, dalam cerita aslinya, seharusnya Saya menjadi partner Kirin dalam Phoenix Festa.



Ketika suara mekanik yang mengumumkan permainan dimulai terdengar, Saya tidak bergerak. Ia malah mundur selangkah dan sepenuhnya memberikan panggung pertempuran kepada Ayato.


Di saat yang sama, Ayato melangkah maju dan mulai mengangkat Orga Lux miliknya.


Tak lama kemudian, suara Ayato terdengar dari Arena. “Pedang Rahasia yang diikat oleh penjara bintang, lepaskan kekuatanmu!"


Saat kata-kata seperti mantra dari mulut Ayato bergema, jumlah Prana yang keluar dari tubuh Amagiri Ayato tiba-tiba melonjak.


Prana yang sangat kaya ini keluar dari tubuh Ayato seolah-olah telah dibebaskan dari dalam sangkar, dan kemudian menyelimuti Orga Lux hitam di tangannya.

__ADS_1


Dalam Prana yang begitu kuat, Urm Manadyte Orga Lux Ayato mulai memancarkan cahaya merah. Dengan cepat Orga Lux itu berubah menjadi sebuah pedang energi besar berwarna hitam.


Itulah Orga Lux milik Ayato, Ser-Veresta.


Dengan segera, Ayato langsung melaju ke depan. Bagaikan embusan angin, sosok Ayato tiba-tiba melintas dengan cepat melewati kedua lawannya.


Dalam sekejap, Ayato sudah berada di belakang kedua lawannya. Di saat yang sama, kedua lencana sekolah dari tubuh kedua lawan Ayato itu retak, dan terjatuh.


Setelah itu, suara mekanis terdengar. "Permainan selesai. Pemenangnya, Amagiri Ayato x Sasamiya Saya."


Begitu mendengar suara mekanik sistem, seluruh Sirius Dome langsung diselimuti oleh sorak-sorai.


Ayato tampak begitu lega. Ia kemudian menonaktifkan Ser-Veresta dan kembali ke sisi Saya sambil tersenyum lemah.


Di salah satu Lounge khusus peserta, Cecily Wong dan Zhao Hufeng duduk terdiam dan tidak lagi berbicara setelah melihat penampilan Ayato.


Saat Ayato dan Saya pergi meninggalkan arena, barulah kedua murid Banyuu Tenra itu menghela nafas panjang.


"Adik Seperguruan, kamu benar." Cecily berkata dengan nada tidak berdaya. "Pria ini memang kuat.”


“Benar-benar sangat kuat.” ucap Zhao Hufeng dengan wajah serius. "Kekuatan dan kecepatannya dalam sepersekian detik itu, bahkan aku tidak dapat mengikutinya jika aku ceroboh. Ditambah dengan Ser-Veresta, aku mungkin bukan lawannya kalau aku tidak menggunakan Tsuutensoku.”


Membuat Zhao Hufeng yang memiliki harga diri tinggi berkata seperti itu, bisa dibayangkan betapa kuatnya Ayato. 


“Tapi, mengapa dia seperti itu?" Zhao Hufeng berkata dengan agak bingung, “Sebelum permainan dimulai, aku melihat level Prana yang dimilikinya sangat rendah. Tapi begitu permainan dimulai, kekuatannya tiba-tiba melonjak, apa yang sebenarnya terjadi?”


“Aku juga berpikir hal yang sama.” Cecily mengangkat tangannya, dan berkata, “Aku merasa dia sangat lemah, tapi secara tiba-tiba menjadi kuat. Ini tidak masuk akal.”


Mendengar ucapan kedua Kakak Seniornya, Ryan menggelengkan kepalanya. “Itu adalah kekuatan Ayato yang sesungguhnya. Dia hanya nggak bisa menggunakan kekuatan penuhnya.”


“Tidak bisa menggunakan kekuatan penuhnya?” Cecily tampak bingung dengan pernyataan Ryan.


“Apa maksudmu?” Zhao Hufeng juga agak bingung.


Hanya saja, Ryan tidak mengatakan apa-apa dan langsung mengganti saluran untuk menonton pertandingan lain.


Dan kali ini adalah pertandingan tim Kirin dan Julis.


Di atas arena, Kirin terlihat secara terus-menerus menyerang lawan dari berbagai sudut dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya, Kirin berjongkok dan langsung menebas lencana sekolah milik lawan.


Sementara itu, Julis memegang Lux berwujud pedang satu tangan, Aspira Spina, dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas. 


Seketika itu, muncul beberapa nyala api merah di depan Julis. Seperti roda gila yang mengamuk, beberapa bola api tersebut meluncur dan menghantam dengan keras tubuh lawan, membuatnya tak sadarkan diri.


Meski tidak seperti Ayato dalam melakukan insta-kill, tapi Kirin dan Julis sama-sama menang dengan mudah.


Tak lama kemudian, Ryan merenung sejenak, dan membuka saluran lain.


Kali ini yang tampil di layar hologram bukan lagi peserta biasa, melainkan dua boneka robot milik Akademi Arlequint.

__ADS_1


__ADS_2