Reincarnation Room

Reincarnation Room
Membunuh Torch


__ADS_3

Pada saat ini, dunia yang ada di dalam penglihatan Ryan telah berubah total, menjadi dunia yang dipenuhi garis kematian.


Ryan sudah terbiasa dengan dunia seperti itu. Ia lalu menggunakan Mystic Eye of Death Perception untuk mengamati garis kematian dari para Torch.


Dari sekian banyak Torch, Ryan mendapati bahwa ada banyak Torch yang nyala apinya sangat lemah, seolah-olah jika Ryan menyentuhnya, api tersebut akan langsung padam. Torch seperti itu memiliki garis kematian yang sangat padat.


"Ini terlalu banyak. Ada banyak Torch yang hampir padam." gumam Ryan sambil berpikir.


"Ini artinya, Denizen yang ada di Kota Misaki memiliki selera makan yang cukup besar."


Situasi seperti ini, membuat Ryan akhirnya mengingat beberapa plot dari Anime aslinya.


"Jadi begitu …"


Ryan lalu melihat ke depan, tepatnya ke arah seorang murid yang berjalan lesu dengan kepala menunduk. Rasa kehadiran dari murid tersebut sangat lemah. 


Murid tersebut adalah Torch yang hampir padam. Mereka sama sekali tidak memiliki kesadaran lagi.


"Sungguh keberadaan yang menyedihkan …"


Walau kata-kata seperti itu keluar dari mulutnya, ekspresi Ryan sama sekali tidak berubah. 


Ryan kemudian berjalan menuju murid yang ada di depannya. Saat Ryan berpapasan dengan murid tersebut, Ryan segera mengeluarkan Moon Blade, dan menebaskannya dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata t3lanj4ng.


Slash


Sebuah kilat putih menebas garis kematian pada permukaan api jiwa. Seketika itu, langkah kaki murid tersebut terhenti. Sementara Ryan, ia masih tetap berjalan lurus tanpa melihat ke belakang.


Detik berikutnya, api jiwa berwarna biru tua di dalam tubuh murid tersebut padam.


Wuuush


Di saat yang sama, tubuh murid itu tiba-tiba terbakar api biru. Bagaikan kertas yang dibakar, tubuh murid tersebut berubah menjadi abu dan menghilang.


Apa yang dilakukan adalah Ryan membunuh residual Power of Existence dalam tubuh murid tersebut, sehingga Torch tidak lagi memiliki sisa Keberadaan lagi di dunia ini.


Orang-orang di sekitar seharusnya bisa melihat semua kejadian ini.


Namun, tidak ada yang menyatakan keprihatinannya tentang fenomena ini, seolah-olah mereka tidak melihatnya sama sekali, dan terus berjalan seakan tidak terjadi apa-apa.


Setelah membereskan satu Torch, Ryan dengan tenangnya berjalan maju dan mengincar mangsa baru lagi.


Tak lama kemudian, Ryan kembali melihat Torch yang Power of Existence-nya hampir padam.


Melihat kemunculan mangsanya, Ryan yang tadinya memasang ekspresi dingin, mulai mengeluarkan senyuman menyeringai.


~***~


Di sebuah ruang tertutup yang gelap, berdiri seorang pria berpakaian setelan jas putih. Di tubuhnya, melayang sehelai kain panjang yang juga berwarna putih bersih. Penampilan Pria itu benar-benar seperti orang kaya. 


Walau penampilan pria itu tampak elegan, namun ada satu hal yang membuat pria tersebut aneh. Pria tersebut menggendong boneka berwujud wanita dengan penuh afeksi. 



Selain boneka yang dibawanya, ada beberapa boneka lain dengan berbagai macam baju dan kondisi yang berbeda-beda. Pria itu meletakkannya berjajar menyandar di dinding.


Pria aneh itu berdiri di depan sebuah peta hologram tiga dimensi yang menggambarkan secara detail kota Misaki.


Dalam peta tersebut, terdapat banyak miniatur manusia yang memiliki nyala api biru di dalamnya.


Tiba-tiba saja, satu persatu miniatur manusia itu menghilang dengan cepat.


"Bagaimana mungkin Torch yang aku buat tiba-tiba menghilang?" gumamnya sembari mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Tuan." Boneka berwujud wanita yang dipegang pria itu mendadak bersuara.


Mulut boneka itu memang tidak bergerak, tapi suara seorang wanita keluar dari sana.


"Bukankah Torch memang pasti akan menghilang setelah Keberadaannya habis?"


Ya, takdir Torch ada menghilang ketika residu Power of Existence habis. Maka dari itu pemikiran seperti ini bukanlah hal yang aneh.


"Ah … sayangku Marianne …" Pria tersebut membelai rambut boneka di lengannya dengan penuh kasih sayang dan berbisik, "Memang hilangnya Torch adalah hal yang wajar. Akan tetapi, banyak diantara Torch yang hilang adalah Torch yang baru aku buat."


"Aku telah menyisakan residu Power of Existence yang dapat membuat mereka bertahan dua sampai tiga hari lagi."


"Dengan kata lain …" Marianne berkata dengan sedikit gugup, "Seseorang dengan sengaja menghancurkan Torch?"


"Benar." Pria itu lalu berkata dengan lembut, "Jangan khawatir, sayangku Marianne … apapun itu, aku akan mengirim pelayanku untuk pergi melihat apa yang sebenarnya terjadi."


Setelah mengatakannya, pria itu menjentikkan jarinya.


Klik


Di saat yang sama, boneka-boneka yang sejak tadi bersandar di dinding ruangan gelap itu tiba-tiba mata mereka mulai menyala.


~***~


Kota Misaki, kawasan bisnis dan hiburan.


Dibandingkan dengan area pemukiman yang sepi, jalanan di sini cukup ramai dan bising.


Banyak kendaraan melaju di jalan raya. Di saat yang sama, jumlah orang yang berlalu-lalang di jalur pejalan kaki juga meruah.


Suara klakson dan percakapan orang-orang yang berjalan bercampur menjadi satu, membuat pemandangan kota menjadi sangat hidup.


Dalam kerumunan orang tersebut, Ryan tampak berjalan tanpa tujuan di sana. Ia berjalan sambil sedikit menundukkan kepalanya, sehingga rambut poni di dahinya sedikit menutup matanya.     


Karena efek Kemampuan (Skill) Pasif Pembunuh, tidak ada yang bisa merasakan keberadaan Ryan.


Begitu ada orang yang wajahnya tampak lesu lewat di sisinya, tubuh Ryan langsung memancarkan busur cahaya ke tubuh orang tersebut.


Orang tersebut segera berhenti dan terbakar api biru, hingga akhirnya berubah menjadi abu.


Dan seperti biasanya, tidak ada yang peduli dengan semua ini.


"Hmm, di sini ada lebih banyak Torch dibanding dengan area pemukiman tadi." gumam Ryan sambil melihat sekelilingnya.


Di kawasan bisnis yang ramai, Ryan menemukan bahwa jumlah Torch yang ia lihat sebelumnya sebenarnya hanya sedikit.


Satu dari sepuluh orang adalah Torch. Itulah perbandingan yang tepat untuk menjelaskan jumlah Torch yang sangat banyak ini.


Namun, api jiwa di dalam tubuh orang-orang ini masih menyala dengan ganas, kesadaran mereka belum hilang, dan mereka masih berjalan normal melakukan kesehariannya bersama teman-teman di sampingnya.


Melihat pemandangan ini, Ryan kembali tersenyum dan melakukan pembunuhan masalnya lagi.


Setelah hampir setengah jam melakukan pembantaian Torch, Ryan menghentikan aksinya.


"Sudah waktunya … " 


Ryan kemudian berbalik dari pusat keramaian dan pergi ke tepian sungai Mana.


Setibanya di tepian sungai, Ryan tidak melihat ada seorang pun di sana. Ryan lalu melihat ke arah sungai yang ada di depannya.


Air sungai ini memantulkan sinar matahari dari langit dan membuatnya bersinar indah.


Melihat pemandangan seperti ini, Ryan mematikan Mystic Eye of Death Perception dan menyimpan belati tajamnya.

__ADS_1


"Sebagai pertempuran pertamaku di dunia ini, bukankah lokasi seperti ini terlalu mewah?"


Sesaat setalah Ryan berkata seperti itu, dunia di sekitar Ryan mendadak berubah.


Banyak bola api yang muncul dalam radius yang cukup besar. Kumpulan bola api tersebut kemudian menyatu dan berubah menjadi tembok besar yang menyelimuti seluruh tepian sungai.


Pada area yang telah diselimuti tembok api, tepat di bawah kaki Ryan, muncul simbol lingkaran sihir yang sangat besar.


Seketika itu, dinding api tersebut berubah menciptakan sebuah ruang dimensi di mana langit terlihat berwarna merah, dan waktu di dalamnya berhenti.


Aliran air sungai, ikan kecil, angin, dan bahkan burung-burung yang terbang di angkasa berhenti bergerak. Semuanya terlihat membeku.


Di tempat ini, satu-satunya makhluk yang dapat bergerak adalah Ryan.


"Jadi ini yang namanya Fuuzetsu?"     


Fuuzetsu merupakan salah satu dari Mantra Tak Terbatas. Yang disebut sebagai Mantra Tak Terbatas, mengacu pada penggunaan Power of Existence untuk dapat melakukan berbagai fenomena magis, atau singkatnya ini adalah sihir.


Sebagai sihir penghalang, Fuuzetsu dapat membuat dinding api untuk mengisolasi ruang yang ada di dalam sehingga hukum sebab-akibat dalam ruang yang terisolasi akan terputus, sehingga apapun yang ada di dalam ruang isolasi akan memasuki keadaan statis.


Fuuzetsu umumnya digunakan untuk dua tujuan. Yang pertama adalah untuk menyembunyikan keberadaan Denizen saat sedang menelan Power of Existence dari manusia, dan yang kedua adalah digunakan sebagai medan pertempuran.


Wuuush


Suara semburan api tiba-tiba terdengar. Di depan Ryan, beberapa nyala api muncul dan perlahan memadat menjadi beberapa boneka.


Boneka-boneka itu mengenakan pakaian yang tidak selaras. Ada yang terlihat masih baru, dan ada yang terlihat cukup tua.


Klek Klek Klek


Bonek-boneka itu lalu bergerak layaknya marionette dengan suara persendian yang cukup berisik dan perlahan mengepung Ryan.


Melihat boneka-boneka itu, Ryan mau tidak mau mengangkat alisnya. "Rinne?"


Rinne adalah pelayan yang dibuat oleh Crimson Denizen menggunakan Power of Existence. Rinne tidak akan bisa mempertahankan keberadaanya di dunia ini tanpa kekuatan yang diberikan oleh Tuannya.


Biasanya, Crimson Denizen akan menggunakan Rinne ciptaannya sebagai alat untuk berburu manusia demi mengumpulkan Power of Existence.


Tentu kekuatan Rinne jauh di bawah kekuatan asli Crimson Denizen. Dari segi kekuatan, Rinne memiliki kekuatan setara dengan Aragami bertipe medium. 


Jadi, bagi Ryan mereka hanyalah ikan teri. Hal ini membuat Ryan tertawa. "Hahahahaha …"


"Jadi begitu, karena dia nggak tahu situasi di lapangan, dia mengirim pengintai terlebih dahulu untuk menguji kekuatan lawan."


Dari sini, Ryan dapat mengambil kesimpulan, bahwa Crimson Denizen yang bersembunyi di kota Misaki ini cukup berhati-hati dan pandai menggunakan trik.


"Kalau ingatanku nggak salah, sifat orang itu memang seperti ini."


Sikap Ryan yang sangat santai dan angkuh ini, seakan tidak mempedulikan para Rinne, membuat para boneka itu jengkel.


Klek Klek Klek


Dengan suara nyaring, para boneka yang mengepung Ryan langsung mengayunkan tangan serta kakinya seperti binatang buas dan bergerak ke depan.


Melihat para boneka berlari ke arahnya, tangan Ryan perlahan bergerak ke belakang punggungnya untuk mengambil belati.


Namun, detik berikutnya, gerakan Ryan terhenti.


"Ini?"


Ryan tampak agak terkejut dan melihat ke sebuah arah. Dari arah tersebut, Ryan dapat merasakan secara samar-samar, adanya sebuah aura yang sangat panas bergerak kemari dengan kecepatan tinggi 


"Mungkinkah itu dia?"

__ADS_1


Sesaat kemudian, seseorang muncul dari langit.


__ADS_2