
Suara tamparan terdengar sangat keras hingga menggema memenuhi kamar tidur tersebut.
Tak ayal, sebuah cap lima jari berwarna merah tercetak pada pipi kiri Ryan.
Perlahan, Rea menangis sesenggukan di dada Ryan. "Kenapa? Kenapa kamu langsung meninggalkanku saat itu? Hiks hiks hiks …"
"Padahal aku sangat mengkhawatirkanmu, hiks hiks hiks …"
"Emmm, bukankah aku sudah meninggalkan surat?
Mendengar ucapan Ryan, Rea kembali menampar Ryan. Dan kali ini yang menjadi korban adalah pipi kanannya.
PLAK
"Dasar nggak peka!"
"Ugh …" Walau dengan fisik Ryan, tamparan Rea serasa digigit nyamuk, tapi hati Ryan terasa sakit.
'Apakah Rea marah karena aku meninggalkan dia hanya dengan sepucuk surat dan tidak berbicara secara langsung?'
Ryan tiba-tiba mendapat pencerahan. 'Itu masuk akal.'
'Sepertinya, melakukan semua ini adalah hal yang tabu. Ke depannya, aku nggak akan melakukannya lagi' pikir Ryan.
Tapi, begitu ia mengingat bahwa ia juga melakukan hal yang sama pada Hibari dan Alisa, hati Ryan jadi bergetar.
'Anjir! Sepertinya aku masih punya hutang tamparan dari Hibari dan Alisa! Semoga saja Alisa nggak menamparku menggunakan God Arc-nya.'
Setelah pikirannya berjalan kemana-mana, Ryan kembali fokus pada Rea yang masih menangis di dadanya.
"Maafkan aku, Rea. Aku janji, ketika aku pergi lagi, aku akan berpamitan secara langsung." ucap Ryan dengan lembut.
Rea berhenti menangis dan memandang ke arah Ryan dengan mata berkaca-kaca. "Janji ya?"
"Iya, aku janji, sayang …" Ryan kemudian mengecup hangat dahi Rea.
Much
Karena Rea memeluk Ryan masih dalam keadaan tanpa busana, otomatis gunung kembar milik Rea menempel erat pada tubuh Ryan. Hal ini membuat Joni milik Ryan pun berdiri tegak bak tiang bendera.
Merasakan adanya tonjolan pada bagian bawah Ryan, Rea tersenyum nakal. Ia kemudian mengelus-elus tonjolan itu dari luar celana.
Tak tahan dengan godaan Rea, Ryan langsung mencium bibir Rea dengan ganas dan mulai melucuti bajunya. Mereka akhirnya bermain 5 ronde pagi itu.
Tanpa terasa, jam telah menunjukkan pukul 10 pagi. Menyadari hal ini, Ryan segera membangunkan Rea yang sedang tidur bersandar di dada Ryan akibat kelelahan.
"Rea, bangun Rea … kamu nggak kerja? Sudah jam 10 ini!"
"Huu?" Rea yang masih setengah sadar menanggapi pertanyaan Ryan. "Aku nggak perlu takut datang terlambat lagi, aku sekarang seorang wakil CEO."
Ryan menaikkan alisnya mendengar hal ini. "Ha? wakil CEO? Kamu sudah nggak kerja lagi di B&D Konsultan?"
Sambil memejamkan mata, Rea mulai bercerita tentang apa yang terjadi pada dirinya.
Tepat 100 hari yang lalu, Ryan meninggalkan Rea dengan sepucuk surat beserta Kartu ATM, buku tabungan, Sertifikat Rumah, dan juga BPKB mobil.
Dalam isi surat yang Ryan tulis, selain permintaan maaf atas kepergian Ryan, ada salah satu bagian yang berisi pesan meminta tolong Rea untuk menginvestasikan sisa uang yang ada dalam rekening tabungannya.
Saat itu, isi tabungan Ryan masih tersisa lebih dari 300 Milyar Rupiah. Melihat uang sebesar itu, Rea mendapat ide untuk mendirikan sebuah perusahaan Investasi.
Sejak saat itu, Rea mengundurkan diri dari B&D Konsultan dan mendirikan sebuah perusahaan Investasi bernama PT. Invictus, yang dalam bahasa latin artinya tak terkalahkan. Ia juga mulai tinggal di rumah Ryan sejak saat itu.
Saat mengurus pendirian perusahaan, Rea mendaftarkan Ryan sebagai CEO, sedangkan Rea sebagai wakil CEO.
Sampai saat ini, Invictus masih belum menghasilkan keuntungan. Hal ini dikarenakan Invictus baru resmi berjalan dua bulan yang lalu. Selain itu, uang yang perusahaan sudah investasikan masih berjumlah sedikit.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 11 siang. Ryan dan Rea bergegas untuk mandi dan sarapan.
__ADS_1
Kondisi Rea masih tampak lemah, jadi kali ini Ryan lah yang memasak. Bagaikan seorang chef ahli, Ryan membuat nasi goreng dengan api yang sangat besar.
Sreng Sreng Sreng
Dengan lihai, ia melempar nasi dalam wajan ke udara sambil terus menggongsengnya.
Dari samping, Rea terus menatap Ryan dengan wajah penuh senyuman. Ia sangat merindukan Ryan, jadi ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk memandangi Ryan secara langsung.
10 menit kemudian, Nasi Goreng Sosis telah siap dihidangkan. Ryan dan Rea lalu makan dan saling berbincang melepas kerinduan.
Seusai makan, mereka segera ke kantor PT. Invictus yang berada di daerah Surabaya Barat.
Karena statusnya yang masih perusahaan rintisan, Rea hanya menyewa sebuah ruang kantor berukuran 6x10 meter saja di sebuah gedung perkantoran depan PTC Mall.
Hanya butuh waktu 15 menit perjalan dari rumah Ryan untuk sampai di kantor.
"Siang Bu …" Sesampainya di kantor, banyak karyawan yang menyalami Rea.
Anehnya, semua karyawan yang ada di ruangan kantor ini adalah wanita muda nan cantik yang masih single. Tak ayal, keberadaan Ryan menjadi perbincangan.
"Siapa tuh cowok ganteng itu?"
"Pacar Bu Rea mungkin."
"Masak? Selama beberapa bulan ini, kita nggak pernah lihat Bu Rea dekat dengan cowok lho."
"Iya-iya, waktu itu ada seorang bos dari kantor sebelah deketin Bu Rea tapi nggak digubris."
"Tapi wajar sih Bu Rea jatuh cinta, ganteng banget soalnya tuh cowok. Aku mau kok jadi istri kedua."
"Hush, kalau sampai kedengaran Bu Rea, nanti kamu bisa dipecat."
"Kalian sedang bicara apa?" Dari belakang para karyawan yang bergerombol, muncul Rea dan Ryan.
Kesepuluh karyawan yang sedang bergosip itu pun terkejut dan bertingkah sangat aneh
"Eh Ibu, tidak ada apa-apa kok Bu."
Semua karyawan wanita yang cantik itu menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Hmm?" Rea memiringkan kepalanya sambil terheran-heran dengan tingkah para karyawannya.
Tak mau memikirkannya, Rea kemudian menepuk tangannya untuk menarik perhatian para karyawannya.
Plok Plok
"Baik semuanya, ada pengumuman penting yang akan Ibu sampaikan."
"Perkenalkan, pria di sampingku ini adalah CEO perusahaan kita. Karena ada beberapa alasan tertentu, ia tidak dapat hadir secara langsung ke kantor kita."
"Mari, beri sambutan pada CEO kita, Ryan Cassano!" Setelah mengatakannya, Rea mulai bertepuk tangan. Para karyawan lainnya pun turut bertepuk tangan.
"Perkenalkan, saya Ryan Cassano, CEO Invictus dan juga pacar Rea." ucap Ryan sambil merangkul pinggul Rea.
Rea terkejut dengan ucapan Ryan. Ia tak menyangka bahwa Ryan akan memperkenalkan dirinya sebagai pacarnya. Tak ayal, Rea tersipu malu hingga pipinya memerah.
Perkenalan ini membuat suasana kantor gaduh. Banyak yang memberi ucapan selamat pada Rea. Bahkan ada karyawan yang menanyakan tanggal pernikahannya.
Setelah perkenalan itu, Ryan menyerahkan uang 1 Triliun Rupiah sebagai modal PT. invictus. Rea pun sangat terkejut melihat saldo bank milik Ryan yang sangat banyak itu.
Sepulang dari kantor, Ryan dan Rea memutuskan untuk jalan-jalan ke Mall sekaligus makan malam.
Mereka makan malam dengan sangat romantis. Hari ini pun menjelma menjadi hari paling bahagia bagi Rea.
Tak terasa, waktu berlalu dengan cepat, hari pun telah berganti lagi.
Kali ini, Ryan akan berpamitan secara langsung pada Rea.
__ADS_1
"Rea, bangun …" panggil Ryan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rea yang masih tertidur tanpa busana di sampingnya.
Rea mengusap-usap matanya. "Mmm? Jam berapa ini?"
"Ini hampir jam 5. Waktuku tidak banyak."
"Huh?" Mendengar ucapan Ryan, Rea langsung tersadar dari kantuknya. "Kamu mau pergi?"
"Aku nggak memiliki banyak waktu untuk tinggal di dunia ini. Pada jam 5 tepat, aku akan segera menghilang dari tempat ini."
"Tapi kamu akan kembali kan?" Mata Rea mulai merah dan meneteskan air mata.
Ryan menatap Rea dengan tatapan serius. Ia lalu memegang kedua tangan Rea. "Tentu saja, aku pasti akan kembali ke sini. Dan aku berjanji, suatu saat aku akan mengajakmu."
Perlahan, wajah mereka berdua semakin mendekat. Bibir mereka pun saling bersentuhan dengan dengan hangat dan khidmat.
"Mmmmm …"
Ding
[Reincarnator dengan nomor serial 124.888 sudah menghabiskan waktu selama 1 hari di dunia asalnya. Saatnya kembali ke Reincarnation Room]
Begitu mendengar suara notifikasi itu, mendadak tubuh Ryan berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang dari kamar tidur Rea.
Melihat tubuh Ryan menghilang di depan matanya, Rea menangis sesenggukan.
~***~
"Ugh …" Roy yang baru saja menyelesaikan misi pertamanya, kini tergeletak di lantai ruang evaluasi.
Tubuhnya yang penuh luka cakaran dan gigitan perlahan mulai sembuh di bawah cahaya putih menyilaukan yang diberikan Reincarnation Room.
"Aku tak menyangka misi tingkat Easy saja sudah sesulit ini."
"Jujur saja, lawanku dalam misi ini sangat mudah. Namun, jumlah lawanku di sini sangat tidak masuk akal!"
"Jika saja aku tidak mendapat Kemampuan Acak mata Rinne Sharingan, mungkin aku tidak akan lolos dari misi ini." keluh Roy
"Aku harus meningkatkan nilai Atribut INT untuk bisa memaksimalkan kemampuan mata ini."
Roy kemudian mengepalkan tangannya dengan erat. "Tunggulah aku Ryan, aku akan melampauimu dan membunuhmu dengan kejam!"
Ding
[Reincarnator dengan nomor seri 124.889 telah kembali ke Reincarnation Room]
[Memulai evaluasi misi]
______________________________________________________________________
Dunia : Resident Evil
Tingkat Kesulitan : Easy
Jumlah Peserta : 1
Jumlah Misi Utama : 3
Misi 1 :
Bunuh 100 Zombie. Akan ada penilaian tambahan jika membunuh melebih target.
Misi 2 :
Melindungi Alice dan penyintas lainnya untuk keluar dari Hive. Akan ada penilaian tambahan berdasarkan jumlah penyintas yang berhasil keluar dari Hive.
Misi 3 :
__ADS_1
Dapatkan 3000 poin. Akan ada penilaian tambahan jika melebihi target poin.
______________________________________________________________________