
Shana yang saat ini sedang berdiri di atap sebuah gedung, tiba-tiba merasakan aura mencengkam yang seperti tidak pada tempatnya. Seketika itu, ia langsung menoleh ke arah aura tersebut berasal.
Dari arah tersebut, Shana dengan jelas merasakan aura penuh distorsi seakan-akan keberadaannya ditolak oleh dunia ini.
Merasakan aura penuh distorsi bercampur dengan aura penuh tekanan yang kuat, Shana langsung merespon. "Ini adalah aura Denizen!"
Crimson Denizen bukanlah penghuni asli dunia manusia. Oleh karena itu, saat Denizen muncul di dunia ini, akan keluar rasa penolakan dari dunia, yang membuat adanya sedikit distorsi. Rasa penolakan inilah yang mampu menarik perhatian Flame Haze.
Untuk menghindari pelacakan Flame Haze, Crimson Denizen selalu menyembunyikan auranya saat tidak menggunakan kekuatannya. Dengan begitu, dunia tidak akan menolak keberadaannya. Crimson Denizen baru memunculkan auranya hanya saat mereka menggunakan kekuatannya.
Dan kali ini, Shana merasakan ada dua aura yang bergerak sangat cepat.
Melihat ke arah aura tersebut, Shana bergumam. “Akhirnya dia bergerak juga.”
“Apakah kamu dapat merasakannya?” Suara Alastor mendadak keluar dari liontin yang Shana kenakan. “Kedua aura itu mendekat dengan sangat cepat. Selain itu, keduanya juga terasa sangat kuat.”
"Apakah Hunter meminta bantuan Crimson Denizen lain?" Shana dengan tenang bertanya pada Alastor, "Alastor, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Alastor berkata tanpa ragu-ragu, "Mereka berdua pasti sedang pergi ke tempat Ryan. Dan kemungkinan besar, Denizen yang dimintai tolong oleh Friagne adalah seorang Crimson Lord. Jika kita tidak segera bergegas, Reiji Maigo pasti akan berhasil direbut!"
Mendengar penjelasan Alastor, Shana tidak berkomentar lagi. Seketika itu, rambut hitam panjang Shana berubah menjadi merah seperti sedang terbakar.
Boom
Detik berikutnya, telapak kaki Shana mengeluarkan api yang berkobar. Tanpa ada keraguan, Shana menghentakkan kakinya ke atap gedung, dan langsung meluncur ke atas bagai sebuah roket yang terbang ke langit.
Di saat yang sama, pijakan Shana langsung hancur dan menciptakan lubang di atas atap gedung tersebut.
~***~
Di tempat lain, Ryan juga merasakan adanya aura terdistorsi yang mengarah ke tempatnya berada. Meski yang dapat dirasakan Ryan terbatas, tapi insting Ryan mengatakan bahwa aura tersebut adalah milii Denizen.
Merasakan adanya dua aura, Ryan bergumam, “Membawa bala bantuan?”
Ryan membuat penilaian yang sama dengan Shana. Namun, Ryan sama sekali tidak terkejut. Sebaliknya, ia malah tersenyum menyeringai.
__ADS_1
“Ini bagus sekali! Lebih banyak mangsa yang datang, maka penilaianku akan semakin meningkat!”
Mengatakan hal ini, Ryan langsung mengambil belati di pinggang bagian belakang, dan melakukan tebasan ke samping.
Slash
Torch yang baru saja lewat di sampingnya, langsung berubah menjadi abu dan menghilang dari jalanan padat ini.
Ryan lalu melihat sekelilingnya. Tempat ini sangatlah ramai, banyak sekali orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan pusat kota ini.
“Walau aku nggak peduli dengan nyawa manusia-manusia lemah ini, tapi jika aku bertarung di sini, maka akan terjadi banyaknya distorsi di tempat ini. Hal seperti itu pasti akan membuat Shana semakin marah padaku.”
Ryan berpikir sejenak, dan kemudian ia memutuskan, “Hmm, oke lah … sepertinya aku harus mengubah tempat pertarunganku.”
Dengan segara, Ryan berbalik dan berjalan ke arah lain dengan langkah yang santai. Dan tempat yang dituju Ryan adalah tepian Sungai Mana.
Saat Ryan tiba, tidak ada seorang pun di sana. Bahkan tidak ada bayangan satupun di jalanan setapak pinggir sungai. Hanya suara bising dan klakson kendaraan saja yang terdengar dari jembatan Misaki.
Ryan berhenti melangkah dan berdiri di atas rerumputan sembari memandangi indahnya sungai Mana.
Weeeng
Sebuah lingkaran sihir muncul di bawah telapak kaki Ryan. Lingkaran ini meluas dan menyebar di area tepi sungai,
Wuuush
Di sekeliling lingkaran sihir besar itu, mendadak muncul api putih pucat yang kemudian berubah menjadi penghalang yang menutupi seluruh pinggiran sungai,
Warna merah cerah menggantikan semua warna yang ada di dunia dan menjadi satu-satunya warna di ruang ini.
Mantra Tak Terbatas Fuuzetsu telah memotong hukum sebab akibat dan juga waktu di dalam penghalang, menjadikannya tempat yang pas untuk medan pertempuran.
Suasana menjadi hening. Hingga akhirnya, sebuah suara yang elegan perlahan mulai terdengar, “Sebelumnya, di tempat ini, kamu telah membuatku kabur dengan membawa rasa malu.”
Dengan suara seperti itu, sebuah kain putih panjang muncul di atas Sungai Mana. Bagaikan tirai permainan sulap yang dibuka, Friagne muncul dari balik kain putih tersebut.
__ADS_1
Melihat Ryan yang berdiri di tepi sungai, Friagne tersenyum. Ia menghela nafas dan terus menatap Ryan dengan tatapan dingin. “Dan hari ini, aku akan membuatmu tidak pernah ada di dunia ini dan menghapusmu.”
Mendengar ucapan Friagne yang mirip dengan para tokoh antagonis pasaran, Ryan hanya tersenyum seakan sedang mengejeknya. Tak lama kemudian, ia menoleh dan melihat ke arah Jembatan Misaki.
Di atas tiang baja yang menopang jembatan Misaki, Sydonay berdiri dengan kacamata hitam khasnya. Ia juga sedang menatap langsung ke arah Ryan dengan tawa penuh ketertarikan.
"Apakah ini manusia yang kamu sebutkan tadi?"
"Dapat merasakan keberadaan Denizen, dapat bergerak di dalam Fuuzetsu, dan juga berani menantang Crimson Lord sendirian."
"Selama bertahun-tahun aku hidup, ini adalah pertama kalinya aku melihat manusia seperti ini."
Perkataan Sydonay ini, membuat mata Friagne berkedut.
Meskipun Friagne sudah lama mengantisipasi bahwa Sydonay pasti akan tertarik pada manusia aneh seperti itu, namun ia berharap Sydonay tidak melihat benda yang Ryan bawa.
Memang Friagne lah yang menyewa jasa Sydonay untuk membantunya membunuh Ryan dan Shana. Tapi tetap saja ia tidak ingin Sydonay menemukan bahwa Ryan memiliki Reiji Maigo. Jika itu sampai terjadi, maka situasinya akan menjadi sedikit merepotkan.
Ryan menyipitkan matanya untuk melihat identitas Crimson Denizen yang berdiri di atas jembatan Misaki. Saat Ryan melihat sosok Sydonay, ia jadi sedikit tertegun. "Bukankah dia …"
Ingatan lama yang tertidur pulas dalam pikiran Ryan akhirnya mulai terbangun. Hal ini membuat Ryan tahu persis siapa Crimson Denizen yang dimintai tolong oleh Friagne.
"Sepertinya situasi kali ini sedikit gawat. Aku sama sekali nggak menyangka bahwa Denizen yang dimintai tolong oleh Hunter adalah Thousand Changes!" gumam Ryan.
Di dunia merah terang itu, kedua Crimson Lord menatap Ryan dengan ekspresi yang berbeda.
Aura dari kedua Crimson Lord itu mulai naik dengan cepat, membuat tekanan yang sangat kuat menyelimuti bagian dalam Fuuzetsu.
Dalam keadaan seperti itu, sudah jelas bahwa pertarungan ini tidak dapat terelakkan lagi.
"Un?" Tiba-tiba saja, Friagne dan Sydonay menoleh dan melihat ke arah yang sama.
Ryan tahu mengapa kedua Crimson Lord tersebut sama-sama bersikap seperti itu. Karena Ryan juga dapat merasakannya.
Dalam hal ini, Friagne tersenyum dan berkata, "Sepertinya gadis kecil itu telah tiba."
__ADS_1