
Dengan cara ini, Poin yang Ryan miliki hanya tinggal 62.000 Poin.
Melihat pintu di depannya berubah dari abu-abu menjadi merah, Ryan segera membuka pintu dan masuk ke Rumah pelatihan.
Tanpa Ryan sadari, dari kejauhan, seorang Pria bermata merah dengan pupil berbentuk spiral dan dikelilingi sembilan titik hitam menyerupai kecebong, melihat Ryan dengan penuh kebencian.
Pria tersebut tidak lain adalah Roy, seorang agen dari institusi rahasia di dunia asal Ryan. Pria tersebut telah dibunuh oleh Ryan, dan dengan keberuntungan yang besar, dia terpilih masuk ke dalam Reincarnation Room.
Sambil menggertakkan giginya, Roy bergumam, "Ryan Herlambang, saat aku berhasil mencapai Tingkat Authority 1, aku akan datang untuk membunuhmu!"
"Aku harap, sebelum itu terjadi, kamu tidak mati terlebih dahulu di dunia misi!"
Saat Roy akan pergi, tiba-tiba saja muncul suara dengan nada penasaran tepat di samping telinganya.
"Hoo~ sepertinya orang yang ingin kau bunuh itu cukup kuat."
Mendengar suara ini, Roy langsung melompat mengambil jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. "Siapa?!"
Tepat di belakang tempat Roy berdiri tadi, kini berdiri seorang pria berambut merah dengan dandanan ala pemain sirkus. Di wajahnya, terdapat tato bergambar bintang di sisi kanan dan tetesan air di sisi kiri.
Pria tersebut mengenakan pakaian tanpa lengan bergambar hati dan wajik.
Melihat orang berpenampilan seperti pemain sirkus tersebut, dalam hati Roy benar-benar terkejut.
'Aku tidak merasakan hawa keberadaannya sama sekali! Siapa dia sebenarnya?'
Namun, Roy berusaha menyembunyikan keterkejutannya dan sekali bertanya pada pria tersebut. "Siapa kamu? Kenapa kamu mencampuri urusanku?"
Pria berpenampilan seperti pemain sirkus itu tersenyum dan berkata, "Aku hanya penasaran dengan Pria yang kamu lihat dengan penuh kebencian tadi."
"Maksudmu Ryan?"
"Benar … Pria bernama Ryan itu terlihat sangat lezat, tapi dia belum sepenuhnya matang." ucap Pria berambut merah itu sambil memainkan lidahnya keluar, seakan sedang melihat makanan yang menggugah selera.
Roy berkata dengan emosi, "Ryan adalah targetku, jangan ikut campur! Dasar orang mesum!"
Mendapat hinaan seperti itu, pria berpenampilan badut itu tetap tersenyum. "Aku bukan orang mesum. Namaku Hisoka Morow, Reincarnator Tingkat Authority 3. Aku harap kita bisa akrab, Roy-kun"
Di saat Pria bernama Hisoka menyebut nama Roy, mata Hisoka terbuka lebar. Pupil mata Hisoka terlihat seperti mata ular.
Hal ini membuat tubuh Roy sedikit merinding, seakan orang yang ada di depannya dapat melihat langsung ke dalam jiwanya.
__ADS_1
"Ba-bagaimana kamu bisa tahu namaku?!"
Hisoka hanya tersenyum tanpa menjawab keingintahuan Roy. Ia kemudian berbalik pergi meninggalkan Roy.
Di saat yang sama, tiba-tiba laju Hisoka dihadang oleh seorang pria tua dengan baju berkulit ular.
Pria tua itu tersenyum menyeringai pada Hisoka. "Sepertinya kamu sangat kuat. Aku ingin menantangmu bertarung."
Hisoka membuka matanya sesaat, lalu kembali menutupnya. "Tingkat Authority 5 sepertimu ingin melawanku? Menarik sekali, Asakura-kun …"
"Terlebih lagi, kamu baru saja menyelesaikan misi pertamamu."
Ucapan Hisoka ini membuat Roy berpikir bahwa Asakura adalah orang gila. "Apa kamu sudah gila? Kamu baru saja kembali dari misi pertamamu dan sekarang kamu mau menantang seorang Reincarnator bertingkat Authority 3?"
"Cih …" Asakura mengorek-ngorek telinganya dan berkata, "Aku cuma ingin bertarung dengan lawan yang kuat. Di Dunia Misi sebelumnya, orang terkuat di dunia itu tidak memberiku banyak kepuasan."
"Tidak memberimu banyak kepuasan?" Roy sedikit penasaran. "Apa nama Dunia tempat Misi pertamamu itu?"
"Hmm …" Asakura terdiam sesaat seakan sedang mencoba mengingat sesuatu. "Kalau tidak salah, namanya Demon Slayer."
Dengan ekspresi kecewa, Asakura mulai bercerita. "Manusia di dunia itu terlalu lemah. Sekelompok orang yang disebut Hashira yang katanya sangat kuat, sama sekali tidak ada apa-apanya."
Memikirkan bagaimana dirinya melewati Dunia Misi pertamanya dengan susah payah, Roy menjadi sedikit iri dengan Asakura.
Setelah mendengar kisah Asakura, Hisoka menjadi sedikit tertarik. "Ayo kita ke Arena. Lagipula, aku cukup penasaran dengan Profesi yang kau miliki. Ini pertama kalinya aku melihat Profesi semacam itu, Asakura-kun …"
Dengan senyum seperti maniak, kedua orang itu pun pergi menuju Arena, satu-satunya tempat dimana Reincarnator dapat bertarung satu sama lainnya dengan bebas.
'Sepertinya orang yang bernama Hisoka ini Kemampuan Khusus memiliki mata yang dapat melihat status Reincarnator.'
'Jika bukan begitu, tidak mungkin dia bisa mengetahui namaku. Bahkan dia biasa melihat Profesi dan juga jumlah misi yang pernah diambil Asakura! Aku harus berhati-hati dengannya.'
Walau Roy berpikir seperti itu, tapi ia tetap melangkahkan kakinya mengikuti Hisoka dan Asakura, seakan ada sesuatu yang membuatnya tertarik pada mereka.
~***~
Tanpa tahu apa yang terjadi di luar sana, Ryan sedang sibuk mempersiapkan lawan latihannya.
Rumah Pelatihan Tingkat Perunggu yang Ryan gunakan ini tidak ada bedanya dengan Rumah Pelatihan Tingkat Hitam, keduanya sama-sama ruang tertutup dengan tembok dan lantai serba putih.
Yang membuatnya berbeda adalah lawan yang disimulasikan memiliki kekuatan setara Tingkat Authority 4.
__ADS_1
Setelah selesai mengatur lawan latihannya, ruang putih tempat Ryan berdiri tiba-tiba berubah menjadi sebuah gang gelap.
Di ujung gang, berdiri seorang pria muda berseragam sekolah biru dengan pisau di tangannya. Pria muda itu perlahan tersenyum pada Ryan. aura bisa yang keruh mulai menyeruak dari tubuhnya.
Sama seperti sebelumnya, lawan yang Ryan pilih kali ini adalah Nanaya Shiki.
Melihat lawan ini, mulut Ryan mulai terangkat. “Aku akan menggunakanmu untuk menguji seberapa jauh peningkatan kekuatanku!”
Setelah Ryan mengatakan hal tersebut, aura membunuh dalam diri Nanaya Shiki semakin meningkat. Nanaya Shiki lalu perlahan mengangkat pisau di tangannya, dan menatap tajam Ryan.
Aura Membunuh ini dapat membuat orang biasa kesulitan untuk bernapas. Ini adalah kebiasaan yang dilakukan Nanaya Shiki sebelum membunuh buruannya.
Walau Ryan dapat memahami kematian setelah mendapatkan Mystic Eye of Death Perception, tapi esensi kematian yang dimiliki Nanaya Shiki berbeda. Nanaya Shiki dibesarkan untuk membunuh, sehingga aura membunuh yang dimiliki Nanaya Shiki lebih murni daripada milik Ryan.
Alhasil, aura membunuh Nanaya Shiki kini seperti ujung pisau yang tajam, menusuk-nusuk kulit Ryan.
Sambil menahan aura membunuh ini, Ryan juga perlahan mulai mengeluarkan Moon Blade
Namun, kali ini Ryan tidak mengaktifkan Mystic Eyes of Death Perception. Bahkan Ryan juga tidak menggunakan Prana-nya. Ia hanya berdiri diam sambil menggenggam erat Moon Blade di tangannya tanpa memasang kuda-kuda bertarung.
Melihat Ryan yang hanya berdiri diam dengan santainya, mata Nanaya Shiki berkedut, seakan ia merasa telah diremehkan oleh Ryan.
Tap
Bagaikan kelelawar yang menyatu dengan kegelapan, Nanaya Shiki bergerak dalam bayang-bayang malam dengan kecepatan tinggi. Saking cepatnya, ia terlihat seperti teleport.
Dalam sekejap, Nanaya Shiki muncul di depan Ryan. Pisau di tangannya pun langsung berubah menjadi cahaya putih menyilaukan.
Bagaikan sebuah kilatan petir, pisau di tangan Nanaya Shiki menyambar dengan keras ke arah leher Ryan. Saat melakukan semua ini, wajah Nanaya Shiki penuh dengan senyuman penuh penghinaan
"Flashing Sheath: Seven Night (Sensa: Shichiya)!"
Slash
Di hadapan serangan fatal ini, Ryan tetap bersikap tenang. Ia kemudian mendorong tangan kirinya dan berbisik, "Flashing Seath: One Wind (Sensa: Ippū)!”
Seperti angin yang menantang badai, tangan Ryan langsung mencengkram lengan kanan Nanaya Shiki yang sedang membawa pisau.
"Flashing Seath: Quick Wind (Sensa: Hayai kaze)!"
Seperti kilat yang menembus kegelapan, bilah belati di tangan Ryan bergerak sangat cepat dari bawah ke atas bagaikan hembusan angin.
Croot
__ADS_1