
Di saat Shana tidak sadarkan diri, Shana bermimpi tentang masa lalunya.
Saat itu, Shana yang belum memiliki nama masih tinggal di sebuah kastil megah. Kastil tersebut berada di atas pulau melayang tak terlihat. Pulau ini merupakan sebuah Treasure Tool (Hogu) benteng berjalan bernama Tendoukyuu.
Di sana, gadis muda itu tinggal dengan tiga orang lainnya. Salah satunya adalah pengasuh Shana, dan satunya lagi adalah mentor Shana. Selain itu, masih ada Flame of Heaven Alastor, yang saat itu masih belum menjalin kontrak dengan Shana.
Flame-Haired Burning-Eyed Hunter adalah nama bagi Flame Haze yang membuat kontrak dengan Flame of Heaven. Jadi, nama itu bukan milik satu orang saja.
Sebelum gadis muda itu datang ke Tendoukyuu, Alastor sudah memiliki seorang kontraktor.
Sayangnya, ratusan tahun yang lalu, dalam akhir peristiwa yang disebut The Great War, Flame-Haired Burning-Eyed Hunter generasi itu mengorbankan nyawanya untuk mengakhiri perang yang dapat menentukan arah dunia.
Sejak kejadian itu, untuk menyelesaikan misi di dunia manusia, Alastor mencari kontraktor baru.
Sebagian besar Flame Haze kehilangan keluarganya karena keberadaan Denizen, dan mereka bertekad untuk membalas dendam sebelum akhirnya menandatangani kontrak dengan Crimson Lord.
Dan itu termasuk dengan kontraktor Alastor saat The Great War terjadi.
Setelah kehilangan Kontraktornya, Alastor sadar, bahwa ini bukan satu-satunya cara merekrut Flame Haze.
Maka dari itu, Alastor mulai mencari Flame Haze yang tidak memiliki dendam terhadap Denizen, melainkan Flame Haze yang lahir hanya untuk menjalankan misi tersebut.
Tendoukyuu ada untuk tujuan ini. Pulau ini adalah tempat latihan untuk memilih kontraktor yang berkualitas.
Akhirnya, seorang gadis kecil muncul di tempat Tendoukyuu. Gadis muda itu adalah seorang anak yatim piatu dan juga gelandangan di kota Hong Kong. Dia hidup di jalanan, tidak memiliki rumah, dan juga makan makanan sisa dari tong sampah.
Bisa dibilang, gadis tanpa nama itu telah ditolak oleh dunia. Bahkan keberadaannya dianggap sampah oleh masyarakat.
Melihat gadis itu, pelayan Tendoukyuu mendatanginya dan membawa gadis muda itu kembali bersamanya.
Sejak itu, kehidupan gadis muda itu mulai berubah. Kini ia telah dididik untuk menjadi Flame Haze yang hebat, yang cocok untuk mewarisi nama Flame-Haired Burning-Eyed Hunter.
Oleh karena itu, gadis itu tidak memiliki nama dan hanya memiliki nama panggilan Shana di masa depan.
__ADS_1
Walau begitu, gadis muda itu tidak memiliki keluhan apapun. Tendoukyuu telah memberinya tujuan hidup yang lebih bermakna. Sebelumnya, ia sama sekali tidak memiliki tujuan hidup. Hari-harinya diisi dengan kekosongan dan stagnasi hidup di jalanan.
Tapi, kedatangannya di Tendoukyuu membuatnya memiliki semangat dan tujuan baru.
Setelah menyelesaikan semua pelatihannya, gadis muda itu berhasil menjalin kontrak dengan Alastor dan menjadi Flame Haze impiannya.
Ini adalah jalan yang dipilih oleh gadis itu sendiri. Seorang gadis muda dengan tulus berjuang dari lubuk hatinya.
"Berjuang untuk menjaga keseimbangan dunia."
Ini adalah misi dan mimpi gadis itu.
Dan ketika gadis muda itu akan melakukan perjalanan keliling dunia untuk membasmi Denizen jahat, sang pengasuh berkata, "Sekarang, kamu harus menangani semuanya sendiri."
Bagi gadis itu, sang pengasuh bukan hanya seorang pengasuh yang telah merawatnya saja, melainkan juga seorang ibu sekaligus kakak perempuan.
Wanita itu kemudian melanjutkan perkataannya, "Kamu sekarang adalah seorang Flame Haze, kamu tidak perlu mengkhawatirkan orang lain. Dan juga, kamu tidak membutuhkan bantuan orang lain."
Mindset ini tertanam di benak gadis muda itu. Mindset dimana ia harus berjuang sendirian tanpa bantuan orang lain.
Bahkan saat Ryan terkena serangan telak pun, ia tetap tidak melepaskan pelukannya dan terus melindungi Shana.
Hal ini membuat harga dirinya ternodai. Bagi Shana, Flame Haze tidak memerlukan bantuan orang lain. Tapi, apa yang terjadi sekarang adalah kebalikannya.
Shana yang memiliki harga diri tinggi, tentu tidak akan membiarkan hal ini.
Dengan sisa kekuatannya, Shana yang telah Ryan rebahkan di atas tanah mulai bangun dan menggenggam sudut pakaian Ryan.
"Ini adalah pertarunganku! Kamu tidak boleh ikut campur!"
Mata Shana mulai kembali mengeluarkan nyala api menandakan semangatnya yang kuat sama sekali belum padam
"Aku adalah Flame Haze. Sudah menjadi tugasku untuk melawan Denizen dan menjaga keseimbangan dunia!"
Shana mengabaikan semua rasa sakit di tubuhnya dan berusaha berdiri dengan sudah payah.
Shana lalu menatap langsung ke Sydonay dan berbisik dengan penuh penekanan. "Sangat tidak masuk akal ada Denizen yang tidak bisa dikalahkan. Aku pasti akan mengalahkannya!"
__ADS_1
Dengan pemikiran seperti itu, Shana menyuntikkan kekuatannya ke dalam Odachi Nietono no Shana dan mempercepat langkahnya.
Shana yang berjalan dengan langkah yang sempoyongan, membuat Alastor terdiam tak bisa berkata-kata. Hati Alastor begitu sakit melihat Shana yang terus berusaha bertarung dengan kondisi tubuh seperti itu.
Tapi Alastor tahu, bahwa menghentikan Shana yang seperti ini adalah hal yang sia-sia. Jika Shana sudah bertekad pada satu tujuan, dia tidak berhenti sampai tujuan itu tercapai.
Sydonay juga memandang Shana dengan tatapan mata penuh ironi.
Sampai akhirnya, Ryan yang sejak tadi diam, tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menarik tubuh Shana.
Tubuh Shana yang lemah tidak lagi bisa menjaga keseimbangannya. Dengan langkah yang kacau, Shana akhirnya jatuh ke pelukan Ryan.
Shana yang tertegun dengan semua ini, mengangkat kepalanya dengan keras dan menatap mata Ryan dengan penuh amarah dan juga rasa malu.
"A-a-apa yang kamu lakukan?! Cepat lepaskan aku!" teriak Shana dengan sedikit lemah.
Shana meronta-ronta mencoba lepas dari pelukan Ryan. Tapi kondisi tubuhnya yang lemah membuat usaha ini sia-sia.
Melihat Shana yang seperti itu, Ryan mengusap kepalanya dan berkata dengan lembut, "Shana, beristirahatlah dan serahkan semua ini padaku."
"Aku nggak bisa membiarkanmu terus bertarung dengan tubuh seperti ini."
Saat Shana akan menyanggah ucapannya, Ryan segera berkata dengan sedikit penekanan. "Lagipula, sejak awal ini adalah pertarunganku."
"Aku tahu kamu pasti akan protes dan berkata bahwa mengalahkan Denizen adalah misimu. Tapi, aku sama sekali tidak peduli."
"Reiji Maigo adalah benda milikku. Dan dia berusaha merebutnya dariku. Maka dari itu, secara logika, ini adalah pertarungan pribadiku."
Mendengar semua ini, tangan Shana bergetar. Ia juga menggigit bibirnya sendiri, seakan sedang menahan rasa frustasi yang sedang melandanya sekarang.
Tapi, di satu sisi, Shana merasa apa yang dikatakan Ryan ada benarnya. Sejak awal, Reiji Maigo adalah milik Ryan. Jika Ryan ingin menghadapi sendiri musuh yang berusaha merebutnya, itu adalah haknya.
"Aku sama sekali nggak ada keinginan untuk menyangkal misimu. Akan tetapi, aku ingin kamu nggak mengabaikan hakku di sini." Ryan lalu berkata, "Dunia ini bukan milikmu, jadi jangan berpikir bahwa misi ini adalah milikmu seorang."
Shana benar-benar tercengang begitu mendengarnya.
Ryan kemudian mendudukkan tubuh Shana ke tanah. Setelah itu, Ryan menatap tajam Sydonay. Perlahan, pupil berwarna biru sedingin es mulai muncul.
__ADS_1