Reincarnation Room

Reincarnation Room
Kambing Hitam


__ADS_3

“Kamu lama sekali!” ucap Aria yang telah duduk di sofa di ruang tamu sambil merapikan rambutnya sendiri.


"Aku sudah menunggumu selama setengah jam!"


Mendengar ini, Ryan setengah menutup matanya dan menatap Aria yang duduk di sana dengan ekspresi tidak puas. Ryan lalu menghela nafas panjang. "Aku memang setuju menjadi partnermu, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya masuk ke kamarku.”


Sebelumnya, Aria telah mengumpulkan semua informasi mengenai Ryan, termasuk hubungannya dengan Shirayuki, dan juga nomor kamar asramanya. 


Bahkan, jauh sebelum mereka naik ke kelas 2 SMA, Aria telah membayar seseorang dari divisi Amdo untuk menduplikat kunci kamar asrama Ryan.


Hanya saja, Aria baru menggunakan kunci duplikat itu hari ini.


“Jadi, kenapa kamu malam-malam begini ada di sini?” tanya Ryan yang sedikit jengkel. Walaupun Ryan berusaha mendapatkan hati Aria, tapi ia tidak suka sikap Aria yang seperti ini.


"Aku hanya ingin melihat-lihat isi kamarmu." jawab Aria. Ia lalu berjongkok di sofa, memiringkan kedua kaki kecilnya dan menggoyangkannya dengan santai, seakan ini adalah rumahnya sendiri.


"Lagipula, kamu adalah partnerku, jadi tidak masalah kan?"


'Nggak ada masalah gundulmu!' teriak Ryan dalam hati.


"Hum hum hum~"


Aria kemudian bersenandung seperti seorang gadis kecil yang akan dibelikan mainan.


Suasana Aria kali ini sedang sangat baik. Ia mulai menggoyang-goyangkan kakinya di sofa sambil terus bersenandung. Tak ayal, Ryan pun dapat melihat CD dan paha mulus Aria.


Melihat hal ini, Ryan sangat ingin menerkamnya. Akan tetapi, Aria masih belum menjawab pernyataan cintanya. 


Jadi, hubungan mereka sekarang hanyalah sebatas partner kerja saja. Oleh sebab itu, Ryan berusaha menahan dirinya agar tidak melakukan hal-hal yang tidak baik.


"Haah~" Setelah mengambil nafas panjang, Ryan melempar ranselnya ke sofa. Ia lalu berbalik dan membuka lemari es yang ada di sudut ruang tamu.


"Apakah kamu ingin minum sesuatu?"


"Boleh, apakah ada kopi?"


"Ada, tapi ini kopi kaleng, kamu mau?"

__ADS_1


"Aku tidak mau! Kalau begitu beri aku Wine. Minum minuman seperti itu adalah yang terbaik.” canda Aria. Tentu saja Aria tidak benar-benar serius. Bagaimanapun juga, usia Aria baru 16 tahun, jadi tidak mungkin ia minum minuman keras.


Ryan memutar matanya dan mengambil sebotol bir dari lemari es. Ia lalu melemparnya langsung ke Aria.


"Kamu punya bir?" Aria cukup terkejut setelah menangkap kaleng minuman dingin yang ternyata bir.  "Apakah di negara ini murid yang belum berusia dewasa boleh minum bir?"


“Tentu saja nggak. Murid di bawah umur 17 tahun masih belum boleh meminumnya!”


“Aku bisa membelinya karena Ranbyou menemaniku. Tentu saja dengan syarat aku mentraktirnya minum.” Memikirkan hal ini, Ryan hanya bisa tersenyum kecut.


Bagaimana tidak, ketika Ranbyou tidak memiliki uang, ia selalu mengancam Ryan untuk membelikannya minum. Jika tidak, maka perilaku Ryan yang sering minum bir di luar sekolah akan dilaporkan ke pihak sekolah.


Ryan sendiri merasa heran. Ia sudah genap berumur 26 tahun. Tetapi orang-orang di dunia ini melihat Ryan sebagai remaja berusia 16 tahun. Padahal jelas-jelas Ryan sudah dewasa. 


Namun Ryan tidak mau ambil pusing akan masalah itu, dan menganggap semua ini adalah kekuatan Reincarnation Room dalam mempengaruhi dunia. 


‘Sampai sejauh mana Reincarnation Room dapat mempengaruhi dunia? Dan apa tujuan sang Dewa memberikan misi pada Reincarnator?’


Pertanyaan ini selalu muncul di benak Ryan sejak ia menjalani misi pertamanya. Ia jadi semakin penasaran dengan identitas Dewa yang ada di puncak Menara Reinkarnasi.


Ryan lalu bertanya pada Aria. “Mumpung kamu ada di sini, bisakah kamu memberitahuku hasil penyelidikan insiden tadi pagi?"


Sebagai partner Aria, Ryan merasa perlu untuk mengetahui perkembangan kasus ini. Apalagi, Aria sepertinya sudah lama mengincar Butei Killer. Jadi Ryan yakin Aria pasti sudah mengecek hasil investigasi dari Kepolisian dan Biro Butei.


Mendengar pertanyaan Ryan, wajah Aria yang ceria berubah menjadi serius. “Setelah kita kembali ke Sekolah, orang-orang dari Departemen Kepolisian Metropolitan menggerebek sebuah kamar hotel yang digunakan oleh orang yang dicurigai sebagai pelaku pemasangan bom.”


“Akan tetapi, file dan catatan akomodasi hotel tersebut telah dirusak. Pelaku pemasangan bom sama sekali tidak meninggalkan petunjuk apa pun.”


“Penyelidikan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) juga tidak memberikan petunjuk yang berguna.”


“Menurut hasil investigasi di TKP, mobil yang dipasangi senapan mesin itu adalah mobil curian. Bahkan mobil nomor rangka kendaraan telah dihapus oleh pelaku. Jadi, pihak Kepolisian kesulitan mengecek asal mobil tersebut.”


“Sudah aku duga … sang pelaku tidak mungkin meninggalkan bukti apa pun.” ucap Ryan sambil membuka sekaleng bir di tangannya.


“Hmm?” Aria penasaran dengan ucapan ryan. "Kenapa kamu begitu yakin?"


"Karena jika dia adalah seorang peniru, tidak mungkin dia seprofesional ini."

__ADS_1


"Jelas-jelas pelaku pemasangan bom ini sangat ahli dalam perakitan bom, hacking, dan teknik anti-tracking." Ryan meneguk bir sebentar, dan melanjutkan kembali ucapannya.


“Jadi, menurutku pelaku pemasangan bom kali ini adalah Butei Killer yang asli, bukan seorang peniru.”


“Itu artinya, Butei killer yang ditangkap sebelumnya adalah korban salah tangkap!”


Saat kalimat ini keluar dari mulut Ryan, wajah menawan Aria langsung mengeras. Tak lama kemudian, Aria menundukkan kepalanya. Ia mengepalkan tangan kecilnya dengan erat, hingga bahunya mulai bergetar sedikit.


Secara perlahan, air mata Aria mulai berjatuhan membasahi pipinya.


“Eh?”


Melihat Aria tiba-tiba menundukkan kepalanya dan mulai menangis, Ryan sangat terkejut. ‘Apa yang terjadi? Kenapa Aria tiba-tiba menangis?’


Dengan cepat, Ryan melangkah maju dan duduk di samping Aria. Dia mulai mengusap-usap punggungnya dan bertanya, "Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?"


"Aku baik-baik saja kok." Aria mengerutkan bibirnya dan mengelap air matanya. Ia berkata dengan sedikit menangis. "Aku hanya senang, hiks ...


"Aku senang mendengar untuk pertama kalinya ada orang yang menyatakan bahwa ibuku bukan pelakunya."


"Ibumu?" Ryan langsung terpana di tempat.


Dalam keadaan seperti itu, Aria menggigit bibirnya dan menatap Ryan. "Orang yang ditangkap sebagai Butei Killer adalah ibuku."



‘Jadi begitu … pantas saja Aria terus mengejar Butei Killer.’ pikir Ryan.


Awalnya, Ryan merasa aneh, mengapa seorang Butei peringkat S mengejar seorang peniru Butei Killer. 


Sekarang, semua itu sudah terjawab. Sejak awal, Aria mengejar Butei Killer adalah untuk membersihkan nama Ibunya.


“Selain itu …” Aria berbisik. "Bukan hanya Butei Killer yang aku cari. Tetapi juga sebuah organisasi kriminal yang sangat kuat.” 


“Butei Killer adalah salah satu anggota organisasi kriminal tersebut. Mereka lah yang menjebak dan memasang bukti palsu untuk mengkambing hitamkan Ibuku sebagai Butei Killer.”


"Organisasi kriminal yang sangat kuat?" Ryan mengerutkan kening dan bertanya, "Organisasi apa itu? Apa nama organisasi tersebut?"

__ADS_1


__ADS_2