Reincarnation Room

Reincarnation Room
Pembantaian Berlanjut (II)


__ADS_3

Croot


Entah sudah yang keberapa kali suara itu terdengar. Tapi, suara bagai muncratan darah itu telah menjadi ritme musik yang sangat indah. Satu demi satu muncratan menciptakan variasi nada cantik yang terus menerus bergema di udara.


Namun, setiap kali suara merdu ini muncul, satu nyawa pasti melayang bersamanya.


Tidak peduli semengerikan apa wujud lawannya, semua memiliki derajat yang sama di bawah kekuatan absolut.


Wuuush


Suara api yang menyala perlahan berbunyi dari berbagai tempat. Hanya saja, yang terbakar oleh nyala api itu bukanlah ruangan ini, melainkan tubuh Crimson Denizen.


Saat ini, seorang Crimson Denizen telah terbunuh oleh tangan dingin Ryan. Lehernya pun terputus dengan sangat halus dan rapi.


Belati yang memotong leher Crimson Denizen itu kembali berubah menjadi kilatan cahaya dingin, dan meluncur menuju Crimson Denizen lain.


Croot


Bilah tajam menembus tubuh target, membuat percikan api bagaikan darah muncrat.


Crimson Denizen tersebut bahkan tidak punya waktu untuk bereaksi terhadap serangan tersebut. Dalam sekejap mata, ia diserang oleh kilatan cahaya pedang yang mengenai lehernya dengan presisi. Crimson Denizen tersebut terbelalak tidak percaya, dan perlahan kepalanya jatuh menggelinding di tanah.


Ryan, sang Iblis Pembantai, dengan belati tajam di tangannya, berbalik, dan melihat ke arah kerumunan Crimson Denizen dengan mata biru es yang berkilau. Aura penuh hawa membunuh uang mengerikan menyebar luas di sekitarnya.


"Jangan takut, jumlah kita lebih banyak! Ayo kita balas kematian teman-teman kita!"


"Oooooooooooooooh!"


Beberapa Crimson Denizen meraung memberikan semangat pada semua Crimson Denizen dan juga Rinne di ruangan ini. Mereka pun berencana memberikan pukulan telak kepada Ryan.


Namun, di hadapan Ryan, kecepatan dan reaksi lawan sangat terlalu rendah. Dan pada dasarnya, mereka tidak akan mungkin mampu mengimbangi kecepatan Ryan.


Melihat semua Crimson Denizen dengan semangat bergegas ke arahnya, Ryan sang Iblis Pembantai, memegang erat belatinya, dan bergerak ke depan menyerupai peluru.


Slash


Kilatan cahaya dingin bergerak bagai bulan sabit.

__ADS_1


Croot


Percikan api menyala dengan sengit.


Pada saat ini, sosok Ryan benar-benar menjelma menjadi seperti hantu. Ia bergerak ke sana dan kemari, dari satu Crimson Denizen ke Crimson Denizen atau Rinne lainnya dengan kecepatan luar biasanya yang tidak dapat ditangkap oleh mata t3l4njang.


Moon Blade di tangannya bergerak membawa kilatan cahaya pedang dingin yang indah, bagaikan tarian pedang yang terus menerus memanen nyawa di sekitarnya.


Tanpa memperdulikan serangan mematikan Ryan ini, para Crimson Denizen, bersama dengan pasukan Rinne, mengepung Ryan dari semua sisi dan menelan sosok Ryan.


Bagaikan angin topan dengan bilah angin yang tajam, Ryan terus bergerak di dalam kerumunan. Belati di tangannya menjelma menjadi senjata ilahi tak terkalahkan.


Tidak peduli lawan macam apa yang datang ke sisinya, Ryan akan langsung menebasnya seperti lembaran kertas kosong.


Dalam situasi ini, Rinne yang datang langsung terpotong-potong menjadi beberapa bagian dan langsung terbakar.


Sementara Crimson Denizen yang telah lama menjadi Wanderers dan memiliki pengalaman bertempur tingkat tinggi di Bal Masqué, tampaknya mengalami hal yang lebih tragis. 


Di bawah tebasan belati tajam bagaikan sabit Dewa Kematian, satu demi satu Crimson Denizen berubah menjadi daging cincang.


"Eh?"


Croot Croot Croot Croot


Suara gemercik api segar tersebar seiring ayunan Moon Blade.


Di bawah pembantaian sepihak tanpa rasa ampun ini, pasukan gabungan Rinne dan Crimson Denizen terus berjatuhan di tangan Iblis Pembantai. 


Hal ini menyebarkan rasa takut yang amat dalam pada anggota pasukan lainnya, seakan Ryan sengaja memberitahu mereka bahwa dia bukanlah manusia biasa, melainkan seorang Iblis Pembantai.


Apalagi, Ryan melakukan semua ini dengan ekspresi gembira. Senyum lebar disertai mata berkilau, membuat Ryan terlihat seperti sedang berada di pesta dansa. 


Ryan terus berdansa dengan indah, diiringi melodi merdu, dan disertai percikan api yang menyerupai kembang api. Sungguh pemandangan yang mencengangkan. 


Tentu saja percikan kembang api itu adalah Power of Existence dari Rinne dan Crimson Lord yang Ryan bunuh.


Gerakan yang Ryan gunakan dalam pembantaian ini adalah aplikasi dari semua gerakan yang ia pelajari dari Fan Xinglou.

__ADS_1


Dulu, Fan Xinglou pernah berkata kepada Ryan., "Yang disebut Pembunuh, secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis."


"Pertama adalah Pembunuh yang ahli dalam bersembunyi."


"Sedangkan yang kedua adalah Pembunuh yang ahli dalam membunuh."


"Pembunuh yang ahli dalam bersembunyi mengacu pada seorang Pembunuh yang sering membunuh lawannya secara diam-diam."


"Pembunuh jenis ini seperti ular berbisa. Dia akan menyembunyikan auranya dan bersembunyi dengan sabar untuk melancarkan serangan yang mengincar titik lemah atau titik vital target, sehingga dia dapat langsung membunuh lawannya secara instan. Dia tidak ragu menggunakan cara kotor seperti racun dan senjata tersembunyi."


"Sementara Pembunuh yang ahli dalam membunuh, adalah seorang Pembunuh yang mengkhususkan diri dalam memberi serangan fatal. Dia akan melatih kekuatannya dan efektivitas agar dapat membunuh dalam satu kali serangan."


"Jadi, bergantung pada teknik bertarungnya, cara bertarung kedua jenis Pembunuh ini sangat berbeda."


"Dan Wanita Tua ini dapat melihat, bahwa bakat bawaanmu adalah membunuh."


"Untuk itu, materi yang harus kamu kuasai lebih dalam adalah Teknik Membunuh. Sementara Teknik Bersembunyi, kamu hanya perlu mempelajari dasarnya saja."


Harus dikatakan bahwa penjelasan Fan Xinglou ini benar-benar menunjukkan esensi dalam Teknik Pembunuhan.


Dalam hal inu, Teknik Membunuh Nanaya yang sejak awal Ryan pelajari merupakan Teknik Bela Diri khusus Pembunuh yang berkonsentrasi pada esensi Membunuh. Hal ini terbukti dari Teknik yang dipelajari dalam Teknik Membunuh Nanaya, semuanya berfokus pada serangan kejutan dan One Hit Kill. Tidak ada Teknik untuk menyembunyikan diri.


Karena bakat bawaan Ryan sebagai Pembunuh adalah Membunuh, maka saat Ryan mempelajari Teknik Membunuh Nanaya, Ryan dengan cepat menguasai Teknik Flashing Seath dan Flashing Dash. 


Ditambah dengan Teknik yang diberikan Fan Xinglou, kini Teknik Membunuh Ryan telah meningkat pesat.


Oleh karena itu, bersembunyi hanyalah bantuan untuk Ryan. Teknik bertarung sejati Ryan membunuh secara langsung, bukan serangan diam-diam.


Hal inilah, yang membuat Ryan pantas dipanggil sebagai Iblis Pembantai. Karena semua serangan Ryan sangat mematikan, tanpa ada trik atau kecurangan di dalamnya. 


Dan semua adegan pembantaian ini, terlihat jelas oleh Ribesal. Ia melihat bagaimana anak buahnya, dan juga Rinne buatan, meregang nyawa dengan mudahnya. 


Semua hal ini membuat hati dan pikiran Ribesal goyah. Karena perbuatan Ryan ini diluar nalar.


"Bagaimana mungkin?"     


Kumbang humanoid bertubuh tinggi itu mengepalkan tangan.

__ADS_1


"Bagaimana mungkin?"


Tubuh Crimson Lord itu bergetar kuat. "Bagaimana mungkin manusia seperti itu bisa membunuh kita, Crimson Denizen, yang jelas lebih unggul darinya?!"


__ADS_2