Reincarnation Room

Reincarnation Room
Ikatan Batin


__ADS_3

Kubu Trinity sendiri, mereka memang menderita luka cukup parah dari pertempuran sebelumnya. Akan tetapi, mereka masih tetap bisa bertarung.


Ditambah lagi, masing-masing dari Trinity memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari Ryan tanpa menggunakan Stigma. Dan sekarang, bahkan jika mereka tidak terluka, Ryan tidak akan mungkin dapat mengalahkan mereka, apalagi dengan keadaan seperti ini.


Tidak hanya itu, Ryan juga dapat merasakan dua aura yang sangat kuat dari puncak kastil. Ryan yakin, salah satu dari dua aura itu adalah Sabrac.


Di kejauhan, para Crimson Denizen dan Rinne dari Bal Masqué secara bertahap mengepung Ryan.


Dalam situasi seperti itu, Ryan jelas tidak lagi bisa bertarung. Bahkan untuk melarikan diri sudah pasti mustahil.


Saat Ryan sudah hampir menyerah pada takdir, tiba-tiba saja Ryan terpikir sesuatu. 'Tunggu dulu! Kalau dipikir-pikir lagi, sesusah apapun misi yang diberikan Reincarnation Room, pasti ada cara untuk menyelesaikannya!'


'Walau terkadang peluangnya kecil, tapi selama peluangnya nggak mutlak 0%, maka pasti ada cara!'


'Tapi, dilihat dari kondisiku yang seperti ini, kunci penyelesaian Misi Sampingan ini nggak mungkin ada padaku.'


Lagipula, Ryan benar-benar kehabisan tenaga. Jadi, jika Ryan berusaha melarikan menggunakan kondisi tubuhnya yang saat ini, jelas tidak mungkin.


'Kalau begitu, jawabannya hanya ada satu.'


Ryan lalu berbisik, "Shana …"


Panggilan ini seperti melewati ruang dan waktu, menjangkau telinga seorang gadis muda di sudut lain dunia.


Detik berikutnya, semburan Api Teratai Merah tiba-tiba jatuh  langit, seperti meteorit yang terbakar, dengan panas yang mengerikan, menerangi seluruh langit malam Seireiden dan meluncur lurus ke bawah.


Swoosh


Hecate, Sydonay, dan Bel Peol terkejut melihat hal ini. Pada saat yang sama,  tanpa ragu-ragu lagi ketiganya mundur beberapa meter.


Crimson Denizen dan Rinne yang mengerumuni Ryan pun tak kalah kagetnya.


"Api teratai merah?!"


"Mungkinkah itu …"


Di bawah suara panik, kobaran api teratai merah jatuh di belakang Ryan.

__ADS_1


Boom


Jatuhnya api teratai merah membuat gelombang ledakan yang cukup besar dan mengamuk ke segala arah. Dan tentu saja, Ryan juga berada dalam gelombang ledakan itu.


Akan tetapi, Ryan sama sekali tidak menderita luka apapun. Dalam lautan api teratai merah itu, Ryan telah dipeluk oleh tubuh mungil Shana. Ia pun dapat merasakan kehangatan dalam pelukan ini.


Melihat hal ini, Ryan tersenyum dan berkata, "Kamu sangat terlambat."


Itu adalah kalimat pertama yang dikatakan Shana saat Ryan muncul di akhir pertarungan antara Shana dan Margery. Dan hari ini, Ryan merasa ia telah kena batunya. Maka dari itu, ia mengucapkan kalimat seperti itu.


"Karena aku tiba tepat pada waktunya, jadi itu belum termasuk terlambat," jawab gadis muda itu dengan rambut api yang melambai-lambai tertiup angin.


Gadis muda dengan sepasang Wings of Crimson yang mengepak di belakangnya, memeluk Ryan dan membawanya terbang ke langit bagaikan bola api yang melayang di udara. Kini, sosok Shana telah tercetak di mata semua Crimson Denizen dan Rinne.


"Rambut api?"


"Mata terbakar?"


"Bagaimana mungkin?"


Para Crimson Denizen mulai gaduh dna takut dengan kedatangan Shana. Sementara Hecate, Sydonay, dan Bel Peol mereka hanya sedikit terkejut.


Mendengar ini, Hecate tidak memberikan respon apapun. Hanya Bel Peol, mengangkat kepalanya, dan melihat ke arah langit malam Seireiden. Lebih tepatnya, harus dikatakan bahwa ia melihat ke arah celah yang dibuat Ryan dengan tebasan pisaunya.


Melihat celah itu, Bel Peol mengerti. "Sayang sekali dia harus datang di saat seperti ini."


Kata-kata Bel Peol tidak sampai ke telinga siapa pun. Apalagi, saat ini perhatian semua orang sedang tertuju pada sosok dalam api teratai merah.


Shana yang melayang di udara, memeluk erat Ryan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menggenggam Nietono no Shana. Ia lalu melihat ke bawah, di mana Trinity beserta ratusan Crimson Denizen telah mengepungnya, dan berkata, "Sepertinya aku benar-benar tiba di tempat yang sangat berbahaya."


Pada saat yang sama, suara Alastor terdengar dari liontin di depan Shana.


"Tempat seharusnya merupakan markas utama Bal Masqué, sebuah Treasure Tool (Hogu) benteng berjalan sama seperti Tendoukyuu—Seireiden."


"Seireiden?" Shana sepertinya memahami sesuatu dan berkata, "Jadi begitu, inilah alasan mengapa kita tidak bisa melacak koordinat Ryan sebelumnya."


"Itu benar. Baik Seireiden maupun Tendoukyuu, keduanya memiliki Crypta, yang memungkinkan dunia luar tidak bisa mendeteksi keberadaannya." Alastor berkata, "Kita berhasil menemukannya karen Crypta yang menutupi Seireiden telah rusak."

__ADS_1


Shana mengabaikan Ryan dan meminta nasihat Alastor. "Lalu, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"


"Yang pasti, kita tidak bisa bertarung." Alastor menjawab tanpa ragu, "Dengan kekuatanmu sendiri, tidak mungkin kamu bisa menghadapi seluruh Crimson Denizen dari Bal Masqué, dan juga Trinity. Itu sama saja bunuh diri."


Paham dengan situasinya, Shana menjawab dengan nada tanpa emosi. "Baik, kita mundur."


Faktanya, Shana dapat kemari karena ikatan batin di antara keduanya, dan juga jejak yang sengaja ditinggalkan oleh Lamies.


Ketika Mantra Tak Terbatas Lamies aktif dan mentransfer Ryan, Shana dapat menangkap jejak Mantra Tak Terbatas tersebut dengan mudah. Lamies memang sengaja membuatnya seperti itu, agar Shana dapat menemukan Ryan.


Karena Shana bukan Flame Haze yang ahli dalam Mantra Tak Terbatas, ia kemudian pergi menemui Margery Daw untuk menganalisa komposisi jejak pecahan Mantra Tak Terbatas itu.


Bahkan Shana dan Margery sempat bertengkar karena masalah itu, sebelum akhirnya mereka berhasil mencapai kesepakatan.


Setelah mendapat bantuan dari Margery, Shana berhasil mengurai komposisi Mantra Tak Terbatas tersebut, dan dengan bantuan Margery, ia memunculkan kembali Mantra Tak Terbatas tersebut dan siap mentransfernya seperti Ryan.


Sayangnya, hal itu sangat sulit dilakukan.


Sebab, meski Mantra Tak Terbatas yang digunakan untuk transfer sudah selesai dibuat ulang, ia juga harus mengetahui lokasi tujuan transfer.


Jejak pecahan yang ditinggalkan Lamies ini bukanlah sebuah Mantra yang utuh. Jadi walau Margery berhasil memproduksi ulang Mantra Tersebut, ia tidak memiliki titik koordinat tujuannya.


Tentu saja, mencari koordinat di dunia yang luas ini tidaklah mudah. Apalagi Seireiden memiliki Crypta, yang membuatnya tidak bisa terdeteksi dengan cara apapun.


Namun, saat Ryan memanggil namanya, Shana yang masih berada di kota Misaki langsung dapat merasakannya. Ia kemudian meminta Margery untuk memeriksa koordinat tersebut.


Karena Crypta telah rusak, Margery dengan petunjuk dari Shana, langsung berhasil menemukan koordinat Ryan. Dengan begitu, Margery dapat mengirim Shana ke area di sekitar Seireiden.


Kemunculan Shana adalah satu-satunya kesempatan bagi Ryan untuk melarikan diri.


Wuuush


Shana dengan cepat mengepakkan sayap apinya dan meluncur bagai meteor menuju langit biru yang terlihat dari celah Crypta.


"Tidak akan kubiarkan kalian melarikan diri!"


Kali ini, Hecate justru bereaksi terlebih dahulu.

__ADS_1


"Aster!"


__ADS_2