
Shiiiiii
Kilatan cahaya menyilaukan telah menyinari seluruh ruangan selama beberapa saat.
Wuuush
Api merah tua masih bergulir dan menyala seperti api yang berkobar, berubah menjadi semburan api, menahan tubuh bagian atas Sabrac, dan melayang di udara.
"A-apa yang terjadi?"
"Bagaimana dengan manusia itu?"
"Mungkinkah Destructive Blade (Kaijin) tidak berhasil mengalahkan manusia itu?"
Di atas, para Wanderers Bal Masqué satu persatu mulai memasuki reruntuhan yang dipenuhi oleh api merah tua di setiap sudutnya. Mereka semua mulai saling memandang dengan cemas.
Hanya Sabrac seseorang, yang terus melihat ke bawah di mana posisi Ryan berdiri sebelum menghilang.
Seperti yang dikatakan Sabrac, Ryan telah melarikan diri. Sabrac pun terdiam terdiam melihat hasil seperti ini.
Detik berikutnya, sebuah suara datang dari atas.
"Sabrac-sama."
Fecor mengepakkan sepasang sayap kelelawar di belakangnya dan turun perlahan.
Mendengar suara Manajer Seireiden, Sabrac berkata, "Target kabur."
Perkataan Sabrac benar-benar singkat tanpa ada tambahan apapun, dan murni hanya fakta.
Namun, tak lama kemudian, Sabrac mulai berbicara sendiri.
"Meskipun sebelumnya aku belum sepenuhnya memikirkan kemungkinan ini, tapi jika dipikirkan baik-baik, tidak mungkin manusia biasa bisa kabur dari rantai Bel Peol. Aku benar-benar melupakan fakta itu. Akibatnya, aku membiarkan target melarikan diri. Sebagai pembunuh bayaran, ini agak memalukan."
"Aku tidak menyangka bahwa bahkan Destructive Blade (Kaijin) pun tidak memiliki cara untuk menjatuhkan manusia itu." Fecor menoleh untuk melihat Sabrac dan melihat ke arah separuh tubuh lainnya. Ia tidak bisa tidak berkata, "Sabrac-sama tidak apa-apa?"
Mendengar hal tersebut, Sabrac pun tak ragu untuk berkata, "Level seperti ini tidak masalah buatku."
Saat kata-kata itu jatuh, api merah tua di bawah Sabrac segera bangkit dan menelan seluruh tubuhnya.
Dalam kobaran api, satu-satunya tubuh Sabrac yang tersisa mukai hancur, dan tubuh baru mulai terbentuk. Bisa dibilang, yang ditebas oleh Ryan bukanlah tubuh asli Sabrac.
Faktanya, Sabrac mampu menggunakan serangan kejutan menakutkan yang kuat sejak awal, dan memiliki kekuatan regenerasi yang tidak normal, semua karena dia memiliki tubuh asli yang sangat besar.
Wujud asli Sabrac adalah makhluk mirip slime yang terbuat dari api merah gelap. Ukurannya sangat besar, bahkan diameternya mencapai sepuluh kilometer.
Ukuran tubuh sebesar itu, membuat mobilitas Sabrac sangat rendah. Untungnya, dengan tubuh mirip slime itu, dia dapat berjalan menembus zat apapun.
Oleh karena itu, tubuh asli Sabrac biasanya bersembunyi di bawah tanah dan menciptakan avatar yang mirip manusia untuk berkomunikasi ataupun berkelahi dengan orang lain.
__ADS_1
Hal ini membuat aura Sabrac akan benar-benar tersembunyi, karena Sabrac yang asli tidak lebih dari sebuah avatar.
Oleh karena itu, ketika Ryan memotong setengah tubuh Sabrac, itu bukanlah masalah yang besar.
“Jika aku tidak dapat memulihkan tubuhku, maka buat saja tubuh yang baru.”
Di bawah suara rendah seperti itu, gelombang api merah tua mulai memudar. Dari dalam gelombang api tersebut, Sabrac muncul kembali utuh sembari menginjak gumpalan api.
“Sejauh ini, aku tidak pernah kehilangan target buruanku, dan aku tidak akan mengulangi hal yang sama lagi di masa depan,” ucap Sabrac pada dirinya sendiri.
"Manusia itu pasti masih di Seireiden. Aku akan terus mengejarnya. Aku tidak percaya dia benar-benar bisa melarikan diri dari sini."
Sabrac mengendarai gelombang api dan bergerak mengejar Ryan.
Melihat hal tersebut, Fecor segera memberi perintah pada pasukan yang dipimpinnya.
“Segera buat dua tim! Tim pertama akan berpatroli mencari keberadaan manusia itu, sementara tim kedua akan berjaga di luar Seireiden untuk mencegahnya kabur!”
Di bawah perintah Fecor, pasukan besar itu dengan sigap membentuk dua tim dan segera pergi untuk melaksanakan tugasnya masing-masing, sesuai dengan apa yang diinstruksikan Fecor.
Setelah semua pasukan itu pergi, kini tinggal Fecor seorang yang berada di reruntuhan tersebut. Melihat reruntuhan dipenuhi api merah tua, Fecor berbisik, “Tampaknya kita benar-benar membutuhkan Trinity untuk mengalahkan manusia itu.”
~***~
Di sisi lain, di satu lorong, para Wanderers satu per satu membuat sejumlah besar Rinne untuk membentuk tim besar dan mulai menyebar ke seluruh Seireiden.
“Cepat cari manusia itu!”
"Kita sama sekali tidak boleh membiarkan manusia itu berkeliaran seenaknya di Seireiden!"
"Cari!"
Di bawah kebisingan seperti itu, para Crimson Denizen dan juga Rinne mulai berlari ke segala arah dengan tim-tim kecil, membiarkan siara derap langkah kaki bergema di seluruh lorong
Di sudut salah satu lorong, Ryan bersandar ke dinding dan bersembunyi di balik pilar.
"Ugh …"
Rasa sakit di dadanya menyebabkan Ryan mengepalkan tangannya dengan erat. Sambil terus mengepalkan tangan yang berlumuran darah itu, Ryan memandang keluar dengan mata birunya.
Di sana, sekelompok pasukan bergerak dengan cepat ke arahnya.
Menyaksikan datangnya tim yang dipimpin oleh seorang Wanderers itu, Ryan menarik napas dalam-dalam dan berbisik, "Mari kita lihat pihak mana yang akan jatuh terlebih dahulu ..."
Saat kata-kata itu jatuh, sosok Ryan langsung berakselerasi pada tingkat yang mencengangkan.
Swooosh
Suara samar membelah langit tiba-tiba terdengar di dalam lorong. Akan tetapi, suara tersebut tertutup oleh derap langkah kaki yang kacau dan suara yang berisik, sehingga tidak ada yang menyadarinya.
__ADS_1
"Ayo kita cari ke sebelah sa …"
Belum sempat Wanderers yang memimpin tim itu menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba penglihatannya tertutupi oleh bayangan samar.
Slash
Detik berikutnya, cahaya belati dingin naik dan melewati leher ketua tim Wanderers tersebut.
Croot
Bilah tajam itu menembus kulit, menyobek dagingnya, dan memotong tenggorokan Wanderers tersebut. Percikan apa seperti darah, keluar dari tenggorokannya.
"Eh?"
Mata Wanderers tersebut melebar. Tak lama kemudian, kepala Wanderers tersebut perlahan jatuh ke tanah dengan tatapan tidak percaya.
"Tuan!"
"Tuan telah mati!"
Semua Rinne yang dipimpin oleh Wanderers tersebut mulai panik. Memanfaatkan hal tersebut, bayangan gelap seperti hantu bergerak cepat melewati Rinne satu persatu.
Croot Croot Croot
Cahaya belati dingin muncul dan menebas semua Rinne yang dilewatinya, meninggalkan percikan api di tanah.
"Di sini!"
"Manusia itu ada di sini!"
"Tolong!"
Sekelompok Rinne yang telah kehilangan tuannya mau tidak mau berteriak. Mereka begitu panik dan takut dengan kemunculan Ryan.
Namun, Ryan tidak memperdulikan semua teriakan keputusasaan itu. Ia terus membunuh semua Rinne yang ada dalam tim tersebut hingga tidak tersisa.
"Eh?" Ryan yang sedang berdiri di tengah-tengah potongan-potongan tubuh terbakar, tiba-tiba merasakan sesuatu dari arah belakang.
Tanpa ragu, Ryan langsung berlari ke depan seraya menekan luka di dadanya.
Tak lama setelah Ryan pergi, semburan api yang mengamuk datang bersama Sabrac. Sayangnya, Sabrac hanya bisa potongan tubuh terbakar yang berserakan di tanah.
"Apa sudah terlambat?"
Setelah itu, Sabrac kembali menunggangi kobaran api merah tua dan bergegas ke arah lain.
Sementara Ryan, ia sudah tiba di lorong lain dan bertemu dengan tim lain.
Melihat tim yang datang dengan cepat ke sisi ini, Ryan kembali membuka Mystic Eye of Death Perception dan menyambut mereka dengan kecepatan yang mencengangkan.
__ADS_1
Panggung pembantaian kembali terbuka. Kekacauan dalam Seireiden tidak lagi dapat terhindarkan.