
Ryan telah menjalani transisi Profesi menjadi Genestella. Oleh karena itu, Ryan sudah tidak dapat lagi melakukan transisi Profesi lainnya seperti Flame Haze.
Profesi dalam Reincarnation Room adalah mutlak. Saat Reincarnator telah memilih Profesi, maka energi yang bisa digunakan akan terbatas pada Profesi tersebut.
Jadi, walau di dunia ini manusia yang bukan Flame Haze memiliki cara tertentu untuk menggunakan Power of Existence, tapi Ryan tidak dapat melakukannya.
Selain itu, jika seandainya Ryan belum memiliki Profesi, belum tentu Ryan dapat melakukan transisi Profesi menjadi Flame Haze.
Karena syarat utama untuk menjalani transisi Profesi Flame Haze adalah memiliki Crimson Lord yang bersedia melakukan kontrak dan membuat tubuh Ryan menjadi wadah dari Crimson Lord.
Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka Ryan tidak akan bisa menjadi Flame Haze.
Bahkan seandainya Ryan berhasil menjadi Flame Haze, dengan kemampuan Ryan yang berspesialisasi dalam Teknik Membunuh, maka Ryan pasti memerlukan waktu yang sangat lama untuk mempelajari Mantra Tak Terbatas.
Seperti halnya Seisenjutsu di dunia The Asterisk War, Ryan tidak dapat mempelajarinya karena bakat utama Ryan adalah membunuh. Bisa saja Ryan memaksa Fan Xinglou mengajarinya, tapi akan butuh waktu yang sangat lama untuk menguasainya.
"Sayang sekali aku nggak bisa mempelajarinya. Sepertinya, sejak aku menerima Mystic Eye ini, aku sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang Pembunuh." gumam Ryan sambil sedikit mengkhayal.
Dalam keadaan seperti itu, Ryan berjalan pulang ke Apartemennya.
Reincarnation Room telah memberikan Ryan identitas sebagai warga kota Misaki biasa.
Dan Apartemen ini bisa dianggap sebagai bonus yang diberikan Reincarnation Room. Walau begitu, Ryan tetap harus membayar biaya sewanya sendiri.
Dari belakang Ryan, suara berisik terus terdengar.
"Kamu harus mencari cara untuk mendapatkan uang. Jika begini terus, kamu tidak akan memiliki uang untuk makan."
"Tapi aku tidak punya waktu untuk bekerja. Aku harus memburu Friagne yang bersembunyi di kota ini. Jadi untuk sementara, kita akan menetap di kota ini."
"Itu memang misi Flame Haze, tapi sebagai manusia, kamu juga harus bisa bekerja dan mencari uang. Itu bukanlah sesuatu yang harus kamu pertimbangkan."
Alastor dan Shana terus berbincang tanpa menyembunyikan keberadaannya. Mendengar pembicaraan ini, Ryan ikut berkata tanpa melihat ke belakang.
"Friagne nggak akan mau mengambil resiko. Jadi dia pasti akan menciptakan lebih banyak Torch di kota ini."
"Torch? Mengapa Friagne membuat lebih banyak Torch?"
Tanpa memperdulikan pertanyaan Shana, Ryan melanjutkan perkataannya. "Selama aku menyingkirkan semua Torch yang dia ciptakan, dia pasti akan muncul dengan sendirinya di hadapanku. Dan saat itu terjadi, aku akan membunuhnya dan merebut semua Treasure Tool (Hogu) yang Friagne miliki."
__ADS_1
"Apa aku tidak salah dengar? Kamu mengincar Treasure Tool (Hogu) milik Hunter? Jangan bercanda, kamu cuma manusia!"
Mendengar ocehan ini, langkah Ryan langsung terhenti.
Di belakangnya, Shana dan Alastor yang sejak tadi mengikuti Ryan juga berhenti.
Ryan lalu menyipitkan matanya sebagian, dan berbalik ke belakang. Di sana ia melihat wajah menawan Shana yang tampak linglung.
"Aku penasaran, kenapa sejak tadi kalian mengikutiku? Aku mengira tujuan kalian searah dengan tujuanku. Tapi nyatanya, kalian mengikutiku bahkan sampai ake depan pintu kamarku!"
Mendapat pertanyaan itu, Shana menjawab dengan ekspresi seakan-akan ini adalah hal yang wajar. "Tujuan Friagne adalah kamu. Hanya dengan bersamamu, aku memiliki kesempatan untuk membunuhnya. Maka dari itu, daripada berkeliling tanpa tujuan untuk mencarinya, lebih baik aku menunggunya di sisimu."
Alastor kemudian ikut menambahkan argumen Shana. "Selain itu, Reiji Maigo yang kamu miliki merupakan bola panas."
"Meskipun Reiji Maigo tidak berguna bagi manusia, namun itu adalah Treasure Tool (Hogu) paling berharga bagi Crimson Denizen."
"Jika sampai benda itu jatuh ke tangan Denizen jahat, maka dengan sumber energi tak terbatas itu, dia bisa bertindak semena-mena dan menyebabkan banyak distorsi di dunia ini." jelas Alastor.
"Aku rasa kamu nggak perlu mengkhawatirkannya." Ryan berkata dengan blak-blakan, "Siapapun Crimson Denizen itu, jika dia datang untuk merebut Reiji Maigo dariku, maka aku akan membunuhnya. Jadi aku nggak butuh perlindungan kalian."
"Kamu cuma manusia." Gadis muda itu seger berkata, "Membunuh Denizen adalah misi Flame Haze. Walau kamu memiliki Trik untuk bertarung dengan mereka, tapi kamu tidak akan bisa membunuhnya."
"Tidak paham!" Shana lalu berkata dengan nada bicara tidak sabar. "Cepat berikan Reiji Maigo padaku! Aku tidak mengerti kenapa manusia sepertimu bisa memilikinya."
Suara familiar penuh ketidaksabaran yang diperdengarkan dari mulut Shana ke telinganya membuat Ryan tersenyum
Suara Shana memang tidak merdu, bahkan terdengar seperti suara anak kecil.
Akan tetapi, suara ini mengingatkannya pada sosok Aria, partner Ryan di dunia Aria The Scarlet Ammo.
"Yah ..." Ryan tanpa sadar berkata, "Bagaimanapun juga, mereka berdua memiliki Seiyuu yang sama."
"Seiyuu?" Gadis muda itu tiba-tiba mengerutkan dahinya. Ia merasa perkataan Ryan sangat tidak sopan. "Apa maksudmu?"
Walau nada bicara Shana penuh dengan ancaman, tapi Ryan tetap mengabaikannya.
Ryan juga sudah tidak bermaksud untuk berpacaran dengan seorang loli lagi. Cukup dengan Aria dan Riko saja karakter Loli yang ia pacari.
"Singkatnya, kamu nggak perlu mengikutiku."
__ADS_1
"Tidak! Aku akan terus mengikutimu, kecuali kamu menyerahkan Reiji Maigo padaku!" tegas Aria.
"Apakah menurutmu itu mungkin?" senyum Ryan dengan penuh ejekan.
"Kalau begitu jangan bicara omong kosong!"
"Dasar penguntit …"
"A-apa?! Kamu itu yang penguntit!" teriak Shana dengan keras.
"Jelas-jelas kamulah yang penguntit di sini."
"Tidak, itu kamu!"
Ryan menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sudah bodoh, penguntit lagi …"
"Kamu yang bodoh! Kamu yang penguntit!"
"Dasar bocah, bisanya cuma marah-marah nggak jelas …"
Serangan telak Ryan ini benar-benar menusuk hati Shana.
"Bo-bocah katamu?"
"Ya, kalau nggak bocah terus apa? Balita? Batita? Atau malah bayi?"
Ucapan Ryan ini semakin membuat Shana emosi. "Argggh! Cepat berikan aku Reiji Maigo-mu!"
"Jangan mimpi, bocah!"
"Diam! Diam! Diam! Diam!" (Urusai! Urusai! Urusai! Urusai!)
Pertengkaran Ryan dan Shana membuat para penghuni apartemen keluar dari kamarnya. Mereka semua menatap Ryan dan Shana dengan pandangan tidak menyenangkan. Bahkan salah seorang di antaranya sedang memegang ponsel dan tampak akan menghubungi polisi.
"Apakah Kalian berdua anak kecil?!" bisik Alastor dengan penuh penekanan.
Melihat suasana lorong apartemen yang tidak kondusif, Ryan segera menundukkan kepalanya kepada para tetangga dan masuk ke dalam apartemennya.
Dan tentu saja, gadis Flame Haze itu juga ikut masuk ke dalam kamar Apartemen Ryan.
__ADS_1