Reincarnation Room

Reincarnation Room
Melawan Dyaus Pita (II)


__ADS_3

Perut Ryan robek akibat tebasan sayap Dyaus Pita (Heavenly Father) yang sangat kuat. Tubuhnya pun terpental ke belakang bagaikan bola, hingga akhirnya, ia jatuh menggelinding di atas tanah selama beberapa detik.


"Uhuk uhuk …" Terbaring di tanah, Ryan tak kuasa lagi manahan batuk darahnya. Tubuh Ryan kini penuh dengan darah


"Aku bisa menghindari semua serangannya, namun aku nggak nyangka ia masih memiliki kartu As seperti itu, uhuk uhuk …"


Kecepatan serang dari sayap tajam itu melampaui perkiraan Ryan. Oleh karena itu, walaupun Ryan dapat merespon serangan tersebut, tapi ia tetap saja tidak dapat menghindar sepenuhnya.


'Kalau saja aku terlambat merespon serangan tadi, sudah pasti tubuhku akan terpotong!' gumam Ryan.


"Apakah ini perbedaan kekuatan antara Tingkat Authority 5 dan Tingkat Authority 4?"


Ryan hanya bisa memegangi perutnya sambil terus melihat ke arah Dyaus Pita (Heavenly Father).


Di sana, Dyaus Pita (Heavenly Father) terlihat sedang merentangkan kedua sayap hitamnya yang menyerupai pedang. Seperti halnya manusia, Dyaus Pita (Heavenly Father) mengangkat ujung mulut ke atas, seakan ia sedang menertawakan penderitaan Ryan.


Setelah itu, Dyaus Pita (Heavenly Father) berjalan dengan perlahan menuju tempat Ryan berbaring di atas genangan darah. Melihat hal ini, Ryan mulai merasa panik. 


Dengan kecepatan yang dimiliki Dyaus Pita (Heavenly Father), ia seharusnya dapat membunuh Ryan hanya dalam hitungan detik. Tetapi semua itu tidak dilakukannya.


Dyaus Pita (Heavenly Father) ingin melihat keputusasaan dan ketakutan Ryan, sebelum akhirnya ia akan memakannya.


Memahami hal ini, Ryan berusaha untuk berdiri sambil terus memegangi luka pada perutnya. 


Ryan awalnya sangat panik dengan semakin dekatnya Aragami hitam itu. Namun, setelah ia tahu maksud Dyaus Pita (Heavenly Father), rasa panik dan takut Ryan menghilang.


"Aku tidak sudi untuk takut padamu, dasar Aragami sadis! Bahkan jika boleh memilih, aku lebih memilih mati di tangan Vajra daripada mati ditangan makhluk brengsek dan sadis sepertimu!" teriak Ryan dengan tatapan mata penuh keseriusan. 


Perlahan, tatapan mata Ryan berubah menjadi tatapan sedingin es.


Mendengar teriakan Ryan, langkah Dyaus Pita (Heavenly Father) terhenti. Ia kemudian menatap mata dingin Ryan. Melihat tidak adanya rasa takut di mata Ryan, Dyaus Pita (Heavenly Father) jengkel.


"Grrrr …"


Dengan penuh emosi, Dyaus Pita (Heavenly Father) menghentakkan kakinya dan meluncur bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.


Melihat keadaan ini, Ryan hanya bisa berdiri sambil menggenggam erat Moon Blade. 'Sepertinya aku harus menggunakan Kemampuan itu. Walau kemungkinan besar aku akan mati karena menggunakannya dalam kondisi tubuh seperti ini, tapi itu lebih baik daripada mati di mulut Aragami sadis brengsek ini!'

__ADS_1


Di saat Ryan sudah memantapkan hatinya dan akan mengaktifkan kemampuannya, tiba-tiba saja suara tembakan beruntun terdengar keras.


Dududududududu


Rentetan peluru dari moncong senapan mesin terus meluncur ke arah Dyaus Pita (Heavenly Father).


Tanpa ragu, Dyaus Pita menghentikan lajunya dan melompat menghindari hujan peluru yang datang ke arahnya. 


Boom Boom Boom


Alhasil, peluru-peluru tersebut menghujani tanah hingga membuat ledakan-ledakan kecil yang menyebabkan debu-debu berhamburan.


Ryan terkejut dengan hal ini. Ia lalu menengok ke arah tembakan itu berasal. Di sana, berdiri Alisa yang tubuhnya dipenuhi debu, memegang senapan mesin berwarna merah. Di ujung mulutnya, terlihat masih ada darah segar yang mengalir. Nafasnya juga tersengal-sengal tidak teratur.


"Jangan abaikan aku!" teriak Alisa dengan suara seraknya. Ia lalu menarik pelatuk senapannya dan menembak kembali musuh bebuyutannya.


Gemerlap percikan api terus muncul dari moncong senapannya sembari memuntahkan banyak peluru ke arah Aragami hitam yang sadis itu.


Dengan tubuhnya yang besar, Dyaus Pita (Heavenly Father) bergerak lincah bagaikan seekor musang. Ia terus mengelak ke kanan dan ke kiri, maju dan mundur, dengan sangat luwes. Sambil terus menghindar, ia bergegas menuju Alisa dan mengangkat cakarnya.


BOOM


Alisa yang terluka parah tidak dapat mengelak sepenuhnya. Tak ayal, gelombang kejut tersebut memukul mundur tubuh Alisa hingga ia terguling-guling di tanah seperti yang dialami Ryan sebelumnya.


Alisa kini terkapar di atas tanah dan tidak bisa bergerak. Suasana pun kembali hening seakan tidak ada siapa-siap di reruntuhan itu.


Berbaring di tanah, Alisa memandangi langit yang mulai gelap. Rasa sakit di sekujur tubuhnya sudah tidak ia rasakan lagi. Perlahan, tubuhnya mulai kedinginan.


Setelah semua ini, kini Alisa sadar betapa lemahnya dirinya.


'Mama … Papa …'


'Maafkan aku …'


'Aku tidak bisa membalaskan dendam kalian …' gumam Alisa dalam hati.


Dyaus Pita (Heavenly Father) datang ke depan Alisa. Ia memandang rendah mainan yang ada di depannya. Senyuman sarkasme tercetak di wajahnya.

__ADS_1


Perlahan, Dyaus Pita (Heavenly Father) membuka mulutnya dan bersiap menggigit Alisa. Sedikit lagi, Malaikat Kematian akan berkunjung untuk membawa jiwa Alisa pergi.


Tapi sayang, Malaikat Kematian harus kecewa menghadapi kenyataan yang ada.


Slash


Cahaya dingin putih kebiruan tiba-tiba melintas dengan cepat menuju wajah Dyaus Pita (Heavenly Father).


"Groar!" 


Dyaus Pita (Heavenly Father) langsung menghentikan aksinya dan melompat ke belakang.


Di sini, Alisa akhirnya sadar, bahwa ia telah kembali diselamatkan oleh Ryan. Dengan tubuh yang berlumuran darah, ia berdiri di  depan Alisa.


"Haah haah haah haah …" Nafas Ryan tersengal-sengal setelah melakukan serangan tadi.


Kondisi luka Ryan sangatlah parah. Kini Ryan masih terus memegangi luka pada perutnya, sambil memegang erat belati yang ada di tangan kanannya. 


Bahkan dalam keadaan seperti itu, Ryan tetap memandang Dyaus Pita {Heavenly Father) dengan tatapan sedingin es.


"GROOOAAAR!" Aragami hitam itu marah karena lagi-lagi kesenangannya terganggu.


Namun, di bawah auman mengerikan itu, tubuh Ryan sama sekali tidak bergetar dan tetap berdiri tegap.


Melihat punggung Ryan yang tegap dan gagah, mulai tumbuh sebuah perasan aneh dalam benak Alisa. Ia seakan tidak ingin melihat pria yang ada di depannya tewas.


'Cepat kabur!' teriak Alisa dalam hati. Namun, kata dalam hati dan kata yang diucapkan di mulut Alisa agak sedikit berbeda. "Bukankah kamu membenciku? Cepat pergi dan tinggalkan aku di sini!" 


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu!" tegas Ryan. Ia kemudian menoleh ke belakang dan tersenyum hangat pada Alisa.


"Dan aku nggak pernah bilang kalau aku membencimu. Bahkan, aku sudah berkali-kali bilang bahwa aku menyukaimu."


"Walau kamu keras kepala dan lemah, tapi kamu sangat baik hati. Ini semua membuatmu terlihat imut. Maka dari itu, aku nggak akan pernah meninggalkanmu!"


Melihat keseriusan Ryan, untuk pertama kalinya, Alisa merasa hangat. 


Setelah bertahun-tahun hidup sendiri tanpa kasih sayang orang tuanya, kehidupan Alisa selalu diselimuti rasa dingin dan kesepian. Untuk pertama kalinya, ada seorang pria rela melindungi dirinya dengan tubuh dipenuhi luka yang cukup parah.

__ADS_1


Tanpa Ryan sadari, ia perlahan telah membuka hati Alisa.


Setelah Ryan selesai mengucapkan gombalannya, ia kembali menatap tajam Dyaus Pita (Heavenly Father) dan berjalan ke depan. "Mari kita akhiri permainan ini, Dyaus Pita (Heavenly Father)! Akan aku tunjukkan padamu, apa yang namanya pembantaian …"


__ADS_2