
"Diam kau manusia!" teriak Marchosias dengan penuh amarah. "Berani-beraninya kamu mengancam kontraktorku yang cantik seperti ini, dasar manusia biadab!"
Melihat semua ini dari samping, Shana dan Alastor hanya terdiam tidak ikut campur.
Meskipun Shana tidak ingin mengambil nyawa Margery, tapi karena Ryan yang melakukan semua ini, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk membela Margery.
Dalam keadaan seperti itu, Margery menarik napas dalam-dalam dan akhirnya menyerah.
"Baik, aku mengerti, kamulah yang menang. Aku akan memulihkan luka-luka di tubuhku terlebih dahulu, setelah itu aku akan membantumu, bagaimana?"
Mendengar kata-kata Margery, Ryan tertawa dan berkata, "Oke, aku beri kamu waktu setengah jam."
Setelah mengatakan hal itu, Ryan dan Shana segera terbang meninggalkan Margery sendirian di pinggiran sungai.
Weeeng
Dalam udara yang bergetar, Mantra Tak Terbatas yang dirapalkan Margery membentuk sebuah cincin api biru yang perlahan-lahan menyembuhkan semua luka di tubuhnya.
Margery duduk di tempat yang sama sembari menutup matanya dan fokus dalam penyembuhan lukanya serta memulihkan kekuatannya.
Ryan dan Shana pergi ke sisi jembatan Misaki yang belum runtuh dan sesekali melirik ke arah Margery yang masih diselimuti api biru.
Memanfaatkan waktu luang ini, Ryan bercerita secara singkat mengenai Lamies serta Mantra Tak Terbatas yang dipasangnya pada Shana dan Alastor.
"Bal Masqué mengirim Lamies?" Alastor berkata dengan serius, "Ini sedikit merepotkan."
"Apakah identitas Lamies benar-benar Spiral Organ?" Shana, yang mengerutkan dahinya, berbisik, "Jika itu benar, maka hal ini memang sangat merepotkan."
"Aku menduga semua ini telah direncanakan Lamies dengan sangat matang." Ryan menyeringai dan berkata, "Seorang Flame Haze dan Crimson Denizen yang sangat ahli dalam Mantra Tak Terbatas berada di kota yang sama di waktu yang sama. Ini tentu bukan sebuah kebetulan."
"Sejak awal, Margery datang kemari karena mengejar Lamies. Dan Lamies berada di kota ini atas permintaan Bal Masqué."
"Lamies memanfaatkan kekacauan yang Margery buat untuk menempatkan Mantra Tak Terbatas secara diam-diam di kota ini."
"Dan Lamies berkata ia tidak ingin bermusuhan denganku. Mungkin saja Lamies sengaja memancing Margery agar aku bisa meminta bantuan Chanter of Elegies dalam masalah ini." jelas Ryan.
"Hmm, itu masuk akal. Tapi, apakah Chanter of Elegies benar-benar bersedia membantu kita?" Shana mengajukan pertanyaan yang wajar dan berkata, "Menurutku ini tidak akan berjalan mulus, apalagi sifat yang dia miliki sangat keras."
"Setidaknya, sampai saat ini semua masih berjalan dengan baik." Ryan berkata dengan pasti, "Tapi, jika dia nekat melawan, maka kamu cukup diam dan menonton dari samping."
Kemudian Ryan dan Shana saling berbincang, hingga akhirnya setengah jam telah berlalu dengan cepat.
Boom
Tiba-tiba saja, sebuah api biru tua meledak di daerah pinggiran sungai Mana.
Ryan dan Shana menoleh pada saat yang sama untuk melihat asal ledakan tersebut..
Di sana, Ryan melihat tubuh Margery telah terbungkus jubah api biru tua bernama Toga, dan menjelma menjadi manusia serigala. Ia lalu terbang ke langit dan menatap Ryan yang berada di bawah bersama Shana dengan tatapan mencekik.
__ADS_1
Suara Margery kemudian terdengar dengan nanda yang agak rendah. "Maaf membuatmu menunggu lama."
"Hahahaha!" Tawa vulgar Marchosias juga mulai terdengar.
“Seperti yang kalian lihat, kami telah sepenuhnya pulih. Tidak hanya secara fisik, tetapi kekuatan kami juga sudah kembali penuh. Bisa dibilang, kami saat ini dalam sempurna!"
Dengan kata lain, baik Margery dan Marchosias siap untuk membalas ancaman Ryan.
Setelah melihat ini, ekspresi Ryan dan Shana sama sekali tidak berubah.
"Sudah aku duga ini pasti tidak akan sesederhana itu." ucap Shana dengan gamblang.
Sementara Ryan, ia hanya mengangkat bahunya seolah-olah ia benar-benar bingung, dan kemudian berkata kepada Margery, "Nona Margery, apa maksud dari semua ini?"
“Apakah kamu idiot?” Margery dengan jijik berkata, "Mungkinkah kamu benar-benar mengira aku akan dengan patuh membantumu?"
"Ya." Ryan sekali lagi menegaskan perkataannya, "Aku yakin kamu pasti akan menuruti semua perkataanku."
"Kamu benar-benar arogan!" Margery tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, aku ingin melihat kepercayaan diri seperti apa yang bisa kamu tunjukkan kepadaku!
"Hahaha!" Marchosias pun tertawa dan berkata, "Mari tunjukkan kekuatan kita pada manusia itu!"
Setelah Marchosias berkata seperti itu, Margery yang dalam wujud manusia serigala mengangkat tangannya ke udara.
Wuuuush
Nyala api biru tua yang ganas membakar tangannya yang terangkat tinggi tersebut.
"Pergilah ke neraka, wahai manusia!"
Di bawah teriakan Margery dan Marchosias, kobaran api biru tua semakin membesar.
Dalam sekejap, nyala api biru tua itu berubah menjadi gumpalan api besar dengan diameter beberapa ratus meter. Seperti matahari berwarna biru tua, siluet cahaya api terus berdenyut, dan langsung menyinari seluruh ruang bagian dalam Fuuzetsu.
Seperti Margery dan Marchosias katakan, kali ini keduanya benar-benar serius dan tanpa belas kasihan sedikitpun. Mereka tak ragu untuk memusatkan semua kekuatannya dalam satu serangan ini.
"Ini?!" Alastor berseru, "Mengerikan!"
"!!!" Ekspresi Shana juga berubah menjadi sangat serius begitu melihat bola api raksasa Margery.
Jika gumpalan api besar itu benar-benar jatuh, maka Shana khawatir sisa-sisa Jembatan Misaki ini akan benar-benar hancur seketika bersama area pinggiran sungai mana dan juga gedung-gedung tinggi di sekitarnya.
Skala serangan ini jauh lebih besar dari serangan Shana sebelumnya. Bahkan Shana sendiri tidak yakin bisa bertahan dari bola api raksasa sebesar itu.
Tanpa ada kecemasan sedikitpun di wajahnya, Ryan mengangkat kepalanya dan melihat gumpalan api biru besar yang memenuhi seluruh bidang penglihatannya.
Mata Ryan yang sebelumnya berwarna gelap, tiba-tiba berubah menjadi Mystic Eye of Death Perception dengan warna biru sedingin es.
"Mati kau!" Teriakan kejam Margery bergema di langit.
__ADS_1
Di saat yang sama, suara tawa Marchosias juga terdengar keras. "Hahahahahaha!"
Detik berikutnya, manusia serigala bertubuh jangkung itu mengayunkan tangannya yang membawa bola api super besar tersebut dengan keras ke arah Ryan.
Seketika itu juga, gumpalan api besar seperti matahari kecil berwarna biru segera jatuh.
DUUUM
Raungan gemuruh tiba-tiba terdengar sangat keras.
Itu adalah suara gumpalan api yang bergerak bersama aliran angin di sekitarnya.
Gumpalan api biru raksasa jatuh ke bawah dan menguapkan semua udara yang telah dilewatinya, menyebabkan aliran angin menjadi sangat bergejolak.
Pemandangan ini seperti matahari kecil yang jatuh ke bumi, dan membuat gedung, tanah, serta objek lain di sekitar reruntuhan jembatan misaki hancur menjadi abu.
Itu adalah pukulan telak maha dahsyat yang dapat dengan mudah menghancurkan daerah sekitarnya.
Di bawah serangan seperti ini, Ryan tetap berdiri tenang di atas sisa-sisa puing jembatan Misaki.
Swoosh
Tiba-tiba saja, dalam suara samar membelah langit, Ryan langsung melompat ke atas langit dan dengan cepat mencapai bola api besar yang jatuh ke arahnya.
Begitu Ryan tiba tepat beberapa centimeter di depan gumpalan api raksasa itu, Ryan segera mengayun belati dengan lambang bulan sabit di tangannya.
Slash
Dalam seruan melodi yang tajam, kilatan cahaya dingin yang kokoh itu langsung memecah langit dan menghantam gumpalan api biru raksasa
Bagaikan buah semangka, gumpalan api raksasa itu berhenti dan terbelah menjadi dua bagian.
BOOM
Di atas puing-puing jembatan Misaki, bola api dengan diameter ratusan meter tersebut meledak dalam raungan yang memekakkan telinga, membuat api ledakan menutupi seluruh langit di dalam Fuuzetsu.
Tak ayal, gelombang kejut yang tercipta itu berbondong-bondong menyebar ke segala arah, menyebabkan dunia dalam Fuuzetsu berguncang hebat, dan membuat seluruh aliran angin menjadi tidak teratur.
"!!!"
Shana yang menyaksikan pemandangan ini dengan mata kepalanya sendiri sangat terkejut dan dengan cepat menarik jubah hitam Yogasa yang ia kenakan untuk menghalangi gelombang ledakan yang datang padanya.
"Apa?"
Di atas langit, Margery dan Marchosias bahkan lebih kaget daripada Shana.
Tepat dalam keadaan seperti itu, di antara gelombang api mengerikan yang meledak, sesosok bayangan yang diselimuti cahaya menyilaukan tiba-tiba melesat bagaikan meteor, melewati penghalang api, dan menyambar ke atas langit seperti kilat.
Dalam sekejap mata, sosok tersebut muncul di depan Margery.
__ADS_1
Mystic Eye of Death Perception menatap langsung tubuh Manusia Serigala bernama Togasa itu dengan sangat dingin.