
Ledakan hebat pun terjadi di tengah arena, menciptakan gelombang api dahsyat yang menyapu ke segala arah.
Namun, tiba-tiba saja gelombang api tersebut mengalir kembali ke pusat ledakan seperti air yang disedot.
Baik Ayato yang telah mundur beberapa meter dari pusat ledakan maupun Saya yang masih berdiri diam di belakangnya cukup tercengang dengan pemandangan ini.
Di depan mereka berdua, Ryan terlihat mengangkat Seraph tinggi-tinggi. Semua gelombang api besar tersebut menyatu dan mengelilingi bilah pedang cahaya putih milik Seraph, menciptakan pedang tornado api yang sangat panas.
“Ini!” Ayato dan Saya sama-sama tidak bisa berkata apa-apa dengan semua ini.
Sebelumnya, Ayato dan Saya telah mendengar dari Claudia bawa Ryan pernah menggunakan Seraph untuk memanipulasi angin dan juga dapat mengubah medan pertempuran.
Walau begitu, mereka tidak menyangka bahwa Ryan dapat memanipulasi api ledakan juga. Oleh karena itu, kini Saya tidak bisa menyerang secara sembarangan lagi.
Apalagi, Type 39 Lux Laser Cannon Wolfdora memiliki serangan yang selalu memicu ledakan kuat. Saya sendiri sangat bangga telah menciptakan Lux yang berdaya hancur dahsyat seperti ini. Tapi, jika efek ledakan dapat dimanipulasi lawan, maka itu akan sangat berbahaya.
Tak sampai tiga detik, semua api yang ada di sekitar Ryan telah dikompres dalam bilah pedangnya. Tornado api merah yang menyelimuti Seraph kini menyatu dengan bilah pedang, menjadikan pedang energi yang awalnya berwarna putih, menjadi warna merah.
Ryan menatap Ayato sambil tersenyum. "Aku kembalikan ini padamu!"
Setelah itu, bilah pedang merah Seraph mendadak pecah dan berubah menjadi ratusan bola api yang melayang di sekeliling Ryan.
Dengan segera, bola-bola api itu meluncur bagaikan peluru ke arah Ayato yang berjalan mundur.
"Ayato!" Saya tidak bisa menahan diri untuk berteriak keras melihat semu ini
"Jangan panik." Ayato segera menenangkan kekhawatiran Saya. Setelah itu, ia langsung menghentikan langkahnya dan menutup mata.
Saat ini, di benak Ayato, ia sedang membayangkan sebuah lingkaran kecil yang berpusat pada dirinya sendiri, dengan diameter sekitar dua meter. Lingkaran ini adalah area pertahanan absolut imajiner milik Ayato.
Sesaat kemudian, beberapa bola api mulai memasuki area lingkaran pertahan absolut. Merasakan ini Ayato tiba-tiba membuka matanya.
"Amagiri Shinmeiryuu Tingkat Menengah: Yatagarasu!"
Seketika itu, Ayato mulai melakukan tarian pedang tanpa akhir dengan kecepatan yang mencengangkan. Ia mengayunkan Ser-Veresta dan memotong setiap bola api yang masuk ke dalam lingkaran pertahanan absolut.
__ADS_1
Satu demi satu bola api yang Ayato tebas meledak, berubah menjadi percikan api dan menghilang sepenuhnya di udara.
Dari awal hingga akhir, tidak ada satupun bola api yang jatuh ke tubuh Ayato.
"Hebat!" Cecily Wong yang berada di belakang Ryan tak kuasa menahan rasa kagumnya. Tak lama kemudian, ia menyeringai dan berkata, "Sayangnya, Adik Seperguruanku bukanlah orang yang pasif."
Hampir di saat yang bersamaan dengan perkataan Cecily Wong, suara samar yang membelah langit tiba-tiba terdengar.
Slash
Bayangan gelap yang merobek angin tiba-tiba muncul di dekat Ayato. Pedang energi putih murni melaju membawa derit angin bersiul ke arah Ayato.
Ayato sangat terkejut dengan hal ini. Dengan cepat, Ayato langsung mengayunkan Ser-Veresta dan berhenti tepat di depan dadanya.
Weeeng
Pedang putih dan hitam itu saling menabrak satu sama lainnya, menciptakan suara hantaman tajam.
Tumbukan ini menimbulkan gelombang reaksi yang cukup kuat. Akibatnya, Ryan dan Ayato sama-sama terpukul mundur beberapa langkah.
Mata Ryan dan Ayato saling berpandangan sesaat. Seakan paham dengan apa yang akan dilakukan satu sama lainnya, keduanya secara bersamaan bergerak maju sambil mengangkat Orga Lux di tangan mereka.
Ayato melepaskan tebasan vertikal dan horizontal yang sangat cepat, membiarkan kedua tebasan pedang itu tumpang tindih hingga membentuk tanda salib yang terbang ke arah Ryan.
"Flashing Seath: Double Kill (Sensa: Niruida)!"
Di saat yang bersamaan, Ryan mengeluarkan dua tebasan cepat yang menyambut serangan Ayato.
Clang
Kedua teknik itu saling bertabrakan, menghasilkan suara keras seperti lonceng, dan menimbulkan kejutan yang kuat sehingga mereka berdua terdorong satu langkah ke belakang.
Hal ini membuat Ryan dan Ayato terkejut. Mereka sama-sama tidak menyangka serangannya bisa dipatahkan dengan mudah.
Namun, momen keterkejutan ini malah menjadi kesempatan emas bagi Ryan.
Walau teknik pedang Ayato memang luar biasa dan tidak di bawah Kirin, tapi teknik pedang hanyalah teknik pedang. Artinya, teknik ini dibuat untuk diterapkan pada pedang.
__ADS_1
Tapi Ryan berbeda. Inti dari Teknik Membunuh Nanaya bukanlah serangan pisau, tetapi tubuh dan kondisi lingkungan.
Oleh karena itu, ketika Ayato sedang terkejut dan terdorong ke belakang, dengan mengabaikan kelembaman, Ryan langsung berakselerasi dan melancarkan tendangan keras ke perut Ayato.
Buuk
Suara benda tumpul menghantam tubuh terdengar sangat nyaring.
"Ughh!" Amagiri Ayato tiba-tiba mengerang kesakitan. Tubuhnya pun terpental ke belakang dan berguling-guling di tanah hingga beberapa meter.
Ketika tubuh Ayato berhenti berguling, pedang cahaya putih bersih mendadak muncul di pandangannya dan mengarah ke tenggorokannya.
Weeeng
Bersamaan dengan suara decitan, ujung pedang cahaya yang menyilaukan ini tiba-tiba berhenti tepat beberapa mili di depan leher Ayato. Hal ini membuat Ayato sama sekali tidak bisa bergerak.
Sambil terus mengacungkan Seraph ke leher Ayato yang masih berbaring di tanah, Ryan menatap Ayato dan bergumam pada dirinya sendiri, “Ini terlalu mudah. Mengalahkan Ayato yang hanya bisa melepas segel level pertama saja sama sekali tidak ada artinya."
Terus terang, dari segi kekuatan, Ryan dan Ayato dengan segel level pertama terbuka, berada di tingkat yang sama. Tidak banyak perbedaan di antara mereka.
Namun, tidak seperti Ayato yang berpengalaman dalam Teknik Pedang, Ryan berpengalaman dalam Teknik Membunuh yang jauh lebih efektif dalam pertarungan, terutama pertarungan hidup dan mati.
Oleh karena itu, meskipun secara kekuatan mereka seimbang, tapi dalam situasi yang tidak terduga, wajar saja jika Ryan dapat menang. Bagaimanapun juga, Teknik Membunuh Nanaya dapat digunakan dalam berbagai situasi, sama seperti sekarang.
“Ayato!”
Melihat Ayato ditahan oleh Ryan, Saya dengan cepat mengangkat Type 39 Lux Laser Cannon Wolfdora yang ia bawa dan mengarahkan moncongnya ke depan.
Namun, ketika Saya bersiap untuk menembak, Cecily Wong tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Lawanmu adalah aku!"
Setelah berkata seperti itu, Cecily Wong langsung melakukan serangan sengit ke tubuh Saya.
Tang
Dengan suara yang mencekik, pukulan Cecily mengenai badan Lux berjenis meriam dan memicu pusaran angin. Pada saat yang kritis, Saya mengangkat Type 39 Lux Laser Cannon Wolfdora dan memblokir serangan Cecily dengan larasnya tepat waktu.
__ADS_1
“Kamu!” Saya hanya bisa berkata dengan sedikit jengkel pada Cecily Wong.
“Hahahahahaha!” Cecily Wong tertawa dan berkata, “Sudah lama aku tidak bermain pertarungan jarak dekat. Jadi, mari temani aku bermain!”