
“Mereka meninggalkan kami bertiga di tengah pasukan Aragami dan juga Venus.”
“Karena situasi yang tidak memungkinkan, Lindow memberi kami perintah untuk mundur. Namun, kami tidak memiliki banyak waktu untuk mundur dan kembali ke Helikopter.”
“Para God Eater dari cabang Rusia tersebut benar-benar ingin membunuh kami. Sebelum mereka pergi, mereka menembakkan banyak bom ke tanah kosong yang ada di antara Venus dan tempat kami berdiri. Ledakan itu justru membuat marah Venus.”
“Tidak hanya Venus menyerang banyak Helikopter yang sedang terbang, namun juga meratakan area di sekitarnya! Hanya ada beberapa Helikopter yang berhasil lolos.”
"Dalam situasi itu, demi melindungi kami, Lindow terkena serangan langsung Venus." Sakuya dengan erat memegang God Arc di tangannya. "Jika bukan karena Venus terus maju menuju cabang Rusia dan tidak memperdulikan keberadaan kami, mungkin saja kami sudah mati."
Dari semua cerita ini, akhirnya Ryan sadar bahwa cabang Rusia benar-benar ingin menyingkirkan mereka. 'Dan sepertinya, orang yang menyusun semua jebakan ini adalah Kapten Alexei!'
"Ini tidak mungkin! Mengapa cabang Rusia melakukan ini?" teriak Alisa dengan raut wajah tidak percaya.
“Kamu harus menanyakannya sendiri secara langsung pada Kapten Alexei. Demi menyembunyikan rahasianya, dia tidak segan-segan membuang misi sepenting ini. Aku benar-benar mulai bertanya-tanya, rahasia besar apa yang sebenarnya ia miliki." ucap Ryan dengan sedikit emosi.
‘Para pejabat yang duduk di atas cabang Rusia telah berusaha keras untuk menyembunyikan rahasia ini. Bahkan mereka telah mengorbankan banyak nyawa hanya untuk rahasia ini!’
"Penempatan misi dan juga serangan yang kita alami, semuanya terlalu kebetulan. Sepertinya, sejak awal misi ini hanya dibuat untuk membunuh kita."
Mendengar perkataan Ryan, Lindow menutup matanya, sedangkan Sakuya menundukkan kepalanya. Mereka bertingkah seperti telah mengetahui semua ini sejak awal.
"Jadi begitu, kalian sudah mengetahuinya sejak awal. Tapi kenapa …"
"Kenapa kalian tetap saja jatuh dalam jebakan mereka!?"
"Sungguh memalukan!" Ryan telah berharap besar pada kemampuan Lindow dan lainnya. Ia benar-benar kecewa dengan sikap mereka.
"Yah, ini adalah blunder yang kami buat. Kami terlalu meremehkan mereka." Lindow tersenyum masam. "Tapi kamu cukup hebat juga, dapat bertahan hidup dari semua rencana busuk cabang Rusia.”
"Dapat bertahan hidup saja tidak cukup bagiku." Ryan menatap langsung ke arah Lindow dan berkata terus terang, "Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan perselisihan antara cabang Timur Jauh dan cabang Rusia. Namun, karena mereka berusaha membunuhku, aku akan membalas mereka!"
Mendengar ucapan Ryan, Lindow jadi penasaran dengan rencana Ryan. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
Tanpa ada keraguan, Ryan berkata, "Nggak perlu ditanya lagi … aku akan membongkar rahasia cabang Rusia dan membunuh orang yang bertanggung jawab atas semua ini!"
Alisa menatap Ryan dengan tatapan yang tajam. "Aku tidak masalah kalau kamu membunuh orang yang bertanggung jawab atas semua ini."
__ADS_1
"Namun untuk rahasia dari cabang Rusia, aku akan menentukan sendiri apakah kamu adalah musuh atau tidak, bergantung dari apa rahasia yang cabang Rusia sembunyikan."
"Musuh?" Ryan tak kuasa menahan senyumannya. "Kamu sama sekali nggak punya teman di cabang Rusia. Bagimu, semua orang yang ada di cabang. Rusia adalah orang asing. Kamu nggak punya alasan untuk melindungi mereka."
"Apalagi, mereka dengan mudahnya mengorbankan tentara-tentara mereka. Bukan hal yang mustahil, jika suatu saat kamu bakal dikorbankan seperti mereka."
Ucapan Ryan membuat Alisa terdiam. Baginya, cabang Rusia hanya batu loncatan untuk balas dendam. Sedangkan hal lainnya tidaklah penting.
"Lalu, bagaimana caramu membongkar rahasia mereka?" tanya Lindow.
"Para pejabat cabang Rusia pasti tidak terlalu peduli dengan statusku sebagai tentara biasa. Karena incaran mereka hanyalah kalian bertiga."
"Dengan begitu, aku akan membuat mereka lengah dan kembali menyelinap ke markas utama Fenrir cabang Rusia." jelas Ryan.
Ryan telah menyelesaikan misi pertama dan kedua. Kini hanya tinggal misi ketiga yang belum terselesaikan, di mana Ryan harus mendapatkan 5000 poin.
Dan untuk sementara ini, satu-satunya cara mendapatkan poin adalah dengan menyelesaikan misi sampingan senilai 10.000 poin.
Jadi, mau tidak mau, Ryan harus membongkar rahasia cabang Rusia untuk menyelesaikan misi ini.
"Aku juga ikut!"
"Bukankah kamu ingin balas dendam? Kenapa sekarang malah ingin mengikutiku?" tanya Ryan dengan senyum tipis.
"Aku hanya tidak ingin orang yang telah mengalahkanku mati di tangan orang lain." jawab Alisa dengan dingin.
Setelah itu, Lindow dan Ryan bersepakat untuk berpisah. Lindow akan menyusul Ryan setelah lukanya sembuh.
Sakuya menyarankan Ryan untuk kembali ke cabang Rusia dengan mengendarai Helikopter. Karena pasca mundurnya cabang Rusia dari garis depan, ada banyak Helikopter yang tertinggal di sana.
~***~
Setengah hari berlalu sejak obrolan Ryan dengan Lindow. Ryan dan Alisa terus berjalan beriringan menyusuri jalanan yang rusak di tengah reruntuhan kota. Banyak puing-puing gedung bertebaran menutupi jalan.
Di bawah tatapan Alisa, Ryan menggunakan tablet yang diperoleh dari Lindow untuk melihat kembali peta dan posisi saat ini.
"Menurut tampilan gelombang listrik yang ada pada tablet, seharusnya ada helikopter di sekitar sini."
__ADS_1
"Aku harap, semoga Helikopter ini dapat dinyalakan …" ucap Ryan.
Sebelumnya, Ryan dan Alisa telah menemukan tiga helikopter. Namun, semua helikopter itu tidak ada yang berfungsi.
Beberapa saat kemudian, Ryan dan Alisa tiba di dekat lokasi gelombang listrik terdeteksi.
"Lokasi Helikopter itu sepertinya ada di balik bangunan itu ..." Setelah mengatakannya, Ryan menyimpan tabletnya di ruang dimensi cincin Black Space dan berjalan menuju bangunan yang tampak seperti mansion.
Begitu mereka berdua melihat ke belakang gedung terebut, mereka melihat tiga ekor Vajra sedang memakan puing-puing gedung.
Di antara reruntuhan mansion tersebut, ada sebuah Helikopter terparkir di sana. Meskipun ada beberapa goresan pada permukaannya, tapi Helikopter tersebut terlihat masih layak terbang.
Melihat tiga ekor Vajra yang sedang lengah, mata Alisa yang tadinya tenang berubah menjadi penuh emosi. Bahkan God Arc yang ada di tangannya terus bergetar.
Setelah keadaan Alisa, Ryan langsung menggenggam pergelangan tangan Alisa dengan erat. "Tenanglah Alisa! Kamu nggak boleh terburu-buru!"
"Kenapa?" Emosi Alisa sepertinya sudah tidak terkendali lagi. "Sekarang ketiga Vajra itu sedang lengah. Bukankah ini waktu terbaik untuk menyerangnya!?"
"Sekarang mereka memang lengah. Tapi begitu kita menyerang mereka, maka Vajra yang tersisa akan memanggil kawan-kawannya!"
"Aku yakin bisa mengalahkan salah satu Vajra tersebut dengan satu serangan. Tapi lain halnya denganmu. Kamu tidak bisa membunuh Vajra hanya dengan sekali serang sepertiku. Dan ini sangatlah berbahaya!" jelas Ryan.
Alisa ingin membantah ucapan Ryan. Namun, belum sempat ia berbicara, Ryan memotong. "Lihat dan sadarilah kemampuanmu sendiri. Jangan biarkan aku memandang rendah dirimu atas semua kebodohanmu."
Alisa memegang God Arc-nya semakin erat. Pada akhirnya, Alisa hanya bisa menundukkan kepalanya.
Ryan menghela nafas lega setah melihat kondisi Alisa mulai stabil.
Karena trauma yang dialaminya, Alisa mengalami gangguan mental. Alisa sering kali lepas kontrol dan histeris. Apalagi saat bertemu Vajra dan varian lainnya.
Cabang Rusia telah memberikan Alisa terapi dan juga obat. Namun semua itu terjadi 4 hari yang lalu. Artinya, Alisa bisa saja kembali lepas kontrol kapan saja.
Ketika Ryan sedang berpikir, sesosok makhluk besar muncul diam-diam di sudut reruntuhan.
Pada saat yang sama, di belakang Ryan tiba-tiba bertiup hawa dingin yang membuatnya merinding.
Kepekaan Ryan atas 'Kematian', membuat Ryan langsung menoleh sekuat tenaga ke arah sudut runtuhan.
__ADS_1
Mata Ryan terbelak begitu melihat sosok tersebut yang ada di sudut reruntuhan itu.