
Ryan, Lindow, dan Soma bergegas maju menuju tubuh Venus. Sementara Sakuya dan Alisa, mereka mundur untuk mengamankan jarak tembak yang ideal.
"RAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Venus kembali berteriak. Tak lama kemudian, ratusan sulur tentakel yang sedang melambai-lambai ke atas, tiba-tiba meluncur bagaikan tombak panjang raksasa yang turun dari surga ke arah Ryan, Lindow dan Soma.
Dari barisan belakang, Alisa dan Sakuya mengangkat God Arc mereka dan membidik sulur tentakel yang jatuh dari langit. Hal ini memudahkan Ryan, Lindow, dan Soma dalam bergerak.
God Arc berbentuk senapan sniper milik Sakuya ini memuntahkan peluru yang kuat dan dengan sangat presisi mengenai sulur tentakel. Begitu peluru tersebut mengenai permukaan sulur tentakel, peluru tersebut langsung meledak di permukaan tanaman merambat.
Boom Boom Boom
Di saat yang bersamaan, Alisa juga ikut menembak menggunakan God Arc-nya dengan mode senapan mesin. Bagaikan raungan hewan buas, senapan mesin Alisa terus memuntahkan ratusan peluru ke arah sulur tentakel.
Meski daya hancurnya tidak sekuat senapan sniper milik Sakuya, namun senapan mesin milik Alisa dapat menembak beberapa tentakel sekaligus,
Dudududududududu
Sulur tentakel yang terkena terjangan peluru milik Alisa dan Sakuya langsung patah.
Serpihan sulur tentakel tersebut jatuh bagaikan meteor dan menghantam tanah dengan keras.
Hantaman ini memicu gelombang ledakan kecil yang menyebabkan puing-puing tanah, kerikil dan juga debu berterbangan ke segala arah.
Tapi, tak satu pun dari serangan itu mengenai Ryan, Lindow dan Soma. Dengan lincahnya, mereka bertiga terus bergerak berpindah-pindah di antara ratusan sulur tentakel yang datang menyerang. Tanpa ada keraguan, mereka terus maju mendekati Venus.
"RAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Sambil berteriak, Venus kembali mengangkat salah satu sulur tentakelnya tinggi-tinggi dan menghadap ke arah Ryan, Lindow, dan Soma.
Boom
Dalam suara ledakan yang terik, sulur tentakel itu jatuh menghantam tanah. Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini mendadak muncul air dari tanah yang dihantam tersebut.
Air tersebut menyeruak keluar dari tanah dengan deras dan berubah menjadi air bah. Bagaikan ombak, air tersebut menyapu daratan ke arah Ryan dan lainnya.
Melihat hal ini, Ryan sangat terkejut. Di luar dugaan, Venus ternyata memiliki Kemampuan untuk mengontrol aliran air. Tidak heran jika Venus bisa menyemburkan air dari mulutnya
"Anjir, apakah dia Avatar?" gumam Ryan. Tapi setelah Ryan berpikir sejenak, ini semua masuk akal.
__ADS_1
Dalam mitologinya, Venus melambangkan air, dan Mars sang suami, melambangkan api. Untuk menciptakan kehidupan, dibutuhkan air dan api yang seimbang.
Mungkin inilah mengapa Aragami bertipe Deusphage ini diberi nama Venus. Apalagi, habitat asli adalah laut. Jadi, Venus memiliki kemampuan yang berhubungan dengan air sangatlah wajar.
Sebaliknya, Lindow dan Soma sepertinya telah mengetahui tentang kemampuan Venus. Mereka tampak tidak terkejut sama sekali dengan aksi Venus.
Melihat air bah yang datang ke arahnya, Lindow berkata dengan lantang: "Soma! Aku serahkan semuanya padamu!"
"Hmph!" Soma dengan dingin mendengus.
Sesaat kemudian, Soma berakselerasi dan tiba-tiba sudah berlari di depan Ryan dan Lindow. Menghadapi hembusan angin yang dihasilkan gelombang tinggi dari air bah di depannya, Soma sekali lagi mengangkat God Arc-nya.
Partikel-partikel cahaya berwarna ungu yang tak terhitung jumlahnya dengan cepat berkumpul pada bilah bergerigi God Arc Soma dan mengguncang udara di sekitarnya.
"Blood Art ...”
“Charge Crush Boosted!"
Masih dengan ekspresinya yang dingin, Soma membanting God Arc di tangannya dengan keras. Partikel-partikel cahaya ungu yang terus berkumpul pada bilah pedang bergerigi Soma langsung berubah menjadi sebuah cahaya laser berbentuk bulan sabit berwarna ungu.
Bulan sabit ungu ini segera lepas dari pedang bergerigi Soma dan melaju menyambut gelombang tinggi besar yang datang.
Bulan sabit ungu langsung menghantam gelombang tinggi air bah hingga menyebabkan suara ledakan yang sangat keras, seakan-akan dua gunung saling bertabrakan satu sama lain dan meledak.
Sontak, gelombang tinggi air bah tersebut hancur bersamaan dengan jurus Charge Crush Boosted dari Soma. Air bah tersebut berhamburan ke mana-mana hingga menciptakan tirai hujan selama beberapa detik.
Setelah dua kali melepaskan Blood Art-nya, Soma pun telah mencapai batasnya. Kini ia hanya bisa berdiri sambil terus mempertahankan postur pedangnya.
Sesaat kemudian, Ryan dan Lindow segera berlari melewati soma yang telah berhenti berlari. Tanpa adanya halangan lagi, Tak sampai 5 detik, mereka telah tiba di depan Venus.
Boom
Ryan dan Lindow menghentakkan kaki mereka ke tanah dengan keras dan melesat ke tubuh bagian atas Venus bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.
"RAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Teriakan Venus akhirnya mulai membawa rasa gelisah. Melihat Ryan dan Lindow yang semakin mendekat, Venus perlahan membuka bibirnya yang halus.
Fuuu
__ADS_1
Bersamaan dengan suara siulan, aliran air berukuran kecil muncul dari mulut Venus. Bagaikan pistol air bertekanan tinggi, air tersebut melesat melintasi ruang dengan kecepatan yang mengerikan ke arah Ryan.
Sejak kedatangan Ryan, insting Venus selalu mengatakan bahwa Ryan adalah orang yang sangat berbahaya. Maka dari itu, ia memberi perhatian lebih pada Ryan, dan mengabaikan orang-orang lainnya.
Lindow yang ada di samping Ryan benar-benar diabaikan oleh Venus. Tanpa Venus sadari, Lindow sejak tadi telah mengumpulkan partikel-partikel cahaya berwarna merah pada bilah bergerigi God Arc miliknya.
“Blood Art …”
“Tornado Rush!”
Bersamaan dengan teriakannya, bilah gergaji dari God Arc Lindow mulai berputar sangat cepat. Angin merah setajam pedang berputar kencang bagaikan angin tornado yang mengelilingi Lindow dan pedangnya.
Lindow langsung menghantam tembakan laser air bertekanan tinggi dengan God Arc berbalut angin tornado merah.
Brrrrrrrrrr
Bagaikan badai yang mendesis, tembakan laser air bertekanan tinggi itu berhasil dipatahkan dengan susah payah.
“Pergilah!” teriak Lindow. Ia kemudian berputar dan menggunakan sisi God Arc-nya sebagai pijakan Ryan.
Begitu Kaki Ryan menempel pada sisi God Arc berbentuk pedang besar itu, Lindow langsung mendorongnya sekuat tenaga.
SWOOSH
Dengan suara membelah langit, sosok Ryan meluncur bagaikan peluru yang merobek atmosfer ke arah kepala Venus.
Dengan kecepatan yang mengejutkan ini, Ryan terus melaju hingga ia berjarak tinggal beberapa meter lagi dari dahi Venus.
Mystic Eyes of Death Perception bersinar biru bagaikan permata. Belati yang tajam di tangan Ryan mulai mengeluarkan cahaya putih kebiruan.
"Aku melihatnya!" Menggunakan matanya, Ryan telah melihat haris kematian yang menjadi sasarannya.
Tanpa ada keraguan, Ryan menghunuskan belati di tangannya. Bagaikan kilat, belati tajam Ryan memotong tirai udara di depannya dan berakselerasi hingga batas maksimum menuju garis kematian yang terletak di atas dahi Venus.
Mendadak, mulut Venus sedikit terangkat seolah mengejek. Dengan wajah cantiknya, Venus hampir seperti seorang gadis yang sedang tersenyum bahagia atas keisengan yang akan ia perbuat.
“Ini?” Ryan terkejut melihat ekspresi Venus. Tapi, jika ia mundur sekarang, maka ia akan menyia-nyiakan usaha Lindow, Soma, Sakuya dan juga Alisa.
“Sekarang atau tidak sama sekali!”
__ADS_1