Reincarnation Room

Reincarnation Room
Flame Haze


__ADS_3

Swooosh


Dengan suara membelah langit, sesosok merah menyala turun dari surga dan mendarat di antara para boneka dengan pose sedikit berlutut. 


Lokasi turunnya sosok tersebut tepat berada di depan Ryan.


Dari belakang, Ryan dapat melihat sosok tersebut memiliki rambut panjang merah berbalut api yang menyala-nyala.


Dengan segera, suara seperti anak kecil terdengar dari sosok tersebut. "Jadi lawan kita kali ini hanya sekelompok Rinne?"


Setelah berkata seperti itu, sosok berambut api itu bergerak.


Wuush


Semburan angin panas bersiul di sekitar tubuhnya. Itu adalah suara debu api yang terbang membawa suhu panas.



Dengan tubuh yang terbungkus dalam percikan api, sosok berambut api itu perlahan mengangkat tangannya. Di tangannya, terdapat sebuah Odachi yang juga diselimuti api.


Memegang Odachi seperti itu, sosok berambut api itu langsung meluncur bagai peluru ke arah salah satu boneka.


Slash


Tebasan tajam dilepaskan dari tangannya. Serangan seperti meteor api ini meninggalkan jejak merah samar yang menyala di udara. Dalam sekejap, boneka yang ada di depannya langsung berubah menjadi abu.


Tanpa ada jeda sedikitpun, sosok berambut api itu langsung bergerak bagai peluru ke boneka lainnya.


Slash


Odachi yang diselimuti api itu sekali lagi membunuh satu boneka lagi. Kekuatan sosok berambut api ini benar-benar melebih kemampuan para boneka yang ada di sini.


Walau begitu, boneka-boneka itu sama sekali tidak takut. Malahan, bonek-boneka yang tersisa secara serentak mengubah target serangannya pada sosok berambut merah.


Slash Slash Slash


Bagai aliran cahaya merah, satu persatu tebasan dihempaskan ke arah boneka-boneka yang menyerangnya, meninggalkan jejak api di udara.


Sejujurnya, Teknik Pedang yang digunakan sosok berambut itu bisa dibilang sangat kasar.

__ADS_1


Jika dibandingkan dengan Amagiri Shinmeiryuu milik Ayato ataupun Toudouryuu milik Kirin, lintasan Odachi yang diperlihatkan sosok berambut api itu terlalu biasa dan kasar, seakan dia hanya menggunakan Teknik Pedang paling dasar.


Namun, karena terlalu kasar ini, tebasan sosok berambut api itu menjadi kuat dan gesit. 


Bagaikan angin topan yang melintas tajam, sosok berambut api menerjang boneka-boneka yang menyerangnya. Ayunan pedang sosok berambut api tersebut tampak seperti pita merah yang tak terhitung jumlahnya, membuat boneka yang datang kepadanya terbang satu persatu dan menjadi abu.


Semua pertarungan ini berlangsung dengan cepat. Bahkan prosesnya tidak sampai lima detik.


Setelah boneka terakhir berhasil ia kalahkan, sosok berambut api tersebut mendadak muncul di belakang Ryan.


Wuush


Debu api, seperti angin, terus-menerus berkibar di sekitar tubuh dan rambut api yang mencolok.


Odachi yang mengarah ke bawah, ujungnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari tanah. Walau masih ada jarak, namun nyala api yang berkobar-kobar dari Odachi itu menyebabkan tanah dan rerumputan di sekitarnya menjadi hitam pekat. 


Bau gosong menyengat mulai masuk ke dalam indra penciuman Ryan. Suhu udara yang tinggi juga mulai terasa di punggung Ryan.


Meski suhunya tinggi, namun suhu Odachi di tangan sosok berambut api itu tidak setinggi suhu Ser-Veresta. Akan tetapi, Ryan masih tetap merasakan aura yang kuat di dalamnya.


Merasakan semua ini, Ryan perlahan berbalik dan melihat ke belakang. 


Sosok tersebut adalah seorang gadis muda yang tampaknya baru berusia sekitar 13-14 tahun.



Tubuh gadis itu terlihat sangat mungil. Di tubuhnya, ia mengenakan sebuah mantel gelap, dengan Odachi api yang masih menyala-nyala di tangan kanannya.


Debu api terus terbang di sekelilingnya. Rambut apinya juga tampak menari-nari di udara.


Gadis itu tampak begitu keren dengan semua efek api ini.


Sesaat kemudian, gadis muda itu mengangkat kepalanya dan melihat langsung mata Ryan.


Kedua mata gadis mungil itu berwarna merah seperti nyala api.


Melihat semua ciri-ciri gadis itu, Ryan bergumam, "Flame Haze …"


Flame Haze adalah eksistensi yang ada untuk membunuh Crimson Denizen yang dapat mengganggu keseimbangan dunia.

__ADS_1


Tidak semua Denizen di Crimson Realm membuat kekacauan di dunia manusia dengan bertindak seenaknya.


Di antara mereka, ada sebagian Denizen yang percaya bahwa perbuatan para Crimson Denizen tamak dan jahat lainnya hanya akan menyebabkan rusaknya keseimbangan antara dunia manusia dan Crimson Realm.


Untuk mencegah itu terjadi, muncullah sebuah ide untuk berperang melawan para Denizen yang menyusup ke dalam dunia manusia.


Namun, kemunculan Crimson Denizen di dunia manusia membutuhkan Power of Existence yang cukup besar. Dan untuk mendapatkannya, mereka harus mengkonsumsi manusia.


Agar tidak mengambil jalan yang sama dengan para Denizen jahat, para Denizen ini membuat kontrak dengan manusia agar mereka dapat memberikan kekuatan pada Kontraktornya.


Manusia yang telah melakukan kontrak dengan Denizen ini akan menjadi wadah objek kontrak dengan mengorbankan keberadaan mereka sendiri di masa lalu, sekarang, dan masa depan. 


Mereka akan menampung Denizen yang kuat di dalam tubuh mereka sendiri dan menerima kekuatan Denizen. Dengan begitu, para manusia yang melakukan kontrak dapat bertarung melawan Crimson Denizen jahat di dunia manusia.


Itulah eksistensi yang disebut Flame Haze. Dan gadis muda yang ada di depan Ryan saat ini adalah salah satunya.


Selain itu, Ryan juga mengenal identitas Flame Haze di depannya.


Alasan Ryan mengetahuinya sangat sederhana. Karena Flame Haze yang ada di depannya adalah Tokoh Utama Wanita dalam Anime Shakugan no Shana, Flame-Haired Burning-Eyed Hunter, Shana.


Setelah melihat Ryan sesaat, gadis bernama Shana itu berbalik memunggungi Ryan dan berbicara dengan suara rendah. "Alastor, bagaimana menurutmu?"


Mendadak, terdengar suara seorang laki-laki yang menjawab pertanyaan Shana. "Seharusnya di sini hanya ada Rinne. Aku tidak merasakan keberadaan Crimson Denizen di sekitar sini." 


Suara ini datang dari sebuah liontin yang dikenakan Shana di lehernya. Liontin ini memiliki batu dengan bintang berkilauan di dalamnya.     


Dari liontin tersebut, sesuatu yang disebut Alastor kembali berbicara. "Tapi, karena jumlah Rinne yang muncul kali ini cukup banyak, tampaknya Denizen yang membuatnya memiliki kekuatan yang cukup kuat. Jadi berhati-hatilah."


Mendengar peringatan Alastor, Shana berkata tanpa ragu, "Jangan khawatir … siapapun lawannya, aku pasti akan menghancurkannya."    


Dalam nada suaranya, tidak ada rasa takut sama sekali. Tidak peduli seberapa kuat lawannya, hanya ada satu kata yang ada dalam benak Shana, bertarung.


Siapapun lawannya, seberapa kuat lawan, dan seberapa banyak lawan, Shana tidak peduli. Dia hanya harus bertarung dan terus bertarung melawan semua Denizen jahat. 


Dengan kata lain, Shana adalah tipe orang yang melakukan segala sesuatunya tanpa berpikir lebih dalam terlebih dahulu.


Detik berikutnya, Flame-Haired Burning-Eyed Hunter kembali berbalik dan menatap Ryan dengan nyala api di matanya. "Lalu, bagaimana dengan manusia ini?"


Tatapan tajam Shana ini membuat Ryan merasa bahwa suasana di sekitarnya menjadi lebih berat. 

__ADS_1


Meski semua hal itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap dirinya, namun Ryan paham satu hal. Bahwa gadis muda yang ada di depannya itu, memiliki kekuatan yang tidak dimiliki manusia biasa.


__ADS_2