
Di sebuah ruang yang redup, sebuah peta hologram besar masih bersinar seperti sebelumnya, menerangi wajah Boneka di sekitarnya, dan menimbulkan kesan angker.
Friagne melayang di tengah ruangan gelap itu sembari memegang bonek bernama Marianne di tangannya. Ia dengan serius menatap peta hologram yang ada di bawah.
Swuuush
Di bawah pengawasan ketat Friagne, di dalam peta hologram tiga dimensi itu, nyala api di dalam tubuh miniatur Torch tiba-tiba terbakar dan menghilang.
Melihat hal ini, ekspresi Friagne menjadi agak tidak sedap dipandang.
"Aku sudah mengatur Torch-Torch ini untuk tidak cepat padam. Tapi mengapa mereka menghilang dengan cepat? Apakah ini ulah Flame-Haired Burning-Eyed Hunter? Atau ini adalah ulah manusia pemilik Reiji Maigo itu?"
Peta hologram yang ada di depan Friagne ini sebenarnya adalah sebuah Treasure Tool (Hogu) bernama Crystal Altar.
Treasure Tool (Hogu) ini dapat mengambil gambar wilayah tertentu dan menampilkannya secara detail beserta semua aktivitas Power of Existence di dalam wilayah tersebut.
Jadi, apa yang terjadi di Crystal Altar adalah gambaran real time dari apa yang benar-benar terjadi di Kota Misaki.
Di dalam peta tersebut, satu persatu Torch mulai menghilang.
Ini bukan pertama kalinya terjadi.
Dalam dua hari terakhir, sejak pagi hingga sore, miniatur Torch yang tampil di dalam Crystal Altar terbakar habis satu persatu.
Ini bukan lagi sebuah kebetulan. Akan tetapi ada seseorang yang sengaja membunuh Torch-Torch buatan Friagne.
"Tuan." Marianne menggunakan suara manisnya untuk mengatakan fakta bahwa dia sedang gelisah.
"Mungkinkah rencana kita sudah ketahuan?"
Itulah yang ada dipikiran Marianne. Jika bukan karena rencananya yang sudah ketahuan, tidak mungkin musuh akan melenyapkan banyak Torch seperti ini. Itu adalah perbuatan yang sia-sia.
Namun, hilangnya banyak Torch ini akan menghalangi aktivasi Mantra Tak Terbatas, City Devourer terganggu. Ini jelas membuat rencana Friagne sedikit terkendala.
Mengingat hal ini, Friagne berkata kepada Marianne yang berada dalam pelukannya dengan nada lembut, "Jangan khawatir, Marianne …"
"Torch yang sudah hilang biarkan menghilang. Kita bisa mengaturnya kembali dengan mudah. Dibanding dengan pentingnya Reiji Maigo, kendala seperti ini bukanlah hal yang besar."
"Tapi, Tuan!" Marianne berkata, "Manusia itu tampaknya memiliki kekuatan yang sangat kuat! Ditambah dengan kontraktor Flame of Heaven, bisakah kita merebut Reiji Maigo dari mereka?"
Mendengar kekhawatiran Marianne, Friagne sedikit tersenyum dengan anggun. "Sayangku Marianne, apa kamu lupa nama sebutanku?"
Marianne berbisik, "Crimson Lord yang terkenal karena mengumpulkan banyak Treasure Tool (Hogu) dan juga memburu banyak Flame Haze, Hunter ..."
"Benar." Friagne membelai Marianne di lengannya dan berkata dengan lembut, "Aku adalah Hunter. Selama ada Treasure Tool (Hogu) yang muncul di depan mataku, maka aku pasti merebutnya. Sedangkan untuk Flame Haze, mereka tidak layak untuk menjadi perhatianku."
Inilah Friagne, sang Hunter dan Flame Haze Killer.
Friagne memiliki banyak sekali Treasure Tool (Hogu) yang telah dikumpulkan sejak lama. Dan salah satu Treasure Tool (Hogu) yang ia miliki dirancang Khusus untuk menghadapi Flame Haze.
"Tuan …" Marianne berkata, "Apa yang akan kita lakukan pada manusia itu?"
Mendengar hal ini, Friagne tersenyum kecil.
__ADS_1
Bagi Friagne, Flame Haze sama sekali tidak menakutkan. Akan tetapi, manusia pemilik Reiji Maigo itulah yang bermasalah.
"Manusia itu sangat aneh. Dia memiliki Reiji Maigo dan juga sangat kuat." Marianne berkata dengan cemas, "Dengan begitu, kartus As milik Tuan tidak akan bekerja untuknya."
"Penampilan manusia itu benar-benar melebihi ekspektasiku." Friagne menghela nafas sesaat dan kembali tertawa, "Namun, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal ini. Sayangku Marianne, bagaimanapun juga, dia hanya seorang diri. Bahkan jika dia memiliki kekuatan, dia bukan lawanku."
Saat mengatakan hal ini, Friagne kembali mengingat pertarungannya dengan Ryan.
Begitu ia mengingat sepasang mata biru sedingin es yang Ryan perlihatkan, tidak tahu mengapa, Friagne merasa bahwa Keberadaan miliknya bergetar.
Jadi, meski Friagne berkata demikian, tetapi hatinya tidak tenang.
Untuk alasan ini, Friagne menambahkan sedikit perubahan rencana.
"Meskipun rencanaku agak berubah, ini sepadan dengan risikonya. Jika berhasil, kita akan mendapatkan Reiji Maigo." Friagne membuka mulutnya dan berkata, "Jadi, aku telah meminta bantuan seorang Crimson Lord."
Perkataan ini, membuat Marianne menatap wajah Friagne secara langsung.
"Bantuan?" Marianne terkejut dan berkata, "Mungkinkah itu dia?
"Dari semua Crimson Denizen yang datang ke dunia manusia saat ini, selain dia, siapa lagi Denizen yang mau menjadi tentara bayaran?" Friagne berkata dengan penuh kepercayaan, "Dalam hal kekuatan, dia memang kuat dan kekuatannya tidak di berada bawahku. Jadi, untuk berjaga-jaga, aku akan menggunakan jasanya."
"Kalau begitu, maka ini akan menjadi mudah." Marianne berkata dengan gembira, "Selama Tuan dan Crimson Lord itu bekerja sama, bahkan jika lawannya adalah manusia aneh dan Flame-Haired Burning-Eyed Hunter, Tuan pasti menang."
"Namun, kita masih harus berjaga-jaga. Karena target kita adalah Reiji Maigo, aku yakin semua Denizen juga pasti mengiginkannya, tak terkecuali Crimson Lord itu." Friagne berkata, "Jadi, bisakah aku mempercayakan Reiji Maigo padamu?"
Marianne tidak ragu untuk menjawab, "Baik Tuan."
"Bagus sayangku …" Friagne terus membelai dan memanjakan tubuh Marianne dipelukannya. Ia kemudian berkata, "Ketika semuanya telah selesai, dengan mengandalkan kekuatan City Devourer dan Reiji Maigo, kita bisa mendapatkan banyak Power of Existence."
Inilah alasan mengapa Friagne menginginkan Power of Existence dalam jumlah yang sangat besar.
Bagaimanapun juga, keberadaan Rinne hanyalah sebagai pelayan yang dibuat oleh Crimson Denizen.
Rinne bisa memiliki kemauan sendiri, tapi mereka tidak memiliki kebebasan. Meskipun mereka dapat mengkonsumsi Power of Exiatenxe, akan tetapi mereka tidak dapat menyerapnya. Meraka hanya bisa bergantung pada Tuannya untuk mempertahankan keberadaannya.
Oleh karena itu, Friagne ingin mendapatkan Power of Existence dalam jumlah besar untuk membuat Marianne terlahir kembali dan menjadi eksistensi yang nyata.
"Tinggal sediki lagi …" Mata Friagne terbakar hasrat yang berapi-api. "Dan ini harus berhasil."
~***~
Slash
Cahaya bilah belati melintas di udara, melewati tubuh seseorang dengan kecepatan mengerikan yang tidak bisa ditangkap oleh mata orang biasa.
Wuush
Tubuh orang yang terpotong oleh cahaya belati itu langsung terbakar habis menjadi abu dan menghilang ke udara.
"Haah~" Ryan menghela nafas lega sambil mengkat kepalaya ke langit.
Saat ini, langit terlihat berangsur-angsur menjadi gelap.
Dengan kata lain, Ryan telah membunuh Torch dari pagi hingga sore hari.
__ADS_1
"Kira-kira sudah berapa banyak Torch yang berhasil aku singkirkan ya?" gumamnya.
Dalam dua hari terakhir, Ryan terus berjalan mengelilingi kota untuk membunuh Torch. Awalnya Ryan masih sempat menghitungnya. Namun ketika angka yang ia hitung sudah melebihi angka 100, Ryan berhenti menghitungnya.
"Aku merasa sudah membunuh banyak Torch, tapi mengapa Friagne masih belum muncul juga? Mungkinkah dia takut?"
"Tapi ini hal yang mustahil."
Sebagai Crimson Lord yang menduduki peringkat lima besar Crimson Lord terkuat di era modern ini, dan juga memiliki banyak Treasure Tool (Hogu), Friagne pasti tidak akan melepaskan Ryan begitu saja. Apalagi Ryan hanya seorang manusia.
"Dengan kata lain, apakah Friagne masih memilih untuk menunggu dan menonton dari samping?"
Ryan pun tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Setelah berpikir beberapa saat, Ryan merasa bahwa apa yang dilakukan Friagne saat ini bukanlah sesuatu yang aneh.
Karena Friagne adalah tipe Denizen yang cerdik dan selalu berhati-hati, dia pasti tidak akan bertindak gegabah.
"Aku yakin dia pasti nggak akan tinggal diam dan sedang mempersiapkan sesuatu untuk menghadapiku."
"Cepat atau lambat, dia pasti akan keluar. Aku hanya perlu menunggunya dengan sabar."
Walau Ryan bergumam seperti itu, tapi Ryan juga berharap bisa membunuh Friagne secepat mungkin.
Semakin cepat Ryan menyelesaikan Misi Utama, semakin bagus juga evaluasi Reincarnation Room.
Di sisi lain, Ryan hanya memiliki waktu tiga tahun untuk menyelesaikan Misi Utama di dunia Shakugan no Shana.
Batas waktu Reincarnator dalam menjalani Misi ditentukan berdasarkan jumlah Misi Utama.
Misalnya saja, ketika di dunia Aria The Scarlet Ammo, Ryan memiliki lima Misi Utama yang harus diselesaikan. Maka Ryan memiliki batas waktu selama lima tahun untuk menyelesaikan semua Misi Utama di dunia tersebut.
Jika sampai batas waktu yang diberikan Reincarnation Room, Ryan belum menyelesaikan Misi Utamanya, maka Misi Utama Ryan yang belum selesai akan dianggap gagal dan mendapat pengurangan Poin.
Oleh karena itu, Ryan tidak mau berlama-lama dalam menyelesaikan Misi Utama.
Dari sudut padang ini, Friagne memang mangsa yang bagus.
Selama Ryan dapat membunuhnya dan merebut semua Treasure Tool (Hogu) milik Friagne, maka Misi Utama 1 dan Misi Utama 2 dapat langsung diselesaikan secara bersamaan. Setali tiga uang, inilah peribahasa yang cocok untuk rencana Ryan tersebut.
Oleh karena itu, Ryan akan sangat gigih dalam mengincar Friagne.
"Aku melihat Friagne sebagai mangsa, dan Friagne sendiri juga menganggapku sebagai mangsa. Apakah ini kompetisi antar Pemburu?"
Memikirkan hal ini, Ryan tersenyum menyeringai.
"Mari kita lihat, pada akhirnya, siapakah yang akan menjadi pemburu, dan siapakah yang akan menjadi mangsa."
Dengan gumaman seperti ini, Ryan berbalik dan mulai berjalan menuju Apartemennya.
Ketika Ryan sedang berjalan menikmati pemandangan sore, Ryan mendengar teriakan suara dari sebuah toko roti.
"Roti melon! Roti melon! Masih hangat dan lezat! Ayo segera dibeli! Flash Sale, hanya hari ini saja, beli dua dapat satu!"
Mendengar nama roti ini, langkah Ryan langsung berhenti. Mulut Ryan sedikit terangkat dan segera berbalik lagi, berjalan menuju toko roti tempat suara itu berasal.
__ADS_1