
Setibanya di gedung Assault, Ryan segera masuk Lift dan menekan tombol untuk ke atas gedung.
Sambil menunggu lift sampai tujuan, Ryan kembali mengingat dengan apa yang dikatakan Ranbyou pada dirinya saat di telepon tadi.
“Bus yang dipasangi adalah bus sekolah yang memiliki rute menuju SMA Butei. Karena itu, semua penumpang bus tersebut adalah murid SMA Butei. Jika bus tersebut melambat atau berhenti, maka bom itu akan meledak."
"Dari sini, ada dua hal yang digaris bawahi. Hal pertama adalah bom, dan hal kedua adalah target serangan kali ini merupakan murid SMA Butei.”
“Dari dua hal ini, tidak diragukan lagi, bahwa pelakunya adalah peniru Butei Killer!”
“Akan tetapi, salah satu murid SMA Butei sepertinya sudah lama mengejar sang peniru. Dia akrab dengan jaringan gelombang radio jarak jauh yang digunakan si peniru.”
“Kali ini, orang ini telah berhasil menangkap gelombang radio peniru Butei Killer dan bersiap untuk pergi. Kamu segera bergegas kemari dan pergi bersamanya."
Mengingat perkataan Ranbyou, Ryan mengangkat alisnya. “Butei Killer …”
“Kali ini, modus operandinya hampir sama persis dengan Butei Killer yang asli. Tapi, jika demikian, lalu bagaimana dengan serangan serigala tadi malam? Apakah ini dilakukan oleh dua orang yang berbeda?”
Ting
Suara dering tanda lift telah sampai tujuan membuat Ryan tersadar dari perenungannya. Pintu lift tersebut secara otomatis terbuka.
Wuuush
Angin kencang segera masuk ke dalam lif dan membuat air hujan turun mengenai tubuh Ryan.
Tanpa Ryan sadari, ternyata di luar sedang hujan deras.
Dan di tengah hujan lebat ini, ada seorang gadis berdiri membelakangi pintu. Rambut panjang berwarna merah muda dengan gaya twintail itu terus bergoyang-goyang tertiup angin.
Gadis tersebut memiliki tinggi lebih dari 140 centimeter dan terlihat sangat mungil.
Gadis muda itu mengenakan rompi anti peluru TNK, helm, dan juga sarung tangan yang telah diperkuat. Pada pinggangnya, terdapat sarung tangan pistol dan beberapa magazin cadangan dalam sebuah tas kulit.
Ryan sangat akrab dengan pakaian tersebut. Pakaian tersebut disebut CE Equipment yang biasa digunakan Butei saat melakukan penyerangan.
Setiap misi dengan tingkat kesulitan tinggi, biasanya akan sangat berbahaya. Maka dari itu, Butei biasanya akan dianjurkan menggunakan pakaian ini.
Performa rompi dan sarung tangan ini bahkan lebih kuat dari seragam SMA Butei. Jadi, ketika tubuh terkena hujan peluru, maka rasa sakit yang diterima akibat benturan peluru berkurang banyak.
__ADS_1
Hanya saja, Ryan merasa aneh melihat seorang gadis mungil menggunakan pakaian yang mirip dengan kostum Counter Terrorist dalam game Counter Strike ini.
Merasa ada yang menatapnya dari belakang, gadis itu menoleh ke belakang.
Gadis yang memiliki wajah yang sangat imut itu menatap Ryan dengan mata berwarna merah tua bagaikan permata.
"Apakah kamu Weapon Wizard?" tanya gadis itu dengan suara kekanak-kanakan yang sangat cocok dengan penampilannya.
Ryan mengangguk atas pertanyaannya. "Itu benar. Apakah kamu Kanzaki H. Aria?"
Mendengar namanya disebut, Aria mengangkat alisnya sedikit. "Aku pikir kamu tidak mengenalku. Sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi."
Dengan kata lain, gadis yang ada di depan Ryan saat ini adalah murid pindahan dari Inggris yang dibicarakan Riko di kelas, Quadra Aria.
Seorang Butei Assault peringkat S yang tahun lalu dikabarkan terus mencari Ryan dan juga mengumpulkan semua informasi tentangnya.
"Aku pernah mendengar sepak terjangmu bahkan sebelum aku datang ke SMA Butei Tokyo."
Aria mengangkat matanya dan menatap Ryan yang terus memandanginya dengan ekspresi kosong.
"Seorang Butei peringkat S dan memiliki penggunaan senjata yang sangat luar biasa bagaikan sihir hingga mendapat julukan Weapon Wizard.”
“Setelah setengah tahun, akhirnya aku dapat melihatmu. Tidak sia-sia aku meminta pihak sekolah mengirimkan seorang Butei peringkat S untuk membantuku.”
"Meskipun ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepadamu, tetapi situasinya sekarang sangat mendesak. Jadi aku tidak akan mengatakan apa pun lebih dari yang diperlukan."
Aria berbalik dan mendongak ke atas melihat awan mendung yang terus menerus menurunkan air hujan..
"Aku sudah meminta divisi Logi untuk segera mengirimkan helikopter. Dan sepertinya, mereka tiba tepat pada waktunya."
Di saat yang sama, sebuah Helikopter mulai turun dari langit dan mendarat secara perlahan. Efek pendaratan itu membuat angin yang bertiup kencang ini menampar tubuh Ryan.
Aria kemudian segera naik ke Helikopter. Ia lalu melihat Ryan yang akan naik ke dalam Helikopter. "Waktu kita terbatas. Jadi, dalam kasus ini, izinkan aku memastikan kemampuanmu."
Ini pertama kalinya Ryan bertemu dengan Aria. Dan pertemuan inilah, yang mengubah takdir mereka berdua.
~***~
Hujan telah membuat seluruh langit dalam suasana suram.
__ADS_1
Helikopter SMA Butei pun terus terbang melaju menerobos cuaca yang tidak bersahabat ini.
Di dalam Helikopter, Aria memeriksa peralatannya kembali. Tanpa melihat Ryan, ia berkata, "Tolong beri aku penjelasan mengenai situasi ini berdasarkan pemahamanmu!"
'Apakah dia ingin mengetesku?' pikir Ryan. Ia kemudian memberi penjelasan berdasar informasi yang ia dapat dan analisanya sendiri.
Setelah mendengar penjelasan Ryan, Aria menengok ke arah Ryan yang duduk berhadapan dengannya.
"Sepertinya kamu dapat memahami situasi ini dengan cepat. Akan tetapi, kenapa kamu tidak mengenakan CE Equipment? Apa kamu meremehkan misi ini?"
"Atas kecerobohanmu ini, izinkan aku untuk mengurangi nilaimu!"
Mendengar hal ini, Ryan sama sekali tidak memperdulikan penilaian Aria. Ia tidak mengenakan CE Equipment karena baginya, mengenakan pakaian itu hanya akan menambah beban berat di tubuhnya.
Dengan AGI yang Ryan miliki, ia tidak perlu khawatir dengan berondongan peluru. Maka dari itu, Ryan sama sekali tidak pernah mengenakan CE Equipment dalam menjalankan Komisi Pribadi.
Ryan kemudian bertanya mengenai kondisi di lapangan saat ini. "Apakah Polisi dan Biro Butei sudah bergerak?"
"Mereka sedang bersiap. Namun mereka membutuhkan waktu untuk bergerak. Sementara itu, bus tersebut masih terus bergerak dengan liar di jalanan." jelas Aria.
Ryan mengangkat alisnya mendengar penjelasan ini. "Dengan kata lain, kita adalah tim pertama yang akan tiba di tempat kejadian?"
"Itu benar. Lagi pula, akulah orang pertama yang mendeteksi adanya gelombang radio pengendali jarak jauh. Jadi tentu saja aku sudah siap sebelum orang lain siap."
Setelah mengucapkannya, Aria berdiri di depan pintu Helikopter.
Ryan lalu menyusul Aria dan berdiri di sampingnya. "Kanzaki-san, aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik dan menikmatinya."
"Aku juga berharap besar padamu Ryan. Dan juga, panggil aku Aria." ucap Aria sambil terus melihat ke keluar Helikopter.
Ryan sebenarnya ingin mengeluarkan gombalannya di sini. Namun, melihat situasi gawat yang terjadi, ia tidak mood untuk melakukannya.
Selama mereka berbincang, kecepatan Helikopter mulai melambat. Tidak jauh dari posisi Helikopter yang mereka tumpangi, terlihat sebuah bus yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Di belakang bus, terlihat sebuah mobil tanpa pengemudi membawa senapan mesin dan terus mengikuti laju bus tersebut.
"Aku melihatnya!" Teriak Aria dengan keras. "Ayo bersiap turun. Kita akan melompat ke atas bus dengan parasut!"
Mendengar perintah Aria, Ryan benar-benar terkejut. Tak ayal, Ryan berteriak dengan sedikit emosi. "Apa kamu gila?! Apa kamu nggak bisa menilai situasinya dengan baik?!"
__ADS_1
Tanpa ragu, Aria bertanya secara langsung. "Kenapa?"