
Pada saat yang sama, Ryan mendadak muncul di depan Alisa dan bersiap menyapa kumpulan bola plasma yang semakin mendekat ke arahnya.
Ryan terus melihat ke arah kumpulan bola plasma menyilaukan dengan mata birunya yang sedingin es.
Ryan terus mengawasi garis kematian seperti retakan yang ada pada bola plasma. Moon Blade di tangannya mendadak berubah menjadi sebuah cahaya putih kebiruan, yang melaju membentuk garis lurus dan memotong garis kematian pada bola plasma.
Slash
Boom
Bola-bola plasma tersebut pun seketika itu meledak menjadi partikel-partikel kecil yang tersebar di udara.
Ryan berdiri di antara partikel-partikel kecil itu sambil terus mengawasi pergerakan Dyaus Pita (Heavenly Father).
Ekspresi wajah Dyaus Pita (Heavenly Father) berubah. Ia terlihat marah dengan aksi Ryan menyelamatkan Alisa.
Melihat hal ini, jantung Ryan berdetak semakin keras, seakan memberi peringatan tanda bahaya.
'Makhluk ini sangat kuat! Mungkin ini adalah musuh terkuat yang pernah aku hadapi sejauh ini. Bahkan dia lebih kuat dari Fused Colony di dunia Kabaneri!'
'Berdasarkan perkiraanku sebelumnya, Aragami Deusphage memiliki kekuatan yang setara dengan Reincarnator dengan tingkat Authority 4. Ini artinya, jumlah seluruh atribut Dyaus Pita (Heavenly Father) melebihi 100 poin!' gumam Ryan dalam hati. Punggungnya pun mulai berkeringat dingin.
Walau benak Ryan berkecamuk, namun Ryan tidak menampakkannya sama sekali. Ryan masih tetap memegang erat belatinya dan menatap Dyaus Pita (Heavenly Father) dengan tatapan sedingin es.
"Groooar …"
Pada saat yang sama dengan auman kecilnya, Dyaus Pita (Heavenly Father) mulai bergerak. Namun tidak seperti sebelumnya, kali ini Dyaus Pita (Heavenly Father) hanya berjalan mengitari Ryan seakan sedang mencari celah untuk menyerang. Dengan instingnya, ia merasakan aura kematian dari mata biru Ryan.
Selama beberapa menit, Ryan hanya berdiri diam melihat Dyaus Pita (Heavenly Father) mengitarinya. Ketegangan di antara keduanya membuat suasana menjadi berat.
Tapi, situasi ini tidak bertahan lama. Akhirnya, Dyaus Pita (Heavenly Father mulai melancarkan serangannya.
"GROOOOAAAAAR!"
Dengan auman mengerikan yang tiada tara, tubuh Dyaus Pita (Heavenly Father) menegang. Dari tubuhnya, menyembur partikel-partikel listrik yang sangat kuat. Bagaikan Dewa Petir, dia melompat dengan tubuh yang dipenuhi cahaya terang nan elok namun berbahaya.
Melihat Dyaus Pita (Heavenly Father) yang menerkam dengan kecepatan tinggi, Ryan menarik napas dalam-dalam dan bersiap untuk melakukan pertarungan mematikan. Ia kemudian melompat ke belakang menghindari terkaman makhluk raksasa itu.
Boom
__ADS_1
Dalam suara dentuman yang memekakkan telinga, sesosok Aragami hitam itu menghantam tempat Ryan berdiri. Dari tubuhnya, semburan kilat mengamuk dan menyebar ke segala arah.
Amukan petir tersebut membuat tanah-tanah di sekitarnya rapuh dan hancur bagaikan tahu yang tercerai-berai oleh sebongkah kerikil.
Pada saat yang sama, gelombang kejut yang diakibatkan hantaman tubuh Dyaus Pita (Heavenly Father) dengan tanah juga ikut meluas.
Dengan kondisi seperti itu, Ryan terus mundur tanpa henti bagaikan perahu kecil yang terombang-ambing dalam badai di samudera.
Selagi terus menghindar, Ryan tak hentinya mengawasi amukan petir yang terpancar keluar dari tubuh Dyaus Pita (Heavenly Father).
Sesaat kemudian, kilatan petir tersebut satu persatu bergerak ke arah Ryan.
Dengan menggunakan Mystic Eye of Death Perception, ia bisa membaca lokasi jatuhnya kilatan petir tersebut dengan melihat garis kematian yang ada di depannya.
Mengandalkan penglihatan ini, Ryan terus bergerak seperti laba-laba. Ia terus melompat-lompat ke kanan dan ke kiri, menghindari sambaran petir yang berusaha menyentuhnya.
Namun sayang, tidak semua sambaran petir itu dapat Ryan hindari. Dihadapkan dengan hal seperti ini, Ryan mengayunkan Moon Blade dengan sangat cepat dan memotongnya semua serangan yang datang padanya.
Kecepatan adalah spesialisasi yang Ryan pilih saat mengalokasikan poin atribut. Maka wajar saja kalau Ryan sangat ahli dalam hal kecepatan. Bahkan, kini serangan cepat Ryan mulai menggunakan Teknik Flashing Sheath (Sensa), salah satu Teknik Pembunuh Nanaya.
Di setiap ayunannya, Ryan dapat langsung mempercepat gerakan belatinya hingga mencapai batas kecepatan maksimal. Tebasan itu kemudian bersinggungan dengan sambaran petir yang datang padanya.
Slash
Bagaikan api yang menyala mekar, sambaran petir itu meletus dan berubah menjadi partikel-partikel cahaya yang menyebar memenuhi udara.
Akhirnya, Ryan berhasil lolos dari semua serangan Dyaus Pita (Heavenly Father).
Melihat semua ini, Dyaus Pita (Heavenly Father) langsung melompat dan mengayunkan cakar hitamnya.
Boom
Cakar hitam yang dipenuhi kilatan petir lagi-lagi menghantam tanah kosong dan menghancurkannya.
Meski pun Ryan berhasil menghindarinya, namun gelombang kejut yang diakibatkan hantaman cakar Dyaus Pita (Heavenly Father) tetap mengenai Ryan.
Bagaikan layangan patah, Ryan terbang terpental ke belakang dan jatuh terguling-guling di tanah.
Ryan tak kuasa menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Ughh …"
__ADS_1
"GROOOAAAR!"
Kali ini, Dyaus Pita (Heavenly Father) benar-benar serius ingin membunuh Ryan. Ia kemudian melompat tinggi dan menukik ke tempat Ryan yang masih dalam kondisi berguling-guling.
Melihat hal ini, tak kuasa Ryan mengumpat dengan keras. "Anjir!"
Walau sekujur tubuhnya terasa sakit, Ryan mengulurkan tangannya dan mencengkram tanah yang ada untuk menghentikan tubuhnya yang masih berguling di tanah.
Kuku pada jari Ryan mencengkram erat hingga masuk jauh ke dalam tanah. Tak ayal jari jemari Ryan mengeluarkan banyak darah.
Tapi dengan cara ini, Ryan berhasil menghentikan lajunya. Tanpa ada jeda, Ryan langsung membalikkan tubuhnya ke arah kiri.
Di saat yang sama, sesosok bayangan hitam besar langsung menghantam tempat Ryan tadi dengan cakarnya.
Boom
Tanah pun berguncang akibat hantaman ini. Banyak aspal yang bertebaran dan retak. Ryan kembali terlempar sejauh beberapa meter.
'Anjir! Telat sedikit aja, nyawaku pasti melayang! Walau aku punya nilai atribut VIT sebesar 20 poin, tapi dengan kekuatan dahsyat Deusphage, tubuhku pasti tidak akan utuh lagi!' gumam Ryan dalam hati sambil berusaha bangkit.
Ryan kemudian bergerak maju ke arah Dyaus Pita (Heavenly Father). Dengan Mystic Eye of Death Perception, Ryan mencari posisi garis kematian dari Inti (Core) milik Dyaus Pita (Heavenly Father).
Berdasarkan observasi, posisi Inti (Core) milik raksasa hitam itu berada di bagian kepala.
Jika Ryan melompat ke atas kepala Dyaus Pita (Heavenly Father), dengan kegesitan yang dimilikinya, pasti Dyaus Pita (Heavenly Father) akan dengan mudah menghindar. Bahkan Ryan akan mendapat serangan balik dari Aragami hitam tersebut.
"Sepertinya, aku harus memotong kaki depannya terlebih dahulu, baru kemudian aku bisa mengincar Inti (Core) miliknya!"
Ryan kemudian melompat ke salah satu kaki depan Dyaus Pita (Heavenly Father). Dengan Moon Blade di tangannya, ia bersiap untuk menebasnya.
Melihat semua ini, Dyaus Pita (Heavenly Father) sama sekali tidak panik. Malahan, ujung mulutnya terangkat sedikit seakan menertawakan kebodohan Ryan.
CRAAT
Suara keras terdengar dari punggung Dyaus Pita (Heavenly Father). Dengan cepat, kulit punggung yang ada di bawah mantelnya tiba-tiba robek. Dari dalam tubuhnya, muncul sepasang sayap hitam yang menyerupai bilah pisau. Darah tampak membasahi sayap hitamnya.
Tak lama kemudian, Dyaus Pita (Heavenly Father) mengepakkan salah satu sayapnya. Gerakan sayap Dyaus Pita (Heavenly Father) ini sangatlah cepat. Bagaikan cahaya bilah pisau dingin yang membelah udara, sayap tersebut menebas Ryan.
__ADS_1
Croot
Darah Ryan menyembur keluar bagaikan percikan air yang tertiup angin dan berhamburan di udara.