
Pesta Dansa peresmian Kapal Tanker Ocean Cradle akan dilaksanakan pada tanggal 18 April. Dan sekarang adalah tanggal 15 April.
Dengan kata lain, Ryan dan Aria masih memiliki waktu 3 hari untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Dalam hal ini, ada dua hal yang perlu Ryan dan Aria persiapkan. Hal yang pertama adalah pakaian.
Karena ini adalah pesta dansa tingkat tinggi untuk kalangan atas, maka Ryan dan Aria membutuhkan pakaian yang bagus dan elegan.
Lalu, hal kedua yang dibutuhkan adalah surat undangan.
Pada acara pesta dansa tingkat tinggi yang dihadiri banyak pengusaha kaya, tentunya tidak sembarangan orang bisa hadir ke sana. Dibutuhkan surat undangan untuk bisa masuk ke pesta dansa ini.
Untuk itu, Ryan membagi pekerjaannya dengan Aria. Ryan akan mengurus pakaian yang akan digunakan dalam pesta dansa sementara Aria akan mengurus surat undangan.
"Baiklah, serahkan masalah surat undangan ini padaku. Ini pekerjaan yang sangat mudah." ucap Aria dengan suara kekanak-kanakan.
Aria adalah seorang bangsawan Inggris, sudah sewajarnya ia pasti dapat meminta surat undangan ini dengan mudah.
Untuk masalah pakaian, ini juga bukanlah hal yang sulit bagi Ryan. Di dalam SMA Butei, terdapat sebuah kelas bernama Civetta Research, ada biasa disebut sebagai C-ken.
C-ken adalah kelas yang unik. Kelas ini hanya menerima gadis-gadis cantik sebagai muridnya.
Tujuan dari kelas ini adalah untuk menumbuhkan bakat murid-muridnya dalam memanfaatkan Honey Trap dengan baik untuk untuk memata-matai, menghasut, dan menyusup.
Oleh karena itu, hampir semua orang dalam kelas ini adalah perempuan berparas cantik yang tidak kalah dengan para artis papan atas.
Karena sifat khusus C-Ken, murid dalam kelas ini seringkali membutuhkan berbagai pakaian untuk menghias diri, menyamarkan, bahkan merayu objek misi dengan pakaian berbagai khusus.
Maka dari itu, murid SMA Butei sering menggunakan jasa C-Ken untuk dibuatkan pakaian demi menyelesaikan misi tertentu.
Ryan yang sudah sering menjadi langganan jasa mereka pun datang ke gedung C-ken untuk menemui kenalannya.
Bagi Ryan, gedung C-ken adalah surga. Di sana ia dapat melihat berbagai gadis cantik dengan pakaian yang sangat menggoda. Bahkan banyak dari mereka yang menggoda Ryan.
Tapi Ryan tahu satu hal, semua gadis C-ken sangat materialistis. Bisa dibayangkan, untuk mendapat tubuh dan wajah yang indah itu, pasti dibutuhkan biaya perawatan selangit. Maka dari itu Ryan, tidak pernah menanggapi godaan mereka.
Setelah menemui kenalannya utk dibuatkan setelan jas dan gaun, Ryan bertemu kembali dengan Aria.
“Aku ingin mengajak seseorang untuk menjadi support dalam aksi kita.” ucap Aria pada Ryan. Setelah itu, ia membawa Ryan ke gedung asrama kedua yang merupakan gedung asrama khusus perempuan.
Setibanya di depan sebuah kamar, Aria langsung membuka pintu tersebut yang ternyata tidak dikunci.
Mata Ryan berkedip seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat di balik pintu kamar tersebut.
__ADS_1
Di sana, benar-benar kosong. Tidak ada kursi, meja, televisi, tempat tidur, dan berbagai perabot lainnya. Tempat itu sangat tidak pantas disebut sebagai kamar.
Bahkan, lantai ruangan tersebut masih berupa papan semen yang dingin. Tidak ada keramik yang menghiasi lantai ruangan tersebut.
Bola lampu tergantung di tengah ruangan, menerangi seluruh ruangan. Akan tetapi, cahaya lampu tersebut sama sekali tidak membawa kehangatan ke dalam ruangan. Membuat ruangan terasa dingin.
Aria tampak telah terbiasa dengan pemandangan ini. Tanpa melepas sepatunya, Aria langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
Di dalam ruangan tersebut, ada sebuah ruangan kecil yang letaknya membelakangi pintu masuk. Dalam ruangan kecil tersebut, ada sebuah meja dengan alat-alat perawatan senjata api yang tertata rapi di atasnya.
Di depan meja tersebut, seorang gadis remaja duduk sambil membersihkan sebuah senapan sniper.
Bagi Ryan, gadis tersebut sudah tidak asing lagi. Gadis tersebut adalah Reki, salah satu Butei peringkat S dari kelas Snipe.
Pada sebuah misi dengan tingkat kesulitan tinggi, Ryan dan Reki pernah diminta oleh guru dari Departemen Administrasi Akademik untuk bekerja sama menyelesaikan misi tersebut.
Walau mereka berdua telah bersama-sama mengerjakan Komisi Pribadi selama dua bulan, namun Ryan sama sekali tidak mengenal Reki. Sikap Reki yang selalu dingin dan tak berperasaan inilah yang menjadi penghambatnya.
Ryan pernah mencoba merayunya, tapi hasilnya nol besar. Reki sama sekali tidak bereaksi pada rayuannya. Ia tetap diam tanpa ada ekspresi di wajahnya. Hal ini malah membuat Ryan malu sendiri.
Maka dari itu, selama satu tahun ini, tak seorang pun di SMA Butei pernah dekat dengan Reki.
Selain itu, Reki adalah orang yang sangat pendiam. Ia tidak pernah berbicara sepatah katapun saat tidak diperlukan. Bahkan, hawa keberadaannya juga sangat tipis hingga pada level yang menakutkan.
Dari sinilah, orang-orang di SMA Butei menyebut Reki sebagai gadis robot dan juga gadis tanpa perasaan.
Dengan tangannya yang sangat luwes dan terampil, ia dengan mudahnya membongkar senapan sniper miliknya. Reki lalu menggunakan peralatan yang ada di atas mejanya untuk membersihkan satu demi satu bagian dari senapannya.
Tidak semua Butei dapat melakukan perawatan pada senjatanya sendiri. Ryan adalah salah satunya. Ia selalu menggunakan jasa Amdo untuk melakukan perawatan pada pistol Glock 18 miliknya.
"Aku nggak menyangka kamu benar-benar mengenal Reki. Apakah Reki adalah orang yang akan kamu rekrut sebagai support?" tanya Ryan penasaran.
"Benar." Aria mengangguk sambil melirik ke arah Reki.
"Butei Killer adalah lawan yang licik. Jadi, dalam aksi kejahatannya kali ini juga, kemungkinan besar dia akan menggunakan modus operandi yang sama dengan insiden bom pada bus kemarin, yaitu menggunakan kendaraan Remote Control dan juga bom.”
“Maka dari itu, aku ingin merekrut Reki sebagai support yang terus mengawasi dan memantau sekeliling target lokasi saat kita masuk ke dalam pesta dansa.”
“Hmm … keberadaan Reki memang akan sangat membantu." ucap Ryan sambil memegang dagunya.
Sebagai penembak jitu, Reki memiliki tingkat keahlian yang luar biasa. Dalam radius 2 kilometer, tidak ada yang bisa lolos dari pandangannya. Maka dari itu, memiliki Reki sebagai support sangatlah membantu.
Pada saat yang sama ketika Ryan dan Aria menyelesaikan percakapan mereka, Reki juga telah menyelesaikan perawatan senjatanya. Ia kemudian menoleh ke arah Ryan dan Aria.
__ADS_1
"Reki." Aria berjalan mendekati Reki dengan penuh semangat.
Tanpa basa-basi, Aria langsung membicarakan maksud tujuannya. "Aku ingin menggunakan jasamu pada tanggal 18 April, apakah bisa?"
Tanpa ada perubahan ekspresi pada wajahnya, Reki mengangguk setuju.
Melihat tanggalan Reki, Aria berkata lagi. "Kalau begitu, harganya masih sama seperti dulu. Apa kamu setuju?"
Jelas, ini bukanlah kali pertama Aria menggunakan jasa Reki. Biaya Komisi Pribadi untuk seorang Butei peringkat S tidaklah murah.
Namun, bagi Aria yang seorang bangsawan kaya, ia memiliki dana yang tidak sedikit.
Mendengar penawaran Aria, Reki mengangguk dengan lembut. Ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Oke, sudah diputuskan. Datanglah padaku jam 7 malam di depan gedung Asrama ketiga pada tanggal 18 April, jangan terlambat."
Setelah mengatakannya, Aria segera mengajak Ryan pergi. "Ayo kembali."
Ini pertama kalinya Ryan melihat proses pemberian Komisi Pribadi pada seorang Butei yang berjalan sangat lancar dan singkat.
Biasanya, akan terjadi proses tawar menawar yang cukup panjang saat akan menggunakan jasa Butei lainnya. Tapi kali ini, semua berjalan tidak lebih dari 5 menit.
Ryan menganggukkan kepalanya pada Reki sebagai tanda bahwa dia akan pergi bersama Aria.
Namun, saat Ryan akan pergi, Reki tiba-tiba berbicara. "Ryan-san, berhati-hatilah …"
Ryan dan Aria sangat terkejut mendengar suara Reki.
Ryan kemudian menengok ke arah Reki. Di sana, Reki menatap Ryan dengan tatapan dingin dan tanpa adanya emosi sama sekali.
Reki lalu melanjutkan perkataannya. "Angin yang mengelilingimu mulai berhembus kencang. Dan dalam waktu dekat, kamu akan mengalami banyak hal luar biasa."
Setelah itu, Reki kembali mengelap senapan snipernya dan tidak berbicara lagi.
Melihat hal ini, Aria hanya terdiam dan tidak mengerti maksud Reki sama sekali.
Sementara itu, ucapan Reki ini malah mengingatkan Ryan pada Ramalan Shirayuki.
'Apakah Reki memiliki Kemampuan Khusus yang sama dengan Shirayuki?'
'Walau ucapan mereka berdua berbeda, namun inti dari ucapan tersebut memiliki arti yang sama.'
'Itu berarti, ramalan Shirayuki bukan menyinggung masalah teror bom dalam bus ataupun pertemuanku dengan Aria.'
__ADS_1
'Aku jadi penasaran, hal apa yang akan terjadi padaku di masa depan. Aku benar-benar tidak sabar menantikannya.'
Ryan pun tak ayal tersenyum menyeringai memikirkan hal ini.