Reincarnation Room

Reincarnation Room
Dibuang


__ADS_3

“Graa”


Kabane-kabane dari gerbong khusus mulai bentrok dengan 20 Hunter yang mengejar Ryan. Seketika itu juga, gerbong tersebut menjadi medan pertempuran.


“Arghh!" Para Hunter panik melihat banyaknya kabane yang keluar dari gerbong khusus. Teriakan Hunter dan kabane saling berpadu menjadi satu, menciptakan melodi kematian yang menggema memenuhi gerbong.


“Tembak!”


Dor Dor Dor


“Graa”


Bagaikan binatang buas, Kabane-kabane itu menyerang secara membabi buta. Mereka sama sekali tidak memperdulikan peluru yang ditembakkan para Hunter. Beberapa kabane ada yang tumbang karena tembakan tersebut. Namun, jumlahnya sangat sedikit dan tidak signifikan. Para Kabane yang sudah haus darah itu tak ragu menggigit dan mengoyak leher Hunter. Tidak sampai 10 menit, ke 20 Hunter tersebut tewas.


Tapi, kematian adalah hal yang mewah bagi para korban kabane. Dalam beberapa menit, satu persatu mayat Hunter bangkit. Ke 20 Hunter tersebut kemudian bergabung dengan gerombolan kabane lainnya menuju gerbong selanjutnya.


Saat neraka telah turun di dalam gerbong, Ryan telah berada di atap gerbong. Angin kencang pun berhembus mengibarkan baju dan juga rambutnya. "Haah~ saatnya rencana berikutnya."


Ketika Ryan akan pergi, mendadak ada seseorang yang menyerang Ryan dari belakang. Merasakan keberadaan seseorang di belakangnya, Ryan menengok ke belakang dan melihat sekelebat bayangan dengan cepat melayangkan pukulannya. Tidak bisa menghindar, Ryan pun balas memukul orang tersebut.


Buk


Mereka berdua pun sama-sama jatuh hingga terguling-guling di atas gerbong. Namun orang tersebut lebih cepat bangkit dan langsung menghunuskan sebuah kunai pada leher Ryan yang masih mencoba untuk bangun. Leher Ryan terasa dingin mendapat todongan Kunai. Saat Ryan melihat ke atas, barulah Ryan sadar bahwa orang yang menyerangnya adalah Mumei.


“Kenapa?” Perasaan marah dan juga penyesalan tambak dari nada bicara Mumei. “Kenapa kamu melakukan semua ini!?”


Melihat wajah imut Mumei, Ryan tersenyum seakan tidak memperdulikan amarah Mumei. “Aku nggak nyangka kamu bakalan datang menemuiku secara langsung. Aku tahu kamu pasti merindukanku.”

__ADS_1


Tentu saja, ucapan Ryan membuat Mumei semakin marah. “Hentikan candaanmu! Kenapa kamu tega melakukan semua ini?”


Ekspresi Ryan pun berubah menjadi serius. “Tega katamu? Lalu bagaimana dengan Kakakmu? Dia menebas dadaku sampai aku hampir mati! Kemudian, bagaimana dengan para Hunter? Mereka semua menodongkan senjatanya padaku! Apa aku nggak boleh membela diri? Jangan egois, Mumei …”


“Tapi gara-gara kamu, banyak orang yang mati!” teriak Mumei.


Ryan hanya diam ketika mendengarnya. Ryan sadar, karena perbuatannya, banyak sekali orang yang mati, entah oleh tangannya sendiri, ataupun oleh kabane. Untuk Ryan yang dulunya hanya pekerja kantoran biasa, hari ini adalah pertama kalinya ia membunuh manusia.


‘Entah mengapa, semakin hari, aku semakin memandang enteng kematian. Aku bahkan memiliki pemikiran bahwa membunuh adalah hal yang biasa. Sejak kapan aku jadi seperti ini!? Apakah ini efek samping dari Mystic Eye of Death Perception?’ pikir Ryan.


Setelah terdiam sejenak, Ryan kemudian membuka mulutnya. “Aku percaya bahwa orang yang mati di tangan mereka jauh lebih banyak dari apa yang telah aku lakukan. Kamu seharusnya paham akan hal itu.”


“Membunuh orang tak bersalah, mungkin itu dianggap sebagai sebuah kejahatan di sini. Tapi, membunuh para Hunter ini bukanlah sebuah kejahatan bagiku. Karena jika dibandingkan jumlah orang yang kau bunuh dengan jumlah orang yang mereka telah bunuh, aku yakin mereka lebih banyak dariku.”


“Termasuk Kakak tercinta mu itu!” 


Ryan kemudian melanjutkan ceramahnya. “Sebenarnya kamu tahu kan, seperti apa Amatori Biba itu. Kamu begitu mengagumi Kakakmu, hingga kamu menutup matamu ketika Kakakmu melakukan kesalahan.”


Rian menatap mata Mumei dengan serius. “Aku tahu kamu sudah mengikuti Kakakmu sejak kamu masih kecil. Jadi wajar kalau saat itu kamu nggak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Tapi kamu sekarang sudah beranjak dewasa. Kamu pasti mulai sadar bukan, mengenai apa saja yang Kakakmu pernah lakukan.”


“Tidak! Itu tidak benar! Kakakku adalah pahlawan! Pahlawan tidak pernah salah! Pahlawan tidak memiliki dosa!” bela Mumei.


“Benarkah begitu? Aku nggak percaya kalau kamu nggak pernah mempertanyakan aksi Kakakmu, seperti saat Biba membunuh anak buahnya.” Nafas Mumei berhenti sesaat. Kata-kata ini seakan menggali luka lama yang telah ia pendam dalam-dalam di hatinya.


“Kalau kamu nggak mau mengakuinya, maka biarkan aku yang mengatakannya.” Ryan berkata dengan nada yang tenang. “Amatori Biba bukanlah seorang pahlawan. Pahlawan tidak akan pernah membunuh pengikut ataupun teman seperjuangannya. Tapi lihat, apa yang dilakukan Biba? Dia membunuh anak buahnya sendiri hanya karena mereka sudah nggak berguna lagi baginya.”


Ryan yang pernah menonton Anime Kabaneri The Iron Fortress, tahu bahwa Mumei sebenarnya masih tidak bisa melupakan satu kejadian yang terjadi di masa lalu. Saat itu, teman dekat Mumei yang juga seorang Hunter, ditembak mati oleh Biba. Kejadian ini masih tertanam dalam hati Mumei hingga sekarang. 

__ADS_1


“I-itu … dikarenakan mereka lemah.” Mumei menggertakkan giginya dan berbisik. “Kakak pernah berkata, orang lemah tidak memiliki hak untuk hidup di era seperti ini. Hanya orang kuat lah yang pantas hidup di era ini.”


“Oleh karena itu, aku terus bertarung melawan kabane. Aku ingin berguna bagi Kakak. Karena jika aku lemah, maka Kakak akan membuangku! Seperti halnya orang-orang yang telah Kakak bunuh. Itu semua karena mereka semua lemah!”


Ryan tersenyum. “Karena mereka lemah, jadi mereka boleh mati, benar begitu? Kalau begitu, berdasarkan logikamu, seharusnya nggak masalah dong kalau aku membunuh para Hunter itu. Karena kematian mereka disebabkan oleh diri mereka yang lemah, benar kan?” 


Mumei tercengang mendengar ucapan Ryan. Saat Ryan sedang memandang Mumei, ia melihat sekelebat bayangan seseorang yang menghampiri mereka berdua. 


Jleb


Darah bercucuran seperti air hujan membasahi wajah Ryan.


"Ugh!" Ekspresi rasa tidak percaya bercampur dengan amarah terlihat jelas pada wajah Ryan.


Melihat reaksi Ryan, Mumei tersenyum dengan tubuhnya yang mulai lemas. Ia kemudian menunduk ke bawah dan melihat sebuah pedang telah menembus tubuhnya hingga menusuk perut Ryan.


"Uhuk" Mumei mulai memuntahkan darah dari mulutnya. Perlahan, ia menengok ke belakang. "Ka … kak …"


Di belakang Mumei, Amatori Biba berdiri sambil menusukkan pedangnya ke tubuh Mumei. Ekspresi wajahnya tampak biasa dan datar, seakan tidak peduli sama sekali dengan nasib adik angkatnya itu.


"Ke … napa?" 


Namun Biba tidak menghiraukan pertanyaan Mumei sama sekali. Yang ada di pandangan Biba, hanyalah Ryan yang sedang terbaring di bawah. Ia bahkan tidak melirik Mumei yang menduduki tubuh Ryan sama sekali.


"Aku tidak menyangka kamu dengan cepat menggeser Mumei. Akhirnya tusukanku meleset beberapa centi dari jantungnya, kamu benar-benar hebat." Setelah mengucapkannya, Biba menarik pedangnya dari dada Mumei. Seketika itu juga, tubuh Mumei kehilangan kekuatannya dan jatuh menimpa tubuh Ryan.


Biba kemudian mengangkat pedangnya setinggi mungkin, seakan ia ingin memberikan serangan pamungkas.

__ADS_1


__ADS_2