
Cahaya peringatan berwarna merah terus berkedip-kedip pada layar komputer yang ada di depan Ryan dan Alisa. Di saat yang sama, lampu peringatan di ruang komputer mulai menyala.
Alisa terkejut dengan semua ini. “Gawat, kita ketahuan!”
“Jadi begitu ...” Ryan akhirnya paham kenapa tiba-tiba sirine berbunyi.
"Mereka telah menaruh restriksi untuk kata kunci Alpha dan Amor. Makanya sirine berbunyi secara otomatis ketika aku mencari data dengan kata kunci tersebut."
Alisa yang sudah kembali tenang, mulai menanyakan rencana Ryan. "Terus, bagaimana? Apa yang akan kamu lakukan? Sebentar lagi mereka akan datang kemari membawa banyak pasukan."
Ryan bergegas melepas kabel USB dari komputer dan melihat denah lokasi tempat eksperimen Alpha pada layar tablet.
"Jika kita mundur sekarang, maka semua usaha kita akan sia-sia. Maka dari itu, aku akan menerobos semuanya dan langsung menuju tempat ini!" ucap Ryan sambil menunjuk sebuah lokasi pada layar tablet.
Melalui file dokumen rahasia yang ia salin, Ryan akhirnya tahu bahwa Kapten Alexei sebelumnya telah menempatkan sejumlah besar tentara pada sebuah ruang kosong untuk menipu orang-orang cabang Timur Jauh.
Dengan menyebarkan desas-desus mengenai -Alpha-, Kapten Alexei membuat seolah-olah ruang kosong tersebut adalah tempat di mana cabang Rusia menyimpan rahasia besar mereka.
Jika tidak ada Alisa, Ryan mungkin akan langsung pergi ke tempat yang ia pelajari pada saat Konferensi Peperangan sebelumnya dan jatuh ke dalam perangkap Kapten Alexei.
Oleh karena itu, kali ini Ryan sangat beruntung bisa mendapat informasi sepenting ini dengan bantuan Alisa.
Saat Ryan sedang berpikir, Alisa kembali bertanya. "Bagaimana caramu untuk pergi dari sini? Semua ruangan sudah terkunci otomatis saat sirine berbunyi."
Mendengar pertanyaan Alisa, Ryan tersenyum. "Apa kamu lupa bagaimana caraku kabur waktu itu?”
Setelah itu, Ryan berjalan ke depan pintu besi. Ia kemudian mengeluarkan kembali Moon Blade-nya dan menggenggamnya dengan erat.
Sepasang mata hitamnya dengan cepat berubah menjadi biru. Dengan matanya tersebut, ia memandang pintu di depannya dengan tatapan sedingin es.
Tanpa menunggu waktu lama, Moon Blade di tangan Ryan berubah menjadi cahaya putih kebiruan yang memiliki aura dingin menusuk tulang. Bagai suara pancuran yang mendesis, Ryan menebas pintu di depannya.
Slash Slash Slash
Seketika itu juga, pintu besi yang berat itu terpotong berkeping-keping dan berubah menjadi puing-puing.
__ADS_1
Dengan hancurnya pintu tersebut, Ryan dan Alisa segera keluar dari ruang komputer. Akan tetapi, begitu mereka keluar, mereka mendengar derapan langkah kaki dari kejauhan yang terdengar sangat tergesa-gesa.
Ryan dan Alisa pun tahu, bahwa itu adalah suara langkah kaki dari para tentara cabang Rusia yang sedang bergegas menuju kemari.
“Segera pergi ke tempat -Alpha- berada! Aku akan tetap di sini untuk menghalangi mereka!” ucap Alisa.
“Apa maksudmu?” Ryan menatap Alisa dengan ekspresi seolah tidak setuju dengan keputusan Alisa.
“Kalau kamu yang pergi ke sana sendirian, dengan kecepatan dan juga kemampuanmu, aku yakin kamu hanya butuh beberapa menit untuk tiba di tempat di mana -Alpha- berada.”
“Tapi kalau aku juga ikut denganmu, dengan kecepatanku yang sekarang, aku hanya akan menjadi beban bagimu.” Alisa menatap lurus ke arah Ryan dan berkata dengan ekspresi sangat serius. “Jadi, aku serahkan -Alpha- padamu. Sementara itu, aku akan menangani para tentara itu dan mengulur waktu untukmu!”
Melihat keseriusan yang belum pernah ia lihat dari diri Alisa, akhirnya Ryan luluh pada determinasinya. “Haah~”
“Baiklah, aku akan pergi ke tempat -Alpha- sendirian. Tapi ingat pesanku, jangan mati! Jangan buang nyawamu sia-sia di tempat seperti ini. Apalagi, kamu masih belum menuntaskan balas dendammu.”
“Kalau keadaan semakin berbahaya, lari lah.”
“Kalau kamu sampai mati di tangan mereka, maka akan ku hancurkan dunia ini!” Ryan baru saja bisa akrab dengan Alisa, tentu saja ia tidak ingin Alisa mati demi dirinya.
‘Aku pasti akan sangat sedih dan marah kalau sampai itu terjadi, Alisa ...’
‘Jangan-jangan …’ Ryan seperti mendapat pencerahan mengenai kondisinya.
‘Jadi begitu, hahahaha … mungkin dengan cara ini, aku bisa tetap mempertahankan sisi kemanusiaanku saat aku sudah semakin tenggelam dalam kekuatan Mystic Eye of Death Perception!’ pikir Ryan.
Di saat yang sama, Alisa merasa tersentuh dengan ucapan Ryan. Jantungnya pun berdegup dengan kencang. ‘Entah mengapa, aku tidak ingin membuatnya kecewa dan sedih. Maka dari itu, bagaimanapun caranya, aku harus tetap hidup!’
“Tenanglah, aku punya cara untuk mengatasi semua ini.” ucap Alisa.
Mendengar ini, Ryan menjadi sedikit lega. “Berhati-hatilah! Ingat pesanku, jangan mati!” Meninggalkan kalimat ini, sosok Ryan mendadak menghilang sepenuhnya dari tempat itu.
Setelah Ryan menghilang, Alisa perlahan menunjukkan senyuman yang sangat langka. Kemudian ia berbalik menghadap tentara bersenjata lengkap yang datang menghampirinya.
~***~
__ADS_1
Di lorong yang futuristik, sosok Ryan melesat bagaikan bayangan kabur.
Jika Alisa mengikuti Ryan, maka untuk menyamai kecepatan Alisa, Ryan akan menurunkan kecepatannya. Dan ini akan membuat perjalanan mereka lebih memakan waktu. Jadi, keputusan Alisa untuk tidak mengikuti Ryan sudah sangat tepat.
Setelah beberapa menit, Ryan akhirnya sampai di tujuannya. Berdiri di depan sebuah pintu besi, Ryan kembali menghunuskan belatinya. Bagaikan memotong tahu, belati tersebut menyambar pintu besi di depannya dengan mudah.
Slash Slash Slash
Seketika itu juga, pintu tersebut bernasib sama dengan pintu ruang komputer tadi.
Tet Tet Tet Tet
Di saat yang sama, suara sirine berbunyi nyaring. Cahaya merah pun berkedip-kedip pada lampu yang ada di atas pintu tersebut.
Tanpa menunggu waktu lama, Ryan segera masuk ke dalam ruangan remang-remang yang ada di depannya.
Di dalam ruangan yang agak gelap ini, Ryan melihat sekelilingnya. Di sana, ada banyak sekali tangki kaca yang berisi sebuah cairan yang terlihat terus mengeluarkan gelembung udara.
"Ini seperti laboratorium rahasia yang biasanya melakukan eksperimen tidak manusiawi, seperti yang biasanya muncul dalam film-film bertema monster." gumam Ryan.
Ryan terus berjalan menyusuri laboratorium tersebut. Tangki demi tangki ia lewati satu persatu.
Drap Drap Drap Drap
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki yang berjumlah banyak mulai terdengar dari arah pintu masuk.
Langkah kaki Ryan terhenti sesaat begitu ia mendengar suara itu. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya menuju tempat terdalam di laboratorium tersebut.
Ryan berjalan dengan tenang dan tanpa beban. Seakan ia tidak memperdulikan orang-orang yang ada di belakangnya.
Ryan terus berjalan, hingga langkahnya terhenti di sebuah tangki air besar yang ada di ujung laboratorium.
Melihat apa yang ada di dalam tangki tersebut, Ryan terkejut. Ia pun akhirnya paham mengapa nama project ini adalah Amor.
"Jadi begitu ya …"
__ADS_1
"Inilah wujud asli dari -Alpha- …"
"Dan juga penyebab Venus menyerang cabang Rusia …"