Reincarnation Room

Reincarnation Room
Ronde Kedua Dengan Friagne (II)


__ADS_3

Di depan Friagne, tampak sebuah perisai pelindung membentang. Melihat hal seperti ini, Ryan terdiam sesaat seakan memikirkan sesuatu. Dan tak lama kemudian, mata Ryan tertuju pada jari jemari Friagne.


Di salah satu jarinya, terlihat sebuah cincin yang memancarkan cahaya redup.


"Sepertinya kamu menyadarinya ya …"


Friagne tersenyum dan mengangkat tangannya untuk menunjukkan cincin di jarinya.


"Ini adalah salah satu Treasure Tool (Hogu) yang aku banggakan. Cincin ini bernama Azure. Efeknya adalah menulifikasi api. Selama aku memilikinya, segala jenis serangan api, tidak akan mempan padaku."


Dengan kata lain, Friagne berani meledakkan boneka miliknya dalam jarak yang sangat dekat karena ia memiliki cincin Azure, sehingga Friagne tidak takut untuk terluka. 


Kemudian, Friagne mengangkat tangan lainnya dan menunjukkan sebuah lonceng kaca pada Ryan.


"Treasure Tool (Hogu) ini disebut Dance Party. Dengan menggunakan lonceng ini, aku dapat dengan bebas mengontrol semua objek ciptaanku seperti Rinne, dan juga menguraikannya menjadi Power of Existence."


"Maka dari itu, aku dapat membuat banyak Rinne meledak secara beruntun tanpa perlu menggunakan Mantra Tak Terbatas untuk memanipulasinya."


Bisa dibilang, semua bom bunuh diri dari pasukan bonek Friagne adalah efek dari Treasure Tool (Hogu).


Seperti nama julukannya, Hunter, Friagne telah memburu banyak Treasure Tool (Hogu) baik dari tangan Flame Haze maupun Crimson Denizen lainnya. Hal inilah yang membuatnya menjadi salah satu Crimson Lord terkuat di zaman modern.


"Aku memiliki banyak koleksi Treasure Tool (Hogu) yang telah aku kumpulkan selama bertahun-tahun. Dan tidak pernah ada satupun Treasure Tool (Hogu) incaranku yang tidak bisa aku dapatkan."


Friagne lalu tertawa dan berkata, "Itu juga berlaku untuk Reiji Maigo. Kamu tidak memiliki kualifikasi untuk memilikinya. Hanya Crimson Lord seperti diriku lah, yang pantas memilikinya."


Mendengar ucapan Friagne, Ryan juga tertawa, "Hahahaha …"


"Semua kata-katamu benar-benar klise, seperti seorang penjahat yang mati di awal-awal sebuah kisah."


"Tapi, dari semua perkataanmu tadi, aku merasa julukan Hunter sangat nggak cocok untukmu. Mungkin, kamu lebih cocok jika menggunakan julukan Bandit atau Perampok, karena hobimu yang suka merebut paksa Treasure Tool (Hogu)."


Ryan menunjuk jari telunjuknya ke arah Friagne dan menggerakkannya seakan menantang Friagne untuk segera maju melawannya.


"Baiklah, ayo kemari. Jangan banyak bacot tapi nggak ada aksinya. Jika kamu memang bisa merebutnya dari tanganku, maka rebutlah!"


Gerakan dan kata-kata yang provokatif Ryan langsung membuat senyum anggun Friagne sedikit terdistorsi.


Tak lama kemudian, Friagne menghela nafas panjang. "Ternyata memang sia-sia saja berusaha berbicara sopan dengan manusia di kota ini. Benar-benar tidak berkelas."

__ADS_1


Aura yang mematikan tiba-tiba mengamuk dari tubuh Friagne. "Kalau begitu, biarkan aku membunuhmu terlebih dahulu!"


Dengan segera, banyak api putih pucat muncul di sekitar Friagne dan berubah menjadi pasukan boneka. Bagaikan peluru kendali, boneka-boneka tersebut langsung menembak dengan keras ke arah Ryan 


"Menari lah, Boneka-bonekaku yang lucu ..."


Friagne tampak seperti seorang maestro berkelas yang sedang mengarahkan sekelompok grup orkestra di sebuah Pesta Dansa. Sambil menggerakkan tangannya dengan santai layaknya seorang konduktor, lonceng yang ada di tangannya bergoyang.


Klinting Klinting


Dalam nada dering yang merdu, tubuh boneka-boneka yang telah berada di dekat Ryan langsung bersinar dengan cahaya yang menyilaukan.


Seperti sebelumnya, boneka-boneka yang telah berada dalam jarak tertentu dengan target langsung meledak. Satu demi satu ledakan terpicu dan bergabung menjadi satu, menciptakan ledakan yang dahsyat.


Menghadapi ledakan dahsyat itu, jika Ryan mencoba bertahan dengan sekuat tenaga, cepat atau lambat Prana yang digunakan Ryan untuk kekuatan pertahanan akan habis. Dan kalau itu terjadi, maka Ryan sudah bisa dipastikan akan menemui ajalnya untuk kedua kalinya.


Untuk itu, satu-satunya pilihan adalah menghindari semuanya. Dengan kecepatan Ryan, selama jaraknya tidak terlalu dekat, Ryan dapat menghindari semua ini.


Namun, menghindar saja tidak cukup. Ryan harus bisa menyerang balik Friagne. Akan tetapi, di belakang Friagne, masih banyak persediaan boneka yang belum bergerak menyerang. 


Jika Ryan nekat menghindar dan melaju untuk menyerang Friagne, maka kejadian tadi akan terulang kembali. Pada akhirnya, Ryan pasti akan kembali kalah.


'Seandainya Wu Xiaofei ataupun Amagiri Ayato melawan Friagne, mungkin mereka bisa menang tapi dengan susah payah dan menerima luka yang cukup parah.' batin Ryan sambil menghindari ledakan demi ledakan yang terjadi di dekatnya.


Walau Ryan berpikir begitu banyak hal, namun ia sama sekali tidak kehilangan fokus.


Tak lama kemudian, Ryan sepertinya telah memutuskan sesuatu dan berkata, "Baiklah, ini bukan lagi sebuah pertandingan di mana aku harus menekan Kemampuan Khususku. Sudah waktunya aku serius."


Setelah mengatakan hal seperti itu, Moon Blade di tangan Ryan tiba-tiba menghilang dan digantikan oleh sebuah Orga Lux berwarna putih bersih.


Shiiiiii


Cahaya suci nan indah bersinar dari Urm Manadyte berwarna putih bersih, dan langsung menerangi sekeliling.


Pada saat ini, Mana yang sangat kaya muncul dari Urm Manadyte. Seketika itu, Mana tersebut berubah menjadi bilah putih murni seperti pedang ringan dengan kepadatan energi yang tinggi. 


Senjata indah dan suci ini, kini ada di tangan kanan Ryan.


"Apa itu?" Melihat pemandangan ini dengan jelas, Friagne tidak bisa menahan diri untuk tidak tertegun.

__ADS_1


Detik berikutnya, hawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri tiba-tiba menyerang punggung Friagne dan membuatnya sedikit merinding ketakutan.


Karena di depannya, Friagne melihat sepasang mata biru sedingin es.


Ini bukan lagi sebuah pertandingan antar murid sepertu di dunia The Asterisk War. Di dunia, larangan Fan Xinglou untuk tidak menggunakan Mystic Eye of Death Perception dalam pertarungan sudah tidak berlaku lagi.


Oleh karena itu, Ryan sekarang dapat menggunakan kekuatan penuhnya tanpa ragu. Tentu saja ini diluar Stigma.


Mystic Eye of Death Perception Ryan mulai berkilauan cahaya biru yang dingin.


Weeeng


Orga Lux putih murni di tangan Ryan mulai bergetar.


Aliran Prana tak tertandingi seperti sungai yang bergolak, meresap ke dalam Seraph, dan membuat Urm Manadyte berwarna putih bersih itu bersinar lebih terang dari sebelumnya.


Dengan segara, bilah pedang putih murni itu memanjang tanpa henti hingga beberapa ratus meter. Bahkan panjang bilah pedang Seraph sampai menembus awan. 


Kini, pedang berukuran besar itu diangkat Ryan ke atas kepalanya.     


Melihat semua ini, raut wajah Friagne menjadi pucat.


Tanpa henti, Friagne terus mengirimkan pasukan bonekanya melakukan bom bunuh diri.


Namun, di bidang penglihatannya sekarang, Ryan dapat melihat langsung kematian.


Tanpa ada keraguan, Ryan mengayunkan pedang raksasa itu ke depan dengan cepat.


Slash


Bilah pedang putih raksasa itu dengan mudahnya memotong semua boneka yang ada di depannya, memotong aliran angin di depannya, dan bahkan memotong aliran sungai.


Setelah menyingkirkan hama-hama di depannya, Ryan menatap wajah Friagne yang telah pucat sejak tadi.


Ryan pun kembali mengayunkan pedang raksasanya.


"Aaaaaaah!" Dalam teriakan penuh keputusasaan, Friagne melihat pedang raksasa putih bersih itu jatuh dari langit dan mengenai tubuhnya.


Slash

__ADS_1


__ADS_2