
Di alam terbuka yang dipenuhi reruntuhan gedung, suasana hening masih setia menemani kegelapan malam.
Tak lama kemudian, bayangan hitam secara bertahap mulai muncul satu persatu mendekati reruntuhan ini. Bayangan tersebut adalah Aragami Kecil, Ogretail.
"Groooaar …"
"Groooaar …"
Mereka mengaum dengan nada rendah sambil mencari makan di sekitar reruntuhan.
Saat mereka mencari makan, mereka berhasil menemukan 3 mayat Vajra yang dibunuh oleh Dyaus Pita (Heavenly Father) sebelumnya.
Tidak hanya itu, mereka juga menemukan potongan rahang bawah Dyaus Pita (Heavenly Father) tergeletak dan masih memancarkan aura kesuraman.
Bagi Aragami Kecil seperti Ogretail, sepotong daging dari Aragami Deusphage sangatlah berharga. Mereka dapat tumbuh menjadi lebih kuat dengan memakan daging Aragami yang lebih kuat dari mereka.
Dengan cepat, sekelompok Ogretail langsung mengerumuni potongan rahang bawah itu. Suara gigitan binatang buas pun menggema di reruntuhan tersebut.
Di sebuah bangunan kosong tak jauh dari tempat itu, Alisa melihat aksi sekelompok Ogretail tersebut sambil bernafas lega.
"Setidaknya, tempat ini akan aman untuk sementara waktu. Semoga saja daging-daging tersebut cukup untuk mereka." gumam Alisa. Ia kemudian melihat ke arah Ryan yang masih tidak sadarkan diri. Tampak wajah Ryan seperti sedang kesakitan. Ia terus mengeluarkan keringat di dahinya.
Luka-luka yang diderita Ryan tidak seserius yang dibayangkan. Selain luka robek yang cukup besar di bagian perut, luka lainnya hanyalah luka ringan.
Pendarahan yang terjadi pada luka robek itu juga sudah lama berhenti. Jadi, secara logika, seharusnya Ryan tidak akan memasang wajah kesakitan saat tidak sadarkan diri seperti sekarang.
Namun, kenyataannya, Ryan tampak sangat kesakitan. Alisa yang biasanya dingin dan cuek pun, tak henti-hentinya mengkhawatirkan kondisi Ryan.
"Apa yang sedang terjadi padamu, Ryan? Kenapa kamu masih belum bangun juga?"
Mata Alisa kemudian tertuju pada punggung tangan kanan Ryan. Sama-samar, terlihat sebuah tato misterius pada punggung tangannya. Tato tersebut sangat sulit untuk dilihat tanpa pengamatan yang tajam.
"Ketika tato ini bercahaya, tubuh Ryan mendadak diselimuti api putih. Kekuatannya pun langsung melonjak drastis, hingga Dyaus Pita (Heavenly Father) ketakutan dan memilih untuk lari."
"Ini sangat aneh … apakah ini sumber kekuatan Ryan selama ini?"
__ADS_1
Stigma memiliki efek samping yang cukup fatal, yaitu membebani tubuh penggunanya. Tak hanya tubuh fisik saja yang terbebani, namun juga jiwanya. Maka dari itu, Ryan langsung tidak sadarkan diri akibat beban yang ia rasakan.
Tentu saja Alisa tidak tahu tentang semua ini. Ia hanya tahu bahwa kondisi Ryan sangatlah gawat dan kemungkinan besar tidak akan bangun dalam waktu yang dekat.
"Sampai Ryan bangun, aku akan melindunginya! Aku tidak akan meninggalkan mu, sama seperti apa yang kamu lakukan kepadaku …"
Alisa mengingat kembali aksi Ryan yang melindunginya dari Dyaus Pita (Heavenly Father). Walau dengan tubuh penuh luka, Ryan tetap berdiri di depannya tanpa asa rasa takut.
"Dia juga berkata bahwa aku imut …" pipi Alisa pun memerah mengingat semua ini.
Ia kemudian mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, lalu membasahinya dengan air dari botol minum yang ia bawa. Dengan sapu tangan basah itu, Alisa membasuh seluruh keringat di dahi Ryan sekaligus membersihkan darah yang ada di tubuhnya.
Walau begitu, nafas Ryan masih tetap berat dan tidak teratur, membuat mulutnya menjadi kering.
Melihat hal ini, Alisa memberi Ryan minum dari botolnya. Namun air tersebut selalu mengalir keluar dari mulut Ryan.
Tidak mau menyerah, Alisa memasukkan seteguk air ke dalam mulutnya. Ia kemudian mengangkat punggung Ryan dan mendekatkan bibir merahnya ke mulut Ryan.
Bibir Alisa menempel dengan lembut di mulut Ryan. Segera setelahnya, Alisa mengeluarkan air di mulutnya secara perlahan.
Dengan cara ini, Ryan akhirnya dapat meminum air yang diberikan Alisa.
Alisa begitu senang dengan hal ini. Ia kemudian beberapa kali memberi Ryan minum dengan cara yang sama. Tanpa ia sadari, Alisa sangat menikmati momen ini.
~***~
Di saat Alisa sedang merawat Ryan, kesadaran Ryan kini berada di sebuah tempat yang sangat aneh.
"Di mana ini?" Ryan mencoba melihat sekelilingnya, namun yang terlihat hanya hamparan laut yang luas.
Hanya saja, laut ini berbeda dengan laut pada umumnya. Jika pada umumnya, laut memiliki warna biru yang indah, berbeda dengan laut yang Ryan injak ini. Laut ini berwarna hitam dan sangat gelap. Laut ini begitu tenang, tidak ada angin dan juga ombak
Berdiri di atas laut hitam, Ryan mencoba untuk berjalan maju perlahan. Lingkaran riak pun muncul di bawah kakinya saat ia melangkah.
Cepluk
__ADS_1
Lingkaran ini terus menyebar ke segala arah dengan cepat. Mendadak, permukaan air di dalam lingkaran riak ini berubah menjadi sebuah cermin raksasa.
“Ini …” Ryan cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dalam cermin tersebut, terdapat sebuah gambar seorang Pria tua yang mengenakan kain pocong. Di sekelilingnya, ada banyak orang yang mengangkat tubuh Pria itu dan memindahkannya ke keranda mayat.
“Papa …” Melihat adegan yang ada pada cermin laut hitam itu, Ryan merasa hampa.
“Apa yang terjadi? Kenapa aku nggak merasakan apa-apa? Padahal aku sangat menyayangi Papaku, bahkan saat itu, aku menangis selama beberapa hari. Tapi kenapa sekarang aku tidak nggak merasa sedih sama sekali? Seakan, aku sudah terbiasa melihat kematian …”
Setelah mengatakannya, Ryan akhirnya sadar. “Jadi begitu, ini semua karena Mystic Eye of Death Perception! Pantas saja aku merasa bebas dan bahagia ketika membantai seluruh lawanku.”
“Dan sekarang, perlahan perasaanku mengenai kematian menjadi semakin kabur! Kalau begini terus, lama kelamaan, aku akan berubah menjadi pembunuh berdarah dingin!”
“Aku nggak mau berubah menjadi seperti itu! Aku masih ingin menikmati kehidupan keduaku ini!”
Ryan berusaha mencari jalan keluar dari hal ini. Tetapi setelah beberapa jam berpikir, ia masih tidak menemukan jawabannya.
"Baiklah, nanti akan aku pikirkan lagi. Yang terpenting sekarang, aku ada di mana? Bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini?"
Ryan kemudian kembali melangkah ke depan.
Cepluk
Dalam sekejap, gambar yang ada di bawah Ryan berubah menjadi adegan di mana kepalanya ditebas oleh begal.
"Hmm?" Ryan kembali berjalan ke depan. Di setiap langkahnya, gambar yang ada di bawah kakinya akan berubah. Mulai dari adegan di mana ia pertama kali membunuh Kabane, hingga adegan ketika ia membunuh Roy.
Melihat semua adegan ini, Ryan akhirnya paham di mana ia sekarang berada.
"Ini adalah jiwaku. Dan semua yang ada di lautan hitam ini adalah rekaman kematian. Semakin banyak aku mengakumulasi kematian, semakin aku menjadi terbiasa dengan kematian."
"Kalau saja aku nggak memiliki Mystic Eye of Death Perception, mungkin rekaman kematian ini nggak akan sebanyak ini. Yang terekam mungkin hanya beberapa kematian paling mengena di hidupku."
"Tapi, ketika aku mendapatkan mata ini, maka jiwaku akan bergabung dengan Mystic Eye of Death Perception, sehingga membuat jiwaku menjadi rusak dan terus menerus merekam setiap kematian yang aku lihat."
Setelah memahami semua ini, Ryan perlahan tenggelam ke dalam laut hitam ini. Seketika itu juga, tubuh Ryan di dunia nyata mulai membuka matanya.
__ADS_1