
Ketika Ryan sedang berpikir sambil melihat buku panduan, ia mendengar suara langkah kaki yang bergerak dari percabangan jalan yang ada di depannya.
Jika Ryan terus berjalan, ia akan menabrak orang yang berlari tersebut. Untuk menghindarinya, Ryan memilih berhenti.
Beberapa detik kemudian, dari arah pertigaan lorong, muncul seorang gadis remaja yang berlari dengan nafas tersengal-sengal.
Gadis remaja tersebut mengenakan seragam wanita SMA Butei. Seragam tersebut memiliki warna dasar putih, yang dibalut dengan warna merah pinggirannya.
Saat gadis remaja itu melewatinya, roknya berkibar bebas di udara, hingga pahanya yang putih mulus di bawah roknya terlihat jelas.
Rambut hitam panjang bagai air terjun yang dimiliki gadis tersebut juga bergoyang-goyang terkena hembusan angin.
Dengan segera, gadis cantik itu pergi melewati tubun Ryan. Namun, yang menjadi masalah bukan ini, tetapi segerombolan remaja dengan dandanan nyentrik mengejar gadis cantik tadi. Mereka terlihat seperti berandalan yang biasa ada dalam anime..
"Hei, jangan lari!"
"Hahaha, kamu tidak akan bisa lolos dari kami!"
“Menyerahlah! Kamu tidak akan bisa lari dari pria kuat seperti kami!”
"Betul sekali!"
“Hahahaha …”
Dengan tawa vulgar seperti itu, sekelompok berandalan dengan tindik dan tato itu berlari.
Melihat hal ini, Ryan akhirnya sadar mengapa gadis cantik tadi lari. Sudah jelas ia telah diganggu oleh para berandalan ini.
"Bahkan hal seperti ini juga terjadi di SMA Butei?"
Ryan sejenak berpikir dan merasa semua hal ini wajar. Karena keeksklusifan Butei, banyak murid yang mengaku memiliki kemampuan bertarung, mendaftar masuk ke SMA Butei Tokyo untuk menemukan masa depan yang menurut mereka cocok dengannya.
Tak terkecuali dengan murid-murid nakal dan berandal. Selama mereka lulus tes, maka mereka akan diterima masuk SMA Butei Tokyo. Dengan memanfaatkan status mereka sebagai murid Butei, mereka mengira bisa berbuat seenaknya dan melakukan hal-hal yang tidak baik secara sembunyi-sembunyi.
"Kalau saja yang kalian kejar bukan seorang gadis cantik, mungkin aku nggak akan turun tangan." gumam Ryan.
Saat para berandal tersebut melewati Ryan, dengan cepat tangan Ryan memukul tengkuk belakang mereka satu persatu. Saking cepatnya, para berandal itu sampai tidak menyadari gerakan Ryan. Alhasil, para berandalan tersebut langsung jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.
Tanpa melihat tumpukan tubuh berandal yang berserakan di lorong sekolah, Ryan terus berjalan ke depan sambil membaca buku panduan SMA Butei.
Di sisi lain lorong, gadis cantik yang tadi sedang di kejar para berandalan itu, mengintip aksi Ryan dari kejauhan. Ia pun sangat tercengang melihat Ryan mengalahkan para berandalan itu secara instan, bahkan ia tidak tahu kapan Ryan bergerak.
Ryan sadar bahwa gadis cantik tadi telah melihat semua ini. Namun Ryan berpura-pura tidak tahu agar terlihat keren.
‘Kalau nggak salah, gadis tadi merupakan salah satu anggota harem sang protagonis.’
‘Sepertinya, aku akan memulainya dari mu, gadis miko, hehehehe … ‘ pikir Ryan sambil berjalan dengan santai menuju gedung olahraga.
~***~
Tak butuh waktu lama, Ryan tiba di depan sebuah gedung.
__ADS_1
"Apakah ini tempatnya?" Ryan kembali melihat peta yang ada dalam buku panduan. Setelah ia yakin bahwa ini adalah tempatnya, Ryan segera membuka pintu dan masuk ke dalam.
Di dalam gedung olahraga, telah banyak murid-murid yang berkumpul. Mereka saling berkelompok dan berbincang satu sama lainnya.
Karena Ryan bukan berasal dari dunia ini, Ia jadi tidak mengenal satupun dari mereka. Alhasil, Ryan hanya bisa berdiri diam menyendiri di tengah kerumuman murid-murid baru ini.
Walau Ryan hanya berdiri diam, mata Ryan terus mengawasi sekelilingnya. Ia melihat semua murid di sini telah membawa senjata mereka seperti pistol, pisau, pedang, dan
Menurut peraturan SMA Butei, murid-murid diwajibkan membawa pedang dan senjata api sendiri.
Lagipula, yang disebut Butei adalah Detektif Bersenjata, dan membawa senjata adalah prinsip dasarnya. Jadi dalam tes pun, mereka tetap harus membawa senjata secara individu.
Saat sedang melihat-lihat, Ryan secara tidak sengaja melihat protagonis dunia ini, Tohyama Kinji, di antara kerumunan tersebut. Ia tampak sedang memeriksa kondisi pistol yang ia bawa.
“Walau aku nggak terlalu ingat plot dari anime ini, tapi aku masih ingat dengan wajah sang protagonis. Aku harap aku bisa bertarung dengannya …” Mulut Ryan pun tersenyum lebar memikirkan hal ini.
Beberapa saat kemudian, dari pintu masuk gedung olahraga, masuk seorang wanita dengan pedang panjang di belakangnya.
Wanita itu kemudian berbicara dengan suara lantang. “Semua peserta tes masuk kelas Assault, ikut saya ke gerbang sekolah!”
Mendengar perintah wanita itu, semua murid yang ada di dalam gedung olahraga bergegas keluar menuju gerbang sekolah.
Di depan gerbang sekolah, telah menunggu sebuah bus yang cukup besar untuk mengangkut para peserta tes. Dengan cepat, para peserta tes, termasuk Ryan, masuk ke dalam bus menuju tempat tes.
Tak sampai 15 menit, bus tersebut tiba di sebuah gedung terbengkalai.
Satu persatu peserta tes berseragam SMA Butei keluar dari bus dan melihat ke arah gedung terbengkalai. Mereka pun saling padangan dengan teman mereka. Kecemasan
"Mengapa kita dibawa kami ke sini?"
“EH! Mustahil!”
“Bagaimana mungkin?!”
Satu persatu peserta tes mulai khawatir tentang hal itu.
Ryan yang ada di tengah kerumunan, hanya diam melihat bangunan terbengkalai yang ada di depannya.
Saat suara para peserta tes memuncak dan makin ramai, mendadak terdengar suara tembakan.
DOR
Mendengar suara ini. Semua peserta tes terkejut. Beberapa dari mereka bahkan secara refleks memegang senjatanya dan bersiap untuk menarik senjatanya.
Dari dalam bus, berjalan seorang wanita dengan pedang di belakangnya, menenteng sebuah Shotgun di bahunya.
Wanita itu memandang sekelilingnya dengan tatapan mata yang ganas "Jika kalian ingin mati, kalian bisa terus ribut."
Melihat wanita yang sangat marah ini, suasana pun menjadi hening. Tidak ada yang berani berbicara lagi.
Wanita itu kemudian memperkenalkan dirinya. "Aku Ranbyou. Kamu bisa memanggilku Instruktur, karena kalau kalian diterima masuk ke kelas Assault, maka aku akan melatih kalian tiga tahun ke depan."
__ADS_1
“Aku bertanggung jawab atas kelas Assault. Jika kalian ingin masuk kelas Assault, maka tunjukkan padaku, apakah kalian pantas masuk kelas ini!”
“Karena di kelas ini, tingkat kematiannya cukup besar. Jadi, jangan salahkan aku jika kalian mati.”
Mendengar ini, satu persatu peserta tes menelan ludahnya.
Ryan tahu apa yang dikatakan Ranbyou ada benarnya. Ia tidak menakut-nakuti para peserta tes, karena inilah kenyataan yang terjadi di lapangan.
SMA Butei Tokyo didirikan untuk melatih Butei secara profesional. Meski sebagai sekolah, SMA Butei memiliki kurikulum umum yang sama dengan sekolah umum lainnya, tapi selain itu, murid-murid SMA Butei juga perlu mengenyam pendidikan sebagai Butei.
Oleh karena itu, berdasarkan profesi yang berbeda, SMA Butei memiliki beberapa penjurusan kelas.
Kelas yang mempelajari dan mengembangkan kemampuan Detektif, seperti penalaran dan juga penyelidikan, disebut Inquesta.
Kelas yang mempelajari cara mengumpulkan informasi berdasarkan tindakan dan juga cara menyabotase organisasi kriminal, disebut Lezzard.
Kelas yang mempelajari pemberian dukungan komunikasi untuk semua aksi Butei dan dapat melakukan analisa berdasarkan data informasi yang mereka dengar, disebut Connect.
Kelas yang mempelajari kegiatan pengobatan sekaligus melatih staf Rumah Sakit Butei, Ambulance.
Lalu, kelas yang khusus melatih muridnya untuk mahir dalam mengendarai apapun, seperti kapal, pesawat, dan alat transportasi lainnya, Logi.
Setiap murid Butei harus memilih penjurusannya di awal tahun pertama. Namun, kelas yang akan diikuti Ryan tidak termasuk dari kelas-kelas tadi.
Reincarnation Room telah menentukan bahwa Ryan harus masuk kelas Assault, di mana kelas ini lebih fokus pada penangkapan dan penyerangan pelaku kriminal. Kelas ini terkenal sebagai kelas paling berbahaya di SMA Butei.
Berdasarkan data yang ada selama ini, 3 dari 100 orang akan mati saat menjalankan misi.
Murid lainnya secara alami paham tentang kondisi kelas Assault sebenarnya. Mereka sama sekali tidak meragukan ucapan keraguan Ranbyou.
“Tentu saja aku tidak peduli hidup dan mati kalian. Tapi yang pasti, jika kalian tidak mendengarkanku secara serius, akan ku pastikan kalian mati sekarang!”
Mata Ranbyou melirik ke setiap murid yang ada di depannya. "Siapa yang mau mencobanya?"
Wajah para murid yang tadi mengeluh pun menjadi pucat mendengarnya. Tidak ada satupun murid yang berani menjawab tantangan Ranbyou.
"Karena tidak ada yang tidak setuju, maka aku akan langsung masuk ke topik kita kali ini."
Ranbyou menyipitkan matanya dan berbicara dengan keras. "Kalian selanjutnya akan menjalani tes masuk kelas Assault. Kami akan memberikan kalian peringkat berdasarkan nilai tes hari ini.”
Peringkat adalah segalanya dalam dunia Butei. Peringkat akan diberikan sesuai dengan kemampuan, kinerja, dan tingkat penyelesaian misi.
Butei memiliki 6 peringkat, dimulai dari yang paling rendah, peringkat E, D, C, B, A, hingga yang paling tinggi, peringkat S.
Dan misi pertama Ryan adalah berhasil masuk Butei dan mendapat peringkat setinggi mungkin. Semakin tinggi peringkat yang Ryan dapat, maka semakin besar juga hadiahnya. Oleh karena itu, dalam tes kali ini, Ryan mengincar peringkat S.
“Dalam dunia Butei, peringkat menunjukkan posisi. Semakin tinggi peringkat kalian, maka kalian akan semakin dihormati. Maka dari tiu, tunjukkan kemampuan kalian dalam tes kali ini.”
Dengan nada yang kasar, Ranbyou memberi penjelasan mengenai tes kali ini. “Kalian akan masuk ke dalam gedung terbengkalai dan berpencar ke segala arah.”
“Aku tidak peduli cara apa yang akan kalian pakai. Entah kalian akan menggunakan senjata, atau memasang jebakan, aku tidak peduli. Para peserta tes harus saling menangkap satu sama lainnya. Semakin banyak yang kalian tangkap, semakin besar nilai kalian.”
__ADS_1
“Jadi, bisa dibilang, semua yang ada di sini adalah saingan kalian.”
“Inilah tes masuk kalian!”