
Kuil Naga Kuning, Star Room.
Di tengah ruangan ini, Ryan duduk di tanah sambil menutup matanya, seolah-olah ia sedang meditasi, dan hanya bernapas dalam sebuah ritme tertentu.
Jika diperhatikan baik-baik, dari tubuh Ryan, menyeruak semburan cahaya seperti bintang dengan perlahan.
Bintang-bintang ini terkadang berkumpul di permukaan tubuh Ryan. Suatu waktu mereka berkumpul di tangan Ryan.
Mereka juga kadang berkumpul di bawah kaki Ryan. Sesaat kemudian mereka mengalir di tubuh Ryan.
Pemandangan cahaya bintang yang berubah-ubah ini tampak begitu indah.
Sampai akhirnya, bintang-bintang tersebut mulai menyatu kembali ke dalam tubuh dan benar-benar menghilang.
"Haah~"
Ryan membuka matanya dengan hembusan nafas yang panjang.
Merasakan Prana yang mengalir perlahan dalam tubuhnya, Ryan tersenyum. "Akhirnya aku bisa mengendalikannya."
Sudah sepuluh hari Ryan berlatih di dalam Star Room. Selama itu, Ryan terus berlatih cara mengendalikan Prana.
Ryan pun mengakui bahwa Star Room adalah tempat yang bagus untuk melatih Prana.
Saat Ryan kurang sempurna dalam mengendalikan Prana dan terjadi kebocoran, maka tekanan berat gaya gravitasi akan aktif dan menekan tubuh Ryan.
Hal ini seolah-olah ada alarm yang memberinya peringatan jika ia melakukan kesalahan. Namun ketika Ryan berhasil mengontrol penuh Prana, maka tekanan berat gaya gravitasi tidak akan aktif.
Oleh karena itu, meskipun waktu Ryan berlatih masih sangat singkat, tapi Ryan berhasil mengendalikan Prana di bawah tekanan Star Room.
Paling tidak, Ryan sekarang tidak akan mengalami situasi di mana Prana dalam tubuhnya terus-menerus menghilang karena kontrol yang kurang tepat, seperti yang dikatakan Fan Xinglou sebelumnya.
"Sekarang, apa lagi yang harus aku coba?"
Setelah berpikir sejenak, Ryan segera berdiri.
Wuuush
Udara di sekitar Ryan sedikit bergetar. Cahaya bintang bagaikan debu mulai kembali keluar dari tubuh Ryan.
Bagai percikan api biru, Ryan mengumpulkan Prana di bawah kakinya dan melangkah maju.
Swoosh
Seperti angin, sosok Ryan langsung melesat ke depan dengan kecepatan yang tinggi, hingga meninggalkan afterimage di tempatnya berdiri.
Cakupan Star Room tidak terlalu luas.
Oleh karena itu, tidak sampai satu detik, Ryan sudah hampir menabrak dinding ruangan.
Namun, tepat pada saat hendak menabrak dinding, Ryan memutar tubuhnya. Telapak kaki Ryan dengan keras menghantam dinding, dan melompat bagai anak panah yang baru ditembakkan.
Dengan lincahnya, Ryan berlari dan melompat di semua sudut Star Room. Baik itu tanah, dinding, ataupun langit-langit, semua menjadi tempat pijakan Ryan.
Menggunakan lingkungan sekitar untuk bergerak dengan cepat, itu adalah esensi Flashing Dash (Sensō) dari Teknik Membunuh Nanaya.
Setelah ratusan kali bergerak di dalam Star Room, akhirnya Ryan berhenti dan kembali memijakkan kakinya di tanah.
“Akhirnya aku bisa menggunakan Prana untuk berakselerasi.” gumam Ryan dengan ekspresi gembira.
Meskipun menggunakan Prana untuk meningkatkan kecepatan lebih sulit daripada menggunakannya untuk menyerang dan bertahan, tapi setelah Ryan berhasil mengendalikan Prana dengan bantuan Star Room, Ryan akhirnya dapat mengaplikasikannya dalam Flashing Dash (Sensō).
Lagi pula, Teknik Membunuh Nanaya mampu mengabaikan kelembaman, sehingga Ryan dapat berhenti secara mendadak dan juga berakselerasi hingga mencapai batas dari kondisi diam.
Jadi, walau penggunaan Prana untuk meningkatkan kecepatan memiliki masalah dalam mengendalikannya, Ryan dapat mengkombinasikannya dengan Teknik Membunuh Nanaya untuk berhenti dan juga membiasakan diri.
Jadi, Ryan tidak memerlukan usaha ekstra dalam mengendalikan kecepatan saat menggabungkannya dengan Prana.
__ADS_1
“Oke, sekarang saatnya aku keluar …”
Namu, saat Ryan berjalan menuju pintu keluar, sebuah bayangan hitam tiba-tiba jatuh tepat di atas kepala Ryan. Tanpa Ragu, Ryan langsung berhenti dan mundur secepat kilat.
BOOM
Suara ledakan yang diakibatkan jatuhnya bayangan hitam itu terdengar dengan keras. Debu dan pasir tebal menyebar ke seluruh Star Room.
“Apa itu?”
Boom
Di bawah suara langkah kaki yang berat, sesosok Raksasa perlahan keluar dari asap debu.
Raksasa itu terlihat seperti ukiran patung kayu. Tinggi Raksasa itu setidaknya lebih dari empat meter, dan memiliki tubuh yang tampak kuat.
Meski Raksasa itu terbuat dari ukiran kayu, namun makhluk itu sama sekali tidak terlihat seperti patung, melainkan seperti makhluk hidup asli. Bahkan dari tubuhnya, menyeruak tekanan yang tidak normal.
Raksasa itu menatap Ryan dengan mata merahnya.
Tiba-tiba, Raksasa itu mengepalkan tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Dengan cepat, Raksasa itu meluncurkan pukulan keras ke arah Ryan.
Angin berhembus kencang, seakan sedang diaduk oleh tinju besar itu.
Dengan kekuatan sebesar itu, seorang Genestella pada umumnya tidak akan sanggup menerima serangan langsung ini.
BOOM
Bagaikan ledakan bom, tinju besar dan keras Raksasa itu jatuh menghancurkan tanah tempat Ryan sebelumnya berdiri.
~***~
"Hoo~, akhirnya itu dimulai juga."
Di ruang audiensi Kuil Naga Kuning, Fan Xinglou menyaksikan sebuah proyeksi layar yang melayang di udara sambil bertepuk tangan dengan penuh semangat.
Dari sana, Fan Xinglou melihat sesosok Raksasa mengayunkan tinju besarnya dan terus menghantam tanah yang ada di sekitarnya.
Hal ini menyebabkan tanah tersebut hancur dan menerbangkan debu ke segala arah.
Namun, pukulan Raksasa tersebut tidak ada yang mengenai Ryan.
Dengan tubuh penuh kilau cahaya bintang, Ryan terus bergerak kesana-kemari menghindari rentetan pukulan berat dengan sangat fleksibel.
Melihat aksi Ryan ini, Fan Xinglou tersenyum sangat puas. "Baiklah, secara mendasar, dia telah mampu mengendalikan Prana cukup baik."
"Walau begitu, dengan tubuh dan pikiran yang masih sama seperti sebelumnya, sepertinya memang agak sulit untuknya menghadapi lawan seperti itu."
Mendengar kata-kata Fang Xinglou, Zhao Hufeng menghela nafas dan berkata, “Guru, karena Guru memahami semua ini, tapi kenapa Guru masih menggunakan Immortal Tool sebagai lawan latihannya? Bahkan sepertinya Adik Seperguruan tidak memiliki Lux!"
Di dunia ini, sumber energi yang paling umum digunakan bukan lagi energi fosil, melainkan Mana.
Setelah bencana Invertia melanda Bumi, Mana dan batu meteor yang dibawa bencana Invertia telah menjadi tema penelitian di dunia ini.
Pengetahuan penelitian di bidang ini secara umum disebut sebagai Teknik Meteor.
Meskipun ada banyak bagian yang tidak diketahui tentang prinsip pengoperasian Mana, Teknik Meteor telah membuat banyak kemajuan besar dalam penggunaan logam langka yang terkandung di dalam batu meteor dalam bencana Invertia.
Logam langka itu disebut Manadyte, sebuah biji logam khusus yang dihasilkan oleh kristalisasi Mana.
Beberapa di antara Manadyte, ada yang memiliki tingkat kemurnian sangat tinggi. Logam ini disebut Urm Manadyte dan sangat langka.
Biji logam ini sekarang banyak digunakan sebagai sumber daya berharga dalam produk yang dikembangkan melalui Teknik Meteor.
Dan salah satunya adalah Lux, di mana Manadyte digunakan sebagai inti dan berfungsi untuk mengubah Mana menjadi sebuah senjata energi.
__ADS_1
Lux dapat berubah menjadi berbagai senjata sesuai dengan memori yang telah disimpan dalam Manadyte. Umumnya, Lux akan berwujud pedang, tombak, busur panah, dan juga pistol.
Dengan memadatkan Mana di sekitarnya, Lux dapat menghasilkan bilah energi ataupun peluru yang kekuatannya dapat disesuaikan.
Karena keunikannya ini, kekuatan Lux jauh lebih kuat dari senjata biasa, dan telah menjadi senjata utama bagi Genestella.
Lux hanya bisa menggunakan Manadyte sebagai intinya.
Sedangkan Urm Manadyte, karena kemurniannya yang sangat tinggi, itu hanya bisa digunakan sebagai inti dari Orga Lux.
Orga Lux jauh lebih kuat dari Lux biasa. Bahkan tiap Orga Lux memiliki Kemampuan Khususnya masing-masing.
Namun, Orga Lux terkenal sangat sulit untuk digunakan, dan kekuatan yang dapat dipicu oleh pengguna yang berbeda juga sangat berbeda.
Apalagi, Orga Lux memiliki kesadarannya sendiri. Sehingga mereka bisa memilih sendiri penggunanya.
Jika tidak dipilih oleh Orga Lux, maka orang yang paling kuat sekalipun tidak dapat menggunakan senjata ini.
Namun, di dalam Jie Long, ada alat lain yang disebut Immortal Tool.
Zhao Hufeng menatap layar dan berkata dengan tenang, "Apakah Raksasa kayu itu adalah Immortal Tools yang Guru buat?"
Fan Xinglou menjawabnya dengan berpura-pura bodoh. "Mungkin Banyuu Tenra Generasi pertama kebetulan sudah merencakan semua ini untuk melihat kemajuan murid-muridnya. Maka dari itu ini adalah hal yang wajar."
"Benarkah? Sangat tidak meyakinkan, Guru …" ucap Zhao Hufeng tanpa ada jejak kesopanan sama sekali.
"Haah~, kamu benar-benar tidak bisa dibodohi." Fan Xinglou menghela nafas mendengar ucapan Zhao Hufeng.
"Aku hanya ingin melihat Kemampuan Khusu anak itu saja. Lagipula, ini juga bagian dari latihan. Bukankah kamu juga pernah menjalani latihan serupa?"
"Haah~, karena inilah saya berkomentar atas keputusan Guru menggunakan Immortal Tool."
Zhao Hufeng menghela nafas lagi dan berkata, “Tapi, kekuatan Immortal Tool itu tampak sangat kuat, apakah Adik Seperguruan akan baik-baik saja?"
"Tenang saja, tenang saja …" jawab Fan Xinglou dengan santai. Tapi, tak lama kemudian, ia sedikit terkejut. "Ooh!"
Situasi pertarungan di dalam Star Room tiba-tiba berubah.
~***~
BOOM
Dalam suara ledakan yang keras, pukulan Raksasa itu lagi-lagi menghantam tanah dan menghancurkannya, sehingga gelombang kejut yang tercipta menyebar dengan kuat ke sekelilingnya.
Setelah Ryan menghindari pukulan mengerikan tersebut, Ryan mencondongkan tubuhnya ke depan dan berlari ke arah Raksasa. Tanpa ada keraguan, Ryan langsung melepaskan tendangan keras ke dada Raksasa tersebut.
BOOM
Tendangan yang telah diperkuat Prana itu dengan keras menghantam dada Raksasa dan membuatnya mundur beberapa langkah.
Walau begitu, Raksasa tersebut tampak tidak mengalami kerusakan sedikitpun.
"Hanya mengandalkan fisik dan Prana saja tidak cukup untuk mengalahkannya." gumam Ryan dengan sedikit jengkel.
Sejak tadi, Ryan terus mengulangi aksi yang sama.
Raksasa tersebut tidak hanya memiliki kekuatan serang yang kuat, akan tetapi ia juga memiliki tubuh yang sangat keras, sehingga semua serangan Ryan terasa sia-sia.
"Kalau begitu, aku harus menggunakannya!"
Ryan kemudian melompat satu langkah ke belakang dan berdiri diam di sana.
Swoosh
Dalam suara angin kencang, Raksasa tersebut melangkah maju lagi dan membuat pukulan yang mengerikan.
Namun, kali ini, Ryan tidak mengelak.
__ADS_1
Melihat tinju besar yang datang ke arahnya, Ryan dengan cepat mengubah matanya menjadi Mystic Eye of Death Perception.
Moon Blade pun kini sudah berada dalam genggaman Ryan.