
Keesokan harinya, Ryan terbangun dari tidurnya. Saat melihat jam, ternyata waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Bahkan matahari pun masih belum terbit.
Namun, Ryan memilih untuk tetap bangun dan tidak kembali tidur. Hal ini karena Ryan benar-benar telah terbiasa bangun pagi.
Melihat Shana yang masih tertidur pulas, Ryan hanya bisa tersenyum kecut. Alasan dibalik keputusannya membiarkan Shana tinggal di sini adalah karena ia melihat sosok Aria dalam diri Shana. Maka dari itu Ryan tidak tega meninggalkannya tidur di luar.
Lagipula, Ryan berpikir bahwa ini juga merupakan salah satu bentuk rehabilitasi dirinya agar tidak lagi memiliki pikiran kotor saat berhadapan dengan gadis imut.
Untungnya, semalam Ryan dapat menjaga diri dan tidak merasakan apapun. Mungkin salah satu faktor yang membuatnya begitu adalah keberadaan Alastor yang tidak pernah tidur.
Walau tubuh Alastor tertidur, namun eksistensi Alastor tetap terjaga di dalam liontin. Maka dari itu, Ryan tidak ingin berbuat macam-macam terhadap Shana.
Setelah itu, Ryan bersiap untuk memulai latihan pagi.
Selama enam bulan berlatih di Jie Long, Ryan sudah terbiasa berlatih dari pagi dini hari hingga malam.
"Tak terasa, sekarang aku benar-benar sudah terbiasa bangun pagi walau sudah nggak berada di Jie Long lagi."
Latihan pagi yang akan Ryan lakukan kali ini adalah latihan pengendalian Prana.
Karena tidak adanya ruang yang cukup untuk latihan fisik, Ryan hanya bisa melakukan latihan Prana sejak tiba di dunia ini.
Walau latihan tidak akan menambah nilai atribut, namun itu dapat membuat efisiensi Ryan dalam bertarung meningkat.
Saat manusia atau makhluk lainnya terpilih menjadi Reincarnator dalam Reincarnation Room, waktu Reincarnator akan berhenti. Sama seperti Flame Haze, Reincarnator tidak akan bisa menua.
Jadi, seperti halnya Flame Haze, umur Reincarnator hanyalah sebuah angka, mereka akan terus hidup sampai ada yang membunuhnya.
Bahkan jika Reincarnator berolahraga dengan keras, nilai Atribut mereka tidak akan bertambah. Sebaliknya, jika Reincarnator bermalas-malasan, nilai Atribut dan kondisi fisik mereka juga tidak akan turun.
Oleh karena itu, Ryan tidak khawatir tubuhnya akan melemah karena tidak melakukan latihan fisik selama beberapa hari. Yang ia takutkan hanya keterampilannya dalam bertarung akan berkurang.
__ADS_1
Namun, Fan Xinglou pernah berkata pada Ryan, "Puncak Tertinggi dari Ilmu Bela Diri adalah mampu mengintegrasikan Teknik Bela Diri yang kamu pelajari ke dalam tubuh secara insting. Bahkan jika kamu telah melupakan Teknik tersebut, begitu kamu bertarung, tubuhmu akan secara alami menggunakan Teknik tersebut."
Seandainya Ryan benar-benar telah mencapai Puncak Tertinggi dalam Ilmu Bela Diri, dengan statusnya sebagai Reincarnator, maka tubuhnya akan terus mengingat Teknik yang ia pelajari tanpa harus berlatih lagi.
Tentu saja, saat ini Ryan masih belum mencapai ranah itu dan tentu saja harus terus berlatih untuk mencapainya.
"Baiklah, sekarang aku akan mulai latihan pengendalian Prana seperti biasanya."
Dengan pikiran seperti itu, Ryan duduk bersila dan mulai menutup matanya. Di saat yang sama, Ryan mulai mengatur napasnya secara perlahan sesuai dengan Teknik Pernapasan yang telah diajarkan Fan Xinglou.
Shiiiiii
Beberapa saat berikutnya, dari tubuh Ryan, cahaya biru berkilauan seperti bintang, mulai menyeruak keluar dan membuat udara di sekitarnya bergetar.
Prana dalam tubuh Ryan mulai mengalir dan berputar-putar di dalam tubuhnya dengan ganas. Cahaya debu bintang yang keluar dari tubuh Ryan semakin pekat.
Namun, tiba-tiba saja cahaya ini meredup. Aliran Prana dalam tubuh Ryan juga menjadi tenang dan lembut.
Di dunia Misi sebelumnya, The Asterisk War, INT milik Ryan bahkan tidak mencapai 50 Poin. Meskipun kuantitas Prana Ryan tidak lebih lemah dari murid-murid yang menduduki Page One di Jie Long, tapi itu jauh lebih buruk daripada Amagiri Ayato.
Ketika Ryan berhasil melepas segel Ayato sepenuhnya , bagaikan pilar cahaya, Prana yang dipancarkan Ayato menyeruak tinggi ke atas hingga mencapai langit-langit Sirius Dome. Ini adalah kuantitas Prana paling banyak yang pernah Ryan lihat selama di dunia The Asterisk War.
Dibandingkan dengan Ayato, jelas Prana Ryan sangat menyedihkan.
Namun, setelah naik ke Tingkat Authority 4, Ryan menempatkan semua 60 Poin Atribut pada INT, memungkinkan INT naik langsung ke angka 100 Poin dan melonjak lebih dari dua kali lipat.
Akibatnya, Prana Ryan melonjak dan tidak lagi lebih lemah dari Amagiri Ayato.
Hanya saja, semakin banyak kuantitas Prana, semakin sulit untuk dikendalikan.
Jika tidak dapat dikendalikan dengan baik, maka Ryan hanya bisa menggunakan Prana untuk memperkuat kekuatan pertahanan saja, dan sulit memanipulasinya untuk hal yang lebih rumit.
__ADS_1
Oleh karena itu, selama 10 hari di Reincarnation Room, Ryan tidak lupa untuk selalu melatih pengendalian Prana-nya menggunakan Teknik Pernapasan Fan Xinglou di sela-sela pendakiannya di Menara Reinkarnasi.
Dengan pengendalian Prana yang lebih presisi, maka kekuatan bertarung Ryan akan semakin kuat. Ditambah dengan gabungan efek Reiji Maigo dan Cincin Ionic, Ryan tak perlu khawatir dengan konsumsi Prana yang besar.
Saat ini, di bawah ritme pernapasan dan kendali Ryan, cahaya Prana terus keluar menyinari area kamar.
Tapi, Ryan benar-benar lupa, bahwa latihan Prana akan memunculkan cahaya yang cukup mengganggu tidur orang lain.
Di atas ranjang, Shana yang tidak tahu kapan ia bangun, menyaksikan seluruh tubuh Ryan diselimuti cahaya bintang menyilaukan. Mata Shana terbelalak menyaksikan pemandangan menakjubkan ini.
Setelah beberapa saat, Shana mau tidak mau berbisik, “Apa itu?”
“Aku juga tidak tahu …” jawab Alastor. Ia kemudian berkata dengan kata-kata yang berat, “Rasanya seperti sesuatu yang mirip dengan Power of Existence, tapi itu seharusnya kekuatan yang sangat berbeda dari Power of Existence.”
“Kekuatan yang berbeda dari Power of Existence?" Shana bertanya, “Apakah itu kekuatan asli dari dunia ini?”
“Aku tidak tahu.” Alastor menghela napas dan berkata, "Setidaknya, aku belum pernah melihatnya."
Karena bahkan Alastor saja tidak mengetahuinya, maka kemungkinan di dunia ini juga banyak yang tidak tahu mengenai kekuatan yang dipancarkan Ryan.
Sebab, dari segi waktu, Alastor bisa dikatakan sebagai Crimson Lord yang paling tua.
Alastor kemudian berkata, “Mungkin, inilah alasan mengapa manusia itu sangat kuat yang bahkan dapat menandingi kekuatan Flame Haze dan Crimson Denizen.”
Mendengar pernyataan Alastor, Shana langsung menatap Ryan, dan matanya memancarkan kilat sesaat.
Di sisi lain, Prana yang dipancarkan dari tubuh Ryan secara bertahap mulai meredup, menyebabkan puing-puing bintang di sekitar tubuhnya perlahan mulai menghilang.
Tak lama kemudian, Ryan membuka matanya. Kebetulan, tepat di depan Ryan, mata Shana menatap Ryan dengan penuh rasa penasaran.
“Eh?” Ryan cukup terkejut dan tidak tahu harus berkata apa.
__ADS_1