
Mendengar ucapan Sylvia, dahi Ryan berkerut sedikit. Ia lalu menatap lurus ke wajah menawan Sylvia. Di bawah sorot matanya, ekspresi Sylvia menjadi agak tidak wajar, dan hatinya sedikit pahit.
'Dia pasti mengerti maksud ucapanku.' gumam Sylvia dalam hati.
Lagi pula, maksud dari ucapan Sylvia sudah sangat jelas, yaitu meminta Ryan untuk mundur dari masalah ini karena ini adalah masalah pribadi Sylvia. Ia berniat melawan sendiri Valda-Vaoth dan organisasi di belakangnya. Ia tidak ingin membuat Ryan terluka lagi.
"Apa kamu yakin?" Ryan berkata acuh tak acuh seakan berbicara dengan orang lain yang tidak dikenal. "Aku memiliki cara untuk menemukan Ursula, tapi aku yakin kamu tidak memilikinya."
Mendengar ini, Sylvia membuka mulutnya, tapi tidak ada kata-kata yang keluar darinya. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Faktanya, Sylvia tidak memiliki cara untuk menemukan Ursula. Jika bukan karena hubungannya dengan Ryan, Sylvia tidak akan dapat menemukan Valda-Vaoth. Bahkan mungkin sampai sekarang, Sylvia akan masih terus mencari.
Belum lagi, Sylvia tidak memiliki Kemampuan untuk membebaskan Ursula dari kendali Valda-Vaoth. Untuk membebaskannya, Sylvia harus mengalahkan Valda-Vaoth, yang tentu hal itu tidak mudah.
Dengan kemampuan Valda-Vaoth, Sylvia tidak memiliki cara untuk menghindar ataupun menahan serangan mental.
Mengingat hal ini, seperti yang dikatakan Ryan, saat ini Sylvia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membebaskan Ursula.
"Kamu pikir kamu bisa menemukan Valda-Vaoth sekarang? Padahal sebelumnya kamu menghabiskan waktu bertahun-tahun, tapi nggak satupun petunjuk kamu dapatkan."
Ucapan Ryan memberi Sylvia pukulan terakhir.
"Valda-Vaoth mampu mengganggu kognisi dan membiarkan dirinya tidak terlihat oleh semua orang. Jadi jika ia ingin bersembunyi, maka tidak akan ada yang bisa menemukannya. Usahamu selama bertahun-tahun mencari Gurumu adalah buktinya."
Dengan Kemampuan Sylvia sebagai Strega, ia dapat mengubah mana menjadi kekuatan pendeteksi. Walau begitu, Sylvia tetap gagal dalam menemukan Valda-Vaoth. Ini adalah bukti betapa hebatnya Valda-Vaoth.
“Jadi, hanya ada satu kesimpulan.” Ryan memandang Sylvia dan tersenyum ringan. "Hanya aku yang bisa membantumu."
Sylvia tersenyum kecut mendengar semua penjelasan Ryan.
"Dengan kata lain, apakah kamu punya cara untuk menemukan Valda-Vaoth?" Sylvia berkata, "Bukankah kamu tadi berkata bahwa jika Valda-Vaoth ingin bersembunyi, maka tidak akan ada yang bisa menemukannya?"
"Tenang, semua itu sudah pikirkan solusinya dalam rencana keduaku. Hanya saja, dalam rencanaku ini, aku harus memenangkan Festa terlebih dahulu untuk bisa menjalankannya." jelas Ryan.
"Memenangkan Festa?" Sylvia memandang mata Ryan dengan pandangan mata ragu-ragu. "Maksudmu, jika kamu memenangkan Phoenix Festa ini, kamu dapat menemukan Valda-Vouth?"
"Benar … bahkan, kita dapat menyelesaikan semua masalah ini tanpa membahayakan keselamatan kita." Ryan lalu berkata dengan serius, "Jika aku nggak memenangkan Phoenix Festa ini, begitu aku keluar dari stadion ini, kemungkinan besar aku akan langsung dilenyapkan tanpa jejak."
Sylvia bingung dengan penjelasan Ryan. 'Mungkinkah, Valda-Vaoth juga ada hubungannya dengan Festa?'
'Atau apakah Organisasi di balik Valda-Vaoth dan Festa berhubungan?'
Satu persatu pertanyaan mulai muncul dibenak Sylvia.
Melihat kebingungan Sylvia, Ryan berkata, "Kamu nggak perlu memikirkannya lagi, Sylvia. Ketika Phoenix Festa berakhir, kamu akan mendapatkan semua jawabannya."
"Tapi, kenapa kamu mau membantuku sampai seperti ini? Padahal kamu tidak punya alasan untuk membantuku."
Mendengar ini, ekspresi serius Ryan berubah menjadi senyuman hangat. "Bukankah aku sudah pernah mengatakannya?"
Ryan menghela nafas dan berkata dengan lembut, "Aku mencintaimu, Sylvia. Aku nggak bisa membiarkan orang yang aku cintai berada dalam kesulitan. Untuk itu, aku akan sekuat tenaga dalam membantumu."
__ADS_1
"Lagi pula, aku juga telah mendapat bayaran yang sangat panas di taman tempo hari."
"Jadi, biarkan aku melakukannya sampai akhir."
Melihat senyuman hangat Ryan, jantung Sylvia berdetak sangat kencang.
Sylvia pun kembali mengingat semua yang dilakukan Ryan hari ini di depan matanya. Gambaran adegan ketika Ryan menyelamatkannya dari serangan mental Valda-Vaoth, lalu disusul serangan berdarah Laminamors, semua itu muncul dibenak Sylvia.
Ini membuat mata Sylvia terlihat bergejolak sangat tidak wajar. Ia jadi tidak berani melihat senyuman tulus Ryan dan memalingkan pandangannya.
Perasaan bersalah, dan juga senang, bercampur aduk menjadi satu. Sylvia merasa bersalah karena telah memanfaatkan Ryan, orang yang baru dikenalnya hingga membuatnya terluka seperti itu.
Di sisi lain, Sylvia senang dengan ungkapan perasaan Ryan padanya. Bahkan ia merasa Ryan semakin terlihat tampan dan gagah.
'Perasaan ini, benar-benar menyusahkan …' batin Sylvia.
~***~
Ryan butuh beberapa hari setelah konfrontasinya dengan Laminamors untuk kembali fit.
Untungnya, lawan Ryan dan Cecily Wong pada pertandingan-pertandingan selanjutnya sangatlah lemah.
Mereka tidak lagi bertemu lawan yang kuat seperti Ardi dan Rimsy. Oleh karena itu, pada babak 16 besar hingga semifinal, hanya Cecily Wong yang bertarung sendirian. Sementara Ryan, ia hanya diam di belakang Cecily Wong sembari memulihkan energinya. Mereka menjalani semua pertandingan tersebut dengan sangat mudah.
Saat ini, Ryan dan Cecily Wong hanya tinggal selangkah lagi untuk menjadi juara. Mereka tinggal menunggu hasil pertandingan semifinal antara tim Ayato dan Saya, melawan tim Julis dan Kirin.
Hasil pertandingan ini menentukan tim mana yang akan menjadi lawan Ryan di babak final.
"Haaaaaaaaah!"
Di layar hologram, tampak Ayato dan Kirin berteriak secara bersamaan. Ser-Veresta dan Lux berbentuk Katana saling beradu di arena Sirius Dome.
Di belakang keduanya, Julis dan Saya sepertinya bertindak sebagai pendukung serangan jarak jauh. Peluru Mana dari Lux berbentuk Pistol milik Saya saling bertabrakan dengan bola api hasil manifestasi Kemampuan Strega milik Julis.
Di ruang audiensi Kuil Naga Kuning, Fan Xinglou, Ryan, Cecily Wong, Zhao Hufeng, dan Li bersaudara semuanya hadir dan menyaksikan pertandingan semifinal ini.
Kemeriahan pertandingan semifinal ini tak kalah dengan pertandingan antara Ryan dan Cecily melawan Ardi dan Rimsy.
Lagipula, kedua belah pihak adalah Genestella yang sangat kuat.
Meskipun Ayato dan Saya tidak memiliki peringkat, tapi mereka telah menjadi kuda hitam dalam Phoenix Festa musim ini. Mereka berdua telah mengalahkan banyak musuh kuat dan menjadi salah satu tim favorit penonton.
Sementara itu, Kirin dan Julis adalah pemilik peringkat pertama dan kelima di Seidokan. Secara peringkat, mereka juga terbilang kuat.
Oleh karena itu, pertandingan semifinal ini sangat seru.
Baik Ayato dan Kirin terus melakukan pertarungan jarak dekat yang sangat menakjubkan. Mereka berdua beradu pedang menggunakan teknik pedangnya masing-masing, seakan ingin menunjukkan pada dunia, teknik pedang mana yang paling kuat di antara keduanya.
Saking cepatnya ayunan pedang mereka, penonton menjadi sedikit pusing melihatnya.
Di sisi lain, Saya dan Julis masih tetap berada di garis belakang sambil terus melakukan serangan dukungan jarak jauh. Dari waktu ke waktu, serangan mereka berdua bahkan membuat ledakan yang cukup besar di arena.
__ADS_1
Dalam situasi seperti itu, pertempuran sengit di kedua sisi telah terjadi. Tidak ada yang ingin menyerah begitu saja. Sorak-sorai penonton di tribun pun terus bergema di Sirius Dome.
Bahkan Fan Xinglou sama bersemangatnya dengan para penonton pertandingan ini. Ia menonton sambil terus bertepuk tangan.
"Ayato dan Kirin sama-sama memiliki bakat yang langka. Kenapa orang seperti itu bukan murid Jie Long?"
Ucapannya ini menggambarkan betapa senangnya suasana hati Fan Xinglou. Ia bahkan memuji keduanya memiliki bakat yang langka.
Cecily Wong dan Zhao Hufeng juga tanpa sadar mengangguk. Menurut mereka berdua, kekuatan Ayato maupun Kirin memang pantas mendapat pujian dari Fan Xinglou.
Namun, hal yang berbeda ditunjukkan oleh Li bersaudara.
"Emang bisa, Amagiri Ayato menang?"
"Aku meragukannya. Tanpa membuka segel, Amagiri Ayato bukanlah siapa-siapa. Dia hanyalah sampah!"
Kata-kata Li Shenyun dan Li Shenhua diucapkan dengan nada penuh penghinaan terhadap Ayato.
Memang, dibandingkan dengan Kirin, tubuh Ayato memiliki segel yang hanya sapat dilepas dalam jangka waktu singkat. Tak heran jika Li bersaudara begitu meremehkannya.
Namun, mendengar semua penghinaan ini, Ryan melirik Li bersaudara dan mengingatkan mereka dengan ramah, "Kakak Senior, jangan lupa bahwa orang yang kalian sebut sampah itu telah mengalahkan kalian di babak 8 besar."
Wajah Li bersaudara tiba-tiba menjadi gelap.
Sebelumnya, pada babak 16 besar dan 8 besar, tim Ayato menghadapi tim dari Jie Long.
Untuk kedua pertandingan tersebut, tidak ada yang optimis dengan tim Ayato dan Saya. Apalagi setelah segel Ayato terungkap ke publik, banyak yang meragukan Ayato dapat mengalahkan peserta dari Jie Long dalam waktu yang singkat sebelum segel kembali aktif.
Namun, hasil pertandingan tersebut begitu mengejutkan.
Di babak 16 besar, Ayato dan Saya mengandalkan kerja sama mereka untuk mengalahkan peserta dari Jie Long.
Sementara pada babak 8 besar, Saya membombardir Li bersaudara dengan senjata rahasianya, yaitu sebuah Lux berbentuk meriam.
Dengan bantuan Saya, tanpa melepas segelnya, Ayato dengan mudah menghancurkan lencana sekolah Li Bersaudara.
Setelah itu, Ayato dan Saya berhasil melewati babak perempat final dengan mudah dan kemenangan telak.
Oleh karena itu, Li bersaudara sama sekali tidak memiliki hak untuk menghina Ayato.
"Tampaknya pemenang dalam pertandingan ini sudah dapat dipastikan."
Mendengar suara Fan Xinglou, semua orang yang ada di ruang audiensi segera mengalihkan pandangannya ke layar hologram.
Tak lama kemudian, pada layar hologram, Ayato yang sedang bertarung dengan Kirin, tiba-tiba berbalik dan pergi bagai sebuah anak panah menuju ke arah Julis.
Belum sempat Julis meresponnya, Ayato telah berhasil memotong lencananya.
Kalahnya Julis menyebabkan Kirin terkejut. Hal ini dimanfaatkan Saya untuk menembak lencana Kirin dengan Lux berbentuk pistol kecil miliknya.
"Permainan selesai. Pemenangnya, Amagiri Ayato × Sasamiya Saya."
__ADS_1