Reincarnation Room

Reincarnation Room
Final Phoenix Festa (IV)


__ADS_3

Setelah berkata seperti itu, Cecily Wong lalu mengubah postur tubuhnya. Ia memasang kuda-kuda seperti seorang master bela diri. 


Tanpa menunggu lama, Cecily Wong kembali melancarkan serangannya.


Melihat hal ini, Saya hanya bisa mundur dan mengarahkan moncong Lux-nya ke arah Cecily Wong.


Sayangnya, gerakan Cecily Wong sangat cepat, sehingga jarak di antara keduanya langsung menghilang hanya dalam waktu sekian detik. Hal ini membuat Saya kehilangan kesempatannya untuk membidik Cecily Wong.


Begitu jarak mereka hilang, Cecily Wong langsung menendang Lux bertipe artileri berat di tangan Saya, dan dengan keras, Cecily Wong melancarkan pukulan ke wajah Saya.


"Saya!"


Melihat pemandangan ini, Ayato ingin sekali pergi menolongnya.


Namun, ujung pedang energi Seraph sejak tadi masih menempel di leher Ayato, membuat Ayato sama sekali tidak bisa bergerak.


"Amagiri-san …" Ryan berkata dengan wajah seperti maniak. "Pertarungan kita masih belum selesai."


"Apa maksudmu?" Ayato mengangkat kepalanya sedikit dan menatap Ryan. "Aku sudah dalam posisi seperti ini, bukankah hasil pertarungan kita sudah jelas?"


Ayato tidak memiliki pilihan lain saat ini. Bagaimanapun juga, Ryan telah menyandera titik vitalnya. Ayato hanya bisa menyerah dalam pertandingan ini.


Namun, sebelum Ayato akan berkata menyerah, Ryan berkata lebih dulu. "Jujur saja, aku juga ingin segera menyelesaikan pertarungan ini dengan cepat. Tapi aku nggak bisa melakukannya. Masih ada kondisi yang harus aku penuhi."


"Kondisi yang harus kamu penuhi?" Ayato bingung. "Apa maksudmu?"


Namun Ryan mengabaikan pertanyaan Ayato sambil bergumam sendiri. "Sebentar lagi … sebentar lagi …"     


Weeeng     


Secara tiba-tiba, di sekitar tubuh Ayato, terjadi peningkatan konsentrasi mana yang sangat cepat. 


Mana ini berubah menjadi cahaya yang kemudian membentuk lingkaran-lingkaran sihir. Lingkaran ini mengelilingi tubuh Ayato.


Dari lingkaran tersebut, satu persatu muncul rantai imajiner yang melilit tubuh Ayato.


"Aaargh!" Ayato berteriak kesakitan. Di saat yang sama, konsentrasi Prana dalam tubuh Ayato menurun drastis.


'Sekarang!' teriak Ryan dalam hati.


Untuk menyelesaikan Misi Sampingannya dan juga menyelesaikan Misi Utamanya, Ryan perlu membantu Ayato melepas segel di tubuhnya.

__ADS_1


Mungkin, di mata orang lain, ini adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Namun, bagi Ryan, ini yang sangat mudah dan sederhana.


Untuk menghancurkan segel Ayato, Ryan cukup menggunakan Mystic Eyes of Death Perception dan melihat garis kematian sari segel yang ada dalam tubuh Ayato.


Dengan begitu, Ryan dapat dengan mudah membunuh segelnya dan membiarkan Ayato mendapatkan kembali semua kekuatannya.


Hanya saja, sebelum pertandingan, Ryan belum menemukan kesempatan untuk membantu Ayato menghancurkan segel tersebut. Dan inilah yang membuat misi Ryan jadi sedikit sulit.


Dalam pertandingan Festa, salah satu Misi Sampingan Ryan adalah tidak boleh menggunakan kekuatan yang berada di luar hukum dunia ini. Itu artinya, Ryan tidak boleh menggunakan Mystic Eyes of Death Perception selama pertandingan berlangsung.


"Sekarang semua bergantung padamu, Seraph!"


Tubuh Ryan lalu mulai mengeluarkan partikel cahaya bintang.


Shiiiii


Prana dalam dari tubuh Ryan dengan cepat masuk ke dalam Urm Manadyte putih, membuatnya memancarkan cahaya putih menyilaukan.


Salah satu Kemampuan Seraph adalah memanipulasi apapun yang disentuhnya, dengan syarat apa yang disentuhnya bukan makhluk hidup.


Kemampuan ini bahkan bisa memanipulasi petir Cecily Wong dan perisai pertahanan Ardi.


Oleh karena itu, Ryan berpikir bahwa Kemampuan Seraph juga akan bekerja pada segel di tubuh Ayato. Yang Ryan butuhkan sekarang adalah kesempatan untuk menyentuh segel dengan Seraph.


Ryan lalu mengayunkan Seraph yang menyebabkan ujung pedangnya bergesekan dengan rantai yang membelit leher Ayato.


Weeeeng


Bilah putih bersih itu bergetar. Di saat yang sama, cahaya menyilaukan mulai menutupi rantai yang melilit leher Ayato, dan kemudian menyebar ke seluruh rantai. Hal ini membuat pergerakan rantai mendadak berhenti.


Clang


Dalam suara yang renyah, sebuah rantai terputus.


Begitu Ryan melihat usahanya berhasil, ia pun langsung mundur beberapa langkah.


Clang Clang Clang Clang


Satu persatu rantai yang melilit tubuh Ayato putus dan berubah menjadi Mana murni. Bagaikan debu bintang, Mana murni ini akhirnya menghilang di udara.


Tak lama kemudian, dari tubuh Ayato, terpancar Prana yang sangat kuat. Bahkan pancaran Prana ini sampai menghantam langit-langit stadion.

__ADS_1


Aura yang dimiliki Ayato juga benar-benar berubah, menjadi penuh tekanan.


Pada saat ini, semua mata dari seluruh Sirius Dome tertuju pada tubuh Ayato.


Baik komentator, penonton, maupun Cecily Wong dan Saya, semuanya terdiam. Suasana stadion pun menjadi hening.


Hanya suara Prana milik Ayato yang terus mengguncang udara, terdengar ke seluruh stadion. Suara guncangan ini, mirip dengan angin sepoi-sepoi.


Dalam keadaan seperti itu, jumlah Prana yang sangat banyak menyebabkan reaksi Mana yang berlebihan. Hal ini menyebabkan terjadinya badai Mana di sekitar Ayato.


Untuk menghindari angin kencang di sekitar Ayato, Ryan kembali mundur beberapa langkah.


Prana yang meluap-luap dari tubuh Ayato perlahan-lahan mulai tenang dan kembali masuk ke dalam tubuhnya.


Angin kencang di arena juga mulai menghilang bersama tekanan kuat yang Ryan rasakan sebelumnya.


Ayato lalu secara perlahan berdiri dan mengangkat tangannya. Ia melihat telapak tangannya sendiri, seolah-olah Ayato merasa tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. 


Setelah Ayato terdiam selama beberapa saat, ia mengangkat matanya dan menatap Ryan. "Kenapa?"


Ayato bingung dengan apa yang dilakukan Ryan. Ia tak menyangka Ryan secara sukarela membebaskannya dari segel yang telah menyiksanya selama bertahun-tahun.


Apalagi, Ryan dan Ayato belum pernah bertemu sebelumnya. Jadi bisa dibilang, hubungan mereka tidaklah akrab. Maka dari itu Ayato ingin tahu apa motif dan tujuan Ryan. 


Bagi Ayato, ini adalah hal yang lebih penting daripada bagaimana cara Ryan menghancurkan segelnya.


Dalam hal ini, Ryan tersenyum menyeringai. "Aku cuma ingin merasakan kekuatanmu yang sesungguhnya. Sangat nggak seru kalau aku menang dengan mudah."


"Benarkah cuma itu alasannya?" Ayato hanya bisa tersenyum, dan berkata, "Aku tidak menyangka kalau kamu seorang battle junkie. Walau begitu, aku harus berterima kasih padamu. Apa yang kamu lakukan ini benar-benar sangat membantuku."


"Hahahaha … nggak perlu berterima kasih begitu. Yang penting, berikan aku pertarungan yang nggak membosankan." tawa Ryan.


Walau mulut berkata begitu, tapi dalam hati Ryan, ia benar-benar ingin mengumpat pada Dewa Pencipta Reincarnation Room, yang telah memberikan Misi Sampingan seperti itu.


'Saat aku bertemu dengan Sang Dewa, akan aku pastikan aku menghajarnya sampai puas!' batin Ryan.


"Baik, akan aku tunjukkan Kekuatanku yang sebenarnya." ucap Ayato dengan wajah serius.


Setelah mengatakannya, Ayato mulai memegang Ser-Veresta dengan erat dan melakukan postur tubuh seperti seorang pendekar pedang.


"Ayato …" Saya sepertinya mengerti apa yang terjadi pada tubuh Ayato, dan merasa lega.

__ADS_1


"Adik seperguruan, hati-hati." Cecily Wong dapat merasakan bahwa Prana dalam tubuh Ayato benar-benar berbeda dari sebelumnya.


“Bagus.” Ryan tertawa kecil. "Mari kita mulai ronde kedua kita."


__ADS_2