Reincarnation Room

Reincarnation Room
Mengaku Kalah


__ADS_3

Garis Kematian seperti retakan mengapung dan menutupi sekujur tubuh manusia serigala Toga.


Dari penglihatan ini, Ryan sadar bahwa manusia serigala di depannya adalah sebuah mantel api yang dapat berubah bentuk. Mantel tersebut kini tampak seperti kain compang-camping yang hanya tergantung di tubuh asli Margery.


Tentu saja, di dalam jubah api, garis kematian tubuh Margery juga satu per satu tercetak dengan jelas di mata Ryan.


Saat ini, Margery merasakannya. Rasa krisis yang sangat fatal. Perasaan seperti itu terus menerus ditransmisikan ke otaknya, seakan memberi peringatan akan datangnya bahaya besar.


Ketika Margery melihat mata biru es Ryan, Margery merasa bahwa suhu tubuhnya mendadak hilang dan menjadi sedingin es.


'Apa itu?'


'Kenapa tatapan matanya sedingin es?'


Pada kedua mata Ryan, Margery dapat melihat sebuah pupil berwarna merah kecil yang dikelilingi warna biru seperti es, membentuk sebuah korona yang menyerupai pelangi.


'Apa sebenarnya itu? Kenapa aku bisa merasa sangat takut ditatap oleh mata seperti itu?!' 


Margery sama sekali tidak bisa bergerak.


Saat memandang lebih dekat ke Mystic Eyes of Death Perception, Margery mendadak mendapat penglihatan dimana ia telah terbaring di sebuah genangan darah. Dalam penglihatan itu, ia benar-benar mati dan tidak bergerak lagi.


Mendapat penglihatan seperti itu, rasa takut dalam diri Margery memuncak. Terlebih lagi instingnya selalu memberi peringatan betapa berbahayanya manusia yang ada di depannya.


Naluri bertarung yang telah terasah selama berabad-abad setelah membantai ribuan Crimson Denizen, memberitahu Margery bahwa segala sesuatu yang ada di hadapan mata itu akan terlihat rapuh.


Jadi, Margery tahu, hanya dengan sebuah pisau, manusia di depannya ini dapat membunuhnya dengan mudah.


Margery juga sudah tidak bisa melakukan perlawanan lagi. Karena serangannya tadi telah menghabiskan seluruh kekuatan Margery.


Juba api Toga yang menopang wujud manusia serigala Margery mulai berkedip seperti lilin yang akan segera padam.


'Aku tidak mungkin mengalahkannya!'


'Aku merasa, pertahanan semacam apapun tidak akan bisa menghalanginya.'


Intuisi Margery terus meraung dan mengatakan bahwa tidak ada cara lain untuk bertahan hidup kecuali lari. Karena intuisi Margery merasa bahwa itu adalah mata yang dapat memanggil kematian. Semua pertahanan tidak memiliki nilai dihadapan kematian yang mutlak.


Jadi, saat tubuh Margery kaku tidak bisa bergerak, Ryan perlahan terbang melayang ke arah Margery dan menodongkan Moon Blade tepat di depan kepalanya.


“Akulah pemenangnya.” ucap Ryan dengan dingin.


Seketika itu, suasana di langit menjadi sangat sunyi.


Melihat Mystic Eye of Death Perception dari jarak yang sangat, tangan Margery bergetar sembari mengepalkan tangannya dengan erat.


Ryan dan Shana sama-sama mendeklarasikan kemenangannya dengan cara yang sama. Akan tetapi, perasaan yang dialami Margery dari kedua kekalahan ini benar-benar berbeda.


Jika kekalahannya dari Shana membawa rasa penghinaan yang besar dalam diri Margery, maka perasaan yang dialami Margery dari kekalahannya dengan


Ryan adalah keputusasaan dan rasa takut yang teramat sangat,


Margery memang tidak takut mati. Namun, di bawah tatapan dingin Mystic Eye of Death Perception, Margery mendapati dirinya sangat ketakutan.


Takut akan kematian. Itulah naluri yang dimiliki setiap makhluk.


Margery hanya menyembunyikannya setelah bertahun-tahun dikhianati dan dipenuhi api balas dendam.


Setiap orang yang takut mati hanya melupakan ketakutannya akan kematian, dan lambat laun mereka menjadi terbiasa dengannya. Tapi, Mystic Eye of Death Perception dapat menggali dan memaksanya keluar.

__ADS_1


Dengan rasa takut yang telah dilupakannya selama bertahun-tahun itu, Margery menggertakkan giginya dan berbisik, “Si-siapa kamu sebenarnya?”


Mendengar ini, Ryan menatap langsung ke arah Margery dan berkata, “Hanya orang aneh yang kebetulan lewat, ingat itu!”


“A-apa?” Perasaan takut dan juga bingung melanda MArgery.


“Ya, aku adalah orang yang aneh. Aku telah melupakan rasa takut akan kematian, rasa empati akan kehidupan, dan emosi lainnya.” jawab Ryan seakan ini adalah itu adalah hal yang normal.


Akan tetapi, jawaban itu terdengar sangat sarkasme di telinga Margery. Walau begitu, Margery tidak bisa tertawa ataupun marah.


Bahkan Marchosias yang gemar tertawa saat ini hanya bisa diam.


Tak lama kemudian, Shana mengepakkan kedua sayap apinya dan terbang ke sisi Ryan. Ia lalu menatap Margery dan berkata, “Tenanglah, keberadaan manusia seperti dia mungkin hanya ada satu di dunia ini.”


“Jadi kamu tidak perlu malu jika kamu mengaku kalah darinya.”


Mendengar ucapan Shana, Margery akhirnya terdiam.


Wuuush


Jubah api Toga yang Margery kenakan tidak bisa mempertahankan wujud manusia serigalanya lagi. Perlahan, Toga berubah menjadi api biru tua dan menghilang.


Kini, Margery yang sedang berdiri di atas buku hardcover besar, telah kembali ke wujud manusianya dengan mengenakan setelan pakaian berwarna biru 


Melihat Ryan yang masih terus menatapnya dengan mata birunya, Margery langsung berteriak, “Baiklah, aku mengerti!! Aku menyerah padamu! Jadi tolong, aku mohon jangan lihat aku dengan mata itu!”


Ryan tersenyum menyeringai dan menurunkan tangannya yang memegang belati.


Mystic Eye of Death Perception dengan korona merah menyerupai pelangi yang dikelilingi warna biru sedingin es, telah menghilang dan kembali menjadi mata berwarna gelap.


Ketakutan Margery akan kematian akhirnya menghilang sedikit.


Mantra Tak Terbatas yang tersembunyi di kota ini kan? Baiklah, aku akan membantumu.”


“Benar.” Ryan berkata, “Saat ini, aku hanya perlu mengetahui lokasi Mantra Tak Terbatas itu dipasang. Untuk hal lainnya, kamu tidak perlu ikut campur.”


“Dengar, aku hanya membantumu menemukan Mantra Tak Terbatas yang tersembunyi di kota ini. Aku tidak peduli dengan hal lainnya!" Margery berkata tanpa penjelasan apapun, “Jika nanti kamu berencana mengancamku lagi dengan cara ini, maka aku akan mengajakmu mati bersamaku!"


Ryan tersenyum dengan sangat sopan dan menjawab, “Tentu saja Nona Margery. Aku adalah Pria yang selalu menepati janjinya, terutama pada wanita cantik seperti Nona. Jadi jangan khawatir.”


~***~


Di kawasan bisnis kota misaki,tepatnya di seberang Jembatan Misaki yang mengarah ke area pemukiman, terdapat sebuah bangunan yang jauh lebih tinggi dari bangunan sekitarnya.


Itu adalah mall tua yang sudah lama tidak beroperasi


Karena saat ini Mall bukanlah bisnis yang sedang booming, para investor memilih untuk menarik diri dari bisnis tersebut, hingga akhirnya Mall tersebut gulung tikar. Oleh karena itu, mall ini akhirnya menjadi bangunan kosong tanpa adanya aura kehidupan.


Namun, di salah satu lantai mall tersebut, di sebuah ruang gelap yang sangat luas, seberkas cahaya biru redup terpancar menerangi sekelilingnya.


Hanya saja tidak ada apa-apa di sekitar area yang diterangi, kecuali deretan boneka yang tak terhitung jumlahnya.


Boneka-boneka ini tidak memiliki ukuran yang sama, tetapi semuanya memiliki keadaan yang sama, yaitu tampak baik dan terawat, sehingga membuat mereka tampak sangat hidup. Sayangnya, Boneka yang terlihat hidup ini membuat ruang ini lebih seperti rumah hantu.


Tak lama kemudian, dari luar ruang gelap tersebut, derap suara langkah kaki mulai mendekat secara bertahap.


Boom


Semburan ledakan tiba-tiba terdengar di ruang ini. Itu sangat mendadak, dan menyebabkan getaran di udara.

__ADS_1


Di sudut ruang gelap ini, sebuah pintu tertutup yang mengarah ke luar terlempar oleh api biru tua.


Segera setelah itu, tiga sosok bayangan datang dari luar pintu dan masuk ke dalam ruangan ini. Sosok tersebut adalah Ryan, Shana dan Margery.


“Apakah itu di sini?”  Margery melihat tajam ke sekeliling dan berkata, "Apakah sebelumnya Hunter pernah tinggal di sini sebelum dikalahkan?”


“Seharusnya benar." Wajah menawan Shana yang tidak dewasa tampak terlihat tegang. Tanpa melihat ke arah Margery, ia berkat, “Pada hari penyerangan, aura Hunter dan Thousand Changes mulai muncul dari lokasi ini. Jadi seharusnya ini adalah rumah Hunter.”


“Sepertinya logikamu tidak salah.” Ryan menoleh ke kerumunan boneka yang ada di depannya dan berkata, “Itu bukti terbaiknya."


“Lihat semua boneka itu! Ini benar-benar tempat bajingan pecinta boneka itu tinggal!” Marchosias berkata dengan nada sedikit kecewa, “Dia adalah salah satu dalam peringkat lima besar Crimson Lord terkuat di jaman modern ini. Sayang sekali kita datang beberapa hari lebih cepat.”


“Kami membawamu ke sini bukan untuk mengungkapkan perasaanmu!” Alastor dengan serius berkata,  “Jangan lupa, tujuan kita adalah untuk menemukan Treasure Tool (Hogu) milik Hunter.”


“Setelah itu, kamu akan menggabungkan Mantra Tak Terbatas dengan Treasure Tool (Hogu) milik Hunter untuk menemukan Mantra Tak Terbatas yang tersembunyi di kota ini dan menggagalkan rencana Bal masqué.”


Benar, tujuan Ryan, Shana dan Margery ke tempat ini adalah itu.


Setelah mendapat bantuan Margery, Ryan langsung menemui sebuah masalah.


"Kota ini tidak besar, tapi jelas tidak kecil. Jika aku ingin menemukan Mantra Tak Terbatas di kota seperti ini. Sama sulitnya dengan mencoba mencari jarum di tumpukan jerami.” 


“Jika Mantra Tak Terbatas itu aktif, maka sangat mudah untuk menemukannya. Namun jika belum, maka hal tersebut akan sangat sulit untuk dirasakan. Bahkan jika aku menggunakan Mantra Tak Terbatas untuk pencarian, aku harus memindainya dalam jangkauan yang sangat luas dan menunggu respon baliknya. Akan tetapi, jika responnya sangat buruk, aku khawatir butuh waktu yang sangat lama untuk bisa mendeteksinya.” jelas Margery pada Ryan.


Mendengar semua ini, Ryan pun teringat akan Treasure Tool (Hogu) milik Friagne.


Meskipun sudah lama sekali, samar-samar Ryan ingat bahwa di tangan Friagne, tampaknya ada Treasure Tool (Hogu) yang dapat digunakan untuk mengamati aliran aktivitas manusia dan juga Power of Existence di wilayah tertentu. .


Dengan mengandalkan Treasure Tool (Hogu) inilah, Friagne selalu dapat memantau seluruh Kota Misaki. Saat Torch dilenyapkan oleh Ryan, hal itu tampil di Treasure Tool (Hogu) tersebut.


Jika ada Treasure Tool (Hogu) yang dapat mengawasi kota secara real time, maka Treasure Tool (Hogu) inilah yang cocok untuk membantu Margery dalam mencari Mantra Tak Terbatas di kota ini,


Oleh karena itu, Ryan membuat keputusan yang cepat, dan meminta Shana  untuk membawanya serta Margery ke tempat Friagne.


Dan hasilnya tidak mengecewakan semua orang. Di sana, ada sebuah sumber cahaya biru redup yang menyinari boneka di sekitarnya.


Sebuah peta hologram empat dimensi dari kota Misaki beserta para manusia yang tinggal di dalamnya tampak di depan Ryan, Shana, dan Margery


“Ini Crystal Altar?” Shana berbisik dengan suara rendah.


"Benar." Alastor menjawab, "Treasure Tool (Hogu) ini adalah sesuatu yang diciptakan oleh seorang Crimson Denizen yang sangat kuat ribuan tahun yang lalu."


“Aku ingat, ketika Crystal Altar ini keberadaannya mulai diketahui publik, banyak Crimson Denizen yang bersaing memperebutkannya.” Margery dengan ringan mendengus dan berkata, "Pada akhirnya, Hunter lah yang berhasil  mendapatkannya."


“Hal paling baik yang bisa dilakukan Hunter adalah membuat rencana licik." Marchosias menyeringai, "Saat itu, hampir semua Denizen telah dikalahkan olehnya dengan cara yang tidak jujur."


"Aku tidak menyangka dia akan kalah di tangan manusia. Aku yakin Denizen-Denizen yang membencinya pasti merasa tidak nyaman begitu merek mengetahui hal ini."


"Cukup dengan semua obrolan ini. Karena kita telah menemukan Crsytal Altar, ayo segera kita mulai pencariannya." Ryan menyela obrolan semua orang dan menatap langsung ke arah Margery. "Sekarang, aku serahkan semuanya padamu."


"Ya." Respon Margery dengan singkat. Ia kemudian melangkah maju ke depan Crystal Altar.


"Kalau begitu, tanpa basa-basi lagi, aku akan menggunakan benda ini."


Setelah Margery berkata seperti itu, Crystal Altar berukuran cukup besar itu mulai bersinar dengan terang.


"Baiklah, mari kita mulai pencariannya."


Margery lalu mengangkat dua jarinya dan mulai merapalkan Mantra Tak Terbatas.

__ADS_1


__ADS_2