
"Di hutan tak berujung, ada sebuah pohon yang sangat besar. Namun sayang, pohon ini tidak bisa tumbuh lebih dari ini karena adanya rantai yang menghambat pertumbuhannya."
"Munculnya kartu ini umumnya mewakili kebebasan yang dibatasi, atau bisa dibilang keterkekangan."
Shirayuki lalu berbisik, "Pada masa lalumu, hidupmu penuh dengan kekangan. Kamu tidak bisa bebas untuk berkembang dan mengekspresikan keinginanmu."
"Seperti halnya pohon besar dalam gambar ini, kamu hanya bisa melihat pohon lainnya berkembang dengan baik, sementara itu, kamu hanya bisa diam di tempat tanpa bisa berkembang lebih jauh lagi.”
Ryan mengangkat alisnya sedikit dan terdiam sejenak. Setelah beberapa saat diam, Ryan menunjuk ke arah kartu kedua dan berkata, "Lalu, bagaimana dengan arti dari kartu kedua?"
"Kartu kedua mewakili masa kini." Shirayuki menatap lurus ke arah Ryan dan berkata, "Sejak jaman dulu, banyak orang percaya bahwa sungai adalah garis pemisah antara hidup dan mati. Begitu juga dengan sungai yang ada dalam kartu ini."
"Sungai ini menggambarkan sungai Sanzu, di mana jiwa orang yang telah mati harus menyeberangi sungai ini agar bisa bereinkarnasi.”
“Sementara itu, perahu yang bergerak di tengah sungai ini adalah kamu. Ini menggambarkan bahwa kamu saat ini terjebak pada garis pemisah antara hidup dan mati. Hal ini menyebabkan tubuhmu memancarkan aura kehidupan dan juga kematian."
Mendengar ucapan Shirayuki, sebagian murid-murid SMA Butei yang menonton mulai saling memandang dengan cemas. Beberapa murid juga melihat ke arah Ryan, dan beberapa lainnya hanya tersenyum tidak menganggap ucapan Shirayuki serius.
'Dia bahkan bisa menebak situasiku saat ini, menarik sekali …'
'Itu artinya, Kemampuan Khusus meramal yang ia miliki benar-benar nyata, bukan sekedar permainan psikologis.' gumam Ryan. Ia lalu menunjuk pada kartu ketiga. "Kalau kartu ini bagaimana?"
"Kartu ketiga mewakili masa depanmu." Shirayuki menatap Ryan dengan ekspresi yang tak terlukiskan. Ia lalu menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Gua ini terbuat dari bebatuan gelap yang dapat mencegah cahaya keluar. Hal yang terlintas di pikiranku saat melihat ini adalah Ama no Iwato."
"Ama no Iwato? Apa itu?" tanya Ryan.
"Menurut catatan kuno, Susanoo, sang Dewa Angin dan Petir, berusaha membuka pintu menuju dunia bawah (Yomi) untuk menyelamatkan istrinya."
"Akan tetapi, Susanoo tidak berhasil membukanya. Hal ini membuat Susanoo marah dan melampiaskannya dengan mengacaukan Takamagahara."
"Perbuatan Susanoo ini membuat Amaterasu marah. Amaterasu yang merupakan Dewa Matahari, menyembunyikan dirinya di dalam sebuah gua bernama Ama no Iwato. Hal ini membuat langit kehilangan cahayanya. Bumi dan Takamagahara pun diselimuti oleh kegelapan."
"Jadi, kartu ini mewakili cahaya dan kegelapan."
Shirayuki berhenti sejenak dan memandang lurus ke arah Ryan. Setelah itu, ia mulai berkata dengan jelas, seakan ia ingin Ryan memahami dengan sungguh-sungguh apa yang akan ia katakan.
"Jika kamu memilih cahaya, maka hal itu akan membuat cahaya menyinari dunia."
"Jika kamu memilih kegelapan, maka hal itu akan membuat kegelapan menyelimuti dunia."
"Semua keputusanmu akan mempengaruhi masa depan dunia."
"Kamu memiliki takdir yang sangat kuat. Orang seperti ini dapat menjelma menjadi seorang juru selamat, ataupun menjadi seorang penjahat yang akan menghancurkan dunia."
"Sekarang, pilihan itu ada di tanganmu. Akankah kamu mau menyelamatkan dunia, atau malah akan menghancurkannya."
"Inilah masa depanmu."
Setelah mendengar ucapan Shirayuki, suasana sekitar pun berangsur-angsur menjadi berat.
Tapi suasana tersebut tidak bertahan lama. Satu persatu murid mulai tertawa. Mereka benar-benar meragukan kredibilitas ramalan ini.
Shirayuki tidak memperdulikan ini semua. Ia tetap menatap lurus ke arah Ryan dengan serius.
__ADS_1
Ryan kembali terdiam beberapa saat. 'Secara logika, apa yang aku lakukan selama ini memang menentukan masa depan dunia.'
'Seperti halnya aku membunuh Biba di dunia Kabaneri The Iron Fortress dan juga membunuh Venus di dunia God Eater. Semuanya menentukan masa depan dunia.'
'Dan aku bisa saja mengabaikan itu semua tanpa memperdulikan misi.'
Memikirkan hal ini, Ryan pun menyeringai. "Terima kasih, Shirayuki."
"Tapi bagiku, masa depanku adalah kamu, Shirayuki."
"Aku nggak bisa membayangkan masa depan lainnya tanpa keberadaanmu di sisiku." senyum Ryan.
"Eh?" Shirayuki tertegun dengan ucapan Ryan yang tiba-tiba ini. Bahkan orang-orang di sekitarnya pun juga ikut terkejut.
"Aku harap, kamu mau memikirkannya …" Ryan kemudian berdiri dan segera pergi dari tempat itu.
Melihat Ryan akan pergi, Shirayuki langsung tersadar dan memanggil Ryan. "Tunggu sebentar!"
Shirayuki mengambil kartu Ama no Iwato dan berkata dengan tulus, "Kartu ini untukmu. Aku harap kamu dapat mengingat apa yang aku katakan hari ini dan tidak memilih jalan yang salah di masa depan."
Mendengar ini, Ryan tertawa dan menggelengkan kepalanya. Ia lalu mengulurkan tangan dan mengambil kartu itu. "Aku nggak akan salah dalam memilih masa depanku kok."
“Dengan keberadaan dirimu di sisiku, aku tidak mungkin jatuh ke dalam kegelapan. Kecuali, ada pihak yang dengan sengaja menyakitimu. Aku tidak akan ragu menghancurkan dunia untuk orang-orang terkasihku!”
Tanpa sadar, Ryan mengeluarkan sedikit hawa membunuh yang sangat pekat. Hal ini membuat orang-orang di sekitarnya merasa tertekan dan sesak nafas.
Melihat perbuatannya, Ryan secepat kilat kembali menyembunyikan hawa membunuhnya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Aku sampai tidak bisa bernafas barusan.”
“Aku juga begitu.”
Para murid yang ada di sekitar Ryan kini memiliki wajah yang pucat akibat hawa membunuh Ryan yang tidak sengaja keluar.
Di saat orang-orang sedang saling berbicara mengenai kejadian tadi, Ryan telah pergi dari tempat itu.
Beberapa saat kemudian, Shirayuki pulih dari efek hawa membunuh tadi. Tapi, bukannya khawatir atas kejadian tadi, pikiran Shirayuki malah dipenuhi dengan Ryan.
"A-apakah itu artinya dia melamarku? I-ini pertama kalinya seorang anak laki-laki melamarku." Wajah Shirayuki pun memerah memikirkan hal ini.
~***~
Berdasarkan pemberitahuan, Ryan mendapat asrama di gedung ketiga.
Asrama ini terletak tidak jauh dari SMA Butei.
Di dalam asrama, terdapat banyak kamar dengan lorong-lorong sempit seperti hunian apartemen pada umumnya.
Dalam asrama Butei, ada dua jenis kamar yang tersedia, yaitu kamar biasa dan kamar VIP.
Kamar biasa memiliki luas 12 meter dengan fasilitas kamar mandi dalam, tempat tidur, meja belajar, lemari, dan juga pendingin ruangan.
__ADS_1
Berbeda dengan kamar biasa VIP memiliki luas 120 meter. Selain itu, dalam kamar VIP, terdapat ruang makan, ruang tamu, dapur, kamar mandi, kamar tidur dan 5 ruang kecil.
Dan di kamar VIP inilah, Ryan akan tinggal selama mengenyam pendidikan di SMA Butei.
Ryan mendapat kamar VIP karena ia berhasil mendapatkan peringkat S pada tes masuk hari ini.
"Sepertinya Kinji juga mendapatkan kamar seperti ini." gumam Ryan.
Setelah puas dengan kamar yang ia dapatkan, kini Ryan dihadapkan dengan hutang yang harus ia tanggung begitu ia lulus tes masuk SMA Butei.
Uang sekolah SMA Butei tidaklah murah. Dan lagi, asrama VIP yang Ryan tempati tidaklah gratis. Semua ini harus Ryan bayar paling tidak sampai akhir bulan ini.
Karena Ryan sudah diberi identitas baru dengan cuma-cuma oleh Reincarnation Room, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk memberi kemudahan tambahan seperti uang dan lain sebagainya.
Maka dari itu, Reincarnator harus mengandalkan kemampuannya sendiri untuk menghasilkan uang.
Reincarnator juga bisa menukarkan poin dengan uang seperti yang Ryan biasa lakukan. Tapi, penukaran poin hanya bisa dilakukan di Reincarnation Room.
Ryan juga tidak terpikir bahwa ia akan membutuhkan uang di dunia ini.
Lagi pula, uang tidak dapat ditukarkan menjadi poin.
Tapi itu adalah hal yang wajar. Jika tidak, maka Reincarnator akan merampok Bank dan menukarkan semua harta benda yang mereka dapatkan dari dunia misi menjadi poin.
Dengan begitu, Reincarnator akan dengan sengaja tidak mengerjakan misinya dan rela membayar denda karena memiliki banyak poin.
Hal ini tentu sangat ingin dihindari oleh Reincarnation Room.
Setelah Ryan berjalan-jalan mengelilingi kamar asramanya untuk membiasakan diri, Ryan langsung masuk ke kamarnya.
Anehnya, dalam kamar tidur ini, ada 2 ranjang susun. Yang artinya, dalam kamar ini, dapat menampung empat orang sekaligus.
Padahal di kamar asrama ini, hanya Ryan seorang yang tinggal di sini.
Ada lima ruangan kecil yang telah di sediakan SMA Butei. Namun, ruangan itu bukan untuk ruang tidur, melainkan sebagai gudang senjata, gudang peluru, ruang kerja untuk memproduksi sesuatu, dan lain sebagainya.
"Dan hal-hal itu juga memerlukan banyak uang. Nggak heran jika hadiah dari misi yang dikeluarkan Butei adalah uang."
Sambil berpikir, Ryan berbaring tepat di ranjang bawah salah satu ranjang susun. Perlahan, Ryan pun tertidur.
~***~
Keesokan harinya, Ryan keluar dari kamar asrama untuk berangkat ke sekolah.
Saat Ryan keluar dari kamar, secara bersamaan, pintu kamar sebelah juga terbuka.
Begitu Ryan melihat orang yang keluar dari kamar sebelah, ia pun terdiam. Hal ini juga dialami oleh Kinji, yang baru saja keluar dari kamar sebelah.
Beberapa detik kemudian, keduanya berbicara secara bersamaan, "Kenapa kamu lagi?!"
Kinji benar-benar ingin membenturkan kepalanya ke tembok. Ia benar-benar sudah muak melihat Ryan sepanjang hari.
“Haah~ … lupakan saja lah. Ayo temani aku membeli senjata.” ajak Ryan setelah menghela nafas panjang.
__ADS_1