Reincarnation Room

Reincarnation Room
Bekerja Sama


__ADS_3

Setiap sulur tentakel Venus, masing-masing memiliki kekuatan yang tidak lebih lemah dari tentakel sebelumnya.


Bahkan, dengan nilai VIT Ryan yang telah mencapai 18 poin, Ryan akan tetap mati jika ia terkena pukulan langsung tentakel Venus.


Sekarang, ada ratusan sulur tentakel menutup jalan Ryan di udara. Jika Ryan mundur sekarang, maka Ryan akan kehilangan momentum untuk bisa mendekati tubuh Venus. Jadi, satu-satunya cara yang bisa Ryan sekarang adalah terus maju ke depan.


Saat sebuah sulut tentakel akan menghantam tubuh Ryan, ia bergerak membanting tubuhnya ke samping dan menghindarinya dengan jarak yang tipis.


Boom


Sulur tentakel tersebut menghantam dinding pertahanan yang ada di belakang Ryan dengan keras. Seketika itu, bagian dinding tersebut hancur dan membuat puing-puing dinding bertebaran ke mana-mana


Dengan sigap, Ryan mendarat seperti seekor laba-laba pada permukaan sulur tentakel yang berhasil ia hindari tadi.


Menggunakan kedua tangan dan kakinya, Ryan kembali melompat sekuat tenaga dari sulur tersebut. Ia benar-benar seperti laba-laba yang berlari sangat cepat di atas dinding.


Ryan terus melompat dan berlari dari satu sulur ke sulur tentakel lainnya dengan kecepatan yang sangat mengejutkan. Hingga akhirnya, Ryan berhasil mendarat di depan tubuh Venus yang menyerupai manusia.


Ryan menatap tajam Venus menggunakan Mystic Eye of Death Perception. Lebih tepatnya, Ryan melihat garis kematian pada tubuh Venus.


"Di sana!" Begitu Ryan menemukan garis kematian dari Inti (Core) milik Venus, ia langsung mengangkat belati di tangannya. Bagaikan kilat, Ryan menebas dahi Venus.


Namun, di saat yang sama, suara teriakan Lindow terdengar di telinga Ryan.


"Awas!"


Mendengar suara Lindow, mata biru Ryan tiba-tiba menyipit. Tanpa ragu-ragu, ia menghentikan serangannya dan menyingkir.


Fuuu


Tepat di samping Ryan, seberkas cahaya biru seperti laser melesat melewati posisi asli Ryan.


Melihat hal ini, ekspresi Ryan sedikit berubah. Meski hanya sepersekian detik, Ryan berhasil melihat bentuk asli sinar cahaya biru tersebut.


Sinar tersebut adalah air yang ditembakkan dengan kecepatan tinggi melalui mulut Venus.


Meski arusnya kecil, setiap air yang ditembakkan memiliki kecepatan melebihi peluru. Kekuatan seperti itu sudah cukup untuk menembus tubuh Ryan.


Menghadapi serangan ini, Ryan hanya bisa terus mengelak dan mengandalkan sulur tentakel di sekitarnya sebagai pijakan.

__ADS_1


Dududududududu


Tiba-tiba, suara tembakan dari senapan mesin terdengar jelas. Rentetan peluru itu pun menghantam wajah Venus.


Boom Boom Boom


Peluru yang ditembakkan meledak satu demi satu, menyebabkan wajah Venus terkena kobaran api seperti kembang api.


Ryan kemudian melihat ke arah asal tembakan tersebut. Dari kejauhan, terlihat Alisa memegang senapan mesin dan terus menembaki Venus. Di tubuh Alisa, masih terlihat luka-luka hasil pertarungan sebelumnya.


Boom Boom Boom


Peluru yang Alisa tembakkan terus menerus meledak di wajah Venus. Hal ini menyebabkan kobaran api perlahan-lahan menyelimuti seluruh wajah Venus.


"RAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"


Perbuatan Alisa ini menyebabkan teriakan penuh amarah dari Venus. Memanfaatkan hal ini, Ryan segera melompat ke bawah dari atas tubuh Venus. Ia kemudian bergegas menuju tempat Alisa berdiri.


"Apa kamu baik-baik saja?" Alisa bertanya pada Ryan yang baru saja tiba di sampingnya.


"Tenang saja, aku baik-baik saja kok. Aku nggak akan semudah itu mati." jawab Ryan. Ia lalu melihat luka yang ada di sekujur tubuhnya dan tak kuasa untuk bertanya. "Lalu, kenapa kamu kemari? Bukankah aku menyuruhmu beristirahat?"


"Untuk luka seperti ini, 5 menit istirahat sudah cukup untuk memulihkan sebagian kekuatanku."


"Terima kasih, Alisa …" Ryan tersenyum hangat pada Alisa.


"Hei, jangan mesra-mesraan di waktu seperti ini!" protes Lindow yang berjalan mendekati Ryan dan Alisa.


Mendengar ocehan Lindow, Ryan segera meminta maaf. "Hahahaha … maaf, maaf …"


"Jadi, apa rencanamu?" tanya Alisa.


Ryan melihat ke arah Lindow dan Alisa. "Bisakah aku meminta bantuan kalian?"


Tiba-tiba, Soma dan Sakuya melompat dari arah yang berbeda dan mendarat di sekitar Ryan.


Sakuya lalu melihat ke arah Ryan dan berkata, "Sepertinya kamu sudah memiliki rencana untuk mengalahkan Venus."


Sementara Soma, ia hanya diam. Namun, Ryan paham bahwa Soma juga ingin mendengar rencana Ryan.

__ADS_1


"Aku ingin kalian mengalihkan perhatian Venus. Sementara itu, aku akan mencoba menyerang dahinya." jelas Ryan.


Alisa mengernyitkan alisnya. "Menyerang dahi?"


Ryan menganggukkan kepalanya. “Itu benar. Jika aku dapat menebasnya, Venus pasti akan mati.”


“Aku tidak tahu bagaimana caranya kamu yakin bahwa kelemahan Venus ada pada dahinya. Tapi, aku akan mencoba bertaruh padamu.” ucap Lindow.


Lindow lalu mengangkat God Arc raksasa di tangannya dan membawanya di pundaknya. Sambil menyalakan rokok dan menghisapnya, ia melihat ke arah Soma dan Sakuya. "Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga ikut."


“Tentu saja aku ikut.” jawab Sakuya sambil tersenyum.


“Cih, sungguh merepotkan …” Walau Soma berkata seperti itu, tapi tidak ada penolakan sama sekali darinya.


Mendengar jawaban Soma yang jutek seperti itu, Alisa sedikit emosi. Ia mengepalkan tangannya seakan ingin memukul wajah Soma.


Melihat hal ini, Lindow mencoba menenangkan Alisa. “Sudah-sudah, tenanglah … Soma memang seperti itu. Sebenarnya dia adalah orang yang baik kok, cuma sedikit malu saja.”


“Jadi, bagaimana denganmu, nona Tipe Baru (New-Type)?”


Menanggapi pertanyaan Lindow, Alisa menjawabnya dengan tegas, “Aku ikut.”


“Baiklah, aku sangat menantikan performa mu, nona Tipe Baru (New-Type).” senyum Lindow.


“Tipe Lama (Old-Type), lakukan saja tugasmu dengan baik. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku.” Alisa benar-benar tampak sangat arogan, seakan tidak ada orang lain yang penting di matanya


Lindow dan Sakuya hanya bisa tersenyum melihat tingkah Alisa. Sementara Soma, ia menutup matanya seolah-olah dia terlalu malas untuk mengatakan apa pun.


Melihat God Eater dengan berbagai kepribadian unik di sekitarnya, Ryan juga ikut tersenyum. ‘Lindow, Soma, Sakuya, dan juga Alisa. Mereka adalah teman satu tim dari protagonis dunia ini. Dalam plot originalnya, Alisa dan trio God Eater Unit Pertama seharusnya akan bertemu tahun depan.’


‘Tapi, karena keberadaanku, keempat orang ini malah bertemu lebih awal dan menjadi partnerku. Dengan bantuan mereka, aku pasti bisa membunuh Venus!’


‘Sejujurnya aku bisa saja menggunakan Stigma untuk mengalahkan Venus sendirian. Hanya saja, jiwaku masih belum benar-benar pulih. Kalau nggak terpaksa, aku nggak akan menggunakannya.’


“RAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” Suara Venus berdengung dengan sangat keras hingga mengguncang gendang telinga.


Venus merasa diabaikan oleh Ryan dan lainnya. Bukannya kembali bertarung dengannya, sekarang mereka malah tampak asyik mengobrol. Venus tak terima dengan perlakuan ini dan benar-benar marah.


Dengan emosi, Venus mengibaskan semua sulur tentakelnya ke atas.

__ADS_1


“Baiklah, ayo kita mulai …”


Setelah mengucapkannya,  Ryan dan keempat God Eater tersebut langsung bergerak.


__ADS_2