
Saat belati Ryan hanya berjarak kurang dari dua meter dan akan jatuh ke dahi Venus, mendadak terdengar suara aneh datang dari dalam tubuh Venus.
Glurp
Di atas dahi Venus, sebuah retakan tiba-tiba muncul. Retakan tersebut melebar dengan cepat.
Di antara retakan yang berangsur-angsur melebar, terlihat puluhan gigi taring seperti binatang buas.
Melihat hal ini, mata Ryan terbelak. ‘Brengsek! Dia menjebakku!’
Mulut yang muncul di dahi Venus membentuk kurva menyerupai senyuman sarkasme.
Fuuuu
Seperti suara udara yang dihembuskan, tiba-tiba dari mulut pada dahi Venus, aliran air bertekanan tinggi menyembur keluar dengan keras.
Saat ini, posisi Ryan hanya berjarak kurang dari satu meter dari mulut kedua Venus.
Pada jarak seperti ini, Ryan tidak dapat merespon dan melakukan penghindaran dengan cepat.
Oleh karena itu, Ryan hanya dapat memaksimalkan penggunaan Mystic Eye of Death Perception. Dari penglihatan Mystic Eye, Ryan dapat melihat bahwa aliran air bertekanan tinggi itu mengarah tepat pada jantung Ryan.
Walau Ryan memiliki nilai VIT 18 poin, jika ia terkena aliran air bertekanan tinggi ini, maka serangan ini dapat dengan mudah menembus jantungnya.
Ryan paham bahwa ia telah dihadapkan lagi pada kematian. Meski begitu, ia sama sekali tidak takut. Seakan, kematian adalah teman baiknya.
Namun, tiba-tiba ia teringat Rea, Mumei, Hibari, dan juga Alisa yang telah menunggunya. "Aku tidak boleh mati! Mereka telah menungguku untuk kembali!"
"Aktifkan Stigma!"
Begitu Ryan berteriak, sebuah cahaya menyilaukan muncul dari balik tangan kanan Ryan. Cahaya tersebut membentuk tato dengan simbol bintang David✡️ dengan sebuah garis putih yang melingkar mengelilinginya.
Seketika itu, sekujur tubuh Ryan diselimuti api putih yang berkobar-kobar. Api ini terlihat murni dan suci, seakan ia adalah malaikat yang turun dari langit untuk menghukum para pendosa.
Mata Venus terbelak melihat hal ini. Ia tak menyangka manusia yang ada di depannya juga menyimpan sebuah kartu As.
Dengan meningkatnya seluruh nilai atribut Ryan sebanyak 100%, kini Ryan dapat merespon serangan Venus.
Seperti seorang balerina yang sedang menari, Ryan melakukan putaran cepat di udara. Alhasil, aliran air bertekanan tinggi itu pun melesat melewati sisi kanan Ryan tanpa menyentuhnya.
Moon blade di tangan Ryan berubah menjadi sinar cahaya putih kebiruan dan melintas dengan cepat ke arah mulut yang ada pada dahi Venus. Bayangan aurora pun tercipta dari bilah Moon Blade.
Karena serangan pamungkasnya telah gagal, Venus tidak memiliki waktu untuk menghindar.
__ADS_1
Slash
Dalam suara tebasan, kilat cahaya aurora menghantam mulut pada dahi Venus. Tak ayal, darah pun langsung menyemburkan deras.
Tebasan yang disertai efek aurora terlihat sangat indah sekaligus berbahaya. Dengan sangat presisi, belati di tangan Ryan memotong garis kematian yang ada di depannya sekaligus memotong mulut pada dahi Venus menjadi dua.
Saat mulut Venus terpotong menjadi dua, Inti (Core) milik Venus mulai terlihat.
Kratak
Suara retakan terdengar jelas. Dengan cepat, retakan pada Inti (Core) Venus menyebar dan memenuhi seluruh permukaan Inti (Core).
Pyar
Bagaikan suara kaca yang pecah, Inti (Core) milik Venus hancur berkeping-keping.
"KREEEEEEEEEEEEEEE!"
Jeritan melengking menusuk telinga yang belum pernah terjadi sebelumnya terdengar dari mulut Venus. Wajah cantik menawan itu dipenuhi dengan ekspresi kesakitan.
Walau Inti (Core) Venus telah hancur, tapi sosok besar ini tetap bergerak secara insting sebelum kematiannya.
Sulur tentakel yang tebal terus bergerak dan membuat hembusan angin kencang.
Boom Boom Boom
“Ryan!”
“Lindow! Soma!”
Dari kejauhan, Alisa dan Sakuya menyaksikan Venus yang sudah di ambang kematiannya mengamuk dan memporak-porandakan area sekitarnya.
Karena jaraknya yang jauh, Alisa dan Sakuya tidak terpengaruh oleh gelombang kejut yang dihasilkan oleh serangan dahsyat Venus.
Akan tetapi, mereka tak lagi dapat melihat sosok Ryan, Lindow, dan Soma yang menghilang akibat tertelan badai pasir yang menutupi area tempat Venus mengamuk.
Melihat hal ini, Alisa segera bergegas untuk menolong Ryan..
"Tunggu!” Belum sempat bergerak, Sakuya meraih tangan Alisa dengan cepat. "Ini terlalu berbahaya!"
"Tapi …” Alisa ingin langsung membantah.
Tapi, sebelum Alisa menyelesaikan ucapannya, Sakuya memotongnya terlebih dahulu. "Aku tahu kamu sangat mengkhawatirkan Ryan-kun. Aku juga sama sepertimu! Aku sangat mengkhawatirkan Lindow dan Soma.”
__ADS_1
“Tapi, dengan situasi seperti ini, jika kamu maju memaksa maju ke depan, maka kamu bisa mati! Ryan pasti akan sedih jika mendapati dirimu tewas karena ingin menyelamatkannya!”
Sakuya mendekatkan wajahnya ke Alisa dan berkata, "Percayalah pada mereka. Mereka bukanlah orang yang mudah mati."
Setelah mendengar ini, ekspresi Alisa mulai berubah. Tak lama kemudian, ia menggigit bibirnya dan mulai menembak lagi ke arah Venus.
Namun, di bawah amukan Venus, sulur tentakel ini dengan liar bergerak mengelilingi Venus sepenuhnya. Bahkan tembakan Alisa tersapu oleh sebatang sulur tentakel dan sama sekali tidak menyentuh Venus.
Beberapa detik kemudian, suara Venus semakin mengecil. Tak lama setelahnya, tubuh besar Venus roboh dan mengguncang tanah di sekitarnya.
BOOM
Di saat yang sama, tanah yang ada di bawah Venus runtuh akibat tidak dapat menahan guncangan dan beban tubuhnya.
Venus, bersama dengan tanah yang runtuh, jatuh ke bawah tanah seperti jurang dan terkubur oleh puing-puing kerikil yang tak terhitung jumlahnya.
“Ryan!”
“Lindow! Soma!”
Melihat pemandangan ini, baik Alisa maupun Sakuya sangat khawatir dengan rekannya.
Dalam badai pasir yang tebal, beberapa sosok bayangan terlihat berjalan mendekat menerobos badai debu.
Melihat sosok tersebut, Alisa dan Tachibana Sakuya mulai bernafas lega.
Perlahan, sosok Ryan, Lindow, dan Soma mulai terlihat jelas. Hanya saja, Ryan terlihat berjalan sambil dibopong oleh Lindow. Terlihat nafas Ryan sangat berat, bahkan kesadarannya hampir hilang.
"Ryan!" Alisa yang sangat khawatir melihat kondisi Ryan langsung memeluknya. Lindow pun langsung melepas Ryan dan memberi ruang pada mereka berdua.
"Apa yang terjadi padamu?!"
“Aduh aduh aduh … tolong jangan memelukku erat-erat.” protes Ryan. Karena
Efek samping Stigma, kini jiwa dan raga Ryan mengalami kesakitan yang luar biasa, terutama pada jiwa Ryan yang belum pulih sebelumnya.
“Maaf … “ Alisa sedikit melonggarkan pelukannya.
"Iya, nggak apa-apa kok. Aku malah senang ketika tahu bahwa kamu sangat mengkhawatirkanku, terima kasih …” jelas Ryan dengan nada sedikit lemas.
“Tapi aku baik-baik saja kok. Aku hanya perlu istirahat seperti sebelumnya." Mata Ryan tampak sangat lelah dan mengantuk. Ekspresinya juga semakin memucat, seakan ia bisa tidak sadarkan diri kapan saja.
“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Ryan …” Alisa dengan lembut membelai rambut Ryan. “Sekarang beristirahatlah …”
__ADS_1
“Hahahaha … mohon maaf sebelumnya telah mengganggu kemesraan kalian, Nona Tipe Baru (New-Type).” tawa Lindow. Kemudian ia melihat ke arah Alisa dan Ryan dengan ekspresi serius.
“Tapi kita masih punya banyak urusan yang harus diselesaikan sekarang.” ucap Lindow sambil melihat ke sekelilingnya.