
Drip Drip Drip
Ryan terus berlari menyusuri gerbong Kokujou. Darah terlihat masih terus menetes dari dada Ryan. Seperempat botol ramuan penyembuh berlevel rendah tidak dapat menyembuhkan luka sabetan pedang Biba.
Perlahan, tubuh Ryan terasa sangat dingin dan lemas. Penglihatan Ryan juga semakin kabur. 'Anjir, sepertinya aku telah kehilangan banyak darah!'
Dari gerbong di belakang Ryan, mulai terdengar kegaduhan. "Lihat, di sini ada banyak bercak darah! Dia pasti ada di dekat sini!"
"Ayo kemari, Ryan ada di sini!"
Dengan cepat, para Hunter menemukan Ryan di gerbong mesin. Mereka kemudian langsung mengacungkan Steam Gun mereka ke arah Ryan yang kini bersimbah darah.
"Cih!" gumam Ryan. Secepat kilat, Ryan berlari menuju mesin uap dan berlindung di baliknya.
Dor Dor Dor Dor
Rentetan peluru yang dimuntahkan Steam Gun milik Hunter terus menabrak mesin uap. Percikan api yang menyilaukan muncul dari proses ini. Lama kelamaan, permukaan mesin uap mulai menipis akibat dipenuhi bekas peluru.
Melihat hal ini, Ryan sadar rencana mereka. "Jadi kalian ingin menghancurkan mesin uap ini bersama denganku?"
Walau Ryan masih terus menahan rasa sakitnya, Ryan tetap tersenyum. "Baiklah, aku akan membantu kalian, hehehehe …"
Ryan kemudian mengaktifkan Mystic Eye of Death Perception. Dengan mata birunya itu, Ryan dapat melihat garis kematian pada mesin uap. Pisau yang ada di tangan Ryan menjelma menjadi taring putih kebiruan memotong secara diagonal mesin uap tersebut.
Slash
Seketika itu juga, mesin uap itu terbelah menjadi dua. Asap putih pun langsung menyembur keluar dari mesin uap dan memenuhi gerbong tersebut. Tak pelak, semua Hunter yang mengejar Ryan tertelan ke dalam asap putih ini.
"Sial, aku tidak bisa melihat!"
"Hei, hati-hati!"
"Jangan menembak dulu!"
Walau gerbong telah dipenuhi asap, namun Ryan masih dapat melihat garis kematian para Hunter dengan jelas.
Slash Slash Slash
Dengan cepat, Ryan menyabet garis kematian pada tubuh para Hunter. Satu tebasan, satu mati. Bagaikan ikan di dalam air, tubuh Ryan bergerak dengan cepat. Ia pun memotong tubuh para Hunter dengan mudah dan presisi.
"Arghh!"
"Arghh!"
__ADS_1
Teriakan demi teriakan mulai terdengar seiring dengan bertambahnya jumlah korban Ryan.
"Siapa yang berteriak?"
"Apa yang terjadi?"
"Hei, jawablah!"
Hunter yang tersisa begitu panik mendengar teriakan-teriakan itu. Entah siapa yang memulai, para Hunter yang tersisa tersebut mulai melepaskan tembakan.
Dor Dor Dor
"Arghh!"
Suara teriakan pun mulai terdengar lagi. Namun kali ini bukan Ryan penyebabnya, melainkan para Hunter sendiri yang saling menembak temannya. Karena asap putih yang tebal, mereka jadi tidak tahu di mana posisi teman-teman mereka. Maka dari itu Ryan memanfaatkan hal ini agar mereka sendiri saling membunuh.
Di saat para Hunter sibuk saling tembak, Ryan telah menyelinap keluar dari gerbong tersebut.
"Haah haah haah …" Nafas Ryan mulai tersengal-sengal. Ia terlalu memaksakan diri saat membunuh para Hunter di gerbong mesin. Alhasil, kini luka Ryan semakin melebar.
"Aku harus menemukan tempat untuk bersembunyi. Dengan nilai atribut VIT yang aku miliki, aku hanya perlu beristirahat untuk memulihkan tubuhku." gumam Ryan yang masih terus berjalan mencari tempat untuk bersembunyi.
Suara derapan langkah kaki mulai terdengar. "Sepertinya mereka telah menyadari bahwa aku sudah tidak ada lagi di gerbong mesin." Ryan kemudian keluar dari gerbong dan bergelantungan di sisi luar gerbong.
"Darahnya berhenti di sini. Ini artinya Ryan ada di sekitar sini." Melihat tetesan darah Ryan berhenti pada penghubung antar gerbong, para Hunter kemudian menyisir kembali dengan seksama gerbong tersebut.
"Sial, di mana dia bersembunyi?"
"Jangan-jangan Ryan telah melompat keluar?"
"Itu tidak mungkin. Dengan lukanya yang seperti itu, dia pasti mati jika melompat dari kereta. Terlebih lagi darahnya akan mengundang banyak kabane."
"Benar juga. Kalau begitu ayo cari di gerbong selanjutnya. Mungkin saja dia telah menutup lukanya, jadi tetesan darahnya berhenti di sini." Setelah itu, mereka semua bergegas pergi ke gerbong selanjutnya.
Sementara itu, kondisi Ryan yang kini sedang bergelantungan di sisi luar gerbong semakin melemah. "Haah haah haah …"
'Aku … sudah … tidak kuat … lagi!' Perlahan, genggaman Ryan pada besi tempat Ryan bergelantung mulai renggang. Hingga akhirnya Ryan benar-benar melepas genggamannya.
Saat Ryan akan jatuh, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik lengan Ryan. "Hei, jangan mati dulu. Aku belum berterima kasih padamu karena telah mengubahku menjadi manusia lagi …"
"Ikoma?" ucap Ryan dengan nada lemas. Ikoma lalu menarik tubuh Ryan yang lemah ke atap gerbong.
Begitu Ikoma melihat kondisi Ryan yang menyedihkan, ia tak bisa menahan komentarnya. "Kamu terlihat sangat buruk, Ryan …"
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa di sini?"
Dengan malu-malu, Ikoma menceritakannya. "Mohon maaf, aku tekah menguping pembicaraanmu dengan Ayame-sama, hehehe … setelah Mumei menjemputmu, aku khawatir Biba akan melakukan sesuatu padamu. Maka dari itu aku mengendap-endap melalui atap gerbong untuk mengikutimu."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Aku bisa membawamu kembali ke Koutetsujou. Ayame-sama pasti bisa merawat luka-luka mu ini." tanya Ikoma.
"Aku ingin tetap di sini. Aku hanya perlu beristirahat untuk memulihkan kondisiku."
"Kenapa? Bukankah lebih baik jika kamu beristirahat di Koutetsujou?"
Ryan menggelengkan kepalanya. "Aku hanya tidak ingin membahayakan nyawa Ayame. Jika Biba tidak bisa menemukanku di Kokujou, maka dia pasti akan menggeledah Koutetsujou. Dan dengan ini, Biba akan memiliki alasan untuk membajak Koutetsujou. Kalau kamu sudah menguping pembicaraan kami, seharusnya kamu tahu apa tujuan asli Biba.".
"Ugh, kamu benar." ucap Ikoma sambil memegang kepalanya.
"Sudah aku duga kamu benar-benar orang yang baik. Padahal aku sudah membayar hutangku padamu, namun sekarang kamu malah menyelamatkanku. Hutangku kini bertambah lagi." Ryan tersenyum kecut memikirkannya.
"Apa yang kamu katakan? Aku lah yang berhutang budi padamu. Kamu mengubahku menjadi manusia lagi, jadi wajar aku menolongmu."
'Haah~ kamu memang benar-benar protagonis dunia ini, Ikoma.' gumam Ryan. "Oh ya, bisakah aku meminta tolong padamu untuk menyampaikan pesanku pada Ayame?"
"Oke, apa itu?"
"Terus awasi gerak-gerik Hunter. Kalau mendadak terjadi keributan di dalam Kokujou, segera putus koneksi antar gerbongnya!"
Ikoma mendadak merasa takut setelah mendengar ucapan Ryan. "Memutus koneksinya? Kenapa?"
"Nggak usah banyak tanya, yang penting sampaikan pesanku ini pada Ayame. Karena ini akan menjadi kesempatan baik Ayame untuk kabur dari Biba!"
Ikoma terdiam sejenak. "Jujur saja aku ingin tetap di sini untuk membantu. Tapi aku tahu, kamu pasti melarangku. Maka dari itu, aku hanya bisa bilang satu hal … jangan mati!" Setelah mengucapkannya, Ikoma kembali berjalan mengendap-endap menuju Koutetsujou.
"Haah~" Ryan menghela nafas panjang dan berbaring di atas gerbong. Perlahan, ia menutup matanya.
~***~
Seperti yang Ryan duga, Biba dan para Hunter pergi menemui Ayame. "Ayame-sama, serahkan Ryan padaku."
Ayame yang sudah mendengar pesan Ryan dari Ikoma, berusaha untuk berpura-pura tidak tahu. "Mohon maaf Biba-sama, namun saya tidak pernah menyembunyikan Ryan. Biba-sama bisa menggeledah Koutetsujou jika tidak percaya!"
Mendengar ucapan Ayame, Biba langsung memerintahkan Hunter untuk menggeledah Koutetsujou. Setelah 2 jam menyisir gerbong-gerbong di Koutetsujou, mereka sama sekali tidak menemukan jejak Ryan. Bercak darah maupun sehelai rambut pun tidak mereka temukan.
"Ini tidak mungkin! Mengapa tidak ada jejak Ryan sama sekali?"
"Apa dia benar-benar telah melompat keluar?"
__ADS_1
Biba pun sempat berpikir bahwa Ryan telah melarikan diri keluar kereta. Namun ketika ia mengingat betapa seriusnya Ryan sebelum melarikan diri, Biba menghilangkan pikiran itu. "Tidak, aku yakin Ryan masih di sini. Dia tekah bersumpah bahwa ia akan membunuhku! Aku dapat menilai seseorang, dan aku menilai Ryan bukan orang yang berani mengucapkan omong kosong. Jadi aku yakin ia masih di sini dan mencoba mencari kesempatan untuk membunuhku!"
Melihat Biba seperti ini, Mumei bisa hanya menunduk dengan ekspresi penuh emosi.